EXO SPECIAL SERIES ‘HanNa’ NO MORE – CHAPTER 2

1385994_461881337264445_136227669_n

Chapter 1 |

  • Authoress : Muriza a.k.a Yaegi Cho
  • Main Casts      :

– EXO Luhan | Xiao Lu | Xi Luhan

– Kim Nana | OC | as Trainee SM (fiction)

– EXO Kris | Wu Yi Fan

– Cho Yaegi | Official OC | Kris Wife

– Wu Geum Chan & Wu Geum Sha  | Official OC | Kris Children

  • Supported Casts :

–      EXO | Xiumin – Kai – Chen – Sehun – D.o – Chanyeol – Baekhyeon – Suho – Tao – Lay |

–      EXO ‘s Real Manager | Lee Seunghwan –  Heo  Jaehyuk – Noh Yong Min – Tak Young Jun  | Kim Min Wook | Im Hyunkyun

–      Xing Zhaolin | Real SM Trainee

–      Lee Ho Won | Hoya Infinite

–      Another BB / GB SM / Real Trainee  & OC that you’ll find on the spot later on

  • Genre              : Family –  Comedy – Friendship – Sad / Hurt / Comfort – Romance
  • Rating             : R – Restricted
  • Length            : Chaptered

Ideas, inspiration, characterization, official cast’s name, background, and the whole of the story is MINE, belongs to me  ~ Don’t do something plagiarize or plagiarism !! Everybody know that my XONAMS/XONJIES  are smart ~ I wanna study more with all of your comments ~  Typo everywhere.  We Are One ! Enjoy the story yeorobunnn ^_^

***

OST – FT ISLAND _ AFTER LOVE

Modu da geojitmariya da geojitmariya

Its all lies. All lies

Semuanya adalah kebohongan, semua kebohongan

Noye sarangeun da geojitmariya

Your love for me was all lies

Cintamu adalah kebohongan
Itorog apeuge haeseo

You’ve hurt me so

Karena itulah aku merasa sakit seperti ini
Nal seulpeuge haeseo ulligo gan sarangijanha

You left me crying

Karena membuatku bersedih, tidakkah kau tahu cinta yang pergi dan membuatku menangis

***

“Hosh – hosh – hosh .. “ deru nafas Nana terengah – engah setelah ia berhasil menyeret Luhan untuk ikut bersamanya ke atap apartement. Itu adalah satu – satunya tempat yang bebas dari CCTV dan pantauan security.  Nana berdiri membelakangi Luhan. Sudah sangat lama ia terdiam tanpa berbalik sedikitpun. Sementara tangan kanannya terus meneteskan darah segar  akibat pukulan keras oleh sasaeng yang bergumul dengannya beberapa saat lalu.

“Nana -yya gwencha—“

Gwenchana. Tunggulah sebentar lagi, lalu kau bisa pergi.” Nana memotong cepat apa yang hendak Luhan tanyakan. Ia seperti dapat membaca situasi yang saat ini tengah terjadi saat itu.

Anyi, igeon — tangan mu.. tangan mu sungguh tidak apa – apa? Tangan mu berdarah.. “ Luhan berjalan mendekat.

Nana berbalik, melihat tangannya yang memang terluka cukup  serius. “Gwenchana. Katakan pada manager kalian agar lebih berhati – hati. Geurom.” Nana membungkuk sopan, ia ingin melangkah pergi dari sana.

Chamkamman !” Luhan spontan  berteriak pelan untuk menahan langkah Nana.

Nana berbalik, “waeyo?” tatapan Nana kembali seperti semula, tatapan bengis yang hanya di miliki oleh seorang Kim Nana.

Mian. Aku tidak berbuat apapun ketika dia menyerang mu. Mianhasseo.” Luhan sungguh merasa tidak enak.

Nana menatap Luhan sejenak. “Eo. Kau memang tidak akan pernah bisa membuat ku untuk tidak terluka.” DEG! Perkataan itu  tepat menusuk pada jantung  Luhan.

Khanda.” Nana berbalik pergi dengan tas sasaeng yang tadi ia rampas, serta kamera yang ia gantungkan pada bahunya.  Sementara Luhan mengeras pada posisinya, menyaksikan derap langkah Nana yang perlahan menghilang dari pandangan matanya.

Sorot mata Luhan semakin nanar, ia mencoba menggerakkan kepalanya untuk melihat ke sudut lain dari atap apartement. Kalimat yeoja itu sungguh melumpuhkan sebagian akal sehatnya saat ini..

Sungguh … Sungguh sejauh itu aku sudah menyakiti mu? Nana-yya..

***

Nana berjalan menyusuri pintu gerbang belakang PongPyu apartement. Sesuai dengan apa yang ia perkirakan, para sasaengdeul kini telah di amankan oleh security apartement. Meskipun tertatih karena rasa perih dari tangannya terus menjalar, Nana tetap melanjutkan langkahnya hingga ia dapat menemukan jalan setapak yang akan menembus menuju sungai Han. Dengan dua tas yang ia bawa serta sebuah kamera berukuran besar, ia terus  berjalan tanpa henti. Sekilas ia melihat pada tali ranselnya, “sial! Gara – gara pin ini dia jadi mengetahui siapa aku. Aish!” cetusnya geram.

Dering ponsel tiba – tiba menginterupsi langkahnya. Nana berhenti untuk merogoh ponsel dari saku celananya, ternyata itu adalah orang yang memang ia harapkan saat ini.

Bip. Tersambung.

“Na Jiejie! Kau dimana?” suara itu sedikit memekakkan telinga Nana.

Neo eodisseo? Aku dijalan kecil yang ada didekat jembatan kayu.”

“Eo. Chamkammanyo.” Bip.

Tak lama berselang ..

“NANA JIEJIE!”

Nana menoleh ke sumber suara. Seseorang saat ini menggayuh sepeda agar segera tiba dihadapannya. Zhaolin mempercepat dayungan sepedanya ketika ia menemukan sosok Nana yang sudah sejak tadi cari – cari.

SREEETT ~ Zhaolin tidak lagi menggunakan rem tangan yang ada. Ia justru menghentikan sepeda dengan kedua tapak kakinya yang ia seretkan ke tanah.

“Na Jiejie, gwenchaseumnida? Aphayo? Ah! Tangan mu terluka jiejie!” Zhaolin dengan segala kepanikannya.

Hidung Nana lambat laun berubah memerah, matanya memanas. “Hiks.. “ satu isakan terdengar dari bibir merah mudanya. “Olin –ah.. Tangan ku — tangan ku sakit .. hiks .. sakit sekali.. “ Nana berusaha keras menahan tangisnya. Sejak kecil ia akan tetap kebal jika dimarahi oleh sang Appa atau siapapun itu, tetapi ia tidak akan bisa untuk tidak menangis jika melihat darah yang mengucur dari tubuhnya sendiri.

Hati Zhaolin ikut berkedut ketika melihat keadaan Nana yang menurutnya bukanlah sosok Kim Nana yang ia kenal, “Jiejie kajja. Kita jalan kaki bersama. Kemarikan semua barang – barang mu.” Zhaolin memutuskan turun dari sepedanya dan berjalan bersama Nana, karena ia memang tidak bisa membawa orang lain untuk duduk dibelakangnya ketika ia bersepeda. Selama ini Nana lah orang yang selalu mendayung sepeda dan Zhaolin duduk dibangku belakang.

“Olin -ah gomawo.. “ Nana menyeka kasar air matanya, ia memberikan tas dan kamera pada Zhaolin.

Eo. Jiejie kau belum makan kan? Kajja, kita pergi makan sesuatu. Ah nde, aku juga membawa kotak obat. Jiejie uljimarayo.. “ Zhaolin menepuk – nepuk hangat punggung Nana, namja itu mencoba mengalirkan ketenangan ke dalam diri Nana.

“Uhm. Aku tidak menangis lagi.. “

Jiayou ! Jiayou! Jiayou!” Zhaolin memulai slogan mereka.

Jiayou!” meskipun terdengar lemah, Nana tetap berusaha untuk bersemangat.

“JIAYOU! JIAYOU!”

“XING ZHAOLIN JIAYOU!”

“NAZHAO JIAYOU! JIAYOU!”

“Ya! Nama couple buatan mu jelek sekali hahaha.. “

Jeongmalyo? Gomapta.. “

“Eh? Gomapta wae? Aku mengatai mu bukan memuji mu Olin -ah..”

Arayo. Aku akan membiarkan jiejie mengatai ku sepuasnya hingga tangan mu sembuh.” Zhaolin menjawab enteng.

“Eyh..” Nana menyikut siku Zhaolin dengan tatapan gemas. Zhaolin adalah sosok namdongsaeng yang sangat menggemaskan baginya.

Nana & Zhaolin terus berjalan menyusuri jalan setapak dengan sepeda yang didorong. Mereka sesekali bercengkrama satu sama lain hingga sosok mereka menghilang ditelan gelapnya malam..

Samar – samar terlihat seseorang yang masih berdiri dari atap apartement. Luhan dapat melihat dari kejauhan bahwa itu adalah Nana  bersama seseorang  yang ia sendiri tidak mengenalinya jika dari jarak jauh seperti ini. Luhan berlari kecil hingga ke pembatas atap, agar dapat melihat kedua sosok itu sampai benar – benar menghilang dari pantulan penglihatannya..

Apa kau sedang berusaha untuk menangis? Hati ku sakit Nana-yya..

***

SM Building _ CEO’s Room

“Jangan sampai pihak SM akademi mengetahui akan hal ini. Jika itu sampai terjadi maka kau akan segera dikeluarkan karena dianggap melakukan sebuah kriminalitas. Kau tidak ingin mimpi mu berhenti sia – sia kan?” Seorang pria paruh baya duduk pada kursi besarnya. Pria itu kini bangkit dan berjalan menghampiri seorang yeoja yang duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah sofa berukuran besar yang  terdapat di ruangan tersebut.

Yeoja itu mengangguk santai.  “Eo. Aku ingin segera keluar dari sini.”

“Kim Na Na!” pria itu  sontak memanggil namanya dengan nada yang meninggi.

Nana menatap jengah pria didepannya itu, “ jika saja aku tahu waktu itu, aku lolos audisi karena Samchon, aku tidak akan pernah mau untuk berada disini.” Tampak tidak ada sedikitpun rasa takut dari diri Nana ketika ia membantah setiap perkataan yang dikatakan oleh CEO utama SM itu.

“Jangan gegabah. Apa lagi yang kau perlukan? Samchon akan memenuhi semuanya.” Pria berkaca mata itu mencoba kembali tenang.

Piryeopsseoyo samchon. Aku akan kembali ke Jepang dan mengikuti semua apa yang Appa inginkan.” Nana memakai ranselnya  yang ada diatas meja, ia ingin segera keluar darui ruangan ini.

“Kim Na Na!”

Intonasi tinggi itu kembali menghentikan gerakannya. Nana menatap jengah orang yang berpuluh – puluh tahun lebih tua darinya itu.  “Jong In dan aku berbeda samchon. Aku juga tidak memiliki suara emas seperti Sunny eonni. Keponakan tidak berbakat seperti ku hanya akan mencoreng nama baik mu sebagai CEO.” Nana menjawab lugas.

“Jong In dan Sunny juga melewati proses trainee yang sangat panjang. Semuanya akan berjalan dengan baik bila kau berlatih sungguh – sungguh. Saat ini hanya ada kau dan Kang Seulgi.” Pria itu mencoba memberikan pembelaan akan dirinya.

“Kenapa mengubah sebagai apa aku didebutkan? Aku semula lolos sebagai model trainee bersama Soo Hee.” Nana  menampik cepat.

“Itu karena — “ pria itu menggantungkan kalimatnya.

Nana menunggu sejenak hingga ia memastikan bahwa tidak ada lagi kalimat lanjutannya, “Karena project itu lebih menggiurkan? Mian samchon, keputusan ku sudah bulat. Ku rasa, Kang Seulgi lebih baik untuk menggantikan posisi ku.”

“Kim  Nana .. tapi kau akan didebutkan sebentar  lagi. Dalam hitungan jam  video mu juga akan segera di unggah sebagai — “

“Kau akan hancur jika kau tetap mempertahankan ku Samchon. Aku tidak bisa bernyanyi dan menari.” Nana semakin memperkuat argumennya.

“Lantas kenapa kau mengikuti audisi itu?” DEG! Pertanyaan itu menjebaknya, Nana yang semula sudah berdiri dengan ransel yang ia pegang sesaat bungkam.

Nana memutar otaknya, “itu – itu karena — “

“Ada seorang pria yang kau sukai disini?” Pria yang bernama Kim Young Min itu seakan dapat membaca isi pikiran keponakannya itu.

Nana menjawab cepat. “Anyu. Kkeuronikka, aku akan berhenti dan keluar. Aku memiliki latihan tambahan hari ini, geurom. Terimakasih sudah menyelamat kan ku dari kantor polisi.” Nana membungkuk sopan. Ia berjalan lurus menuju pintu keluar ruangan. Ia tidak memiliki waktu untuk berdebat lebih lama.

Blam! Suara pintu ruang CEO berdebam.  Kim Young Min hanya bisa pasrah menatap sosok keponakan perempuannya itu dengan tatapan putus asa. Ia memijat – mijat pelan pelipisnya seolah rasa pusing kini mulai menjalar dikepalanya. “Ssshhh.. anak itu sangat sulit untuk diatur!”

***

SM_Canteen

“Jiejie! Kau lihat ini? Seulgi?” Zhaolin menyodorkan ponselnya pada Nana yang tengah menikmati bento sebagai santap siangnya.

Nana berhenti mengunyah, “uhm…” Nana mengangguk santai.

“Jadi Kang Seulgi-gga —“

“Itu hal yang aku harapkan Olin -ah.. “ Nana lanjut melahap makanannya.

“Eoh! Jiejie waktu istirahat ku sudah habis. Aku ke atas dulu eo? Kita pulang bersama. Tunggu aku.” Zhaolin mengambil ponselnya dan memakai topi yang semula ia taruh diatas meja, bocah itu berlarian menuju pintu keluar kantin.

Nana melihat sejenak ke  arah Zhaolin yang sudah menghilang dibalik pintu kantin. “Sshh.. “ TRING! Ia mencampak sumpit dan sendoknya begitu saja dengan mulut yang masih sangat penuh. Nana meraih air mineral dan meneguknya..

Tap! Ia menghentakkan botol air mineral itu sedikit keras. “Aish jinjja!” Nana menggeser nampan makanannya dan kini menjatuhkan kepalanya pada permukaan meja. Ia memandangi taman SM melalui jendela kaca yang ada. “Aku bosan sekali.. “ desisnya pelan.

Tap! “Hoy!”

Sebuah suara hentakan tiba – tiba terdengar dan  membuat Nana kembali bangun dari sandarannya. Nana mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah mengganggu istirahatnya itu..

“Aku duduk disini ya? Kekeke.” Sosok itu terkekeh sambil menarik bangku yang ada.

“Sedang apa kau disini? Mana manager hyung mu?” Nana melihat ke sisi kiri kanan serta seluruh isi kantin yang teramat sepi disiang ini.

“Aku lapar sekali. Kami sedang latihan vocal tambahan.”

“Mana hyungdeul mu? Kau ditelantarkan lagi ?” Nana melipat kedua tangannya, bersiap untuk menginterogasi bocah berambut pirang yang sedang membuka penutup mangkuk pudding dihadapanya saat ini.

“Luhan hyung maksud mu?”

“Yak! Neo — “ perkataan Nana terputus karena seseorang yang baru saja disebut oleh magnae EXO itu  kini melangkah masuk ke kantin.

Nana memalingkan wajahnya menatap Sehun, “kau sengaja eoh?”

Sehun menunda suapan pudding kedalam mulutnya, “anyu. Aku tidak akan pernah setuju jika aku memiliki kakak ipar seperti mu.”

“Pindah ke meja lain!” Nana mengeraskan rahangnya, ia memplototi Sehun dengan geram.

Sehun menghisap sisa – sisa cream pudding yang ada disendoknya, “shireo. Ini tempat favorit ku. LUHAN HYU—-“

SRET! Nana segera bangkit dari duduknya ketika Sehun sedang berteriak memanggil Luhan dari meja barista. “Aku masih memiliki jadwal latihan.” Nana segera melenggang pergi.

Ia juga melewati Luhan yang berjalan menuju arahnya. Sesaat langkah keduanya saling berpapasan. Luhan melirik sekilas tangan Nana yang berbalutkan perban.

“Lihat apa kau?!”

Luhan reflek terkejut ketika Nana menyemburnya secara tiba – tiba. “Tangan mu.. “ Luhan ingin sekali menanyakan keadaan Nana yang terluka karena kejadian malam itu.

Nana ikut melihat tangan kanannya sekilas, lalu kembali menatap Luhan. “Wae? Ada apa dengan tangan ku? Ini maksud mu?” Nana mengangkat kepalan tinju dengan tangan kirinya dan memperlihatkan pada Luhan.

Gulp – Luhan menelan salivanya sedikit susah payah, “Nana -yya.. “ Luhan memundurkan sedikit kepalanya.

“Out! Atau akan ku hajar! OUT!” Nana masih mengepalkan tangannya didepan wajah Luhan.

Luhan perlahan menggeser langkah kakinya untuk sedikit menepi, dan memberikan jalan untuk Nana.

“Geezh! “ Nana membenarkan topi yang ia pakai dan melenggang keluar kantin.

Luhan berbalik ke arah Sehun yang sedang  menikmati pudding di ujung sana.

Sehun menyilangkan tangannya sembari berbisik jelas. “Mission Failed hyung..”

Luhan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Auuwhh kau itu bagaimana?! Ssshh.. “ Luhan menggerutu pada  Sehun, karena rencananya tidak berhasil.

Harusnya tadi aku membiarkan mu untuk menghajar ku agar kau tidak segera pergi Nana-yya..

***

Hari menjelang sore, ruang latihan trainee sudah tampak sepi karena jadwal untuk hari ini telah berakhir. Nana berjalan menuju lokernya yang terletak diluar ruang latihan. Yeoja itu menyimpan bed nama nya kedalam loker.

Brak! Nana menutup kembali pintu lokernya.

“Nana -ah, aku duluan.. “

Nde nde.. “

“Kim Nana bye – bye .. “

Jiejie! Aku tunggu dibawah eo?”

“OK.” Kini ruang practice room benar – benar sepi. “Aish.. “ Nana melupakan sesuatu. Ia meninggalkan ponselnya didalam loker. Ia membuka kembali lokernya dan .. Brak!

“AAAA!” Nana sontak berteriak ketika mendapati sebuah wajah yang kini  tepat berada dibalik loker yang baru saja ia tutup.

Nana menatap geram sosok itu. “Mwol?” Nana bertanya ketus.

“Malam natal nanti noona & eomma meminta mu untuk datang kerumah.”

Nana menatap sosok didepannya itu penuh curiga, “geure. Aku akan menelfon eomonim lebih dulu.” Nana membuka kunci pada layar ponselnya.

Sosok yang semula bersandar pada dinding loker itu berubah tegak dengan raut wajah yang berubah takut. “Ah noona!” ia  mencoba menahan Nana yang hendak menelfon seseorang.

Nana tidak langsung menempelkan ponsel pada telinganya, “wae? Bagaimana bisa seorang Kim Jong In menyapa ku secara langsung? Bahkan sudah 20 tahun aku hidup sebagai sepupu mu kau tidak pernah memanggil ku noona eoh? Bagaimana bisa!” Nana berkacak pinggang.

Anyi. Igeon —“ Kai mulai kebingungan mencari alasan.

“Tenanglah. Aku hanya akan menelan mu hidup – hidup jika kau berbohong padaku.” Nana berkata santai seraya menempelkan ponselnya pada telinganya.

“Ah Chamkamman!” Kai menahan lengan Nana.

“Wae? Masih tidak mau mengaku? Nugu? Siapa yang menyuruh mu melakukan ini? Berbuat sesuatu yang bahkan dapat kau pergunakan untuk bernafas setelah menjalani semua kesibukan mu. Nugu? Nugu Kim Jong In !!” Nana balik menghakimi Kai -___-

Kai menarik nafas frsustasi, “Ah eobseo – eboseo!”

“Yasudah. Pergilah dari sini. Mereka akan berpikir kau sedang mengemis cinta pada trainee  cantik seperti ku. Kau mau menjadi berita utama pada sebuah majalah?” Nana menyandarkan bahunya pada dinding loker.

Kai melihat sekitarnya dengan ekspresi bodoh, “disini tidak akan ada wartawan yang masuk.”

“ Aku yang akan memasukkan gambar mu dan gambar ku kedalam majalah. Etteo eoh?”

“Jangan gila..” Kai meninju bahu Nana.

“Wae? Kau takut dengan kekasih mu itu? Biarkan aku mengingat namanya. Ah! Han Jae Rin matjo?” Nana mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Kai.

“Ssstt…!! Noona jangan keras – keras!” Kai berjengit memohon agar Nana tidak berbuat kekacauan. Karena suara Nana dapat dijangkau oleh siapapun yang berada disepanjang koridor.

“Kekeke. Geure, kha – kha. Palli kha.” Nana mengusir Kai dari hadapannya.

“Tapi aku serius. Eomma memang mengadakan pesta keluarga malam natal nanti.”

Arasseo. Aku akan datang jika tidak banyak jadwal fansigning disana – sini.”

“Cih.. “ Kai melemparkan cibirannya.

“Wae? Kau baru menyadari bahwa sepupu mu ini seperti seorang bidadari eoh?” Nana mengibaskan rambutnya yang tergerai.

Kai menatapnya datar, “hanya namja tidak waras yang menganggap mu bidadari. Khanda.” Kai berbalik pergi.

“Dasar leher ayam!” Nana melemparkan ejekannya.

Kai menyurutkan langkahnya, “mwo? Ya!” Kai berbalik menghampiri Nana. Ia sangat membenci panggilan itu.

Mwol? Mau  Berkelahi? Ayo sini..  “ Nana lebih dulu mengangkat kepalan tangannya.

Kai menatap kesal Nana sesaat, dia tidak akan pernah mungkin melawan Nana yang sudah memegang sabuk hitam taekwondo  semenjak yeoja itu duduk dibangku sekolah dasar.  “Sinting!” Kai berdecak kesal dan langsung berbalik pergi meninggalkan Nana.

“Kekeke.” Melihat sepupunya yang berhasil dibuat mendidih olehnya Nana hanya terkekeh sembari memakai earphone pada kedua telinganya. Ia kini bergegas untuk menyusul Zhaolin yang sudah menunggunya sejak tadi dilantai dasar.

Sementara itu..

Seseorang yang sejak tadi sudah menunggu dibalik loker perlahan menyembulkan kepalanya ketika mendengar langkah Kai datang mendekat.

“Eoh, Jong In -ah Jong In -ah.. “ Luhan menarik lengan Kai yang baru saja mempertaruhkan segenap batin dan  perasaaan karena menghadapi seorang Kim Nana.

“Ssshh.. sudah ku katakan jangan menyuruh ku hyung! Sepupu ku itu menyebalkan! Dia itu sinting! SINTING!” Kai menggerutu sejadi – jadinya.

Luhan mengintip lagi, memastikan bahwa Nana sudah turun melalui tangga diujung sana.

“Jinjja? Awuuhhh kau ini bagaimana! Kau itu sepupunya, bagaimana bisa tidak akur seperti itu!” Luhan balik memarahi Kai.

“Ah molla! Mission Failed hyung.” Kai berdecak kesal.

Luhan mengangguk pasrah, “geure. Gwenchana. Kajja!”

***

EXO’s Dorm

Malam ini memberdeul dapat pulang lebih awal untuk beristirahat menjelang comeback mereka esok hari. Tetapi belum ada satupun dari mereka yang terlelap. Semuanya masih sibuk dengan aktifitasnya masing – masing. Mulai dari menonton TV, bermain game, hingga membaca buku. Terlebih managerdeul hanya mengantar mereka dan kembali lagi ke SM untuk semua keperluan dan persiapan yang matang untuk comeback stage special Desember  esok hari.

Salah satu tertua EXO sedang terserang penyakit langka. Namja yang biasanya selalu bergerak kesana kemari seperti ulat bulu dan menjahili para dongsaengdeul, tetapi malam ini tampak begitu senyap. Luhan hanya berguling – guling dilantai beralaskan permadani biru laut dengan mengutak – atik ponsel yang ada ditangannya.

“Luhan hyung mission failed hahaha.. “

“Pffftt.. Ya! Dia juga menyuruh mu? Jinjja?” Dua magnae yang juga sedang menelungkupkan diri dilantai sambil bermain game pada PSP saling berbisik dengan sesekali melihat arah Luhan.

Eo geurotji. Aku bahkan membayar pudding ku sendiri karena aku gagal menahan Kim Nana pergi.” Sehun berbicara dengan tatapan seriusnya yang tak terlalihkan sedikitpun dari layar PSP.

“Kau itu tidak pernah tulus jika membantu orang Sehunni..” Kai menjawab juga tanpa mengalihkan pandangannya dari layar PSP nya.

“Hidup ini harus ekonomistis Kkamjong.. “

“Realistis!”

“Ahh itu maksud ku. Kekeke.” Sehun terkekeh pelan.

Kai menghentikan permainannya, “ssshh.. geundae, Luhan hyung untuk apa bertemu dengan Kim Nana itu?”

Sehun mengangkat bahunya sebagai jawaban, “molla. Mungkin juga ingin seperti Suho hyung yang sudah kembali dengan yeojachingunya..”

Jinjja? Ya! Eonje? Kenapa aku tidak tahu?” Kai menaruh tangannya pada leher Sehun, seperti hendak menyekik bocah itu.

“Eo. Malam itu kau tidur lebih awal. Aku dan Tao saja yang melihatnya langsung. It’s so neomu romantic..” Sehun berbisik seduktif.

“Poppo isseo? Kisseu isseo? Eoh?” Kai semakin bersemangat.

Tit. Sehun menghentikan permainan gamenya. “Eo, isseotji. Neomu – neomu jinjja hotteu-  Love shot!” Sehun mengecup ibu jarinya.

“Jeongmal? Haha.. kenapa aku tidur cepat sekali malam itu? Sssh.. kau juga kenapa tidak membangunkan ku?” tangan Kai mulai menarik – narik baju bagian bahu Sehun, ia termakan oleh karangan bebas Sehun -_-

“Berhenti membicarakan hyungdeul ketika kami berpura – pura tidak mendengarnya Sehunnie, Jong Innie..”

“Eoh!” Kai dan Sehun melihat arah sofa. Ternyata Suho sudah mendengarkan mereka sejak tadi.

Tiba – tiba ..

“AAAAAAAAAAAAAAAAAA!!”

Mwoya?!!”

“Sssh.. nugu!”

“Omo! Itu siapa?”

“Aish! Siapa yang berteriak!”

“Luhan hyung wae!”

“Telinga ku tuli!”

Dalam sekejap seisi dorm menjadi gempar ketika mendengar sebuah suara teriakan yang berasal dari dinding sudut ruang TV.

“Luhan hyung? Mwoaneongeoya?” Chen orang pertama yang menyadari keberadaan Luhan yang sedang menghadap dinding.

Luhan berbalik “Eoh? Kalian mendengarnya?” ia bertanya polos.

Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab Luhan, kecuali memasang wajah cengo berkepanjangan -__-

“Kekeke. Mian.. “ Luhan tertawa bodoh, ia beranjak masuk ke kamarnya. Blam!

“Luhan hyung dia kena—“

Ceklek! Belum sampai hitungan menit Luhan kembali menampakkan batang hidungnya dari dalam kamar. Namja berwajah imut itu kini sudah lengkap dengan jaket tebal khusus musim dingin miliknya.

“Luhan hyung eodi?” Sehun yang melihat itu langsung bangun dari dengkurannya.

Luhan berjalan cepat menuju pintu keluar dorm.  “Sebentar saja. Jika manager hyung pulang, katakan aku ke apartement Yaegi. Khanda!” Blam! Makhluk jelmaan pangeran rusa itu menghilang  dibalik pintu dorm.

“Yaegi? Untuk apa dia kesana?”

“Yaegi noona? Luhan hyung untuk apa kesana?”

“Ini sudah malam, bukankah Yaegi -ssi sudah tidur?”

Memberdeul semakin bertanya – tanya akan tingkah aneh Luhan.

Tap! Kris menutup buku yang ia baca, “chamkamman! Barusan dia mengatakan mau kemana?” Kris baru menyadari pembicaraan memberdeul.

“Cho Yaegi. Istri mu hyung..” Chen mengulanginya.

“Mwo?” Kris sontak berdiri.

“Katakan pada manager hyung aku ke atas sebentar. Tidak akan lama. Khanda.” Blam! Kris juga ikut keluar menuju lantai atas.

“Katakan pada manager hyung aku akan pergi ke alam mimpi bersama Moon Ri ku.. hooammhh.. “ Baekhyun bangun melangkah menuju kamar.

Halkkaeyo (akan ku katakan) !” Lay mengangkat tangan bersemangat.

Mendengar akan hal itu Baekhyun kembali berbalik, “Lay hyung!”

Lay menatapnya polos, “wae? Tadi kau menyuruh untuk mengatakannya pada manager hyung kan? Eo, akan ku sampaikan.”

“GYAHAHAHAHAHA.. “ tawa memberdeul memecah melihat raut wajah Baekhyun yang berubah pucat pasi.

***

Tit – tit tiiitt. Kombinasi password sesuai. Kris melangkah masuk kedalam apartement istrinya.  Ia melihat seluruh isi apartement yang tampak gelap gulita. Matanya melotot sempurna ketika melihat lampu kamar Yaegi yang masih terang benderang.

“Rusa itu masuk ke kamar? Geezh.. “ Kris menggunakan langkah seribu untuk segera masuk ke kamar.

Ceklek! “Cho Yaegi apa yang — “ Kris menghentikan ucapannya ketika melihat Yaegi dalam keadaan setengah tertidur didepan meja belajarnya. Yeoja itu sepertinya tidak sanggup lagi menahan rasa kantuk yang sudah menyelimutinya. Itu terlihat dari mata Yaegi  yang sudah tertutup, Yaegi mungkin juga tidak menyadari jika Kris ada disini.

Kris menghampiri  Yaegi, ia berjongkok dihadapan istrinya itu. “Yaegi -ah? Yaegi -ah?” Kris menepuk pelan lengan Yaegi agar ia  tidak terkejut.

“Eungg.. “ Yaegi berusaha membuka matanya yang terasa berat. “Kris -ah..” samar – samar ia dapat melihat sosok Kris dengan jelas. “Wasseo?” tanya Yaegi dengan suara parau.

“Kenapa tidur disini? Kau bisa melanjutkannya besok. “ Kris menutup laptop dan semua buku materi homeshooling Yaegi, ia menuntun Yaegi menuju tempat tidur dengan mata yang masih celingukan melihat seisi kamar.

“Yaegi -ah dimana rusa itu?” Kris menjangkau setiap sudut kamar yang sudah tampak kosong karena sebagian barang – barang yang ada sudah dibawa ke rumah baru yang akan ditempati oleh keluarga kecilnya mulai  esok hari. Kris tidak menemukan tanda – tanda keberadaan Luhan disana

“Dua rusa kecil mu sudah tidur Kris -ah, hooamhh.. “ Yaegi menjawab asal, ia juga tidak tahu apa maksud dari pertanyaan Kris.

“Cih kau ini..” Kris tersenyum tipis ketika melihat ekspresi wajah Yaegi yang saat ini sangatlah lucu. Yeoja itu berbicara dibawah kendali sadarnya. Kris menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuh Yaegi.

“Jadi Luhan pergi kemana?” desisnya dalam hati.

***

‘Suasana hati seperti padang pasir, tapi Sungai Han membuatnya kembali menjadi tanah yang gembur^^’

“Itu diposting 10 menit yang lalu..”

Luhan berlarian menyusuri jalan setapak yang ia lewati melalui pintu gerbang belakang apartement. Dengan jaket tebal dan penutup kepala yang melindunginya dari udara malam yang sangat dingin, Luhan semakin mempercepat langkahnya untuk mencari sesuatu yang menurutnya harus ia temukan malam ini juga.

Luhan kembali membaca pesan KakaoTalk yang dikirimkan oleh Soo Hee. Selama ini diam – diam Luhan menjalin hubungan dekat dengan Soo Hee karena Soo Hee adalah sosok teman baik bagi Nana. Ia juga tidak mengerti mengapa ia tiba – tiba merasa tertarik untuk hal yang berkaitan dengan Kim Nana.

“Ssshh.. “ Luhan melihat seluruh pelosok taman sungai Han, ia tidak menemukan siapapun disana. Tidak akan ada orang yang akan keluar dan menghabiskan waktu didalam udara dingin seperti saat ini.

“Apa dia mengerjai ku?” Luhan menggumam pelan sembari matanya mencoba menemukan sosok yang dimaksud oleh Soo Hee.

“Sigh – “ Luhan menghembuskan nafasnya pasrah. Ia menekan opsi ‘balas’ pada ponselnya.

“To : Soo Hee Yoon

Eobsseoyo. Kau membohongi ku?”

Bip.

“From : Soo Hee Yoon

Anyu. Screen capture apa itu sebuah penipuan?”

Flip.

“To : Soo Hee Yoon

Eo. Gomapta.”

“Ssshh.. “ Luhan mengeluarkan uap dari dalam mulutnya, malam ini terasa sangat dingin. Ia memasukkan kembali ponsel kedalam saku jaketnya dan kembali menysuuri taman tepi sungai Han untuk mencari sosok itu..

Aku menyadari ini  tanpa aku mengendalikan kesadaran ku. Nana-yya.. eodisseoyo?

***

Sisi lain sungai Han ..

#Flash

Jika takdir berpihak pada kita maka kita menikah saja.

Aku mencintai mu.. aku sangat mencintai mu.. tidak bisakah kau menutup mata dan hati mu untuk namja lain lalu menungguku ?

Kau akan tinggal dineraka jika mengingkarinya..

Namja jepang tidak lebih tampan dari namja chinese..

Semua yeoja yang akan ku lihat .. itu wajah mu..

“Cih.. itu semua bukankah hanya sampah?” Nana berkali – kali tersenyum geli bercampur miris ketika kata demi kata yang pernah ia dengar langsung dari seorang Xi Luhan kembali terngiang didalam pikirannya.

Senyuman itu sesaat memudar ketika..

#Flash

“Liqian itu siapa? Kenapa tidak menjawab ku Xiao Lu!”

“Ya! Kim Nana bisakah kau selalu tidak berteriak – terika saat menelfon ku?”

“Jawab aku!”

“Dia mantan kekasih ku!”

“Geurekuna?”

“Itu semua masa lalu ku, Hanya masa lalu ku!”

“Bohong!”

“Memangnya kau siapa?” DEG!

Satu kata yang ternyata dapat melumpuhkan perasaan Nana sepenuhnya.

 

Sorot mata Nana lambat laun berubah nanar ketika sampai dikalimat itu. Ia memejamkan matanya sejenak sembari menghela nafas agar perasaannya tidak bergejolak. “Memangnya kau siapa? Neo nuguya? Nuguyagu? Nuguchi? Nugushinka? Cih..!! “ Nana berbicara dengan dirinya sendiri. Kali ini ia tertawa jengah karena bayang – bayang itu masih saja suka menghampiri pikirannya.

Dalam waktu yang bersamaan..

GREP ~ sebuah pelukan melingkar pada lehernya secara tiba – tiba. Nana sedikit terkejut dengan pelukan itu, tetapi ketika ia menghirup aroma parfum red ocean yang begitu tajam.. Nana kembali duduk seperti semula tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Kenapa tidak mengangkat telfon ku hmm?” namja berbalutkan blazer hitam, masker dan topi yang menutupi setengah permukaan wajahnya itu menopangkan dagunya pada salah satu bahu Nana.

“Aku tidak mendengarnya..” Jawab Nana dingin dengan tatapan lurus kedepan.

“Kau sangat lelah berlatih hari ini? Hmm?” chup – namja itu mengecup sekilas kepala Nana sebelum ia ikut duduk  disamping yeoja itu.

“Eo.” Nana hanya menyahut dengan membulatkan bibirnya.

Namja itu perlahan membuka masker yang menutupi wajahnya. Terlihatlah pahatan wajah oval dengan garis bibir melengkung lurus serta tatapan mata yang meneduhkan.

“Kenapa tidak memakai baju yang lebih tebal? Kau akan sakit..” Namja  itu mengusap lembut kepala Nana.

“Berhenti memperlakukan ku seperti ini. Shireosseo.” Nana mengelak dari sentuhan tangan itu.  “Wae? Kau masih menunggu — “

“Anyu. Aku tidak sedang menunggu siapapun. Neo do anya.” Nana memakai kembali ranselnya.

“Eodigga?” namja itu  mengernyit ketika Nana seperti ingin bergegas  pergi.

Nana bangkit dari duduknya, “ menghindar dari mu.” Ia mulai melangkahkan kaki untuk pergi dari sana.

“Ya Kim Nana!” sosok itu meneriakkan namanya frustasi, wajah namja itu  tampak merah padam ketika Nana sama sekali tidak berbalik padanya.

Disisi lain Nana merasakan sebuah bayangan kini berpapasan muncul didepannya.. DEG! Kedua bola mata yeoja berlesung pipi itu membulat sempurna.

“Nana -yya..” suara berkarakter emas itu memanggil namanya.

Terlalu mengejutkan bagi Nana jika pemilik kalung yang masih bergelayut dilehernya ada dihadapannya saat ini.

“Ya Kim Nana tidak bisakah kau — “ DEG! Suara namja itu juga  ikut terputus ketika ia berjalan mendekat ke arah Nana dan menyadari akan sosok Luhan.

“Luhannie, wasseo?” DEG! Raut wajah serta suara yang tak pernah lagi Luhan dengarkan sejak pertengkaran malam itu. Nana tersenyum manis, menyapanya lembut.

“Mian.. aku melupakan sesuatu. Eo, aku menunggu orang ini..” jelas Nana pada sosok namja  didepannya sambil menunjuk Luhan yang berdiri disampingnya.

“Hoya -ssi annyeonghasseoyo.” Luhan memberi salam sopan.

“Ah nde, hyung annyeonghaseyo.” namja itu membalas salam Luhan dengan tak kalah sopan. Nana sesaat menatap dua namja itu bergantian. Grep! Ia melingkarkan tangan nya pada sebuah lengan..

“Xiao Lu, kajja.. “

To Be Continue 

186 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES ‘HanNa’ NO MORE – CHAPTER 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s