EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 5

1395382_463247257127853_117550675_n

Written By : Ulfa Muriza – @Yaegi_Cho11700 | Poster By : Juwita

Zhang Yi Xing | Lay EXO – M

Jung Woo Yeon | Pemeran Fiksi | Dokter Keluarga Cho

Jung Soo Jung | Krystal F (x)

Kyuhyun Super Junior

Wu Yi Fan | Kris EXO – M

Cho Yaegi | Pemeran Fiksi Resmi

Wu Geum Chan |  Wu Geum Sha | Pemeran Fiksi Resmi

EXO | Manajer EXO  | Staff SM  | dan beberapa pemeran pendukung fiksi / non fiksi yang akan kamu temukan dengan sendirinya ;)

Rating R (Restricted) – 17 ! Di rekomendasikan untuk Xonji – Xonam yang sudah berumur 17 :D

Romance – Family – Sad – Friendship

( Yang pusing dengan hal – hal percintaan anak EXO, jangan baca :D )

Dilarang keras menjiplak! Dilarang keras copy – paste ! Jadilah pembaca cerdas, mandiri,  kreatif dan positif :) 

It’s Belong To Me

OST  ::  2AM _ I Wonder If You Hurt Like Me

Enjoy Your Reading – Sasasarangieyoooo :D

“Ini bukan bagaimana kita mempertahankan, tapi bagaimana cara kita untuk memilih dan menetap pada kenyataan. It’s so ridiculous”

ooOoo

“Ah! Ne?”

Teriakan Tao  membuat Ji Ah tersadar dari lamunannya yang telah menerawang jauh hingga ingin menampar Lay. Namun  pada kenyataannya, ia kini sedang bersama Tao untuk menikmati kencan pertama mereka setelah terpisah cukup lama oleh jarak & waktu.

“Kau kenapa Jiji?” Tao bergidik kesal. Sudah berkali – kali ia terabaikan karena Ji Ah masih saja melamun tanpa alasan.

Ji Ah menggeleng cepat, ia berusaha menyimpan semua keluh kesah & niatnya untuk melabrak Lay seperti yang ia hayalkan barusan. “Tidak. Mian Tao-ya.” Ji Ah meraih cup minumnya. Ji Ah menyedot kuat bubble tea yang di beli oleh Tao untuk kencan mereka di beranda PongPyu malam ini. Tao mungkin akan terlihat apatis jika siapa saja  baru  mengenalnya, namun itu salah, Tao adalah sosok yang sangat peka terhadap keadaan.

“Kau kenapa? Tidak mau bercerita?” Tao menaruh kembali bungkusan makanan ringan yang baru saja ia nikmati. Tao merasa tidak ada yang menarik dari pertemuan malam ini. Ji Ah terkesan datar tak banyak berceloteh seperti biasa.

“Jiji –ya?”

“Ah! Ne?” Lagi – lagi Ji Ah terlonjak karena sentuhan tangan Tao di bahunya.

Tao mengubah posisi duduknya agar dapat bisa  memperhatikan lekuk wajah kekasihnya itu lebih jelas, “apa terjadi sesuatu? Kau sakit?” Tao meraba dahi Ji Ah.

Ji Ah menggeser pelan tangan Tao, ia berusaha menarik seulas senyuman. “Tidak Tao-ya. Aku baik – baik saja. Tao –ya..” panggil Ji Ah lirih.

“Ne?” Tao menatap lekat manik mata Ji Ah.

Ji Ah meraih satu tangan Tao yang tentunya lebih besar dari telapak tangannya, lalu gadis itu mengenggam tangan Tao hangat.

“Tao –ya. Yeon, tidak mengizinkan kita pergi dengan cara seperti ini. Kau masih mau melanjutkannya?”

“Apa karena hubungan kakak mu dan Xing gege?”

Ya, itulah yang Ji Ah harapkan. Tao menyebut nama ‘Lay.’ Menurutnya akan lebih mudah jika Tao mulai bisa membaca keadaaan. Ji Ah tidak mengangguk ataupun menggeleng, ia justru berbalik menghadap Tao sepenuhnya.

“Benarkah Xing oppa mengidap suatu penyakit?” Ji Ah menahan suaranya yang bergetar. Tatapannya penuh harap akan pengakuan Tao.

Tao langsung mengernyit penuh tanya, “kenapa kau menanyakan hal itu?”

“Jawab aku Zitao.”  Ji Ah Ah mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Tao.

“Hmm.” Tao mengakuinya. “Kakak mu yang memberitahu hal ini?” pertanyaan Tao membuat Ji Ah teringat akan sesuatu yang ia bawa bersamanya. Dengan cepat ia merogoh sesuatu dari saku jaketnya itu. Secarik kertas yang ia lipat asal. Ji Ah menyodorkannya pada Tao.

Tao membaca itu sekilas, lalu …

“Jadi kakak mu dokter yang menangani Xing ge?”

“Aku tidak tahu Tao-ya. Kakak ku juga membiayai kebutuhan hidup keluarga Zhang selama ini. Tao-ya, apa yang harus aku lakukan?” Ji Ah mulai gusar.

Tao melepaskan nafas frustasi, “Jiji kau tidak sedang mengada –adakan? Xing ge tidak mungkin memperalat kakak mu. Lalu, melakukan seperti yang kau katakan barusan. Tidak, aku tidak percaya. Dan mungkin ini juga Zhang Yixing dengan orang yang berbeda.” Tao menunjuk kertas yang menerangkan bahwa Lay terdaftar sebagai penderita ‘blood disorder’ & ‘hemofilia’ yang akan di jamin oleh pihak rumah sakit Farfield Sydney, jika sewaktu – waktu akan mengalami sebuah kecelakaan.

Ji Ah membantah cepat sugesti Tao, “tidak Tao –ya. Bagaimana mungkin ada orang yang berbeda dengan semua data diri yang sama? Tao –ya … “

“Lalu apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak bisa menuduh orang tanpa bukti. Bicarakan pada kakak mu dan tanyakan padanya. Aku juga tidak memiliki hal yang bisa ku katakan Jiji-ya.” Dalam sekejap sepasang muda mudi konyol itu berubah serius. Keduanya kini berpikir dan berbicara layaknya dua orang dewasa yang sudah sangat mengerti akan hal yang sedang mereka perbincangkan.

“Tadi aku berandai – andai sedang menampar Xing itu.”

“MWO?!”

Pekikan Tao membuat Ji Ah terhenyak. “Ya Tao Huang!” Ji Ah berdecak geram.

“Mungkin kakak mu hanya ingin memperlihatkan rasa cintanya terhadap Xing ge.” Suara Tao mulai memancing emosi.

Ji Ah bangun dari duduknya, “gege mu itu dengan seenaknya mencampakkan Yeon ku melalui telfon Zitao! Jika memang dia seorang laki – laki dia tidak akan melakukan itu! Kakak ku bahkan tidak bisa disebut sebagai manusia lagi ketika gege mu mempelakukannya seperti itu! Aku sudah kehilangan kakak laki – laki ku karena kalian!”

“SIAPA YANG KAU MAKSUD DENGAN KALIAN!” amarah Tao tiba – tiba memecah. Ia membentak Ji Ah dengan wajah yang mulai merah padam.

“GEGE MU! KARENA KRIS KAKAK KU MATI!” Ji Ah memekik keras.

“TUTUP MULUT MU!” Tao berteriak lebih lantang.

Seketika air mata Ji Ah mulai menetes dari pelupuk matanya. Ia perlahan terisak.

“Aku selama ini bertahan karena aku berpura – pura tidak mengerti apa yang terjadi Tao-ya. Jika Joon sudah pergi, lalu apa Yeon juga harus bertingkah seperti orang asing di hadapan ku Tao –ya? Yeon tidak pernah lagi membukakan pintu kamarnya ketika aku mengetuknya Tao-ya. Yeon memilih untuk menyiksa dirinya sendiri dan menangis di malam hari hanya karena rasa sakit yang tidak tahu ia lampiaskan kemana. Aku menyimpulkan semua itu sejak  Xing oppa mengatakan untuk mengakhiri semuanya Tao-ya. Aku tidak memiliki orang yang dapat ku percaya Zitao, aku hanya menanyakannya pada mu. Apa yang harus ku lakukan? Hiks.. “

Ji Ah menutup mulutnya, menahan isakan yang semakin menjadi. Ia hanya ingin Yeon kembali seperti dulu. Ia ingin Yeon tidak menjadi orang asing dan kembali mengisi liburan bersamanya. Bukan justru hanya terus bekerja dan berkutat dengan segudang diagnosa  laboratorium, lalu berakhir dengan isakan tangis di malam hari ketika Woo Yeon belum juga menemukan titik temu dari hasil penelitiannya. Seakan hidup, nafas, dan dunia yang Woo Yeon miliki hanyalah bernaung pada Lay. Dalam diam, Ji Ah mengetahui jika Woo Yeon belum bisa melupakan Lay. Mungkin memang terdengar sangat klasik, namun tidak ada manusia yang bisa mengendalikan perasaan manusia lainnya kecuali dirinya sendiri.

Lama Tao bungkam karena mendengar setiap kata yang terlantun dari gadis berbibir mungil itu.

“Kau benar Ji Ah.”

DEG! Mata sembab Ji Ah mendongak  menatap Tao. Ji Ah tidak pernah mendengar Tao memanggilnya seperti itu.

“Kau benar. Kau seharusnya mendengarkan kakak mu, dan aku tidak akan menyalahkan mereka (gege) hanya karena hal yang aku sendiri tidak mengetahuinya Ji Ah.”

“Zitao –ya..” Ji Ah terperangah tak percaya. Hatinya mulai berkedut. Apakah Tao sedang mengatakan bahwa hubungan mereka segera  berakhir?

“Aku tidak mengatakan kita putus. Aku tidak ingin hubungan yang telah terjalin ini keruh. Mian, aku tidak memiliki jalan keluar untuk masalah mu Ji Ah.”

“Huang Zitao..” Ji Ah semakin tak percaya. Tangisnya mulai bersuara, Tao tidak seperti yang ia harapkan.

Tao menunduk lemah, lalu ia berusaha untuk mendongak dan menatap Ji Ah. “Mianhanda Ji Ah.”

“Hiks.. “ Ji Ah menyeka kasar sungai kecil yang terus terbentuk pada pipinya. Ia berusaha mengontrol perasaannya yang semakin bergemuruh perih.

“Ne. Kau memang benar Tao –ya. Urineun.. hyeojija uri (kita putus saja). Aku sudah mewakilkan mu untuk mengatakannya. Aku mendengarkan kakak ku, karena aku tidak akan membela orang yang salah.”

Ji Ah mengigit keras bibirnya agar isak tangisnya tidak kian larut di hadapan Tao. Ji Ah menarik lembaran diagnosa yang ia bawa dari tangan Tao dan beranjak pergi dari sisi laki – laki itu.

Tao mengepal erat salah satu tangannya, ia berupaya keras untuk menahan dirinya agar tidak menahan langkah Ji Ah.

Sementara itu Ji Ah yang sudah tiba di depan pintu penghubung antara lobi dan beranda apartement sepertinya kehilangan denyut jantungnya saat itu juga.

DEG! Gerak tangan Ji Ah membeku seketika pada saat ia mendorong pintu beranda dan menemukan siapa yang berdiri di baliknya.

“Nona Jung benarkah semua yang kau  katakan tadi?”

DEG!

“Y-yi .. Yi – Yixing..” Ji Ah nyaris tidak bernafas lagi. Sosok Lay benar – benar membuatnya kehilangan akal sehat saat ini. Tidak tahu apa yang harus ia perbuat setelah ini.

Lay menaikkan sedikit topi yang menutupi wajahnya, “jadi ini yang ingin kau katakan pada ku waktu itu nona? AKU BERTANYA PADA MU NONA!”

Tao yang berdiri diluar beranda menoleh cepat ke arah pintu apartement  ketika ia mendengar suara pekikan yang sangat tidak asing di telinganya. “Xing ge. Gege!”

Tao mendapati Ji Ah & Lay  masih berdiri disana. Tao melihat wajah Lay yang seperti sedang menahan sesuatu. Sementara Ji Ah masih membeku dengan lidahnya yang semakin terasa kelu untuk berucap.

Lay menarik kasar sesuatu dari tangan Ji Ah yang ia yakini sebagai pembahasan antara Tao & Ji Ah pada saat mereka di beranda tadi. Lay merampas kertas diagnosa nya sendiri dari tangan Ji Ah. Dengan cepat Lay membuka kertas tersebut. Tanpa kata Lay berbalik dan melangkah cepat menyusuri koridor yang mengarah menuju basement apartement.

“Ge! Gege kau mau pergi kemana? YIXING GEGE!”

‘FLASHBACK’

“Yixing kau mau pergi kemana?”

Yongmin manajer menyapa Lay yang tidak melihatnya duduk di ruang TV. Lay sedikit terkejut dan menoleh, “sebentar saja hyung. Aku hanya ke beranda belakang untuk mencari udara segar.” Lay menunjuk arah pintu dorm.

Yongmin mengubah posisi duduknya sambil memandang Lay sedikit heran, “kau juga bisa duduk di taman belakang kan? Besok kau bisa terlambat ke bandara.”

Lay hanya diam. Melihat itu, Yongmin manajer akhirnya mengiyakan. Membiarkan Lay untuk keluar sebentar. “Yasudah pergilah.”

“Tao di beranda juga kan?” Chen bangun dari rebahannya. Ternyata Chen juga ikut menonton bersama Yongmin. Hanya saja ia tidak terlihat sebelumnya karena tertutup oleh badan sofa.

“Tao di beranda?” Yongmin manajer berpikir keras.

Chen spontan menutup mulutnya sendiri, “ah hyung! Tidak. Tao di atas. Oh bukan maksud ku di bawah. Di dorm K. Errr..” Chen kelepasan bicara.

Lay tak banyak berkomentar, ia langsung berlalu menuju pintu keluar dorm. “Aku pergi dulu.”

Malam ini memang sedikit berbeda. Laki – laki bermarga Zhang itu memilih untuk menghirup udara segar di tempat yang jarang ia kunjungi sebelumnya. Dengan alasan hati, ingin mencari suasana baru. Lay akhirnya memutuskan untuk bergerak menuju beranda apartement. Lagipula itu tidak akan memakan waktu banyak untuk kembali ke dorm jika rasa kantuk mulai datang.

Tapi mungkin malam ini adalah ‘jackpot’ bagi Lay sehingga ia mendapatkan ‘heart attack’ dalam satu waktu. Semula ia hanya berdiri di balik pintu kaca apartement ketika melihat seseorang yang tengah berdiri membelakanginya dari dalam beranda. Ketika kedua matanya dengan jeli memastikan bahwa itu hanya Tao, Lay mulai mendorong pintu kaca tersebut. Akan tetapi Lay kembali menghentikan langkahnya ketika seorang gadis terlihat dari balik badan Tao. Mereka saling berhadapan.

“Ahh ternyata sedang berkencan..” Lay mengurungkan niatnya untuk ikut melangkah menuju beranda. Ia hendak kembali mendorong pintu tersebut sebelum Tao ataupun gadis yang sedikit ia kenali itu tidak melihatnya.

“GEGE MU! KARENA KRIS KAKAK KU MATI!”

“TUTUP MULUT MU!”

DEG!

Lay mengeras di tempat. Langkahnya surut. “Gege? Kri-s?” jantung Lay berdegup tak beraturan ketika suara di dalam sana memecah. Ia mendorong sedikit pintu kaca agar ia dapat mendengar apa yang sedang di perdebatkan. Terlebih itu juga karena  menyangkut mereka (EXO). Tak disangka – sangka olehnya jika semua perdebatan itu adalah ‘tentang’ nya.

ooOoo

Goon Sam Apartement

“Hati – hati Kyu, jangan sampai dia terbangun.”

Woo Yeon memberikan tas kecil Kyubin pada Kyuhyun yang sedang kesusahan menggendong Kyubin yang sudah terlelap. Ia sedikit terlambat mejemput putra nya hingga pangeran kecil itu sudah tertidur pulas sebelum ia datang.

“Gomawo. Aku pulang dulu.”

Woo Yeon meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk mengantarkan Kyuhyun dan Kyubin hingga ke depan pintu apartement.

Kyuhyun menarik knop pintu melangkah keluar. “Bye.” Kyuhyun berbalik sejenak untuk berpamitan pada Woo Yeon sebelum ia benar – benar beranjak pergi.

Woo Yeon menarik seulas senyum dengan tangan yang membelai lembut rambut coklat Kyubin. “Jaga kecepatan mengemudi mu. Hati – hati Kyu.”

Guratan kekecewaan secara tidak langsung terpatri pada wajah Kyuhyun. Ia mulai menganggap Woo Yeon sebagai sosok kekasih di kehidupan yang sebenarnya, tapi mungkin tidak dengan Woo Yeon.

“Hmm. Jangan tidur terlalu larut. Jaga kesehatan mu Yeon.” Kyuhyun tersenyum getir. Ia berbalik pergi. Baru satu langkah  Kyuhyun menggerakkan kakinya, ia berhenti.

Kedua mata coklat Woo Yeon ikut terbuka lebar ketika ia tahu bahwa Kyuhyun menghentikan langkahnya karena seseorang yang baru saja keluar dari lift dan berjalan ke arah mereka.

“Yixing?” desis Woo Yeon pelan. Kyuhyun ikut mengernyit bingung. Lay hanya membungkukkan badan sesaat,  lalu  melewati Kyuhyun, dan menghampiri Woo Yeon di depan pintu apartement.

“Jika kau masih melihat pada ku hanya karena ini, jangan lakukan itu. Berhenti menganggap ku sebagai seseorang yang kau kenal.” Lay menyodorkan kertas diagnosa yang ia rampas dari tangan Ji Ah di beranda tadi beberapa saat lalu.

Bibir Woo Yeon terkatup rapat. Dunia seakan berhenti berputar. Lembaran diagnosa yang sangat penting baginya itu, kini bagaikan secarik kertas yang tidak bisa di gunakan sama sekali. Terlebih, kertas itu bisa berpindah tangan pada orang yang bersangkutan. Woo Yeon tidak mungkin lupa,  ia tidak pernah membawa hasil diagnosa itu ke rumah sakit sekalipun setelah Jay mengirimkan padanya.

“Jangan memandang rendah pada ku dokter Jung. Aku akan bertahan hidup sekalipun tidak ada dokter yang bisa menyembuhkan penyakit ku.” Wajah Lay kembali merah padam. Meskipun intonasi suaranya terkesan datar, namun itu sangat menusuk.

Kyuhyun sama sekali tidak berbalik dari posisinya. Ia memilih untuk mendengar tanpa berbalik untuk  melihat keduanya. Rasa takut akan pengakuan Woo Yeon yang tidak ingin ia  dengar, kembali memenuhi pikirannya.

Woo Yeon menghembuskan nafas pelan, “aku bisa menjelaskannya pada mu Yixing –ssi.”

“Berhenti terlibat di dalam kehidupan ku. Aku tidak menyukai semua ini dokter Jung.”

Perkataan Lay membuat perasaan Woo Yeon perlahan berkedut. Ketakutan akan Lay benar – benar tidak melihat kepadanya lagi mulai menguasai pikirannya.

“Zhang Yixing –ssi..” Woo Yeon tidak ingin air matanya tumpah disini. Ia harus bisa bertahan selama yang ia bisa.

“Ku pikir kita memiliki pemikiran yang sama. Aku membenci orang – orang yang menganggap ku lemah.”

“Aku menyukai mu.”

DEG! Kyuhyun sontak menoleh setelah kata – kata itu dengan cepat menimpali kalimat Lay. Ya, pengakuan Woo Yeon membuat hati Kyuhyun ikut berkedut. Ia semakin tidak mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu.

Woo Yeon menatap Kyuhyun sesaat, mata gadis itu mulai berkaca – kaca. Woo Yeon tidak bisa menahan lebih lama. “Aku masih menyukai mu Zhang Yixing –ssi.” Woo Yeon mengucapkan kalimat itu dengan segenap keberaniannya.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya kasar. Ia kembali teringkari .

“Aku membenci orang – orang yang menganggap ku lemah.”

Perkataan Lay kali ini membuat air mata Woo Yeon kian mengalir.

“Lalu kau boleh dengan seenaknya memanfaatkan orang yang kuat?”

Kyuhyun, Lay, dan Woo Yeon secara bersamaan menoleh pada suara yang berasal dari seseorang yang baru saja keluar dari dalam lift.

“Jiji?” Woo Yeon tak percaya.

Ji Ah berjalan cepat ke  arah mereka. Matanya yang sembab menatap Lay skeptis. “Berhenti mengusik kehidupan kakak ku. Kau hanya memikirkan kelemahan mu. Apa kau tidak berpikir bagaimana orang lain melindungi kelemahan mu itu?!”

“Ji Ah!” intonasi suara Woo Yeon meninggi.

Ji Ah beralih menatap sang kakak, “kau itu bodoh Yeon. Orang ini  sudah mencampakkan mu Jung Woo Yeon!” PLAK! Satu tamparan mendarat mulus pada pipi Ji Ah.

Kyuhyun dan Lay menyaksikan semua ini dengan rasa tak percaya. Ji Ah tersenyum sinis, ia mendongak dan menatap Woo Yeon tajam. “Kau menampar ku? EONNI KAU MENAMPAR KU! HIKS.” Ji Ah memekik dengan tangisan yang tak dapat ia bendung lagi.

Ji Ah beralih menatap Lay tajam. “Kau itu pengecut! Manusia tidak tahu terimakasih!”

“HENTIKAN!”

“Appa..”

Teriakan Woo Yeon membuat Kyubin terkejut dan terbangun dari tidurnya. Pangeran kecil itu berusaha membuka matanya dan menemukan bahwa ia berada di dalam gendongan sang appa.

TING!

Yaegi baru saja tiba dengan  kotak makanan yang ia bawa. Namun ia memelankan langkahnya ketika melihat sesuatu dari pintu apartement Woo Yeon.

“Lay –ssi?” Yaegi menajamkan penglihatannya ketika mendapati seorang laki – laki yang terlihat seperti Lay dari arah samping.

“KYAAA!”

“Omo!” Yaegi spontan menutup mulutnya ketika ia melihat Ji Ah berteriak lantang dan berlalu masuk ke dalam apartement.

Yaegi nyaris terlonjak ketika ia menyadari jika Kyuhyun berdiri tidak jauh darinya. “K-yu? Kyu? Kau sedang apa — eh?” Yaegi terhenyak tak mengerti ketika Kyuhyun berjalan menghampirinya dan langsung menyeret lengannya menuju lift.

“Kyu.. aihh Kyu apa yang terjadi?”

“Ikut aku.”

“Eh? Yeon –ah .. Yeon –ah aku — “ Yaegi berusaha berbalik sambil mengangkat kotak makanan yang ia bawa kepada Woo Yeon di ujung sana. Namun usahanya sia – sia karena …

TING! Pintu lift sudah tertutup rapat.

Lay hanya menoleh sejenak pada pintu lift, ia seakan tidak memperdulikan lagi jika Kyuhyun dan Yaegi juga ada disini.

“Kita tidak perlu bertemu lagi sebagai orang yang saling mengenal ”

Sret –sret – sret

Lay merobek – robek kertas diagnosa itu menjadi beberapa bagian, dan membuangnya didepan Woo Yeon. Zhang Yixing malam  itu adalah sosok yang sangat dingin, juga menakutkan.

“Yixing –ssi, aku bisa menjelaskan semua yang ingin kau ketahui. Jangan seperti ini.” Woo Yeon menahan isakannya. Ketakutan terus menggoroti hatinya.

“Aku permisi. Maaf untuk semua keributan yang telah ku perbuat disini dokter Jung.” Lay bergegas pergi.

“Yixing –ssi!”

“Zhang Yixing –ssi!”

Lay sama sekali tidak menoleh meskipun Woo Yeon terus meneriakkan namanya. Hingga sosoknya menghilang di balik pintu lift.

Isakan Woo Yeon akhirnya memecah keheningan  koridor apartement. “Hiks..” Woo Yeon menjambak gemas rambutnya sendiri. Rasa kesal yang tidak tahu harus kepada siapa harus ia salurkan semakin membuat dadanya terasa penuh sesak.

Woo Yeon mengingat akan sesuatu. Ia dengan cepat melangkah masuk ke dalam. Woo Yeon mengobrak – abrik meja ruang tamu yang berserakan dengan lembaran – lembaran dokumen rumah sakit serta hasil lab. Ia membongkar semua map untuk mencari sesuatu. Woo Yeon masih bertanya – tanya dari mana Lay mendapatkan pertinggal hasil diagnosa itu.

Kedua tangan Woo Yeon meremas erat map terakhir yang ia buka. Isi dari map tersebut memang sudah tidak beraturan. Seseorang pasti sudah membuka map tersebut tanpa sepengetahuannya. Woo Yeon mencampak map tersebut dan berjalan ke kamar yang bersebelahan dengan kamarnya.

BRAK! Woo Yeon membuka pintu kamar itu tanpa menutupnya kembali. Ia mendapati Ji Ah yang sedang duduk didepan cermin rias sembari mengusapkan kapas ke permukaan kulit wajahnya. Ji Ah sama sekali tidak menggubris kehadiran Woo Yeon yang jelas – jelas terpantul dari cermin rias.

“Jiji, kau yang mengambil kertas itu? Kau memberikan hasil diagnosa itu padanya? Kenapa kau melakukan itu Ji Ah?”

Ji Ah tetap dengan aktivitasnya. Ia menguncir tinggi rambutnya agar lebih mudah dalam membersihkan wajah.

Woo Yeon berjalan mendekat. Ia melihat Ji Ah dari pantulan cermin rias, “Jiji, aku bertanya pada mu. Jiji jawab aku.”

Sentuhan tangan Woo Yeon di pundaknya, membuat Ji Ah berbalik. Ia menepis kasar  tangan Woo Yeon dari bahunya tanpa bersuara. Woo Yeon menatap Ji Ah semakin tak percaya. Sesungguhnya ia menyadari jika ia telah khilaf menampar adik sematawayangnya itu. Tapi bagi Woo Yeon, karena kelancangan Ji Ah, gadis itu pantas untuk di tegur.

“Ji Ah katakan sesuatu.” Woo Yeon menatap Ji Ah nanar.

Ji Ah justru membuang pandangannya. Woo Yeon mengalihkan wajah Ji Ah agar kembali melihatnya, “kenapa kau melakukan itu? Apa kau pikir itu hanya sebuah lelucon? APA KARENA AKU BUKAN SAUDARA KANDUNG MU!”

“DIAMMMMM!”

Teriakan Ji Ah mengalahkan intonasi suara Woo Yeon. Ji Ah mendorong kasar tubuh Woo Yeon agar kedua tangan Woo Yeon terlepas dari bahunya. Perkataan Woo Yeon sungguh sangat menusuk hati.

PLAK!

Satu tamparan lagi dilayangkan oleh Woo Yeon pada pipi Ji Ah. Rasa amarah membuat dokter muda itu  tampak kalut.

“Kenapa kau lakukan ini pada ku Ji Ah? Seumur hidup ku aku tidak pernah bisa memilih jalan hidup ku sendiri. Joon, ayah, ibu… aku mengikuti semua keinginan mereka. Hingga sekian tahun aku hidup dan bahkan sudah  layak berdiri sendiri, tapi aku masih selalu mendengarkan kalian. Kenapa kau melakukannya Ji Ah?  Apa karena aku tidak menyukai hubungan mu dan Zitao? Apa aku tidak boleh menentukan jalan hidup ku sendiri? WAE! KAU TIDAK TULI, JAWAB AKU!” Woo Yeon meraih kerah baju Ji Ah dan mencengkramnya erat hingga tubuh Ji Ah ikut terguncang.

Ji Ah masih saja memalingkan wajahnya dengan air mata yang terus menetes. Ia mengatup rapat kedua bibirnya agar isakan itu tidak keluar.

“Jung Ji Ah ku mohon … hiks.” Woo Yeon mulai putus asa. Ia juga ikut terisak.

“Kenapa kau melakukan ini pada ku Jiji –ya? Dia. Zhang Yixing itu. Dia satu – satunya orang yang membuat ku merasakan jika aku juga memiliki kehidupan. Kenapa kau memberikan diagnosa itu padanya? Kau tidak tahu betapa pentingnya diagnosa itu? Jiji –ya.. Jiji –ya hiks. Jiji –ya jawab aku .. “ Woo Yeon semakin  terisak. Ji Ah masih tetap bungkam dengan air mata yang terus berlinang.

“Hiks.. Sekarang dia tidak ingin lagi melihat ku Jiji –ya. Laki – laki itu membenci ku karena pekerjaan ku. Bukankah kewajiban ku untuk menyembuhkan orang lain? Tapi kenapa kalian semua tidak pernah menyadari betapa menyakitkan menjadi diri ku. Kenapa kau melakukannya Ji Ah? JUNG JI AH!”

“EONNI HENTIKAN! HIKS.” Ji Ah berteriak lantang. Ia berupaya untuk menarik tangan Woo Yeon yang masih mencengkram erat kerah bajunya.

“Eonni apa kau gila? Apa dia pernah berpikir tentang mu? Zhang Yixing itu pernah menghawatirkan mu? Zhang Yixing itu pernah memastikan bahwa kau baik – baik saja? Dia justru – “

“KEMBALIKAN SEMUANYA SEPERTI SEMULA! APA KAU BISA!”

“Akh!”

Woo Yeon mendorong Ji Ah hingga gadis itu nyaris terjatuh ke lantai. Kini amarah Ji Ah tak dapat terbendung lagi. “Woo Yeon eonni kau..” Ji Ah menatap Woo Yeon tidak percaya.

Nafas Woo Yeon tampak tersengal, “kau itu anak manja yang menjijikkan! Aku membenci mu! AKU MEMBENCI MU!”

“KU BILANG HENTIKAN! HENTIKAAAAAN! KYAAAA!”

PRANG! PRANG ! PRANG!

Ji Ah melemparkan  semua beberapa peralatan make up yang terdapat diatas meja rias hingga terjatuh dan pecah berserakan dilantai. Darah segar pun mulai mengalir dari salah satu kaki Ji Ah karena percikan kaca yang mengenai kakinya. Gadis itu bisa lebih kalap di bandingkan Woo Yeon.

“Hiks. Eonni membenci ku? EONNI MEMBENCI KU?!” Ji Ah menolak kasar bahu Woo Yeon agar gadis itu bisa tersadar.

“Aku tidak keberatan jika kau memaksa ku untuk meninggalkan Zitao. Aku akan mendengarkan mu. Berpikirlah sekali saja tentang diri mu sendiri Yeon. Joon mati karena mencari gadis yang ia cintai, lalu apa aku harus mengalami hal yang sama terhadap mu? Kau kakak ku Yeon. Kau juga seperti terlahir dari rahim Ibu ku. Hiks.. kenapa kau justru membelanya dan membenci ku? Aku tidak memberikan diagnosa itu padanya. Dia yang merampasnya dan datang kemari.”

Woo Yeon  semula tertunduk karena shock setelah melihat kaki Ji Ah yang berdarah, kembali mendongak. “BOHONG!” Ia lagi – lagi memekik. Ternyata rasa amarah itu masih menguasainya.

“Berhenti mengusik ku Ji Ah. Berhenti mengikuti kemanapun aku pergi! Aku bukan kakak mu Ji Ah.”

Kata – kata Woo Yeon sangat menancap tepat pada jantung Ji Ah. Menghunus organ yang tiap detik terus berdetak itu sangat dalam.

“LALU SIAPA YANG AKAN MERAWAT MU KETIKA KAU JATUH PINGSAN KARENA ANEMIA YANG KAU DERITA! KAU BAHKAN TIDAK MENYADARI JIKA KAU MENDERITA KARENA NYA. ZHANG YIXING. LAKI – LAKI ITU HANYA MEMPERSULIT MU YEON!”

“PERGI! PERGI DARI HADAPAN KU!”

Ji Ah menyeka kasar air matanya. Ia berusaha untuk meyakinkan bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk. Woo Yeon menunjuk arah pintu kamar.  Woo Yeon sedang  mengusirnya.

“PERGIIIII!”

“ARAAAA! HIKS.”

Ji Ah tak sanggup lagi berlama –  lama didalam sana. Ia nyaris kehilangan pita suaranya karena itu adalah teriakan yang terakhir kali yang bisa ia suarakan. Ji Ah tidak memperdulikan serpihan kaca yang berserakan dan pastinya melukai telapak kakinya ketika ia berjalan melangkah keluar kamar.

BLAM!

Terdengar pintu keluar apartement yang di tutup paksa.

“Hiks.. “ Woo Yeon perlahan menjatuhkan tubuhnya dilantai. Ia terduduk pada sudut kamar Ji Ah sembari membenamkan wajahnya pada kedua lutut yang ia rapatkan.

“Hmmpks.. hiks.. “ tangisannya kini benar – benar menggema. Rasa sakit yang selama ini telah bergumul akhirnya terpecahkan jua. Rasa sesak yang semula dapat hilang hanya dengan menepuk – nepukan dada, kini meluap tanpa arah. Inilah sosok Jung Woo Yeon yang sebenarnya. Tanpa kepalsuan & kepura – puraan untuk bertahan demi menghadapi segala sesuatu yang menyakitkan. Mungkin ini adalah akhir dari segalanya.

ooOoo

Sementara itu..

Yaegi menoleh pada bangku belakang mobil. Ia memastikan bahwa Kyubin sudah kembali terlelap. Ya, saat ini ia tengah berada didalam mobil seorang laki – laki yang nyaris menjadi suaminya, Cho Kyuhyun. Yaegi hanya mengikuti tangan Kyuhyun yang menyeretnya hingga parkiran apartement, dan masuk ke dalam mobil. Yaegi masih bertanya – tanya akan semua ini. Ia tidak mengerti atau lebih tepatnya tidak mengetahui, apakah ini juga ada hubungan dengannya? Mengapa ia bisa berada didalam Hyundai silver ini?

Yaegi menoleh pada sosok disampingnya. Sosok yang duduk pada bangku pengemudi. Sosok itu sejak tadi hanya diam  terpaku menatap lurus ke depan. Tatapan Kyuhyun terkesan nanar. Menyiratkan rasa amarah yang tak dapat ia lampiaskan.

Yaegi mencoba melambai – lambaikan tangannya di depan mata Kyuhyun. “Kyu? Kyuhyun –ah.. Ya Cho Kyu – “

Tap!

“Eoh!”

Yaegi terlonjak ketika tangan Kyuhyun menangkap lengannya dengan cepat. “Kita antar Kyubin dulu. Lalu aku akan mengantar mu pulang.”

“Eh? Ahh.. tidak. Tidak usah. Tidak perlu. Aku membawa mobil — “

“Aku sedang memohon Cho Yaegi.” Kyuhyun menatap Yaegi sembari melepaskan genggaman tangannya.

Yaegi mulai panik.  “Tidak bisa Kyu. Aku meninggalkan anak – anak ku dirumah. “ Yaegi bergegas turun dari dalam mobil.

Tangan Kyuhyun  menarik lengannya cepat, “ku mohon Yaegi –ya..” suara Kyuhyun yang bergetar membuat Yaegi melepas tangannya dari pengait pintu mobil. Suara itu terdengar berbeda.

“Kyu –ya?” Yaegi menatap polos wajah Kyuhyun. Guratan kesedihan jelas terpancar. Rasa manusiawi Yaegi mulai tumbuh.

Yaegi akhirnya mengangguk mengiyakan, “baiklah. Kita antar Kyubin pulang.”

ooOoo

Disisi Lain..

“Mengapa semua orang terus berusaha untuk melindungi ku? Apa mereka berpikir aku akan mati lebih cepat?”

“Yeon. Kau juga kenapa justru ikut bersikap seperti mereka? Lalu siapa orang yang harus aku lindungi di dunia ini? Aku seperti tidak berguna.”

Lay terus mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke dorm. Namun perdebatan didalam batinnya sungguh sangat tidak bisa ia hentikan begitu saja. Hati kecil & akal sehatnya terus berkecamuk menjadi satu. Amarah, bingung, kecewa, dan benci semakin menguasainya. Selama ini hidupnya hampir selalu di perlakukan seperti seseorang  sudah mengetahui kapan ia akan berhenti bernafas.

Seumur hidupnya, Lay belum pernah menemukan seseorang yang senantiasa dengan leluasa mengajaknya kesana kemari setelah tahu penyakit lahir yang ada padanya. Semua orang akan bersikap seakan Lay harus di jaga dengan sangat hati – hati. Seolah, keajaiban tuhan tidak akan pernah diberikan padanya. Bahkan hingga kini ia bisa bertahan dan meraih mimpinya bersama kesebelas dari mereka, ia masih sering mendengar rasa belas kasihan dari orang – orang yang mengetahui tentang ‘hemofilia’ & ‘blood disorder’ terkutuk itu.

“Yixing. Kapan kau membawa gadis itu kemari?”

“Gadis?  Siapa nek? Aku sudah putus sejak lama dengan  Du Xowei.”

“Bukan. Bukan Du Xowei. Kenapa kau tidak pernah mau berterus terang pada nenek?”

“Ibu, aku sudah mentransfer uang bulan ini ya? Nenek bagaimana?”

“Yixing, kenapa kau mentransfer  dua kali? Ibu sudah menerima nya dua hari yang lalu.”

“Apa?”

DEG!

Perkataan sang Ibu beberapa hari yang lalu membuat Lay menepikan sepedanya. Lay tiba – tiba terdiam membeku ketika mengingat percakapan singkat bersama sang Ibu waktu itu. Lay  memutar pikirannya untuk menemukan teka – teki yang ia dapatkan dari nenek & ibu nya.

“Gadis? siapa yang nenek maksud?”

“Kenapa aku selalu mentransfer nya dua kali? Apa pengaruh obat membuat ku benar – benar menjadi pelupa?”

Lay dengan cepat merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Ia melihat sekitar kawasan sungai Han untuk memastikan tidak ada orang di sekitarnya. Lay sedikit merunduk pada sebuah pohon pinus muda yang baru saja tumbuh. Itu dapat membantunya agar tidak terlihat oleh orang yang mungkin masih berlalu lalang.

Lay memilih ikon ‘E-Banking’ yang terdapat pada layar ponselnya. Lay mengetikkan nomor rekening sang nenek yang sudah ia hafal di luar kepala.

“Ini bukan — “

DEG! “Jadi selama ini?” Lay melihat satu akun bank yang selalu mengirimkan sejumlah uang ke rekening sang nenek. Lay memindahkan akun asing tersebut pada daftar pencarian nasabah pada salah satu bank terbesar Cina yang menjadi kepercayaannya selama ini.

Tit.

‘Guan Shin Yi’

Lay membaca nama itu berulang kali. Nama sang pemilik akun pada bank yang sama dengannya.

“Guan Shin Yi? Siapa ? Apa mungkin orang ini salah mentransfer uang nya?” Lay melihat nominal dalam jumlah lumayan banyak yang masuk sebelum nomor rekening sang nenek.

Lay tidak dapat melacak lebih jauh karena fasilitas E-Banking itu sangatlah terbatas. “Siapa Guan Shin Yi? Sudah kali ke empat..” Lay larut dalam keingintahuannya, hingga..

Drt – drt – drt ..

Bip. Lay mengangkat panggilan dari ponsel yang sedang berada dalam genggamannya tersebut.

“Ye hyung? Ah ye. Aku.. aku di belakang apartement. Iya, aku di beranda. Ye hyung, aku naik ke atas sekarang.”

Bip. Sambungan terputus.

Seunghwan manajer sudah menyuruhnya untuk kembali ke dorm. Lay lanjut mengayuh sepedanya menuju PongPyu. Sepanjang perjalanan, ia masih berpikir keras akan nama pemilik akun ‘Guan Shin Yi’ yang sudah empat kali berturut – turut masuk pada tabungan sang nenek.

“Guan Shin Yi? Benarkah itu Woo Yeon? Kenapa Guan Shin Yi?”

ooOoo

Kediaman Keluarga Cho

Yaegi melihat ke arah lantai dua rumah Kyuhyun dari halaman depan. Ia memilih untuk menunggu pada taman kecil yang berada disamping rumah Kyuhyun karena semua penghuni rumah sepertinya sudah terlelap.

“Ssshh.. kenapa dia lama sekali? Aigoo..” Yaegi melihat jam pada layar ponselnya.

“Jika aku menghubungi Kris saja bagaimana?”

Tiba – tiba pikiran itu terlintas dari benak Yaegi. “Ah benar. Biar Kris yang menjemput ku disini.” Yaegi memilih sebuah nama kontak dan terhubung.

Tersambung.

“Pikachu?”

Suara di seberang sana langsung bertanya – tanya.

Yaegi memegangi dadanya, bersiap jika Kris akan meledak nantinya.

“Kris –ah.. “

“Hmm. Kenapa? Geum Sha tidak mau tidur. Geum Chan sudah tidur. Kau tidak menginap di apartement Woo Yeon kan?”

Gulp –

Saliva Yaegi terasa susah untuk di telan. Suara Kris mulai menuai perkara.

“Kris –ah.. aku.. uhm.. aku .. “

“Pikachu? Pikachu kau kenapa?”

Yaegi memejamkan mata dan menarik nafas panjang. “Jemput aku dirumah Kyuhyun sekarang.” Yaegi berucap hanya dalam 1 detik.

“Mwo?”

Kris sepertinya tidak mendengar dengan baik, atau mungkin memang Yaegi bicara   terlalu cepat.

“Pikachu, kau bilang apa barusan?”

Yaegi melihat Kyuhyun  yang sedang berjalan ke arahnya. Yaegi berbalik membelakangi Kyuhyun dan berbisik cepat. “Kris –ah, jemput aku sekarang juga. Paham? Mengerti? Sekarang. Sudah, aku tutup.”

Bip.

“Cho Yaegi?”

Yaegi berbalik, ia menyembunyikan ponselnya dengan ekspresi gugup ketika Kyuhyun memanggil namanya.

“Ye? Eoh.. Kyubin tidak bangun?”

Kyuhyun melihat gerak – gerik Yaegi yang terkesan canggung. “Kau sedang apa?”

Yaegi merasa sangat amat tidak nyaman disini. Bagaimana bisa ia begitu mudah terbawa arus oleh Kyuhyun, ia pun tak mengerti.

Yaegi memutar bola matanya, “kau mau membicarakan hal apa Kyu?” Yaegi mengalihkan perhatian Kyuhyun.

Tatapan Kyuhyun kembali serius. “Kita duduk disana saja – “

“Ah tidak usah. Disini saja.” Yaegi menolak cepat ketika Kyuhyun menunjuk ruang utama.

Kyuhyun menoleh pada Yaegi, menatap gadis itu heran. “Kau kenapa?”

“Tentu saja aku kenapa – kenapa. Aku sudah terlambat pulang Kyu. Aku pulang sekarang ya? Bisa melalui pesan singkat saja kan? Eoh?” Yaegi memperlihatkan ponselnya dengan antusias.

“Ini semua karena mu.”

“Ye?”

Yaegi berhenti berceloteh. Perkataan Kyuhyun berhasil membuatnya semakin bertanya – tanya. Laki – laki itu menatapnya sedikit tajam.

“Apa kau benar – benar telah melupakan kesalahan ku? Kau sungguh telah memaafkan kesalahan ku Cho Yaegi?”

Yaegi tercengang. Matanya kini juga terkunci menatap kedua manik mata Kyuhyun. Sepertinya ia mulai mengerti  tujuan Kyuhyun berbicara demikian.

“Kyu –ya.. “

Yaegi ikut duduk pada sebuah batu besar yang terdapat di halaman rumah tersebut bersama Kyuhyun. “Kyu –ya, kau baik – baik saja?” Yaegi memiringkan posisi tubuhnya agar dapat melihat jelas wajah Kyuhyun yang menatap lurus ke depan.

Kyuhyun menggeleng pelan, “tidak. Keadaan ku buruk. Bahkan ini yang terburuk.”

Lagi – lagi rasa manusiawi Yaegi muncul, ia merasa prihatin akan keadaan Kyuhyun saat ini. “Mungkin belum saat nya Kyu. Bersabarlah.”

Kyuhyun menoleh padanya, “belum saatnya kata mu? Apa kau terlalu mengutuk ku hingga semuanya seperti ini?”

“Apa yang salah dengan ku?” Yaegi balik bertanya dengan suara datar.

“Jika saja kau tidak memilih untuk  — “

“Apa yang kau dapat jika terus bercermin pada masa lalu Kyu? Keuntungan apa yang kau miliki dari masa lalu? Aku sungguh dan sama sekali tidak pernah mendoakan hal buruk bagi siapapun. Jangan konyol. Kau sudah dewasa Kyu.” Yaegi mulai kesal. Ia sangat tidak suka jika harus mengungkit lagi yang namanya ‘masa lalu.’

Kyuhyun memiringkan duduknya, menghadap Yaegi. “Hwang Ji Ra, Park Soo Rim, Jung Woo Yeon.. apa aku akan menjadi tumbal berikutnya jika bertemu dengan wanita lagi?”

Yaegi bangun dari duduknya, ia berkacak pinggang. Kyuhyun benar – benar menyebalkan, pikirnya. “Jadi kau percaya dengan hal – hal yang dikatakan oleh nenek moyang? Jadi kau percaya jika bumi ini segi empat? Kau percaya jika bintang itu berukuran sangat kecil? Kau bodoh Kyu. Babo babo babo babo. Kau itu babo!”

“Ya!” Kyuhyun meneriaki Yaegi.

“Apa? Kau mau mengatakan apa? Hidup ini realistis Kyu. Dunia terus bergerak maju, tapi kenapa harus ada penghuni yang tidak tahu diri seperti mu!”

“Kenapa jadi menggurui ku!” Kyuhyun ikut berdiri. Ia balas berkacak pinggang.

Yaegi membalas tatapan Kyuhyun. “Keegosisan mu. Keegosian mu yang membuat tidak akan ada wanita yang ingin bertahan di samping mu Cho Kyuhyun. Kau akan segera menemukan orang yang tepat jika kau lebih banyak mendengarkan Kyu.”

Kata – kata Yaegi membuat Kyuhyun terdiam.  Meskipun Yaegi tidak menyinggung secara langsung, tapi Kyuhyun menangkap inti dari pembicaraan Yaegi.

“Jadi dulu aku tidak pernah mendengarkan mu?”

Yaegi mengangguk pelan, “hmm. Kau tidak pernah mendengar kan siapapun.”

“Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang Yaegi –ya? Bagaimana aku bisa membuatnya menyadari jika aku mendengarkannya Yaegi –ya?” tatapan Kyuhyun berubah semakin nanar. Rasa sakit yang membungkus relung hatinya, lambat laun mencuat.

“Aku bahkan segera menikahinya jika dia menginyakan lamaran ku malam ini juga, Yaegi –ya.”

“Woo Yeon maksud mu?”

Tin!

Suara klakson mobil dari depan gerbang membuat fokus keduanya teralihkan. Yaegi melihat plat mobil tersebut untuk memastikan jika itu adalah suaminya.

“Aku harus pulang Kyu.”

Kyuhyun mengangguk lemah, “hmm. Biar aku yang menjelaskannya pada Kris.”

Yaegi menahan Kyuhyun yang hendak mengantarnya, “jangan. Kris pasti mendengarkan ku dengan baik. Aku permisi. Beritahu aku jika kau membutuhkan ku, chingu –ya.” Yaegi menepuk pelan pundak Kyuhyun.

Tin!

“Eommmaaaaaaaaa.. “

Yaegi mendengar suara putri kecilnya Wu Geum Sha. “Kyu –ya. Annyeong!” Yaegi berlari kecil agar segera tiba disana.

“Kyaaa! Putri ku juga ikut kemari?”

Kris turun dari mobil dengan masker ,dan Syal yang menutupi setengah wajahnya sambil menggendong Geum Sha. Ia membungkuk sopan sesaat pada Kyuhyun yang berdiri di ujung sana.

“Kenapa tidak memakai kaos kaki? Kris –ah, dia bisa masuk angin.” Yaegi mengambil Geum Sha dari gendongan Kris.

“Eomma..”

“Iya nak. Kenapa kau belum tidur? Oppa mu dimana?”  Chup – Geum Sha kecil menggeliat kesana – kemari di dalam gendongan Yaegi. Putri kecil itu hanya memakai piyama tidur tanpa kaos kaki ataupun topi yang melindunginya dari embun malam.

“Chan aku letakkan di kamar Chen. Dia sudah tidur.” Kris menjawab seenaknya.

“Ya! Kau pikir Geum Chan   sama seperti Ace yang bisa kau letakkan dimana saja? Cih.. jinja.” Yaegi menahan tawanya. Kris juga sepertinya ikut tertawa di balik masker.

“Ternyata apartement Yeon pindah kemari ya? Waahh Woo Yeon benar – benar American style..” sindir Kris.

Yaegi memicingkan matanya, “aku tidur di Busan malam ini.”

“Eyh.. aniya. Eyhh… kau ini kenapa? Aku bercanda saja. Pikachu wae gaurae.. sudah, ayo masuk.” Ancaman Yaegi membuat Kris menyeringai lebar. Kris menarik – narik tangan Yaegi agar Yaegi segera masuk ke dalam mobil.

“ Aku tidak menyangka Wu Yi Fan seperti itu.”

“Aniya. Bercanda Pikachu!”

“Ouuhh… aku tidak menyangka Wu Yi Fan tega sekali..”

“Aish Pikachu!”

Yaegi terbahak. Respon Kris sangat menggelikan.

Tap! Kris menutup pintu mobil setelah Yaegi dan Geum Sha masuk.

“Apppaaa.. papapa papa..” Geum Sha berteriak.  Putri kecil itu sangat takut jika sang appa tidak ikut masuk ke dalam mobil.

Kris berlari kecil  menuju  pintu pengemudi. “Yes yes.. appa itdaaa.. Yay! Kita pulang dan tidur.”

Tap!  Mobil sport hitam itu mulai bergerak laju mengarah keluar dari pekarangan rumah kediaman keluarga Cho.

Kyuhyun tiba – tiba tersadar dari lamunannya. Sejak tadi keluarga kecil yang ia perhatikan dari jauh itu bukanlah Yaegi, Kris & putri kecil mereka. Yang terlihat pada kedua mata Kyuhyun, mereka adalah dirinya & Woo Yeon bersama seorang bayi perempuan nan cantik. Kyuhyun semakin  dapat meyakini perasaannya benar – benar tidak bisa di biarkan begitu saja. Sekali lagi, sosok Kris yang terlihat sepertinya & sosok Yaegi yang terlihat seperti Woo Yeon benar – benar nyata. Ia tidak mengerti itu hanyalah ilusi konyol, ataukah ia mulai  memindai sebuah mimpi saat ini.

ooOoo

Keesokan harinya ..

Rumah Sakit Seoul Internasional

Woo Yeon menatap hampa pemandangan kota Seoul dari balik jendela kaca yang terdapat didalam ruangannya. Sorot mata gadis itu  masih terkesan redup usai apa yang ia alami tadi malam. Woo Yeon memasukkan kedua tangannya pada dua saku yang terdapat pada jas putih yang ia kenakan. Guratan kesedihan belum juga sirna.

“Sigh – “ Woo Yeon menghembuskan nafas pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari hiruk pikuk kota Seoul yang ia lihat dari lantai 6 rumah sakit tempat ia ditugaskan.

“Berhenti terlibat di dalam kehidupan ku.”

“Kita tidak perlu bertemu lagi sebagai orang yang saling mengenal ”

Setitik air mata menetes dari pelupuk mata Woo Yeon ketika kata – kata itu kembali terngiang. Kata – kata Lay  benar – benar menjelma menjadi sebuah ketakutan baginya.

“Hiks.. “ Woo Yeon menyeka lembut air mata yang mengalir pada sudut  bibirnya.

Tok – tok

Dalam waktu yang bersamaan, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Woo Yeon berbalik melihat arah pintu. “Masuk.”

Seorang perawat masuk dengan langkah tergesa – gesa. “Jung uisanim ada panggilan gawat darurat.”

Dengan segera Woo Yeon meraih stetoskopnya dan berlari keluar ruangan. Ia  melangkah cepat menuju UGD.

“Apa yang terjadi pada pasien itu?”

“Dia mengalami kecelakaan. Darahnya sukar membeku. Apakah mungkin itu sejenis kelainan pada darah?”

DEG! Langkah Woo Yeon nyaris terhenti di tempat ketika perawat yang juga menyamai langkah dengannya mengatakan hal tersebut.

Woo Yeon memilih untuk berlari agar lebih cepat tiba di UGD.

TREK – Woo Yeon mendorong pintu UGD. Ia melihat darah yang sudah menetes bahkan sudah membanjiri lantai ruang UGD.

Lee uisanim yang hari ini bertugas pada ruang UGD terlihat sedikit lega ketika melihat kehadiran Woo Yeon. “Jung uisanim. Pasien ini menderita blood disorder & hemofilia tipe A.”

DEG! Jantung Woo Yeon semakin berpacu cepat. Perkataan Lee Uisanim membuat ia ragu  untuk melihat pasien yang tertutupi oleh seorang perawat disana. Woo Yeon masih hanya  melihat kaki sang pasien yang berbalutkan jeans hitam.

“Suster Han, segera identifikasi data lengkap orang ini. Kita harus menghubungi keluarganya.” Titah Lee uisanim.

“Dia bermarga Zhang.”

DEG!

Woo Yeon berubah pucat. Sekujur tubuhnya perlahan seperti membeku. Dengan seluruh tubuh yang kian bergetar,Woo Yeon  melangkah maju untuk melihat pasien tersebut  lebih jelas.

Seorang laki – laki berbalutkan T-Shirt polos berwarna hitam dan berambut sedikit pirang..

“Yixing? Yixing!”

To Be Continued …

Hai Xonji / Xonam semua ^^

Kalian menikmati series kali ini? Sedikit mengklarifikasi. Series ‘XingYeon’ kali ini bukan melenceng dari cerita, tapi karena banyak yang terlibat disini, jadi mungkin terkesan OOT kali ya. Alias Out Of Topic😀

Tapi bukannya semua cerita ku gitu kan ya? That’s how I find my masterpiece😀😀 Ehhhmm… buat Krystal mungkin ga begitu banyak kebagian part disini. Yahh..just enjoy it guys! ^^

 Karena dari keseluruhan Fanfict ku semuanya bersambung, jadi bagi new comer alangkah baiknya membaca dari awal. *hug*

Mulai dari Chapter ke – 5 ini kita menggunakan waktu lampau ya. Ini terjadi ketika EXO liburan kemarin😀

Yang member M pada pulang kampung buat Lunar Year itu loh Xonji / Xonam.  Jadi biar ga bingung – bingung kalian nya. Keep stay yeorobun.

InsyaAllah. Semua komentar kalian di Chapter 5 ini akan terbalas satu persatu oleh ku. Kalian juga bisa mention aku di twitter. Mianhae, sedikit renggang waktu bersama kalian. Aku sedang duduk di semester – semester penghabisan ^^

Tapi, aku akan selalu berusaha buat membalas mention / komentar kalian satu persatu kok. Atau juga bisa W. A aku😀

Huh haahhhh. Sekian deh Yehet Oh ho lat  nyah -_-  TYPO BERTERBARAN ‘MUNGKIN’ / ‘PASTI’ :D 

See yaaa in the next. We Are One! Sasassarangieyooooo…

 

Fakta  ::

o Lay sangat menyayangi sang nenek. Nenek & Kakeknya Lay adalah orang yang paling berjasa dalam membiayai keberangkatan Lay ke Korea. Dia pernah mengatakan jika uang hasil jerih payahnya itu untuk pengobatan sang nenek.

(Jadi, makanya di FF Lay itu transfer duitnya buat si nenek :D)

o Dari antara ke 12 member. Lay berasal dari keluarga yang  paling sederhana.

(Tapi, kita patut bangga dong dengan Unicorn ini? Dia memiliki segudang bakat dan optimis dalam meraih mimpi. Dan terlahirlah Dancing Machine EXO, yay! *kecup Sooman* -_-)

o Lay memiliki seorang kekasih sebelum ia berangkat ke Korea. Kekasihnya itu dekat dengan keluarganya. Di hari pertama Lay debut, Du Xowei (bukan nama sebenarnya) pergi ke rumah nenek Lay dan makan bersama. Du Xowei juga pernah memposting seperti ucapan selamat untuk Lay pada akun weibonya

(Jadi, di FF itu Du Xowei  mantan Lay yang dekat ama neneknya ^^)

o Penyakit yang di derita Lay itu ‘blood disorder’ & ‘hemofilia’. Penyakit yang lumayan serius. Lay kalo sakit harus sangat berhati – hati karena dia tidak bisa menerima transfusi darah secara mudah dan jika terluka darahnya sukar membeku. Tapi kalo luka – luka kecil pastinya ada penangannnya kok. Di acara happy camp EXO – M 120609 pada menit 48 : 15 Xonji / Xonam bisa melihat pada waktu Luhan khawatir ama Lay. Dan itu karena peyakitnya.

(Makanya di FF Lay benci banget kalo ingat semua orang pada ngelindungin dia karena penyakitnya).

180 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 5

  1. ya tuhan knp pnykit itu hruz menimpa lay c….padahal aq mulai sk sm lay coz dy orgx unik ….

    eotteohke bnarkah lay kecelakaan….truz kselsmatanx gmn???aigooo

    geundae x ni aq berharap yeon ma kyu
    truz lay ma krystal coz kasian kyunya….lagian kyu c mau za jg plampiazan *lho ktax kasian*

    c ji ah n tao knp hruz putuz krn mslh ni c…hrzx ji ah lbh mngrti low prazaan itu g bza d kndalikn lowpun ht sudah terskiti..ya lowpun aq tw ji ah mksdx bk..

    lnjutkan ffx saeng low bza jgn terlalu byk konflik hihi * nawar za*

  2. Eonni!!! Maaf aku baru komen ;_; beberapa Ff yg sebelumnya aku belum ninggalin jejak, maaf ya kak,
    Seperti biasa.. cerita cinta EXO disini emang seru!!
    Aku suka karakter JIJI!!! :3
    EONNI JJANG!!!

  3. ehh ternyata jiji cuma menghayal kkk..
    jangan bilang itu lay yg kecelakaan jaaaaanngggaaaannn…

    oh ya aku suka kalimat yg paling atas, sebelum msk ke cerita.. sesuatu sekali..

  4. Itu benar2 lay??
    Oh iya thor, banyakin adegan luhan nana dong. Karakter nana menarik bgt. Oh iya di part ini exo nggak terlalu di banyakin. Lain kali banyakin ya

  5. Menurut kepalaku ya penulis, itu yang kecelakaan Lay. Dia kecelakaan pas mau pulang krna disuruh managernya….. trus, ya begitulah jadinya….

    Kyuhyun oppa sama siapa ya jadinya?? Dugaanku sih tetep sama Wooyeon, nah Lay sama Krystal jung. Trus Oh Sehun ditaro mana kalo gitu?? Aku udh menduga kalo Oh sehun itu suka sama Krystal, nah pada akhirnya jung Wooyeon sama Lay. Kalo gitu kyuhyun oppa sama siapaa?? Dia kasian banget masa?? Cho yaegi putus, hwang jira putus, park seorim putus, jung wooyeon putus jugakah?? Aah, paling dia dijodohin sama cast pendatang mungkin… penulis yang baik hati ini nggak mungkin ngebiarin kyuhyun oppa jadi jones….

    Ngomong2 soal jones, guan shin yi, wang lian, wang jay, woyeon, xing zhaolin sama cho kyubin itu hubungannya apaa?? Aku menduga kalo zhaolin itu kakaknya kyubin. Nah, guan shin yi itu mungkin pacarnya wang lian, tp dia keburu meninggal. Trus yang ngebel wooyeon itu shinyi yang mana??

    Oiya, aku mau bilang kalo penulis ini keren. Penulis bisa banget nulis fanfic yang bahasanya itu bagus gitu loh….

    Menurutku, nih fanfic ceritanya paling komplex pertama dan yang kedua itu ceritanya Kris ge…. kira2 habis Lay selesai, selanjutnya siapa yaa?? Dugaanku oh sehun, tapi bisa aja member lain kan??

    Oiya, kasih clue tentang wang lian dong penulis… trus kenapa wang lian manggil Jay itu dokter pengkhianat?? Ooh?! Wang lian itu kakaknya kim nana kan?? Luhan udh tau…. aah, pengen cepet2 baca lanjutannya…. hwaiting ne?? Aku bakalan komen kok… kamsahamnida penulis baik….

  6. ahhh… sayang bgt tao sama jiji, semoga nanti balikan lagi,
    shin yi yg ngirimin uang itu siapa? jangan2 itu wooyeon
    marga zhang? lay? kecelakaan?
    penasaraaaann….

  7. Untuk komentar selanjutnya…., aku ganti email yaaa chingu…, tp nama aku tetap maulida ko dikomentar itu. ada pengaruhnya gak yah kalo aku ganti email…?? Moga aja kamu tetap bisa ngenalin aku…, okeh…, hwating…. Nulis ff nya🙂 ” maulida_hayati17@yahoo.com

  8. Lama ga komen nih.mian eonni
    Kasian banget kyuhyunnya uuuu
    Lay jahat banget
    Eonni buat cerita suho sama soo rim dong. Pengen banget

  9. idiiiihhhh,,,jitao ababil..oops… mudah2an jiji kaga denger yak ahahahha
    elehhh melas pisan si yoyon…udah berusaha mati2an menjaga orang yg dia suka tapi balesannya…nasib deh..malang bener

    gusa…kangeeeeeeeeeeennnnnn……. tambah gemeeeeeeeeessssssss deh… kyubin juga tmbah pinter maksimal ahahahah

    lay merasa hrga dirinya terinjak2..makanya jngan di taruh d lantai mas,,,ntar jadi keset alay ahahaha

    duo rusuh mana ni? kangeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnn ahaahaha

  10. euuuy,,kna tipu gara2 bayangan jiji,kirain lay dgampar bneran…
    yaekris skrg adem ayem..
    yg kcelakaan tu Lay kh??
    awuuuh,,,pngen nangis bcany…😦

  11. ngak mungkin.Lay kan org yg kecelakaan y itu….
    kenapa makin runyam semua y…
    mau semua y ending dengan.bahagia,,,, ngakda yg menderita….
    kasian juga ma kyuhyun ku dia slalu dapet cwe yg akhir y dia harus ngelepasin tuh cwe y….
    ji ah.kasian juga… bener2 bikin sedih part ini….

  12. aku jd kasian sama kyuhyun..emang bnr..dia seperti cuma tmpt pelarian aja..miris..
    Tp itu yg kecelakaan beneran lay..omoo..
    Aku bisa ngerti knp lay g mw dkasihani karena penyakitnya..harusnya kita malah memperlakukan dia seperti yg lain biar dia merasa bahwa dia jg berguna tuk yg lain..aku jd inget sama shbtku..selama dia sakit..aku malah yg selalu manja k dia..tp itu buat dia seneng..gomawo chingu..

  13. makjleb(?) banget kalo jadi Woo Yeon pas denger kata2 Lay😦 tapi kenapa Yeon harus transfer uang ke neneknya Lay?? Agak ngeganjel deh tp mungkin akan kejawab di next chap kali ye😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s