EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 7

1395382_463247257127853_117550675_n

Written By : Ulfa Muriza – @Yaegi_Cho11700 | Poster By : Juwita

Zhang Yi Xing | Lay EXO – M

Jung Woo Yeon | Pemeran Fiksi | Dokter Keluarga Cho

Jung Soo Jung | Krystal F (x)

Kyuhyun Super Junior

Wu Yi Fan | Kris EXO – M

Cho Yaegi | Pemeran Fiksi Resmi

Wu Geum Chan |  Wu Geum Sha | Pemeran Fiksi Resmi

EXO | Manajer EXO  | Staff SM  | dan beberapa pemeran pendukung fiksi / non fiksi yang akan kamu temukan dengan sendirinya ;)

Rating : R :D

Romance – Family – Sad – Friendship

( Yang pusing dengan hal – hal percintaan anak EXO, jangan baca :D )

Dilarang keras menjiplak! Dilarang keras copy – paste ! Jadilah pembaca cerdas, mandiri,  kreatif dan positif :)

It’s Belong To Me

Typo Bertebaran! 

OST  ::  2AM _ I Wonder If You Hurt Like Me

Enjoy Your Reading – Sasasarangieyoooo :D

oOoOo

Lian langsung menepikan  mobil secara mendadak usai mendengar apa yang Woo Yeon tuturkan. Lian menoleh pada sahabatnya yang masih terdiam kaku sambil menatap lurus ke depan.

Woo Yeon yang merasa Lian melihat padanya pun ikut menoleh, “pulanglah.” Satu kata terlontar dari bibir Woo Yeon.

Lian memiringkan posisi duduknya, ia semakin menatap Woo Yeon penuh sarat akan kekhawatiran. “Kau akan turun? Keluarganya pasti sedang berkumpul saat ini.” Dua bola mata Lian mencuri pandang sekilas pada salah satu rumah di ujung sana. Terlihat rumah itu sedang merayakan tahun baru bersama seisi penghuni rumah.

Woo Yeon ikut melihat sekilas dari balik kaca mobil, namun tak ada satu patah katapun yang ia ucapkan kepada Lian.

Lian akhirnya mengangguk, “baiklah.” Laki – laki itu kembali ke posisinya semula.

Woo Yeon menarik nafas panjang. Desahan kecil terdengar dari bibirnya. “Kembalilah untuk menjemput ku. “ tukasnya dengan nada ragu bercampur malu.

Lian kembali menoleh, “aku akan meminjamkan mu uang dan pulanglah dengan taksi. Aku juga akan menyewa sebuah penginapan untuk mu dan Jiji.” Lian sedang merogoh dompetnya.

Hal itu membuat Woo Yeon menoleh murka, “kau sungguh akan melakukan itu  pada ku Li?”

Lian nyaris terbahak. Sekalipun didalam suasana genting seperti saat ini, dia masih bisa menyempatkan diri untuk memancing amarah Woo Yeon.

“Guangzhou – Changsha itu sangat jauh Yeon. Aku bahkan belum menerima sepeser uang pun dari Ibu. Yifan akan mengambil bagian ku jika aku tidak segera pulang.”

Woo Yeon mengangkat tubuhnya dari sandaran, “benarkah? Jadi Wang Lian yang sekarang sudah berubah menjadi seorang kakak yang kompetitif? Tidak lagi menjadi pahlawan buat Yifan?” cibir Woo Yeon.

Lian menyungingkan senyum yang terkesan dipaksakan, “dia hampir memiliki segalanya. Hanya bersaing untuk mendapat hadiah tahun baru, apa aku terlihat buruk?”

“Ani. Kau bahkan yang terbaik. Kau kakak terbaik yang pernah ku temui.” Woo Yeon langsung mengalihkan leluconnya. Terkadang senyuman Lian lebih banyak menyiratkan luka, dan hanya orang yang terdekatnya saja bisa  mengerti serta dapat membaca senyuman itu.

Lian hanya mengangguk pelan. Wajahnya terlihat datar seperti tidak sedang menerima pujian. “Turunlah.” Lian mengenggam erat salah satu telapak tangan Woo Yeon.

Melihat itu, membuat Woo Yeon mendongakkan wajahnya. Menatap Lian seperti sedang mempertanyakan ‘kenapa mengenggam tangan ku?’

Lian mengeratkan genggamannya, dan kini ia menaruh satu tangannya lagi pada punggung tangan Woo Yeon, “kita sudah pecah. Kau & Nana adalah  orang yang tersisa untuk ku Yeon. Apapun itu, berjuanglah untuk kebahagian mu.”

Kata – kata Lian membuat Woo Yeon terenyuh, “Li.. “ lirih suara Woo Yeon memanggilnya.

Lian hanya mengulum senyuman, “jangan menangis di hadapannya jika dia tidak pernah mengakui perasaannya terhadap mu. Kau mengerti?”

Woo Yeon mencerna sesaat perkataan Lian. Sepersekian detik kemudian, ia mengangguk mantap. “Hmm. Kita akan merayakan tahun baru bersama malam ini. Kau bisa menikmati keripik kentang sepuasnya.” Woo Yeon mencoba kembali mencairkan suasana.

Lian tersenyum lebar, “uhm.”

Woo Yeon melepaskan sabuk pengaman  dan bergegas turun dari dalam mobil.

Tap!

Bunyi debaman pelan pintu mobil menandakan gadis jelita itu sudah berada di luar mobil sekarang.

Tin!

Lian membunyikan klakson satu kali, mengisyaratkan ia akan segera melajukan mobilnya untuk pergi dari sana. Terlihat Woo Yeon melambaikan tangan sembari tersenyum tipis menatap kaca mobil.

Woo Yeon terus berdiri memandang ke arah mobil yang dikendarai Lian melaju hingga lenyap dari pandangannya. Lalu, Woo Yeon  berbalik melihat deretan rumah yang salah satunya adalah rumah yang ingin ia tuju. Terlihat sebuah rumah yang sedikit lebih mencolok karena hanya rumah tersebut yang memiliki halaman cukup luas, dan itu adalah rumah Lay.

Woo Yeon masih berdiri dan hanya menatap dari kejauhan. Ia masih menunggu segenap keberaniannya terkumpul, karena keluarga besar tentu sedang berkumpul saat ini.

“Sigh ~ “

Woo Yeon menarik nafas singkat. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju kediaman Lay. Apapun yang akan terjadi, Woo Yeon merasa ia sudah cukup siap untuk menerima semua resiko yang ada. Ingin melakukan yang terbaik namun dengan cara yang salah, dan itu membuat orang yang ia harapkan justru berbalik membencinya. Terkadang hidup memang lebih egois dibandingkan manusia yang berada di dalamnya. Tidak peduli apakah itu akan menyakitkan atau membahagiakan manusia itu sendiri, yang terpenting bagi kehidupan adalah bagaimana semua manusia bertahan.

“Tunggu.”

DEG!

Sebuah suara membuat Woo Yeon spontan kembali berbalik ke belakang. Seketika kedua mata Woo Yeon terbelalak lebar mewakili keterkejutannya, “Yixing –ssi.. “

Lay berdiri tegap dengan jaket tebal membalut tubuhnya. Dua manik mata Lay menatap lekat sosok Woo Yeon yang masih terperangah tak percaya akan kehadirannya yang lebih dulu diketahui oleh Lay. Terlihat dari penampilan dancing machine M itu, ia seperti baru saja pulang berjalan – jalan.

Lay berjalan beberapa langkah menghampiri Woo Yeon. Garis wajah yang terkesan dingin pada malam itu, kini berubah kembali seperti semula. Garis wajah yang hampir selalu terbayang oleh Woo Yeon, Zhang Yixing dengan wajahnya yang selalu tersenyum  dan lesung pipi yang menjadi ciri khasnya.

“Kau ingin merayakan tahun baru bersama ku?”

Deru angin laut yang berhembus membuat suara Lay nyaris terdengar tersamarkan. Woo Yeon masih kelu. Tak ada hal yang bisa ia katakan, terlebih melihat sikap Lay yang berubah drastis seperti saat sekarang.

Tanpa disangka – sangka, telapak tangan hangat Lay meraih salah satu tangan dingin Woo Yeon. Itu juga membuat Woo Yeon terperangah tak percaya.

Lay mengeratkan genggamannya. “Ayo kita masuk. Udara di luar akan membuat mu sakit.” Lay menarik pelan agar Woo Yeon ikut melangkahkan kakinya.

“Yixing –ssi..” Woo Yeon  menahan langkahnya. Ia masih berusaha menyembunyikan rasa gugup yang sebenarnya sulit untuk ia kendalikan. Woo Yeon tentu sangat bertanya – tanya akan sikap Lay yang terlihat biasa – biasa saja melihat kedatangannya kemari. Mengapa Lay tidak langsung pergi atau mengusirnya? Paling tidak, menanyakan alasan apa tujuan Woo Yeon berada disana. Mengapa laki – laki ini justru menyapanya seperti sudah mengetahui jika Woo Yeon akan datang berkunjung? Sungguh sikap yang menimbulkan tanda tanya  besar.

Lay menatap Woo Yeon dengan kedua mata sayunya, “kenapa? Ayo kita masuk. Kau akan ku ku kenalkan dengan anggota keluarga ku yang ada di dalam sana. Ayo..” lagi – lagi suara ramah nan menyejukkan di telinga itu menghipnotis  Woo Yeon begitu saja.

“Ta – pi aku – “

Belum habis Woo Yeon menyelesaikan nafas gugupnya, Lay sudah lebih dulu melangkah tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Woo Yeon. Woo Yeon tidak memiliki pilihan, dan ikut menyeret langkahnya perlahan dengan satu tangan berada di dalam genggaman Lay.

ooOoo

Guangzhou – Kediaman keluarga Wu

Drt – drt – drt

Getar suara ponsel di atas meja makan membuat Kris berhenti melahap potongan dumpling yang tersaji. Kris meletetakkan sepasang sumpit yang semula ia pegang di atas mangkuk sup  untuk meraih ponselnya.

Kris melihat nama ‘Pikachu’ terus berkedap – kedip dari layar ponsel. Sekilas beberapa sanak keluarga yang ikut makan bersama memandang ke arahnya.

“Siapa?” suara sang Ibu membuat Kris mendongak.

“Yaegi bu. Aku kesana sebentar.” Kris beranjak bangun dari kursi makannya, ia menunjuk arah ruang utama.

“Istri mu menelfon? Ayo di angkat di sini saja. Kami juga mau mendengar suaranya.” Salah satu Bibi dari keluarga Wu menyambangi.

Kris melirik sang Ibu demi meminta persetujuan. Karena bukanlah hal yang sewajarnya mengangkat telfon ketika sedang makan bersama. Tetapi Kris tidak mungkin untuk tidak mengangkatnya, karena Yaegi juga tidak akan menelfon jika itu bukanlah sesuatu hal yang mendesak.

“Ayo diangkat.” Ibu Kris memberikan respon santai.

Kris akhirnya mengangguk. “Hmm.”

Bip.

“KRIS –ah.. “

Dengan gerakan cepat Kris langsung menutup ponsel dengan tangannya sesaat, suara Yaegi sangat nyaring terdengar meskipun tanpa pengeras suara.

Sesaat, paman, bibi dan beberapa sanak saudaranya kembali memandanginya, dan kali ini berubah menatap Kris heran.

“S-sebentar. A-ku permisi.” Tanpa menunggu lama Kris langsung bangkit dari kursi makannya dan berlari kecil menjauh dari ruang makan.

“Kris –ah.. huaaaa.. bagaimana ini.. kyaaa! Aku harus bagaimana? Ya tuhaaann.. “

Yaegi terus berceloteh tanpa mengetahui jika Kris belum menempelkan lagi ponsel pada telinganya.

“Uhm, Pikachu mian, tadi aku di meja makan.” Kris kembali melanjutkan percakapan.

“Kris –ah..” suara Yaegi terdengar pasrah.

Kris mulai berubah mengernyit, “Pikachu? Kau kenapa? Kau sakit?” Kris memilih untuk duduk di sofa.

“Ani. Kris –ah.. bagaimana ini.. Kris –ah..” suara Yaegi lebih mirip seperti sedang merengek.

“Pikachu kau kenapa? Kenapa berteriak mendesah seperti itu? Omo! Apa jangan – jangan kau — “

“Mwol! Aku hamil! AKU HAMIL ARO!”

“YE? JEONGMAL?! Hem.. ani, ya maksud ku sungguh?”  Kris dengan cepat meralat kata – katanya dan mengecilkan volume suara ketika menyadari keluarganya menjengit melihat ke arahnya dari ruang makan.

“Pikachu, tunggu. Aku ke teras dulu. Keluarga ku sedang berkumpul.” Kris berlarian menuju pintu belakang rumahnya. Ia memilih teras belakang agar percakapan antara dirinya & Yaegi lebih privasi.

“Pikachu, kau sungguh sedang tidak bercanda?  Pikachu valentine masih beberapa hari lagi. Hentikan. Itu tidak lucu.” Kris menganggap itu hanyalah gurauan Yaegi. Tetapi, tanpa di ketahui oleh Yaegi, wajah Kris sebenarnya juga berubah panik.

“Penduduk Korea juga masih memerlukan lelucon ku Wu Yi Fan. Jika aku hanya bercanda, aku tidak perlu melakukan hubungan internasional seperti ini. Kyaaa.. bagaimana ini? Kris –ah aku harus bagaimana.. “ Yaegi berdecak frustasi.

Kris mengigit pinggiran kukunya, “sshhh.. jadi kau serius? Sungguhan? Anak ku?”

“PULANG SEKARANG MAKA AKU AKAN MEMBUNUH MU!”

Teriakan Yaegi membuat Kris sontak menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia terkikik pelan. “Kekeke. Tidak, aku bercanda saja. Yasudah, memangnya kenapa?”

“Apa aku salah sambung? Sebentar, aku akan mengeceknya.” Suara Yaegi terdengar heran.

“Yak yak. Lalu jika salah sambung, apa ada pria lain yang memanggil mu Pikachu? Oouhhh.. bodoh sekali.” Kali ini Kris balas mengumpat.

“Kenapa ekspresi mu datar sekali? Kau tidak terkejut? Ini mengejutkan Tuan Wu! Aku bahkan tidak bisa mempercayai ini! Aaaaaa… bagaimana ini.. “ terdengar dari suaranya, mungkin saat ini Yaegi tengah berguling kesana  kemari di atas ranjangnya.

“Pikachu, anak – anak dimana? Kenapa aku tidak mendengar suara mereka?”

“Tidur. Anak mu tidur. Kris –ah! Aku sedang serius saat ini!”

“Kau hamil kan? Yasudah. Lalu apa yang harus ku katakan lagi? Jangan suka melompat & berloncat kesana kemari nanti kau bisa keguguran. Aku akan memberitahu Ibu setelah ini. Ibu pasti senang sekali.” Kris menanggapi santai.

“Sungguh kau Wu Yi Fan suami ku? Kris? Wu Yi Fan? Apa suami ku sedang disekap di ruang bawah tanah saat ini? Lalu kau, kau penjahat yang menculik Kris ku? Mengaku saja!”

Wajah Kris berubah cengo usai mendengar perkataan Yaegi, “sudah ku katakan jangan terlalu banyak menonton film aksi itu Nyonya Wu. Khayalan mu memalukan. “

“AH MOLLA! KU TUTUP!”

Bip.

“Eung? Yaegi –ya? Cho Yaegi! Hey Pikachu?!”Kris melihat layar ponselnya yang sudah kembali pada layar semula. Ia menahan tawanya. “Dia marah kekeke.”

Kris mencoba menghubungi Yaegi kembali, namun…

“Eishh.. kenapa tidak aktif? Aiyoo.. dia benar – benar marah.” Kris mendengus pelan. Yaegi benar – benar langsung menonaktifkan ponselnya. Tak lama kemudian fokus Kris teralihkan karena melihat seseorang yang baru saja muncul. Lian baru saja keluar dari pintu garasi.

Kris yang semula duduk pada meja rotan  di teras belakang,  bangun dan berdiri seperti semula.

“Dari mana saja kau?” tanya Kris dengan nada seperti biasa jika berhadapan dengan Wang Lian. Lian melihat sekelilingnya sejenak. Tidak ada siapapun. “Kau berbicara pada ku?” Lian menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos.

Kris menahan hidungnya yang mulai kembang kempis. “Jadi kau benar – benar sudah menjadi roh halus?” Kris mendengus.

“Ahhh.. aku dari Changsha.” Tukas Lian dengan gaya khasnya.

Dahi Kris langsung berkerut usai mendengar jawaban Lian. “Seharusnya kau merayakan tahun baru bersama keluarga bukan bersama kekasih mu.” Kris mencoba memancing Lian untuk mengatakan sesuatu. Karena ia merasa sangat gengsi untuk bertanya langsung.

Lian berkacak pinggang sambil terkekeh pelan menatap adik kesayangannya itu, “kekasih? Jadi selama ini kau mencari tahu tentang ku? Ouuhh.. adik ku ini manis sekali.” Lian mengacak – acak pelan rambut Kris.

“Yaash!” Kris menepis kesal tangan Lian.

“Kekeke. Jadi aku akan mendapatkan keponakan lagi? Kau hebat sekali Yifan.” Lian mengacungkan kedua jempolnya. Ternyata indera pendengar Wang Lian masih tajam seperti biasa.

“Jangan mengatakannya pada Ibu. Biar aku yang mengatakannya nanti.” Tukas Kris ketus.

“Hmmm.. dumpling isi udang?  wahh aku masuk dulu.” Lian mengabaikan perkataan Kris. Ia justru sesaat mengendap – endap sesuatu yang berbau harum dari dalam rumah. Ia menepuk pelan bahu Kris dan berlalu masuk ke dalam.

“A-yo.. Fan bobo ku.. “

Puppy lucu milik Lian ikut terlihat di depan pintu. Lian dengan segera menggendong puppy miliknya itu sebelum puppy yang ia beri nama Fan Bobo itu menjadi korban penganiayaan Kris.

Kris dengan cepat berbalik karena Lian tidak akan mudah untuk di peringatkan. “Hey! Ya! Wang Lian ingat, jangan sampai kau mengatakan — “

“IBUUUUUU KAU AKAN MEMILIKI SATU CUCU LAGIIIIIII… “

Terlambat. Lian benar – benar mengatakannya seperti sedang memenangkan sebuah lotre.

Plak! Kris menepuk jidadnya sendiri. Ia mengerang frustasi. Wang Lian dengan santainya melenggang masuk ke dalam sambil berteriak tanpa dosa.

“Seharusnya aku menjanjikan trakrtiran keripik kentang di awal! Ck !”

ooOoo

Di waktu yang sama …

Saat ini semua pandangan keluarga yang tengah duduk di ruang utama melihat Lay yang membawa seseorang ke tengah – tengah mereka.

Lay menarik pelan tangan Woo Yeon, mengisyaratkan untuk memperkenalkan dirinya sendiri.

“Uhm. Aku Jung Woo Yeon. Selamat tahun baru.” Sangking merasa gugup, Woo Yeon benar – benar tidak tahu lagi cara memperkenalkan diri dengan sewajarnya. Ia bahkan lupa mengucapkan salam di awal.

Salah satu dari orang – orang yang duduk pada sofa besar itu bangun dan menghampiri keduanya. “Yixing, ini gadis yang nenek katakan waktu itu?”

Lay menoleh pada Woo Yeon sesaat, dan mengangguk. “Iya bu. Dia.”

Woo Yeon sangat mengerti apa yang sedang dikatakan oleh kedua orang itu. Berteman lama dengan tiga orang berkebangsaan Cina, membuat Woo Yeon bisa dikatakan mahir dalam berbahasa mandarin, hanya saja ia tidak terbiasa melakukan percakapan di kesehariannya.

Wanita paruh baya dengan rambut pendek sebatas leher, tersenyum hangat pada Woo Yeon. Kedua mata wanita itu melengkung ikut membentuk senyuman. “Selamat datang nak. Terimakasih sudah jauh – jauh datang dan berkunjung kemari.” Ibu Lay menepuk pelan pundak Woo Yeon.

“Sudah lama sekali kau tidak lagi menelfon nenek.” Suara renta dari sisi ujung sofa membuat Woo Yeon melihat ke sumber suara. Rasa gugup Woo Yeon semakin membuncah. Beberapa waktu silam, ia memang pernah  saling berkomunikasi dengan keluarga Lay tanpa sepengetahuan namja itu. Tetapi, lagi – lagi Woo Yeon terperangah heran dengan sikap Lay yang begitu biasa saja.

“Benarkah? Aku tidak pernah tau nek.” Lay menyahut tenang.

“Ah ya, ayo kita makan siang. Hidangan sudah siap. Woo Yeon, ayo nak.”

Suara dentuman piring – piring yang tengah ditata oleh beberapa sanak keluarga Lay terdengar, pertanda menu makan siang sudah siap untuk di nikmati.”

“Ah iya.” Woo Yeon mengangguk kaku, dan mengiyakan begitu saja ketika tangannya ditarik oleh Ibu Lay dan tangan sebelahnya digandeng oleh sang nenek. Woo Yeon berusaha untuk melihat ke belakang, ia memastikan Lay tidak akan meninggalkannya seorang diri di tengah keluarga besar Zhang.

‘Pergilah duluan.’ Begitulah tatapan Lay berbicara untuk menjawab tatapan Woo Yeon padanya. Lay pun berbalik arah dan berjalan menuju lantai dua. Woo Yeon yang melihat itu sedikit bisa bernafas lega, mungkin Lay hendak berganti pakaian terlebih dahulu, pikirnya.

ooOoo

Qingdao – Kediaman keluarga Huang

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Keluarga besar Huang sedang menikmati makan malam bersama. Bisa dikatakan bukan keluarga besar seperti siang tadi ketika merayakan tahun baru bersama. Di sana hanya ada Tao, Ayah & juga Ibunya. Serta Sehun & Ji Ah. Ini sudah kedua kalinya Ji Ah makan di meja yang sama, tadi siang & malam ini. Meskipun Ibu Tao menyambutnya dengan ramah, tapi Ji Ah masih saja merasakan kecanggungan yang luar biasa. Terlebih, ia hanya berbicara beberapa patah kata dengan Ibu Tao dan selebihnya Tao menjadi alat penerjemah di antara keduanya.

“Kau tidak suka cumi ?”

“Ye? Ah aku — mmmh..” Ji Ah langsung menyikut Tao yang duduk di sebelahnya, ia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan oleh Ibu Tao.

Tao menunda suapan nasi ke dalam mulutnya, “kau mau cumi ?” Tao hendak mengambilkan sepotong cumi untuk Ji Ah.

“Ah.. iya Bu. Aku akan mengambilnya nanti. Ini saja sudah membuat ku kenyang.” Ji Ah berusaha bersikap sopan sebagaimana mestinya.

Ibu Tao melihat pada putra sematawayangnya itu, tanda ingin mendengar terjemahan dari Ji Ah.

“Jiji tidak suka cumi.” Tao melanjutkan kembali makan malamnya. Melihat sikap Tao yang masih tampak acuh terhadapanya, Ji Ah melemparkan tatapan memelas pada Sehun yang duduk tepat di depannya.

Sehun justru sama sekali tidak melihat Ji Ah. Ia sibuk memotong – motong daging yang ada di piringnya.

“Tao, setelah ini temani Ibu sebentar ya? Kita beli beberapa botol Wine untuk tamu nanti malam.”

Tao mengangguk datar, “hmm, ya.”

Jauh dari yang Ji Ah bayangkan selama ini. Tao terkesan dingin & bersikap cuek terhadap kedua orang tuanya. Tidak suka membantah, tetapi setiap kata yang keluar dari mulut Tao terkesan tak acuh.

“Tao –ya.. Ibu mu mengatakan apa?” Ji Ah berbisik pada Tao.

Tao menjawab tanpa menoleh pada Ji Ah, “aku & Ibu pergi keluar sebentar. Kau pergilah ke taman belakang bersama Sehun. Atau ke kamar ku saja.”

Melihat itu, Ji Ah kembali mencelos. Tao benar – benar belum kembali menjadi Tao yang ia kenal.

Beberapa waktu kemudian…

“Jiji, Sehun.. kami pergi sebentar ya? Jika membutuhkan sesuatu panggil saja Bibi Sun didapur. Ayah sedang menerima tamu.”

Sehun & Ji Ah langsung menatap Tao, meminta terjemahan. “Sehunnie, aku pergi sebentar. Naik ke kamar ku saja. Ok?” Tao menepuk pundak Sehun.

“Sehun? Hanya Sehun? Lalu aku?” Ji Ah meracau dalam hatinya.

“Hey – hey.” Sikutan tangan Sehun membuat Ji Ah tersadar, “ne?”

“Ayo kita ke atas. Tao sudah pergi.” Sehun menunjuk lantai dua. Ji Ah bahkan tidak menyadari jika Tao & Ibu sudah berlalu.

“Kita ke taman belakang saja..” sahut Ji Ah dengan nada tak bersemangat. Ia  merasa kedatangannya sungguh sia – sia.

“Yasudah, ke taman.” Sehun mengangguk, dan berjalan lebih dulu menuju taman.

ooOoo

Pada waktu yang bersamaan..

“Kau yakin teman mu akan menjemput mu?”

“Hmm. Mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju kemari.”

“Guangzhou – Changsha itu memakan waktu yang lama.”

“Ne.”

Woo Yeon berkali – kali melirik arlojinya. Sudah hampir larut malam, tapi Lian tak kunjung datang. Ia kini duduk di teras rumah Lay  dan tentunya di temani oleh si pemilik rumah. Suasana canggung masih menyelimuti keduanya.

Woo Yeon menoleh ke dalam rumah Lay, “Ibu & nenek juga sudah tidur?”

Lay mengangguk, “uhm. Ini sudah pukul 9. ”

“Jadi aku menganggu istirahat mu?” tanya Woo Yeon sedikit ragu.

Kedua mata sayu Lay menoleh padanya, “coba kau hubungi teman mu.” Lay justru mengatakan hal lain.

“Ne? Ah ye, sebentar.” Woo Yeon meraih ponselnya, dan mulai menekan sebuah nomor.

Bip.

“Li, kau dimana?”

“……”

“Ah iya. Baiklah. Hmm.”

Bip. Panggilan terputus.

Wajah Woo Yeon semakin berubah kecut usai menghubungi Lian. Ia enggan untuk menoleh pada Lay yang masih memasang wajah seperti sedang bertanya padanya.

“Bagaimana?” ya, Lay pasti menanyakan hal tersebut.

“D-dia baru saja keluar dari rumahnya..” jawab Woo Yeon penuh rasa sungkan.

Lay kembali duduk tegap, seraya mengangguk tanpa masalah. “Ok. Ayo ikut aku.” Lay bangun dari duduknya.

Woo Yeon mendongak heran, “kemana?”

“Ikut saja.” Lay hanya masuk ke dalam rumahnya sebentar dan keluar dengan sebuah gitar. Ia kemudian  menggandeng yeoja itu untuk mengikuti langkahnya.

Tak lama berselang …

“Rumah mu dikelilingi pantai..” Woo Yeon terpana sesaat ketika ia tahu bahwa Lay akan membawanya ke sini. Sebuah pantai yang tidak jauh dari rumah Lay. Suara deburan ombak serta semilir angin laut yang berhembus membawa sensai kesejukan tersendiri bagi siapa saja yang berdiri pada bibir pantai seperti mereka saat ini.

“Kau suka? Aku sudah lama tidak kemari. Padahal hanya  perlu menutup mata dan bisa langsung sampai di sini.” Lay tersenyum sembari melihat pemandangan laut lepas yang terbentang di hadapannya.

“Mereka akan pergi mencari ikan malam – malam seperti ini? Apa itu tidak berbahaya?” Woo Yeon menunjuk ke arah beberapa orang yang sedang mendorong sebuah perahu menuju tengah laut. Sepertinya itu adalah segerombolan nelayan yang akan pergi berlayar di malam hari.

“Ayah ku juga ada disana.. “ Lay ikut menunjuk.

Woo Yeon merasa tak percaya, “sungguh?”

“Uhm. Ayah suka bepergian bersama teman – temannya.” Lay menaruh gitarnya yang hanya beralaskan pasir pantai. Namja itu lalu menarik sehelai handuk kecil dari saku jaketnya, bersiap untuk membentangnya  sebagai alas duduk.

“Hanya satu. Kau mau?” Lay menawarkan pada Woo Yeon.

Woo Yeon senantiasa menggeleng cepat, “tidak usah. Kau saja.”

“Baiklah.” Tanpa banyak berbasa – basi, Lay langsung duduk di atas handuk kecil yang baru saja ia bentangkan.

Woo Yeon ikut duduk di sampingnya. Tak ada kata yang terucap. Keduanya kembali diam tak bergeming. Hingga satu petikan dawai gitar menggema..

“Suara mu ketika di ruang vocal sangat bagus.”

Woo Yeon merasa terkejut ketika Lay mulai kembali bersuara dengan gitar berada di pangkuannya. “Ye? Ah… tidak, waktu itu Kyuhyun — ani, maksud ku.. “ tiba – tiba Woo Yeon terbata. Ia merasa tidak nyaman ketika menyebut nama Kyuhyun di hadapan Lay.

“Waeyo? Kyuhyun hyung kenapa?” Lay menunggu kalimat Woo Yeon yang menggantung dengan respon tenang.

Woo Yeon justru menunduk tanpa melanjutkan kata – katanya, “ani. Waktu itu aku hanya ingin bernyanyi saja.”

“Aku akan memainkan gitar, dan bernyanyilah.” Lay bersiap untuk memetik dawai gitarnya.

Woo Yeon semakin tergagap, “ah.. Yixing –ssi.. aku tidak bisa. Suara ku sangatlah tidak enak untuk didengar. Tidak, aku tidak bisa.” Woo Yeon menolak berkali – kali, raut wajahnya terlihat panik.

“Jadi kau hanya bisa bernyanyi karena sebuah piano mahal?”

DEG!

Suara Lay memang berhembus lembut, namun entah kenapa itu sangat menusuk bagi Woo Yeon. “Hmm?” Lay mendeham menatap Woo Yeon yang terdiam karena pertanyaannya.

Lay beralih menatap lurus ke depan, “yasudah. Aku tidak akan memaksa mu. Cha – dengarkan.”

Neoreul bojimalgeol geuraesseo
(I should have not looked at you)

Satu bait yang terlantun membuat Woo Yeon mendongak sempurna melihat Lay.  Kedua manik mata Woo Yeon menatap Lay penuh tanya. Lirik lagu itu sangat menganggu indera pendengarannya, namun Woo Yeon memilih untuk diam dan lanjut mendengarkan.

Dareun sesangeseo salgeoseul
(I should have lived in another world)

Woo Yeon masih mencoba menikmati bait kedua yang terlantun.

Geujeo moreuneun sarameuro sandamyeon
(If I lived without knowing you)
Ireon apeum ttawineun mollasseulteni
(I wouldn’t have known this pain )

“Ah Yixing –ssi geumanhaeyo… “ tangan Woo Yeon reflek menarik tangan Lay yang sedang memetik dawai gitar. Seakan nyanyian Lay menamparnya keras.

“Hentikan. Aku tidak suka lagu itu.” Woo Yeon memberanikan dirinya untuk menuai protes.

“Waeyo? Ini lagu K.Will sunbaenim yang  paling ku sukai. Love is punishment, kau tahu lagu itu kan?”  Lay bersiap untuk melanjutkannya.

“Ah, ganti yang lain saja.” Woo Yeon lagi – lagi menahan tangan Lay untuk kembali melanjutkan petikan gitarnya.

Lay menunduk, melihat tangan Woo Yeon yang memegang tangannya. Melihat itu Woo Yeon langsung memindahkan tangannya. “Mian..”  Woo Yeon kembali ke posisi duduknya semula.

Melihat ekspresi wajah Woo Yeon, Lay menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang sulit untuk diartikan.

“Woo Yeon –ssi..”

“Yixing –ssi.. “

Tanpa disengaja keduanya memanggil nama satu sama lain dalam waktu yang bersamaan.

Keduanya saling menoleh. “Hmm, wae?” Lay bertanya pada Woo Yeon lebih dulu.

Woo Yeon mengigit bibir bawahnya, “mianhaeyo. Untuk semua yang ku lakukan, neomu mianhanda Yixing –ssi..”

Lay  menunggu Woo Yeon untuk kembali berucap. Namun, Woo Yeon tak kunjung bergeming lagi, hingga satu tangan Lay merangkulnya. “Aku pasti sudah banyak menyakiti mu Yeon..”

Woo Yeon menggeleng cepat, “ani. Yixing –ssi kau — “

“Tapi kau tidak seharusnya melibatkan keluarga ku. Kita bahkan tidak mengerti di mana kita berada sekarang. Kenapa kau melakukan itu Yeon?”

Pertanyaan Lay kali ini sukses membuat hati Woo Yeon kembali berkedut.

“Kau pengguna akun Guan Shin Yi itu, benar kan?”

Woo Yeon semakin terhenyak. Bibirnya tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Rasa malu bercampur rasa kesal terhadap dirinya kini berbaur menjadi satu.

“Malam itu, aku terlalu buruk menjadi seorang laki – laki. Mianhaeyo.. “ Meskipun tak ada sahutan apapun dari Woo Yeon, Lay terus mengutarakan isi hatinya.

“Aku gagal menyelematkan seorang hemofilia kemarin.“ sepatah kalimat akhirnya terlontar dari bibir Woo Yeon.

Mendengar akan hal itu, Lay justru tersenyum tipis, “lalu kau menganggap bahwa orang itu adalah aku? Seperti itu?”

“Hmm.” Woo Yeon mengangguk  lemah.

Lay melepaskan rangkulannya dari pundak Woo Yeon, ia kembali memegang gitar seperti hendak kembali bernyanyi, “terlalu banyak waktu yang kita lewati tanpa ada kita di sana. Ku pikir kita bisa menghabiskan malam bersama – sama sekarang. Bagaimana menurut mu?”

Sikap  dan  semua tutur kata Lay malam ini benar – benar terkesan begitu meneduhkan. Meskipun masih mengambang akan sikap Lay yang demikian, tetapi Woo Yeon sangat bisa merasakan kehangatan itu di malam ini.

“Yixing –ssi.. “ panggil Woo Yeon untuk kedua kalinya.

“Hmm. Bicaralah. Kau memiliki banyak waktu untuk mengatakan semuanya.”

“Maafkan aku. Benar, akun itu adalah aku. Kedatangan ku kemari, aku ingin menjelaskan semua hal yang selama ini tak dapat ku sampaikan secara langsung pada mu.” Woo Yeon mulai memiliki segenap keberanian untuk berbicara.

Sementara Lay terus mendengar setiap kata yang  yeoja itu  tuturkan sambil menikmati suguhan deru ombak yang menyejukkan mata.

“Mianhae, aku sama sekali tidak mengetahui jika kau terus mencoba menghubungi ku waktu itu. Aku tidak pernah tahu jika Yixing –ssi benar – benar mencari ku waktu itu.”

“Gwaenchana. Itu sudah berlalu. Mungkin, aku memilih waktu yang salah untuk menghubungi teman ku saat itu.”

Teman? Kepala Woo Yeon tergerak untuk memandang Lay ketika ia mendengar  kata tersebut.

Lay dapat membaca tatapan itu, “waeyo? Apakah aku masih — “

“Aku menyukai mu. Sangat bahkan sangat menyukai mu.” Tukas Woo Yeon cepat, memotong perkataan Lay. Itu membuat Lay bungkam sesaat, ada rasa bahagia yang terselip, namun rasa gundah dan kecewa juga berkecamuk  di dalam lubuk hatinya. Maka, Lay tidak mengerti apa yang ia rasakan saat ini. Yang terpenting, ia masih sangat merasakan kenyamanan yang luar biasa, ketika dua manik mata kecoklatan milik gadis itu menatap padanya. Bayang – bayang ketakutan pun hampir menghampiri kala Lay mengingat jika Woo Yeon kini sudah menjadi milik Kyuhyun. Meskipun Lay cukup percaya diri, bahwa Woo Yeon masih melihat padanya.

Lay mengangguk dengan bibirnya yang terkulum, “apa kau yakin? Kau yakin dengan perasaan mu? Kau sudah banyak terluka Yeon. Dari awal, aku lebih dulu mengenalkan luka dan hingga akhir pun kau hanya akan terluka karena ku. Aku bahkan tidak memiliki hal yang bisa ku perbuat untuk mengubah luka itu Yeon. Apa kau yakin?” tak di sangka – sangka, kemampuan berbahasa Korea Lay terdengar begitu fasih ketika mengutarakan isi hatinya panjang lebar.

Kali ini Woo Yeon memberanikan diri menatap Lay dengan sinar mata yang penuh harap, “apa aku harus menanyakannya langsung agar kau menjawab — “

“Aku menyukai mu. Kau benar, aku menyukai Jung Woo Yeon. Itu hal yang juga ingin ku katakan. Ini bukanlah rasa suka ku yang akan berubah lagi ketika aku melihat gadis lain. Rasa suka ku yang tidak bisa ku ubah lagi.” Dengan lugas Lay menyahut cepat sebelum Woo Yeon menyempurnakan kalimatnya.

Satu titik air mata pun akhirnya menetes membentuk sungai kecil dikedua pipi Woo Yeon. Paling tidak, ia bisa menangis karena Lay juga sudah mengakui perasaannya.

“Jangan menangis di hadapan ku Yeon. “ sapuan lembut  mendarat pada kedua pipi mulus Woo Yeon. Jemari – jemari  Lay menyeka bulir – bulir hangat itu secepat yang ia bisa.

“Jangan menangis..” ucap Lay dengan suara berbisik.

“Hiks.. hmm.” Woo Yeon berusaha menahan air matanya. Tidak tahu perasaan apa itu, yang jelas ia sangat ingin memecahkan tangisnya saat ini juga. Ia berharap Lay akan terus berada di sisinya seperti saat sekarang, namun pada sisi yang berbeda, Woo Yeon menitikkan air matanya karena bayang – bayang Kyuhyun semakin membuatnya merasa bersalah.

Lay  dan Woo Yeon sama – sama di ambang pintu takdir yang sungguh tidak masuk akal. Pintu takdir yang hanya berbicara tentang ego semata, tanpa memberikan gambaran jalan keluar untuk keduanya.

“Aku akan semakin menyukai mu jika kau menangis Yeon. Berhentilah.”

“Zhang Yixing hentikan?! Hiks.. “ Woo Yeon reflek menolah bahu Lay, ia semakin tidak dapat mengontrol perasaannya jika Lay berubah menggodanya.

Lay terkekeh pelan ketika melihat Woo Yeon yang nyaris terisak karena rayuan yang baru saja ia layangkan.

“Hey. Sudah,  jangan menangis lagi. Dokter Jung?” Lay mendekatkan wajahnya, ia mengintip wajah Woo Yeon yang sedang menunduk.

“Yeon?” Lay menarik pelan hidung Woo Yeon agar gadis itu kembali mendongak seperti semula.

“Hiks.”

Meskipun masih menahan isakannya, tetapi Woo Yeon tetap mendongak. Melihat itu, Lay kembali tersenyum geli. Lay melihat sekelilingnya, ia menemukan rerumputan panjang yang tumbuh di sekitar pohon cemara yang tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali.” Lay menaruh gitarnya, dan bergegas bangun dari duduknya.

Namja itu berlari kecil menuju rerumputan yang tumbuh disana. Mata sembab Woo Yeon ikut menoleh kemana arah Lay berlari. Tidak lama berselang, Lay kembali dengan sehelai rerumputan panjang yang ia ambil dari ujung sana.

Woo Yeon menatap heran laki – laki itu.

“Tarik lengan baju mu.” Lay menunjuk lengan baju  Woo Yeon yang tergulung.

Dengan ekspresi penuh tanya Woo Yeon menurunkan lengan kemeja yang ia kenakan, hingga sepenuhnya terulur rapi sampai ke pergelangan tangannya.

“Cha.. “ Lay melilitkan salah satu sisi ilalang itu  pada pergelangan tangan Woo Yeon.

“Yixing –ssi, apa yang ingin kau lakukan?” wajah Woo Yeon semakin berdecak  heran.

Lay sudah selesai melingkarkan satu sisi ilalang tersebut pada pergelangan tangan Woo Yeon, “sekarang kau lilitkan satu sisinya lagi di tangan ku.” Lay memberikan tangan kirinya.

“Eung? Untuk apa?” Woo Yeon benar – benar tidak mengerti.

“Sudah, ayo lakukan.”

Woo Yeon menuruti titah Lay, dan kini mereka kembali duduk seperti semula dengan  pergelangan tangan terikat oleh ilalang panjang.

“Kita akan memainkan sebuah drama malam ini.” Jelas Lay, santai.

“Ye?”

Lay tampak tersenyum sumringah, “ada pepatah yang mengatakan jika pikiran atau perasaan manusia bisa saja berubah – ubah, bahkan dapat berubah lima kali  dalam satu detik. Bagaimana jika kita mencobanya? Kau mau?” Lay menjelaskan panjang lebar.

“Aku tidak mengerti.” Sahut Woo Yeon dengan suaranya yang masih parau.

Lay membenarkan posisi gitar pada pangkuannya, “pikirkanlah. Aku tidak ingin kau terluka karena pilihan mu Yeon. Pikirkanlah akan keyakinan mu yang ingin  kembali menyukai ku.”

“Zhang Yixing –ssi tapi ini — “

“Aku akan memainkan sebuah lagu, ketika kau merasa keyakinan mu berubah, maka tariklah ikatan rumput ini, begitu juga dengan ku. Hmm? Kau mengerti kan?” Lay melihat borgol rumput yang melingkar pada bagian pergelangan tangan mereka.

“Jadi yang kau katakan barusan itu hanya untuk membuat ku tidak menangis?”

“Aku menyukai mu Yeon. Aku menyukai mu. Dan aku sangat menyukai mu. Aku hanya ingin memastikan jika tidak akan ada siapapun lagi pada saat kau bersama ku. ”

“Yixing -ssi, aku tidak bisa melakukan ini. Yixing ini — “

Lay tidak menghiraukan perkataan Woo Yeon, namja itu mulai memetikkan dawai gitarnya yang berubah menjadi sebuah alunan musik.

Woo Yeon menarik nafas panjang. Mau tidak mau ia menuruti perintah Lay. Kini mereka duduk menghadap gemerlapnya pantai yang berpantulkan cahaya bulan. Serta semilir angin yang berhembus, membuat helaian rambut mereka ikut tertiup olehnya.

“Aku menyukai Yixing.”

“Aku menyukai Yixing.”

“Aku menyukai Yixing.”

Kalimat itu terus Woo Yeon ucapkan di dalam hatinya. Alunan musik  yang tengah Lay mainkan, membuat  nuansa haru semakin tercipta.

“Yeon, cepat kemari! Yaaa! Apa ada dokter lamban seperti mu!”

“Tidak. Aku menyukai Yixing.”

“Ya! Jung Woo Yeon apa – apaan ini? Dimana PSP ku!”

“Tidak, aku menyukai Yixing.”

Beberapa menit berlalu, Woo Yeon yang semula dengan tenang menyebutkan nama Lay di dalam hatinya, tiba – tiba bayang – bayang serta samar suara Kyuhyun terngiang di benaknya. Bahkan ia tidak pernah mengingat sama sekali bagaimana Kyuhyun berteriak padanya.

Woo Yeon memejamkan matanya, berharap bayang – bayang Kyuhyun hanyalah hal biasa yang masuk dan keluar dari pikirannya layaknya manusia yang selalu berpikir.

Hingga pada saat petikan dawai gitar berakhir …

Tas! Borgol ilalang itupun terputus dan memisahkan tangan keduanya. Apakah salah satu dari mereka benar – benar telah merubah keyakinan untuk kesekian kalinya?

To Be Continued…

Kekekeke. Keep stay ya ~ saranghae. *kecup satu – satu* Hikseu … miss you all.

109 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES ‘XingYeon’ RIDICULOUS – Chapter 7

  1. heyyy maaf ya baru komen lg di chapter ini. aku bacanya ngebut dari chap 1. sbenernya kau msh ga ngerti knp woo yeon sm lay ga bs bersatu. toh mereka saling suka kan? konflik sbenernya dlm hubungan mereka tuh apa sih? atau aku yg ktinggalan satu cerita lanjut aja deh klo gitu

  2. Auh jjinja!!
    Bnr2 deh yeon ma yixing..dua2nya sulit d tebak..
    Kasian bgt kn kyuhyun oppaq yg evil itu..
    Tttaaarrrr #tebarconfetti
    Ω̶sҽҽǩ •° ┐(‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ °• Ω̶sҽҽǩ yaegi hamil lg..chansa punya adek..
    Kya~ senengnya…
    Chukkae yaekris..#pelukyaekris
    #naribarengchansa

  3. annyeong yaegi-ahh! aduh aku baru baca ff lanjutannya. aku lagi sibuk ujian, tapi hari ini lagi libur jd aku sempetin untuk mampir ke blogmu.
    wah apa mereka ga berjodoh? maksudku lay sm yeon. sedih banget sama kisah mereka ㅠㅠㅠㅠ

  4. “Borgol ilalang itupun terputus dan memisahkan tangan keduanya.”
    capa tu yg ngelepasinny,,,,penasaran…
    btw,,slmat wat yaekris..hehe…
    mw ad de2 lgi…chansha bkal punya adek…hehe

  5. eoni, huwaaa…gimana ini woo yeon galau …
    milih lay kasian kyu, milih kyu kasian lay….huhuhuhu
    tp selamat ya buat yaekris akhirnya punya baby lagi…hehehe…dan tuh couple kocak amat sih😀

  6. kenapa jd bimbang gt sih mereka dulu yixing sekarang malah woo yeon haduh bikin kesel n geregetan deh nih….
    mau y apa sih…
    author daebak bikin yg baca jd campur aduk gini rasa y….
    untung ada penyegar y yaegi n kriss yg di gegerin soal yaegi hamil itu yg bikin seneng…..

  7. harusnya yeon-yixing ngeyakinin dlu perasaan masing2 sblm saling jujur..
    Yeei…yaegi hamil lg..chansa bakal punya adik..

  8. Siapakah yg keyakinannya goyah?
    yeon?yixing?or keduanya…???

    tuhhh kan hamil lagi
    kontrasepsi’a g berhasil,wkwkwkwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s