EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 6

1395382_463247257127853_117550675_n

Written By : Ulfa Muriza – @Yaegi_Cho11700 | Poster By : Juwita

Zhang Yi Xing | Lay EXO – M

Jung Woo Yeon | Pemeran Fiksi | Dokter Keluarga Cho

Jung Soo Jung | Krystal F (x)

Kyuhyun Super Junior

Wu Yi Fan | Kris EXO – M

Cho Yaegi | Pemeran Fiksi Resmi

Wu Geum Chan |  Wu Geum Sha | Pemeran Fiksi Resmi

EXO | Manajer EXO  | Staff SM  | dan beberapa pemeran pendukung fiksi / non fiksi yang akan kamu temukan dengan sendirinya ;)

Rating M – (kan ga ada YaeKris disini) :D

Romance – Family – Sad – Friendship

( Yang pusing dengan hal – hal percintaan anak EXO, jangan baca :D )

Dilarang keras menjiplak! Dilarang keras copy – paste ! Jadilah pembaca cerdas, mandiri,  kreatif dan positif :)

It’s Belong To Me

Typo Bertebaran! 

OST  ::  2AM _ I Wonder If You Hurt Like Me

Enjoy Your Reading – Sasasarangieyoooo :D

“Pada akhirnya… bertahanlah demi sesuatu yang selalu berada disini. Tidak karena sesuatu yang hanya akan selalu menyakiti.. ” 

“Dokter Jung? Dokter Jung? Anda baik – baik saja?”

Tepukan tangan seorang suster yang  berada di UGD membuyarkan Woo Yeon, “ah ye. Aku baik – baik saja.” Woo Yeon hampir melupakan jika pasien itu saat ini harus ditangani sesegera mungkin. Bayang – bayang Lay begitu membuat akal sehatnya nyaris berhenti bekerja. Jantungnya pun hampir berhenti berdetak ketika pasien yang mengalami kecelakaan itu hampir sama persis terlihat seperti Lay, dan sama – sama bermarga Zhang. Tapi syukurlah, itu hanya ilusi buruknya saja.

“Kita mulai penanganan sekarang juga.”

“Ye, baiklah.” Dua orang suster mulai mempersiapkan semua peralatan operasi dengan segera usai Woo Yeon bertitah. Woo Yeon & Dokter Lee sudah siap untuk melakukan pembedahan menuju ruang operasi.

Setiba di ruang operasi..

Dari balik masker yang Woo Yeon gunakan keringat dinginnya terus mengucur deras, sudah kesekian kalinya suster yang mendampingi Woo Yeon membasuh peluh yang terus menetes dari dahi Woo Yeon.

“Dokter Jung, kau yakin dengan penanganan ini pasien akan terselamatkan?” Dokter Lee tampak ragu ketika hendak menyuntikkan cairan yang dapat membekukan sel, agar darah si pasien tidak terus mengalir.

“Kita coba dengan dosis rendah.. “ Woo Yeon masih fokus dengan jahitan demi jahitan yang sedang ia lakukan pada bagian bahu si pasien. Wajahnya terlihat lebih dari kata serius saat itu.

“Seorang hemofilia & blood disorder bahkan tidak bisa menerima transfusi darah yang sudah di sterilkan sekalipun, lalu bagaimana jika — “

“Ku dengar kau ahli anastesi terbaik di rumah sakit ini Dokter Lee.” Woo Yeon menatap tajam partner bedahnya sekilas. Dokter Lee  tampak gugup untuk menyuntikkan cairan sel pada bagian tubuh pasien itu.

Tit – tit – tiiiitt..

“Dokter, denyut jantungnya melemah!” salah satu suster yang bertugas mengontrol EKG terlihat panik.

DEG! Woo Yeon melemparkan  lagi tatapan mautnya pada Dokter Lee.

“Resikonya sangatlah — “

“Lakukan sekarang Dokter Lee.”  Woo Yeon menekankan kata  – katanya.

“Apa kau yakin nyawanya akan terselamatkan? Kau pernah melihat penderita penyakit ini panjang umur setelah pendarahan sebanyak ini?” Dokter Lee masih saja mengutarakan argumennya.

“Dosis rendah akan membuatnya bertahan untuk beberapa waktu. Masih ada beberapa operasi lagi setelah ini. Cepat lakukan.” Woo Yeon menyetel tabung oksigen agar seimbang dengan denyut jantung sang pasien, lalu ia melanjutkan jahitan pada bahu si pasien.

Tit – tit ..

“Kadar oksigen dalam darah menurun.”

DEG!

Keringat dingin Woo Yeon sudah membanjiri masker dan pakaian bedah yang ia kenakan. Dokter Lee tak kunjung bergerak.

“Dokter, apa perlu melakukan resusitasi?”salah seorang suster menginterupsi Woo Yeon.

Woo Yeon menggeleng cepat, “ini darah, bukan nafas.”

Titit –

Woo Yeon melihat layar EKG, tatapannya berubah panik. “CEPAT LAKUKAN!” teriakan Woo Yeon membuat kedua suster dan Dokter Lee terhenyak.

“Kita tidak punya banyak waktu. CEPAT!” Woo Yeon membentak Dokter Lee lebih keras.

Tanpa pikir panjang, Dokter Lee langsung mengambil ancang – ancang dan mengarahkan suntikan ke bahu sang pasien. Namun…

Tiiiitttttttt …..

DEG!

“Koma, melemah, denyutan hilang..”

Suara sang suster membuat Woo Yeon berhenti  untuk meraih laser demi menyempurnakan jahitannya. Gerakan & tubuh Woo Yeon perlahan lunglai. Dadanya terasa sangat sesak. Nyawa pasien itu tidaklah tertolong. Alat EKG dan pengontrol oksigen berhenti bekerja.

Tit.

Lampu operasi dimatikan. Ruangan kembali seperti semula. Kedua suster tersebut mulai merapikan semua peralatan dan tak lupa menarik kain putih untuk menutupi jenazah pasien tersebut.

“Dokter Jung.. “

Woo Yeon langsung menggeser bahunya dengan kasar ketika Dokter Lee hendak menggapainya. Mata Woo Yeon memanas, ia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari sosok yang kini telah terbujur kaku itu.

“Dokter Jung.. “ Dokter Lee kembali memanggilnya untuk kedua kali. Woo Yeon pun mendongak, menatap partner nya itu sedikit berbeda..

Dari tatapan itu Dokter Lee seperti dapat menerka  apa  yang akan ia dengar setelah ini.

“Aku akan membantu mu untuk mengurus surat permohonan mutasi pada direktur rumah sakit.”

Tepat sekali. Woo Yeon meminta Dokter Lee untuk segera keluar dari rumah sakit secara halus. Sebagai ketua yayasan yang baru, Woo Yeon  berhak dalam memutuskan hal – hal yang bersangkutan dengan rumah sakit ini.

“Jung Woo Yeon.. “

mengingat mereka adalah sesama dokter muda yang lulus dengan hasil terbaik, Dokter Lee memanggil Woo Yeon sebagai seorang teman.

“Sampaikan salam ku pada istri mu Lee Yun Jae-ya.” Woo Yeon bergegas untuk keluar dari ruang operasi.

TREK ..

Pada saat pintu kamar operasi di buka, seorang gadis belia menghampiri Woo Yeon dengan mata yang kian membengkak akibat tangisannya yang tak kunjung berhenti.

“Dokter, dokter bagaimana kakak ku? Dia kakak ku. Aku baru mengetahuinya. Apa kakak ku baik – baik saja? Dokter, kakak  ku baik – baik saja?” gadis itu meremas erat pakaian bedah yang Woo Yeon kenakan. Woo Yeon memandangi gadis itu dengan hati yang kian teriris perih.

“Hiks.. dokter, kenapa kau diam saja?  Kakak ku baik – baik saja kan? Hiks.. “ gadis itu mencoba mengintip ke dalam ruang operasi, ia semakin terisak.

“Siapa nama mu?” lirih suara Woo Yeon sambil memegangi pundak gadis itu dengan kehangatan.

“Hiks.. Oh Seonyeo.” Gadis itu menjawab di sela – sela isakannya.

“Oh?” tanya Woo Yeon memastikan. Ia masih sangat mengingat jelas jika pasien itu bermarga ‘Zhang.’

Gadis itu mengangguk cepat, “kami bukan saudara kandung. Tapi dia kakak ku. Dokter, kakak ku baik – baik saja kan? Kakak ku — “

Suara gadis itu langsung terputus ketika Dokter Lee & dua orang suster menyusul keluar ruang operasi dengan  jasad seseorang yang tertutup rapi dengan sehelai kain putih. Gadis itu segera menghampiri, “ka-kak..” suara gadis itu semakin parau. “Kakak.. hiks.. “ perlahan tangan gadis itu menarik kain yang menutupi sang kakak..

“Kakak mu penderita hemofilia & blood disorder.”

Perkataan Woo Yeon membuat Sonyeo mengurungkan niatnya untuk menarik kain yang menutupi sang kakak, dan kembali menghampiri Woo Yeon. “Sungguh? Hiks.. “

Woo Yeon mengangguk lemah, “hmm. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Pendarahannya terlalu banyak dan tidak bisa di hentikan.” Woo Yeon memandang sekilas Dokter Lee.

Gadis itu menggelengkan kepalanya tak percaya, ia kembali terisak. “Hiks.. tidak mungkin. Kakak ku seorang pekerja keras. Kakak ku tidak mungkin mati. Kakak..” Gadis itu kembali berdiri di sisi jasad sang kakak.

“Kakak, kau harus bangun. Kakak! Hiks..  OPPA!  Hmmpksss.. “ gadis itu menangis sejadi – jadinya. Jelas terlihat jika hubungan keduanya sangatlah dekat. Mungkin salah satu dari mereka di adopsi dari sebuah keluarga.

“Hiks.. Kakak menyuruh ku belajar dengan giat, tapi kenapa kakak melakukan ini pada ku? Ku mohon bangun hiks.. ayah & ibu tidak akan memiliki waktu untuk itu hiks.. KAKAK BANGUN! ZHANG IN YEO BANGUN! “

Melihat pemandangan itu ,Woo Yeon sulit untuk mengendalikan air matanya yang  ikut mengalir. Pemandangan itu membawanya kembali ke masa lalu ketika itu terjadi pada Joon, kembarannya..

“Ya! Jung Woo Joon apa yang kau lakukan! Kenapa kau tidur disini? Joon ayo bangun! Hiks.. OPPA! OPPA CEPAT BANGUN ! HIKS… “

“Oppa! Joon Oppa!”

“JUNG WOO JOON CEPAT BANGUN ! HIKS.. “

Bayang – bayang sosok Ji Ah serta suara tangis gadis itu tiba – tiba memenuhi pikiran Woo Yeon. Oh Sonyeo gadis muda yang sedang menangisi kepergian sang kakak, mengingatkan Woo Yeon pada sosok Ji Ah yang dulu juga sama persis seperti apa yang ia lihat saat ini.

“Jiji.. “ desis Woo Yeon pelan,  suaranya yang berubah bergetar.

“Ji Ah.. Jung Ji Ah.. “ Woo Yeon terus  memanggil nama sang adik secara tiba – tiba. Woo Yeon berbalik, ia menatap koridor rumah sakit dengan hati yang semakin tersayat.

Woo Yeon menyadari semua kekhilafannya tadi malam, ia telah melukai orang yang begitu menyayanginya. “Ji Ah.. Jung Ji Ah!”

Woo Yeon membuang masker & topi yang ia kenakan begitu saja. Ia bahkan tidak   mempedulikan suster  serta  Dokter Lee yang terus memanggilnya, dan  terus berlarian menyusuri koridor rumah sakit.

ooOoo

Pong Pyu apartement ..

“Noona. Geum Chan ku pinjam sebentar ya? Aku ke sebelah.” Sehun keluar dari apartement Yaegi dengan membawa Geum Chan di dalam gendongannya.

Yaegi ingin berkata jangan, namun ia merasa tidak enak. Yaegi sangat merasa was – was karena ia tidak yakin jika  kedua tangan Sehun bisa menggendong putra kecilnya dengan benar.

“Sehunnie, pegang punggungnya seperti ini, dia bisa terpelanting.” Yaegi menggeser tangan Sehun agar memegang punggung Geum Chan.

Sehun membenarkan posisi tangannya, “seperti ini? Oke.” Sehun memeluk Geum Chan sebagaimana mestinya.

“Kau tidak jadi ikut Tao ke Qingdao?”

Sehun mengangguk, “ besok. Aku harus  pulang ke rumah sore ini untuk memberitahu appa & eomma ku.”

Yaegi mengangguk mengerti, “uhm. Baiklah. Jangan pergi kemana  – kemana eo? Geum Chan  sebentar lagi harus tidur siang.”

“Eo.” Sehun mengangguk, ia berbalik dan berjalan menuju dorm M yang bersebelahan dengan apartement Yaegi.

ooOoo

Ceklek!

“Chajaaa… apakah  ada orang di dalam? Wah.. sepi sekali Chan.. “ Sehun melangkah masuk ke dalam dorm M, ia sesekali mengajak Geum Chan untuk berbicara.

“Eo.. siapa disana?” seseorang dari arah ruang utama bangkit dari sofa.

“Chen hyung kau sudah pulang?” tanya Sehun tak percaya.

Chen mengangguk, “aku kan hanya pergi nonton bersama Ibu tadi malam. Eoh, Sehunnie dari panti asuhan ya? Kenapa membawa bayi?” Chen melemparkan lelucon nya.

“Sehunnie ingin segera menjadi seorang ayah.. “

Chen terbahak.  Xiumin keluar dari dapur & menyambangi. Sehun ikut tertawa. “Ini Geum Chan. Kalian sungguh tidak tahu?” Sehun menarik jemari mungil Geum Chan, agar pangeran kecil itu tidak terus menerus menghisap tangannya.

Xiumin menghampiri Sehun, “ara. Berpura – pura saja. Cha.. kemari? Aigo – aigo..”  Xiumin menawarkan kedua tangannya, Geum Chan langsung bergerak hendak di gendong oleh Xiumin.

“Yaa.. Umin hyung sepertinya lebih pantas untuk ini.. “ Sehun memperhatikan cara Xiumin menggendong Geum Chan.

“Eoh.. ini yang namja kan? Lalu yang mirip dengan Kris hyung dimana? Wu Geum Sha.” Chen ikut bangun & menghampiri Geum Chan di dalam gendongan Xiumin.

“Dia tidak mau dengan ku hyung. Cengeng sekali.” Sehun berkomentar.

“Jadi yang ini tidak cengeng uhm? Kau tidak cengeng anak manis? Geum Chan annyeong…” Chen mengayunkan tangan mungil Geum Chan, rasa gemas mulai menyelimutinya ketika Geum Chan terus memandangi dirinya sambil berkedip.

Sehun memperhatikan seisi dorm yang terasa senyap, “Yixing hyung sudah pergi? Dia jadi berangkat hari ini?”

Chen menggeleng, “dia masih di dalam. Jadwal penerbangannya kan besok. Kenapa? Kau memerlukan sesuatu? Di bawah sudah tidak ada siapapun? Jong In juga pulang ke rumah nya?”

Sehun mengerucutkan bibirnya, ia menatap Chen datar. “Waaahh.. cita – cita Jongdae hyung sebenarnya adalah menjadi seorang wartawan.”

Chen lagi – lagi terbahak. Ia tahu jika Sehun mulai kesal dengan rentetan pertanyaan darinya.

Sehun menarik nafas singkat, “Umin hyung kau gendong Chan sebentar ne. Aku ke kamar dulu.” Sehun melenggang berjalan menuju kamar.

Chen & Xiumin sebenarnya tahu apa yang terjadi tadi malam. Tapi mereka tidak mengerti atas dasar apa Sehun mencari Lay, karena itu sangatlah jarang terjadi.

“Apa mungkin Tao bercerita padanya, jika dia putus dengan nona Jung Ji Ah, hyung?”

Xiumin mengangkat bahu tanda tak mengerti, “molla. Mungkin saja. Tapi kenapa Sehun justru mencari Yixing? Dia juga akan ikut Tao ke Qingdao kan?” Xiumin balik bertanya pada Chen.

Chen menggeleng, “aku juga tidak mengerti hyu-ng —  aaaak!” Chen tiba – tiba berteriak.

“Omo! Kau kenapa ?” Xiumin yang tidak memperhatikan apa yang baru saja  di lakukan oleh pangeran kecil Geum Chan di dalam gendongannya.

“Auuwhh.. Ouuuhhh.. sakitt..” Chen meniup – niup telunjuknya.

Xiumin memperhatikan telunjuk Chen yang memerah, “Jongdae –ya, apa yang terjadi?”

“Hyung molla? Geum Chan mengigit tangan ku!”

Sementara itu di dalam kamar ..

Suara pintu membuat Lay mengangkat bantal yang menutupi wajahnya. Lay sedikit mengangkat kepalanya dengan mata yang masih setengah tertutup, “Sehunnie?”

Sehun duduk di atas kasur yang sama dengan Lay, “kau masih tidur hyung? Ini sudah siang..” Sehun juga mengangkat kedua kakinya dan menaruh pada bantal yang Lay geser barusan.

Lay menggeser sedikit posisi pembaringannya agar tidak terlalu rapat dengan Sehun, “nggg.. aku mengantuk..” racau Lay dengan suara khas orang yang baru saja bangun tidur.

Sehun melihat seisi kamar. Selama Xiumin berada di dalamnya, maka kamar manapun akan terlihat rapi & dan tertata dengan baik. “Eoh.. PSP baru? Punya siapa hyung?” Sehun mendapati sebuah PSP berwarna hitam di atas meja tempat tidur.

“Waahhh.. ini punya siapa hyung? Punya mu?” mata Sehun mulai berbinar – binar.

Lay menyampingkan posisi tidurnya menghadap Sehun, “jadi Luhan belum memberikannya pada mu?”

Seketika binaran mata magnae itu meredup, “jadi ini milik Lu hyung?” Sehun meletakkan kembali PSP itu pada tempat semula.

“Waeyo? Itu untuk mu. Dia terlambat bangun, dan terburu – buru pergi ke bandara. Ambilah, sebelum Chen melihatnya.”

“Buat Chen hyung saja.” Sehun ikut berbaring di samping Lay.

Lay memperhatikan Sehun yang tidur terlentang, tebersit sebuah tanya akan kedatangan Sehun yang tidak biasanya datang sendirian, dan masuk ke kamarnya.

“Kau sendirian di dorm?”

Sehun mengangguk, matanya  fokus pada layar ponselnya. “Suho hyung juga sudah pulang. Ku pikir Yixing hyung juga tinggal sendiri.”

“Luhan memberikan hadiah itu untuk mu. Kenapa tidak di ambil?” pertanyaan Lay membuat Sehun menoleh.

“Setelah mengatakan aku kekanak – kanakan lalu ingin menyuap ku dengan PSP? Tidak perlu. Uang ku cukup untuk membeli 5 PSP sekaligus.” Sehun terlihat kesal.

Lay ingin sekali tertawa. Mengingat pertengkaran Sehun & Luhan yang sebenarnya sangatlah lucu. “Dia hyung mu. Anggap saja Luhan sedang menasihati mu Hun.”

“Kenapa tidak memberikannya pada Umin hyung saja?”

Lay menyikut lengan Sehun, “tidak boleh seperti itu.”

Sehun kembali mengotak – atik ponselnya sendiri, ia membalikkan posisi tidurnya menjadi telungkup, “ponsel mu dimana hyung?” Sehun mengalihkan pembicaraan.

Lay meraba sekitar tempat tidur, ia menarik sebuah benda dari bawah bantalnya. “Ini. Kenapa?”

Sehun menggembungkan pipinya, sesaat melihat benda yang Lay perlihatkan padanya. “Uhm.”Sehun hanya mendeham.

Bip.  Dering tanda pesan masuk berasal dari ponsel Lay.

“Sehunnie kau mengirim pesan apa?” Lay melihat nama si pengirim yang jelas terpampang pada layar ponselnya.

Bip.

Bip.

Bip.

“Ya ya Oh Sehun! Jangan bercanda.” Lay semakin bingung ketika suara pesan masuk terus menerus menghiasi layar ponselnya, dan juga dari nama yang sama.

Bip.

Bip.

Bip.

“Oh Sehun apa yang sedang kau lakukan!  Magnae –ya!” rasa kantuk Lay lenyap seketika. Ia bangun dari tidurnya dan menepuk pantat Sehun.

“Oh Sehun!”

Bip.

Bip.

Bip.

Bip.

Lay memilih untuk pasrah hingga pesan singkat yang masuk berakhir. Sehun  bangun dari tempat tidur, “kau harus membaca semuanya hyung.” Sehun menarik senyum yang ia paksakan.

Lay mengernyit bingung, “pesan singkat apa ini?”

“Soojung.”

Lay terlonjak ketika mendengar nama itu. Sehun dapat membaca tatapan Lay,

“Aku bisa menjadi pendengar yang  baik bagi siapapun. Tapi aku tidak mengerti bagaimana menghibur seorang wanita yang sedang patah hati,  hyung.”

“Ne?” Lay terhenyak.

Sehun bergegas turun dari tempat tidur, “aku kemari hanya ingin menyampaikan hal ini. Soojung sangat menyukai mu. Paling tidak, kau memiliki hal yang bisa kau katakan sebagai seorang laki – laki.”

“Aku tidak mengerti.” Lay menjawab lugas.

Sehun yang semula hendak berbalik pergi, kini menatap Lay sedikit tajam. “Aku sudah memberikan mu materi ujiannya hyung. Kau bisa memahami semuanya sebelum soal ujian datang kan?” Sehun menunjuk ponsel Lay.

“Jadi kau mulai menyukai Soojung?” Lay spontan mengeluarkan pertanyaan seperti itu.

Sehun terkekeh sinis. Ini sungguh menggelikan baginya.

“Pertanyaan ku adalah sebuah dukungan, bukan larangan.” Lay memperjelas. Ia tidak ingin Sehun salah mengartikan pertanyaannya.

Sehun menghembuskan nafas singkat, “aku masih menyukai Yaegi noona. Paling tidak, pengkhianat itu lebih keren di bandingkan seorang pengecut.”

“Jadi  kau ingin mengatai hyung mu ini pengecut?”

“Jadi hyung merasa jika hyung memang pengecut?” Sehun menyahut cepat.

Lay tiba – tiba bungkam. Sehun membuatnya mati kutu.

“Soojung teman ku. Sama seperti aku bermain bersama Jong In & Seulgi. Jika aku terus menangis pada hyung karena Yaegi noona tidak akan pernah melihat ku, apa hyung juga akan diam saja?”

Lay mendongak, tatapannya  berubah serius. “Itu berbeda Oh Sehun. Dia istri – “

“Manusia akan menjadi sama jika berbicara tentang perasaan. Tidak ada yang berbeda.”

Lay kalah telak. Ya, Sehun benar. Semua manusia akan merasakan hal yang sama jika perasaannya terluka.

“Jadi kau ingin aku melakukan apa? Aku bahkan tidak tahu aku menyukai nya atau tidak.” Lay mengutarakan rasa yang selama ini hanya ia simpan sendiri.

Sehun mengangkat kedua bahunya, “lakukan hal yang membuat mu lebih berguna menjadi seorang laki – laki hyung. Aku membawa Geum Chan kemari, dia harus tidur siang. Aku kembali ke dorm.” Sehun berbalik pergi.

“Sehunnie – “

Blam! Sehun lebih dulu menghilang di balik pintu kamar.

Lay menghela nafas panjang sebelum ia beralih untuk membaca satu persatu pesan singkat yang Sehun kirimkan padanya.

Flip. Lay mulai membuka rentetan pesan masuk tersebut..

‘Oh Sehun aku semakin menyukai nya.. ‘

‘Sehun –ah.. apa yang harus ku perbuat?’

‘Oh Sehun, Xingxing sakit? Sungguh? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

‘Oh Sehun aku sangat menyedihkan..’

Lay membaca satu persatu untaian pesan singkat yang sebenarnya berasal dari Krystal. Sepertinya Krystal hampir selalu menuangkan segenap keluh kesah pada Sehun selama ini.

“SIGH – “ Kali ini Lay menghela nafas sedikit lebih kasar. Ia terduduk di sudut tempat tidur. Guratan kegalauan mulai menghiasi wajah susu itu..

‘Aku masih sangat menyukai mu.’

‘Zhang Yixing –ssi aku menyukai mu..’

Suara Woo Yeon ikut terngiang – ngiang. Lay menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya sembari mengusap kasar permukaan wajahnya.

Ini benar – benar membuatnya bingung tak menentu. Ia bahkan tidak mengerti di dalam konsidi apa ia berada saat ini.

“Arrgh!”

Lay berteriak tertahan. Ia meninju keras bantal yang ada di dekatnya.

“Sshh.. “ Lay mengusap – ngusap kasar kedua telapak tangan pada kedua sisi wajahnya. Amarah yang sama sekali tidak tahu harus ia lampiaskan bagaimana dan kemana. Soojung & Woo Yeon, dua gadis bermarga sama  dan mungkin juga memiliki posisi yang sama di hati seorang Zhang Yixing.

ooOoo

Tit – tit – tit ..

Ceklek! Dengan tergesa – gesa Woo Yeon melangkah masuk ke dalam apartementnya. Berharap Ji Ah sudah kembali.

“Jiji –ya.. Jiji-ya.. Jiji-ya.. “ Woo Yeon berkali – kali memanggil nama sang adik. Ia benar – benar berharap Ji Ah sudah kembali ke apartement. Woo Yeon membuka asal sepatunya dan berlarian menuju kamar Ji Ah.

Baru saja Woo Yeon hendak meraih knop pintu kamar Ji Ah, seseorang lebih dulu  muncul dari dalam sana.

“Jiji? Jiji kau baik – baik saja?” Woo Yeon melihat sosok Ji Ah yang masih menggenakan piyama tadi malam.

Ji Ah hanya menatap Woo Yeon sekilas, lalu ia berlarian menuju pintu keluar apartement dengan kedua kaki yang terbalut perban.

“Jiji –ya. Jiji –ya tunggu!” Woo Yeon menarik cepat tangan Ji Ah yang hendak menarik knop pintu keluar.

Ji Ah menepis kasar tangan Woo Yeon dari pergelangan tangannya, “ZITAO PERGI HARI INI YEON! Hiks.. “ ia memekik. Air matanya kembali tumpah.

Woo Yeon tercengang melihat sosok Ji Ah saat itu.  Ji Ah sudah sangat menderita karenanya. “Jiji –ya.. maafkan aku Jiji –ya.. “ mata Woo Yeon mulai berkaca – kaca. Rasa bersalah kian merambah. “Jiji –ya.. aku sudah menyakiti mu. Jiji –ya, eonni neomu mianhanda.. “

“Hiks.. hiks.. “ Ji Ah tidak menjawab apapun. Ia terus terisak.

Woo Yeon menangkupkan kedua tangannya pada wajah Ji Ah, “kau dan Zitao bertengkar? Kalian tidak berpisah kan? Uh?”

“Hiks.. “ Ji Ah mengangguk lemah. Tidak ada hal yang bisa ia katakan saat ini.

Air mata Woo Yeon akhirnya ikut tumpah, “ini salah ku. Jiji –ya.. eonni –gga mianhae.. jinjja mianhae..” Woo Yeon menarik Ji Ah ke dalam pelukannya. Ia sangat menyesal dengan semua hal yang telah ia perbuat. Ia bahkan telah merusak kebahagiaan seorang gadis kecil yang selalu berada di sisinya hingga gadis itu beranjak dewasa. Seorang Ji Ah kecil yang selalu memberinya semangat ketika ujian akhir mulai datang, sosok Ji Ah kecil yang selalu ingin mengikutinya kemanapun ia akan pergi.

“Hiks.. aku menyayangi eonni. Aku sangat menyayangi eonni. Hiks.. maafkan aku eonni.. maafkan aku.. hmmphiks.. “ Ji Ah membalas pelukan erat Woo Yeon. Isakannya semakin menjadi.

Woo Yeon memejamkan matanya, ia mengusap sayang puncak kepala Ji Ah, “uhm.. arayo. Maafkan aku Jiji –ya.. ini semua karena ku. Aku bukan kakak yang baik untuk mu..”

Ji Ah menggeleng di dalam pelukan Woo Yeon, “aniya. Itu tidak benar. Hiks.. aku yang terlalu bercermin pada masa lalu. Seharusnya aku menyadari jika Joon pergi karena Tuhan sudah menakdirkan seperti itu.. hiks.. “

“Kau tahu? Aku tidak suka melihat mu bersama Zitao karena aku berpikir hal yang sama Ji Ah. Aku tidak mau kehilangan mu seperti Joon dulu.. hiks..”

Ji Ah menyudahi pelukannya. Ia menatap Woo Yeon nanar. “Eonni.. “ Woo Yeon begitu terkejut ketika melihat Ji Ah yang tiba – tiba berlutut di hadapannya.

“Jiji –ya.. “

Ji Ah mendongak, “bolehkah aku pergi menyusul Zitao? Ku mohon.. hiks..eonni jebalyo.. ” Ji Ah memeluk kedua kaki Woo Yeon, gadis itu seperti sudah kehilangan akal sehatnya karena seorang panda Cina yang  kini sudah berada di bumi Qingdao.

“Jiji –ya..” Woo Yeon masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar  & ia lihat.

“Eonni ku mohon.. hiks.. aku sangat menyukainya eonni. Zitao sudah pergi. Aku tidak mau Zitao membenci ku.. hiks.. eonni jebal..” suara parau Ji Ah membuat hati Woo Yeon berkedut. Ini adalah kedua kalinya ia melihat Ji Ah terisak setelah kepergian Joon. Ji Ah bukanlah gadis yang mudah menangis hingga terisak seperti saat sekarang jika tidak terjadi hal yang benar – benar menyakitkan baginya.

Woo Yeon menuntun Ji Ah untuk bangun. “Aku berjanji Yeon. Aku akan meminta maaf  pada Yixing, aku akan mengatakan semua ini adalah salah ku Yeon. Hiks.. Aku akan menemui Yixing itu dan — “

Woo Yeon memotong cepat kalimat Ji Ah, “Sssttt.. tidak perlu. Kau tidak perlu melakukannya. Aku & Yixing memang tidak memiliki hubungan apapun. Kau tidak salah dongsaengi-ya..”

“Tapi karena ku Yixing jadi — “

“Ani, ani, ani. Aku akan menemani mu bertemu Zitao. Kita akan pergi ke Qingdao besok. Hmm?” Woo Yeon menyeka sisa – sisa air mata Ji Ah dengan ibu jarinya.

“Hiks.. tapi Yeon — “

Woo Yeon kembali menarik Ji Ah ke dalam pelukannya, “kau tidak seharusnya membela ku  Jiji –ya. Gomawo.. sudah menerima ku di keluarga Jung selama ini. Kau memperlakukan ku dengan sangat baik . Aku tidak pernah bisa membalas semua kebaikan yang kalian berikan pada ku & Joon. Jadi, ku mohon biarkan hidup ku seperti ini. Kau & Zitao pernah bersama, maka bagaimanapun caranya kalian harus tetap bersama. Nan gwenchana, jinjja gwaenchana.. “

Tidak perlu harus terluka seperti apapun juga, yang terpenting bagi Woo Yeon saat ini adalah kebahagiaan  orang yang selalu berada di sekitarnya. Bahkan jika seumur hidupnya akan ia habiskan untuk mencintai seorang Zhang Yixing, maka Woo Yeon harus tetap bertahan demi orang – orang yang selalu mempertahankannya selama ini. Terutama keluarga Jung yang telah mengangkat derajatnya hingga seperti saat sekarang.

ooOoo

Hari berikutnya..

Bandara Internasional Hongkong

Woo Yeon & Ji Ah baru saja keluar dari pintu kedatangan internasional. Mereka kini berjalan menuju kerumunan orang di ruang tunggu bandara. Seorang laki – laki bertubuh jangkung keluar dari dalam kerumunan orang – orang disana, dan langsung meraih koper yang di dorong oleh Woo Yeon.

“Tuan putri Jung kau sudah merusak acara tahun baru ku..” laki – laki itu berjalan mendahului Ji Ah & Woo Yeon  dengan embawa koper keduanya menuju sebuah mobil Lexus silver yang terparkir di depan sana.

“Yeon. Apa kita merepotkannya? Dia seperti tidak senang menjemput kita disini.” Ji Ah merasa was – was.

Woo Yeon membuka kaca mata hitamnya, ia merangkul Ji Ah dan seraya tersenyum memandang laki – laki yang baru saja merampas kopernya itu, “Lian tidak pernah menjual ketulusannya pada siapapun. Dia seorang sukarelawan sejati. Jadi kau tenang saja..”

“Begitu ya? Uhm.. “ Ji Ah mengangguk, meskipun ia masih tidak mengerti. Ji Ah hanya mengetahui bahwa Lian & Woo Yeon sudah berteman cukup lama.

Lian membuka pintu mobil untuk mempersilahkan dua Tuan putri Jung itu, “siapa yang ingin duduk bersama sukarelawan sejati ini di bangku depan hmm?” ternyata Lian mendengar percakapan Woo Yeon & Ji Ah sebelumnya.

Woo Yeon hanya terkekeh pelan. “Kau yang memaksa ku untuk merepotkan mu Li. Perlu aku perlihatkan lagi pesan singkat kita tadi malam?” Woo Yeon bersiap merogoh ponselnya.

“Lalu apa aku bisa dikatakan sebagai teman yang berguna jika teman ku sendiri tersesat? Sudah, cepat naik.” Lian berjalan menuju bangku pengemudi. Woo Yeon & Ji Ah hanya saling berpandangan, terlihat dari penampilan Lian, laki – laki itu baru saja bangun dari tidurnya.

Tap !

Tap !

Mereka sudah berada di dalam mobil. Woo Yeon mulai bertanya – tanya, Lian tak kunjung menghidupkan mesin mobil.

“Li, ayo jalan.” Woo Yeon menyikut pelan siku Lian.

Lian menggeser sedikit spion yang terdapat di atas kepalanya, ia memandang Ji Ah sekilas. “Aku memiliki peta hidup untuk pergi ke Qingdao. Tunggu sebentar lagi.. “

Lagi – lagi Ji Ah & Woo Yeon bertatapan satu sama lain. Peta hidup? Mereka bahkan tidak mengerti apa yang sedang Lian katakan.

“Eoh!”

Ji Ah menunjuk arah luar mobil. Ia menunjuk kerumunan orang pada parkiran yang berselang beberapa mobil dari mobil mereka.

Senyuman licik Lian mengembang, “peta hidupnya sudah datang. Pakai sabuk pengaman sekarang.” Lian mulai memasang sabuk pengamannya dan bersiap untuk menginjak pedal gas.

“Itu Zitao! Oh Sehun juga! Zitao menjemput Oh Sehun?!” Ji Ah melihat dua orang pemuda yang sedang berusaha masuk ke dalam mobil di tengah – tengah kerumunan orang disana.

Woo Yeon ikut melihat sekilas, lalu ia menoleh pada Lian. “Jadi kita akan menjadi penguntit?”

Lian mengangguk santai, “kau ingin ku kenalkan langsung pada adik ku Yifan jika kau adalah teman ku? Oke. Kita ke Guangzhou lebih dulu.”

Woo Yeon cepat – cepat memasang sabuk pengamannya tanpa merespon perkataan Lian.

Lian terkekeh. Ia menoleh pada bangku belakang, “adik Jung, kau akan bermalam bersama kekasih mu?”

Plak! Satu tepukan mendarat di bahu Lian, “aku bisa menjemput Ji Ah dengan taksi!” Woo Yeon berubah kesal.

Lian lagi – lagi terkekeh. Ia mulai mengambil ancang – ancang memutar stir mobil.

Sebuah Mercedes disana mulai melintas keluar bandara, Lian pun mulai melajukan mobilnya.

“Adik Jung, kau harus berpura – pura hamil jika laki – laki bernama Zitao itu sampai tidak menikahi mu. You got the point?”

Plak! “Wang Lian berhenti mengajarkan adik ku yang tidak – tidak!”

ooOoo

Beberapa waktu berselang ..

“Waahhh pantai.. “ Ji Ah melihat sisi kiri sepanjang jalan menuju Qingdao. Pemandangan indah yang di suguhkan sangat menyejukkan mata.

“Pantai nya indah sekali.. “Ji Ah tak henti – hentinya berdecak kagum hingga ia tidak menyadari jika mobil sudah berhenti.

“Eh? Yeon, kenapa berhenti?” Ji Ah menyembulkan kepalanya ke depan.

Lian menunjuk mobil yang berhenti di depan mobil mereka, “peta hidup sepertinya tahu jika ada penguntit..”

“Omo! Kyaaa! Yeon bagaimana ini?! Yeon, Zi – Zitao … “ Ji Ah semakin panik ketika seseorang dari pintu pengemudi turun dan berjalan ke arah mobil mereka.

“Berani sekali bocah itu.” Woo Yeon ikut berkomentar.

“Ini kawasan pesisir pantai, tidak akan ada fans yang akan berjalan kaki hingga kemari.” Lian menimpali.

Tok – tok – tok.

“Kyaaaaaa! Bagaimana ini!” Ji Ah berteriak frustasi ketika Tao mengetuk pintu kaca pada bangku pengemudi.

“Omo mo mo mo.. Yeon, aku sembunyi ya. Omona omona.. “ Ji Ah sibuk mencari sesuatu untuk menutupi wajahnya, tapi belum sempat ia menemukan benda apapun, Lian sudah lebih dulu menurunkan kaca mobil.

“Lian gege?” wajah Tao langsung berubah shock  ketika sosok Lian terlihat. Ia sangat mengenali sosok Lian, meskipun Kris tidak pernah memperkenalkan Lian secara langsung padanya.

Lian mengangguk dengan gaya khasnya,  “aku membawa hadiah tahun baru untuk mu. Parsel dari Kanada.” Lian menunjuk bangku belakang.

“Eo! Woo Yeon noona..” Tao tampak terkejut ketika menyadari  sosol Woo Yeon yang  berada di samping Lian.

“Hmm..” Woo Yeon hanya mengangguk datar.

“Ge, kenapa kau mengikuti ku?” Tao mengernyit bingung.

“Sudah ku katakan aku membawa sesuatu untuk mu. Adik Jung, cepat turun.”

DEG! Kepala Tao nyaris terbentur dengan pintu mobil pada saat ia mendengar Lian memanggil seseorang.

“JIJI?”

Mata Tao terbelalak lebar ketika sosok itu benar – benar Ji Ah.

“Yeon..” Ji Ah masih tidak berani menatap Tao, ia sedang meminta persetujuan Woo Yeon untuk di perbolehkan turun atau tidak.

“Adik Huang, aku titipkan adik Jung pada mu, bisa kan? Kami ingin berbulan madu.” Lian melirik Woo Yeon dengan tatapan menggoda.

PLAK! “Tutup mulut mu!” Woo Yeon kali ini benar – benar murka pada Lian.

Lian terbahak. “Yasudah, cepat turun. Hubungi aku jika sudah selesai. Jangan hiraukan kakak mu. Turunlah.” Lian berkata pada Ji Ah.

“Noona.. aku boleh membawa Ji — “

Belum habis Tao meminta izin pada Woo Yeon, Lian lebih dulu memotongnya. “Sudah di bawa saja. Kirimkan alamat mu pada ku. Aku akan kembali untuk menjemputnya. Waahh.. jadi kau menyetir sendiri? Kau keren sekali adik Huang.” Lian berbasa – basi.

Tap! Ji Ah menutup pintu mobil. Ia berdiri di depan pintu kaca yang sudah di turunkan oleh Woo Yeon, “Yeon, tidak apa – apa kan?” Ji Ah sangat takut jika Woo Yeon masih tidak mengizinkannya untuk pergi.

Woo Yeon mengangguk seraya tersenyum, “pergilah. Hubungi aku jika kau sudah selesai.”

“Hmm. Woo Yeon –ah saranghae.. “ Ji Ah tersenyum haru. Woo Yeon benar – benar mengizinkannya.

Tao tidak memiliki hal yang bisa ia katakan. Ia benar – benar kehilangan kata – kata. Terlebih sorot mata Woo Yeon yang masih kurang bersahabat terhadapnya.

Tao menarik lagi syalnya lagi  agar menutupi setengah bagian wajahnya seperti semula, “aku .. aku duluan ah maksud ku kami duluan ge, noo-na..” jelas Tao dengan suara gugup.

Lian mengangguk seakan adalah ayah yang sedang memberikan izin pada putrinya, “hmm. Pergilah. Sebelum banyak kamera yang mengintai. Kau akan menjadi santapan Young Min ahjussi anak muda.. kekeke.” Lian menyeringai setan. Tao hanya menatapnya datar. Tidak mengerti apa yang pemuda itu katakan -_-

“Yeon bye – bye.. “

Ji Ah melambaikan tangannya, ia mulai mengikuti langakah Tao menuju mobil.

Lian & Woo Yeon melihat sosok Ji Ah hingga gadis itu naik ke dalam mobil yang di kendarai oleh Tao. Mobil itu pun kembali melaju..

“Jangan khawatir. Dia laki – laki yang baik.” Lian menepuk bahu Woo Yeon, agar tidak merasa gusar setelah mengizinkan Ji Ah untuk pergi bersama Tao.

“SIGH.. “ Woo Yeon menghembuskan nafas kasar. “Uhm.  Aku mau ke Hunan, disana ada kedai keripik kentang yang lezat kan?”

“Kita lebih dulu akan melewati kota Changsha, bagaimana?”

Perkataan Lian membuat Woo Yeon menoleh, “benarkah? Benarkah aku harus kesana untuk mengakui segalanya?” suara Woo Yeon berubah  bergetar. Salivanya terasa teramat pahit.

Wajah Lian berubah  serius, sarat akan ke khawatirannya terhadap Woo Yeon terpancar  jelas. “Kau baik – baik saja setelah ia mengetahui segalanya? Dimana harga diri mu Yeon?”

Woo Yeon tersenyum miris, ia menatap lurus ke depan, “apa aku masih memiliki kesempatan untuk berbicara tentang harga diri, Li? Dia sudah membenci ku.”

Lian memiringkan posisi duduknya, tangannya menyentuh sudut mata Woo Yeon yang mulai menitikkan bulir – bulir hangat, “aku pernah memperingat kan mu Yeon. Laki – laki sangat tidak suka jika mereka di kasihani.” suara Lian berhembus lirih.

Lian meraih ponselnya sesaat, “penerbangannya lebih cepat 1 jam dari mu. Kemungkinan dia juga sudah tiba di rumahnya sekarang.”

Mata Woo Yeon semakin memanas. Ia tidak memiliki keberanian untuk menemui Lay setelah apa yang terjadi saat itu. Apalagi harus bertemu disini, bukan di bumi Korea.

“Cho Kyuhyun.. Zhang Yixing.. atau tidak sama sekali. Kau tidak boleh bertele – tele Jung Woo Yeon.” Lian memperjelas maksudnya.

Woo Yeon ikut memiringkan posisi duduknya. Ia mulai terisak, “apa yang harus aku katakan di hadapannya Li? Dia bahkan tidak ingin melihat ku lagi. Semuanya sudah selesai, aku & Yixing sudah selesai. Hiks.. “

Lian mulai merasa tidak nyaman jika melihat wanita menangis di hadapannya, “yasudah. Kita ke Hunan..” Lian bersiap memutar arah stir mobil.

“Hiks..” Woo Yeon mengiyakan. Ia menyeka air matanya, “thanks for caring me, Li.”

“Aku sudah hancur, maka teman ku tidak boleh hancur seperti ku..”

Perkataan Lian membuat hati Woo Yeon mencelos. Meskipun begitu, tak ada seorangpun yang mengetahui dimana letak kehancuran seorang Wang Lian, kecuali Woo Yeon & Jay.

“Li..” Woo Yeon merasa tidak enak. Secara tidak langsung, ia membuat Lian kembali memutar kenangan pahit masa lalu.

Lian tersenyum tipis dengan tatapan lurus ke depan, “aku baik – baik saja Yeon. Khawatirkan diri mu..”

Woo Yeon berusaha untuk membalas senyum Lian. Bagaimanapun, selama ini Lian sudah melakukan banyak hal untuknya.

Sepanjang perjalanan menuju Hunan, tak banyak hal yang mereka perbincangkan. Woo Yeon memilih diam, sementara Lian fokus menyetir dengan sesekali bersenandung kecil..

Woo Yeon membaca sebuah pamplet besar ketika melewati kawasan Sangchu. “Changsha..” gumamnya dalam hati. Ia tahu persis jika kediaman keluarga Zhang akan ia temukan di sepanjang jalan yang akan mereka tempuh sesaat lagi. Ya, rumah Lay berada tepat di sisi kanan jalan raya menuju Hunan.

“Kau yakin tidak akan berhenti?” Lian sengaja menurunkan kecepatannya.

Woo Yeon mengangguk mantap, “hmm. Aku harus berhenti Li.. “

CKIIITT …

To Be Continued..

Buat komentarnya ga kebalas kita mention – mention di twitter aja ya dears. Love yaaa ~ *deep bow*

100 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 6

  1. alhamdulillah yaaah, ga segalau chapter sebelumnya sih memang :3 tapi pas bagian Lian malahan yang galau T.T padahal cuma seiprit doang dia curcol gtu kan tapi langsung berasa suasana galaunya /pelukLian/
    JiTao akhirnya bersatu lagi yeheeeetttt ohorat !
    Upa hwaiting (^^)9

  2. suka banget sama abang lian ni heheh semua masalah selesai kalo ada lian:D
    nest series sehun krystal kan eon:( please
    ditunggu jjang! hwaiting!!

  3. Huffhhhh…” Tebakan ku kli ini meleset lagi. Aku pikir yang kecelakaan tu Zhang yixing
    Akhir’y woo yeon & jiji udah kga marahan lagi….
    Yaekris kli ini kga dimsukin ke ff’y eon. Yang muncul mlah gem chan “kkKkk ….😄.
    Aduhhh….” Sehunii aku pling demen klo si sehunni ini bercomentar tentang percintaan para hyung”nya di exo deh
    Soal’y kliatAn Manly bnget Kwkwkkkk…:D

    Knpa sii lay oppa kga milih yeon eonni ja sii, pdahalkan serasi bnget. Dri pada sma sii kristal….
    Oya…” Eon ngomong” Sii kyuhyun oppa, kga dikasih jodoh tu. KaSian sii oppa yng satu ini. Di selalu dipermainin sma yng nma’y cinta

    Eon ceritain perjalanan pahit’y lian oppa dung aku penasaran bnget tau eon #pengentaubngetlokya’y

    udah deh eon kya’y comentar ku pnjang bnget yng ada eon nnti mls lgii bca’y

    Tetap semangatt ya eon
    Hwaiting
    Aku tuungu ff selanjut’y
    Saranghae :* ❤❤
    Bye :*

  4. Omona! Aku kira itu beneran Xing-Ge. Ah eomma! Buat aku jantungan aja!! Kekeke next eomma,, anakmu selalu mendukungmu :*. Jia You ({}), eoh aku lupa ngasih tau, aku bca epep smbil ngoment, d tengah2 Pra- UN Smp lo😀. Hari pertama Pra-UN-,-

  5. ohmygod, TBC mengganggu!!!
    thor2 knp kok skr updatenya lama yaa gakayak dulu lg 3 hr sekali???? hehehehe
    aaa sehun suka sm soojung?? aku setuju mrk leboh cocok!!! biar lay sm wooyeon aja hehehee

  6. ciyee banget ciyeeee JiTao balik kemudian jo ah ngenes #gantungdiridipohon cabe..
    si woo yeon mendingan sama si joyfull jongdae pasti dia happy selalu dah “lalalalala…” #posepohon wkakakakak…
    sehunku cepat balik nak #salah fokus
    hwaiting upa. ditunggu lanjutannya yehey…

  7. Lay galau yehey Lay galau~
    hayoloh mau milih siapa bingung kan, nona Jung sama nona Jung menunggu jawaban😀
    nah eonnie gitu dong, Jitao akhirnya direstuin sama Yeon😀

    eonnie coment aku yg kemarin gk muncul ya?
    waaaa mianhae eonnie, aku nya on di hp jadi mungkin gk ke kirim😦
    eonnie aku tunggu next chapnya ya~ ^^

  8. Huaaaaa, aku hampir lupa eon konflik di part sblmnya apa krn kelamaan hehe -_-
    Akhirnya my cute prince Umin keluar, yehet!😀 Masih bingung sama hubungan Lian – WooYeon nih. Keep writing, saranghae {}

  9. cha kece kece kece!
    eon kenapa lanjutnya lama? .__.
    tapi gapapa lah pasti sibuk eoh! yang penting lanjut!!!!
    itu akhirnya yeon turun? bikin penasaran🙂 lanjut…..

  10. Itu jadi yang meninggal bukan Lay kan… Huhuhu Eonnnie emang deh kalo bikin FF greget… T.T tapi emang seru sih… Hmm Eonnie sebenernya aku udah baca FF nya kemarin ;33 tapi beri komen sekarang hehehe ;p gak papa kan ya… Yang penting kan udh komen ;33

  11. aihhhh. itu kirain lay yang kecelakaan. ternyata bukan..
    akhirnya zitao dan jiji direstuin sama yeon.. *prokprok*😀
    next chap ditunggu ^^

  12. Kyaaaa akhirnya saya bisa baca lagi… Setelah penelitian yang membuat saya pusing, akhirnya……. Thor tulisannya baugs banget, aku dapat feelnya.. Apalagiyang ridiculous chap 5 aku nangis*gak ada yang nanya. Tetap semangat ya author! Hwaiting!!!

  13. ternyata prediksinya salah semua,,bukan lay ternyata hahahaha:-D
    lay makin galau abis bca sms krystal,,tp jangan yah.ayo sama dokter jung aja hehe^^
    bakal penasaran bnget apa yg bakal d’lakuin dokter jung d’rumah lay??semoga lay makin yakin sama perasaannya….
    ettsss cie,,cie,,coupel panda balik lg#sorak2 kegirangan
    tp rasannya chapt ini pendekan deh dari pada sbelum”nya,,apa cuma perasaan aku aja,,atau jangan” gara” gak ada yekris jdi berasa ada yg kurang,,hehehe:-P
    next chapt d’tunggu^^

  14. aigooo eon ketinggalan lg…..

    wah part ni bner2 bikin eon terharu pluz juga bikin bingung….yeon jadix pa cp ya???
    lian lucu bgt,udh kocak,ckep lg v mslh yg dy sembunyiin kpn d bongkar saeng??^__^

    semoga da series lian ya hihi

  15. Penulis… lama sekali update-nya, aku sampe harus baca ulang part 5, tapi gapapa lah. Oiya, Wooyeon sama wang Lian itu berhenti di depan Rumah Lay ya tadi?? Kenapa ending??? Ooh, aku menduga, wang lian itu suka sama guan shinyi, trus mereka punya cho kyubin. Tapi, xing zhaolin itu siapanya wang lian?? Penulis, kasih clue-nya kehancuran wang lian dong?? Penasaran nih….. untung aja yang kecelakaan bukan Zhang Yixing, trus yang korban tadi jadinya dia koma atau meninggal?? Penulis…. updatenya dicepetin dikit dong…. aku tau nulis fanfic berbobot itu susah, tapi aku juga tau penulis itu jago banget bikin fanfic bagus. Cepetin updatenya yaa…. pleasee…..

    Yang part 6 ini cho yaegi sama Kris nggak ada yaa?? Kemana?? Exo disini mereka udah gudbai stage yaa?? Disini, sehun itu suka sama Krystal tapi dia suka sama Lay?? Bener gitu?? Aaa…. xing zhaolin itu siapa?? Oiya, gimana kabar Kim Nana???

    Dugaanku, wooyeon berhenti di depan rumah Lay, terus ngejelasin sejelas jelasnya sama neneknya lay + ibunya lay. Tapi bisa juga nggak sih….

    Jangan bosen baca komentarku yang super puanjang ini ya penulis….. hwaiting..!!!

  16. hey wooyeon ngira pasien itu yixing oppa yah:-D ketahuan banget nih woo yeon masih cinta sama yixing oppa, keliatan dari care nya woo yeon sama yixing:-) lanjut eon

  17. aaaaaakkkk kakak author aku sekarang jarang komennnnn dikarenakan try out (?) yaaaa harus belajar deh #ceritanyacurhat hehehehehehe kakak author dilanjut terus ffnya! author harap dimaklumi kalau aku jarang komen

    kakak author FFnya keren abissssss, feellnya dapet banget……. next chapter ditunggu yah…..

  18. huwaaa…eonni, kenapa eonni selalu sukses bikin ak galau sm ni couple, duh, ga tau deh gmn akhirnya hubungan mereka nanti, yg pasti ff eonni bagus bgt dan bikin ak selalu semangat bacanya…
    semangat buat tulisannya ya, eonni..hwaiting…

  19. wah,,yeon mw mmpir k rmh lay,,moga aj g terjdi pertengkaran…
    n klnjutan crta ttg pnyakit lay, g dbhas y saeng??
    btw,,wu / wang lian keren e’ bjaksana,care ma org2 terdekatny,,walau rada gila gra2 kripik kntang..hahaha
    lanjut🙂

  20. ternyata bukan Lay yg kecelakaan…. untung y n itu yg ngebuat yeon sadar sama keberadaan.ji ah krn pwrtengkarqn.mereka n.ngebuat mereka akur……
    ada apa sih sebener y rahasia dr wang Lian jd penasaran abis….
    woo yeon bakal jd ma siapa sih kyuhyun or yixing????

  21. g tw knp tiap ada lian kalo dia lg kumat..pasti pengennya ketawa mulu..dia itu lucu..aku jd suka karakternya…^^
    mdh2n yeon bisa ketemu lay n baikan lg..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s