Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 2

1888528_691949574190690_1152809380_n

Author : Ulfa Muriza | @Yaegi_cho11700

Poster : Muthia

 Editor : Daeshi Lee

(Keadaan mendesak hahaha, excuse ya :D)

Rating : R – 17 

Please don’t be silent reader. Be smart & creative readers. The whole story is mine!

Enjoy my story line :)

+++

            Yaegi menarik gagang pintu apartemen dan melangkah ke luar. Ia berjalan menuju dorm M yang bersebelahan dengan apartemennya.

“Yaegi –ya, Yaegi –ya… “ Kris ikut menyusulnya keluar dari dalam.

Yaegi menepis pelan tangan Kris yang hendak meraih tangannya.

Kris membalikkan posisi Yaegi, “Hey? Itu masih diagnosa sayang…” ia menaruh kedua tangannya pada bahu Yaegi.

Yaegi menatapnya intens, “aku tahu. Sudah, aku mau mengambil ChanSha kembali.” Yaegi menggeser tangan Kris dari bahunya. Ia mulai memencet bel dorm M.

Kris menyerobot di sebelahnya, dan langsung memasukkan password dorm mereka.

Tit – tit

“Ayo masuk.” Kris mempersilakan istrinya untuk masuk lebih dulu.

“Chan di sini Chan…”

“Yaaa Wu Geum Sha aku, aku, bukan Paman Rusa.. “

Yaegi mendapati kedua buah hatinya sedang asik bermain bersama member M, juga Sehun, Suho, dan Chanyeol.

“Sudah selesai? Cepat sekali..” Suho melihat Yaegi dan Kris yang masuk bersama.

Luhan melirik jam dinding, “belum sampai 30 menit.”

“Dokter Kim menunda jadwal konsultasi dan tadi hanya petugas rumah sakit yang datang untuk mengantarkan — “

“Geum Sha, Geum Chan chaa.. ayo kita pulang…” Yaegi sengaja memotong pembicaraan Kris dengan bertepuk tangan dan menghampiri ChanSha.

Sejenak mereka semua memandangi Kris dan Yaegi bergantian. Hanya Kris yang membalas tatapan mereka, sementara Yaegi seperti terkesan ketus tidak banyak berbasa – basi.

“Oppa, bantu aku untuk menggendong Geum Sha, kau bisa kan?”

Suho bangun dari duduknya, “ah ye ye. Sha, ayo kita pulang.”

“Suho –ya, biar aku saja.” Kris menghampiri peri kecilnya dan dengan tangan terbuka lebar Geum Sha langsung berhamburan memeluk Kris yang menggendongnya.

“Anneong (annyeong)… “ Geum Sha melambaikan tangannya pada semua memberdeul.

“Eo annyeong. Kyaa dia menggemaskan.. “ Chen bergidik gemas.

“Ahjussideul, Geum Sha pulang dulu ya? Bye – bye. Ayo coba katakan..” Kris mengangkat tangan Geum Sha.

“Ppai – ppai ahduti..”

“WAAAA Wu Geum Sha pintar sekali.. ” memberdeul bertepuk tangan.

“Kyaahaa..” Geum Sha ikut menepuk tangannya, menirukan Luhan yang bertepuk tangan di hadapannya.

“Anak pintar..” Suho mencubit gemas pipi Geum Sha.

“Gomawoyo. Maaf sudah menyusahkan kalian. Aku pamit dulu.” Yaegi membungkuk sopan dan langsung berbalik ke luar dorm.

Kris hanya bisa memberikan tatapan harap maklum pada memberdeul yang melihat itu.

“Aku mengantar Geum Sha dulu ya? Lalu kita pergi.” Kris berkata tidak enak.

“Ye, tidak apa – apa hyung. Jae hyung juga masih di dalam perjalanan.” Chanyeol mengangguk tanpa masalah.

Kris mengangguk, “baiklah.”

Krispun melangkah pergi menuju pintu ke luar dorm. Usai memastikan Kris dan peri kecilnya berlalu, memberdeul kembali menuai tanya.

“Kakak ipar kenapa? Aku jadi takut untuk menegurnya.” Tao berkomentar.

“Mungkin dia sedang datang bulan.” Xiumin menyambangi.

“Apa semua wanita diciptakan dengan datang bulan? Kalau ya, merepotkan juga.” Sehun menggembungkan pipinya.

“Oh Sehun kita ingin mencari kekasih yang tidak didatangi oleh bulan.” Chanyeol terkikik.

“Memangnya ada?” mata Sehun berbinar.

Lay mengangguk seraya melempar bantal leopard milik Tao kepada Sehun, “ada.”

“Sungguh?” Luhan dan Chen bertanya bersamaan.

“Wanita dari Exo Planet.”

Luhan meraih kembali bantal Leopard dan melemparnya pada Lay. “Eyyyhh! Kau ini!”

“Xing hyung apa – apaan kau!” Chen yang duduk di bawah Lay meninju pelan kaki Lay.

“Hahahaha.” Suho, Chanyeol, dan Xiumin tertawa keras, kecuali Tao dan Sehun yang masih tidak menangkap inti pembicaraan para hyungdeulnya.

Sehun bangun dari duduknya dan merangkak menuju Tao, ia berbisik “coba ada Kai di sini. Pasti ada yang menerjemahkannya.”

Wajah Tao semakin bingung, “menerjemahkan apa?”

Tap! Sehun menepuk keras bahu Tao, “aihh kau sama saja!”

+++

            Yaegi menaruh Geum Chan ke atas ranjang. Jagoan kecil itu langsung menelungkupkan badannya lalu duduk di atas ranjang.

“Appa..” Geum Chan menunjuk tempat tidur ketika Kris dan Geum Sha terlihat dari balik pintu kamar.

“Obulshaaaa…mmmaaaa..” Geum Sha berteriak penuh suka cita. Peri kecil itu mungkin sedang sangat senang karena keluarga kecilnya sedang berkumpul saat ini.

Yaegi terduduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang masih muram. Tak ada sepatah katapun yang ia lontarkan. Yaegi membelai lembut rambut tipis Geum Chan dengan jemari lentiknya tanpa menoleh pada Kris yang juga sudah duduk di tepi ranjang di hadapan Yaegi.

“Appa chiya..”

“Hum? Tidak mau?”

Geum Sha menolak Kris yang mau menaruhnya di dekat Geum Chan. Peri kecil itu justru bergelayut manja di leher Kris sambil menggelengkan kepalanya.

“Muah – muah – muah – papa muah – muah muah … “ Geum Sha berdiri di atas kasur dengan kedua tangan yang melingkar pada leher sang Appa. Ia terus menerus memberikan kecupan basah dengan bibir mungilnya pada wajah Kris hingga wajah laki – laki itu di penuhi oleh bekas air liur Geum Sha.

“Yaegi –ya?” Kris tidak mempedulikan wajahnya yang terus dicium oleh Geum Sha, ia justru masih terfokus pada Geum Sha eomma yang masih terdiam di sudut ranjang.

“Cho Yaegi?” perlahan Kris mencoba menyentuh bahu Yaegi dengan tangan panjangnya.

Yaegi mendongak memandang Kris, “aku tidak apa – apa.” Yaegi memberikan tatapan teduhnya, ia kembali mengecup puncak kepala Geum Chan untuk kesekian kalinya.

“Dokter Kim mengirimku pesan singkat. Ia akan menjelaskan semuanya nanti malam melalui panggilan video. Ia sangat minta maaf karena keberangkatannya secara mendadak menuju Singapore. Sudah, jangan terlalu dipikirkan.” Jelas Kris panjang lebar seraya mencoba merogoh ponselnya dari saku celana.

“Wo di pappa (wo de papa) muahhh…” Geum Sha mengucapkan satu kalimat bahasa mandarin yang selama ini ia dengar dari Kris.

Chup – Kris mengecup gemas pipi Geum Sha.

“Popopopo muah..” Geum Sha kali ini memajukan bibir mungilnya dan menempelkan pada bibir sang Appa.

“Kau lihat? Putri kita berkembang pesat. Kau yang mengajarinya hmm?” Kris mencoba melayangkan leluconnya. Yaegi hanya membalas dengan senyuman tipis.

“Aaaaa!”

Yaegi dan Kris tersentak bersamaan ketika mereka mendengar sebuah teriakan.

“Geum Sha kau menginjak tangan kakak mu..” dengan cepat Yaegi menggeser kaki gempal Geum Sha yang tanpa sengaja menginjak tangan Geum Chan.

“Ssstt… sudah tidak apa – apa. Adikmu tidak sengaja Chan. Ssstt..” Yaegi langsung memeluk Geum Chan yang hendak meredup itu. Namun pelukan sang eomma membuat putra tunggal keluarga Wu itu tidak jadi menangis.

“Kau kenapa sayang? Hey?” Kris terkekeh melihat raut wajah Geum Sha yang menegang. Bayi cantik itu hanya berdiri kaku dengan satu tangan ia rangkulkan pada bahu sang Appa dan satu tangannya lagi menarik – narik ujung bibirnya sendiri. Kedua mata coklat Geum Sha menatap sayu Yaegi yang masih memeluk Geum Chan.

“Wu Geum Sha? Aigoo.. Yaegi-ya, sepertinya yang ini juga sudah mulai mendung.” Kris tergelak. Ekspresi wajah Geum Sha sungguh menggelikan. Peri kecil itu seperti mengetahui bahwa ia bersalah, dan sang eomma baru saja bersikap seperti sedang memarahinya.

Yaegi menyudahi pelukannya terhadap Geum Chan. Chup – “sudah tidak sakit lagi kan? Putraku pintar..” Yaegi mengecup tangan Geum Chan dan mengusap kepalanya sayang. Lalu ia dengan cepat beralih pada Geum Sha.

“Eomma tidak marah sayang. Aigoo putriku..”

“Huuaaaaa…” tangis Geum Sha pun memecah ketika Yaegi datang untuk menggendongnya dan memberikan sebuah pelukan hangat.

Kris hanya bisa tertawa hingga wajahnya memerah. Terkadang tingkah lucu kedua buah hatinya memang pantas untuk diabadikan.

“Huuaammama..” Geum Sha semakin tersedu, air matanya terus tumpah membasahi T-shirt putih yang Yaegi kenakan. Kedua tangannya memeluk erat leher Yaegi.

“Ssstt, maafkan eomma nak. Eomma tidak marah padamu. Wu Geum Sha putriku yang cantik, sstt.. jangan menangis..” chup – Yaegi mengecup pipi Geum Sha berkali – kali dan terus mengusap sayang punggung putri kecilnya itu.

Lambat laun tangisan Geum Sha mereda, ia berbalik dan kembali mengulurkan tangannya pada Kris. “Wo di pappaa..” suara serak Geum Sha mengarah pada Kris.

Kris masih terkikik geli. “Sudah selesai tuan putri menangis? Haha.”

“Eyh. Kenapa tertawa? Dia bisa menangis lagi Kris-ah.” Yaegi mengomeli Kris yang sedang sibuk menghapus titik – titik air mata Geum Sha.

“Kyaaahaaakkk! Papapasha.. kyaaahak!”

“Eung?” Yaegi dan Kris sama – sama menatap heran Geum Chan yang tiba – tiba tertawa cekikikan. Telunjuk mungilnya menunjuk Geum Sha yang berada di gendongan Kris.

“Kau menertawakan adikmu Chan?”

“Eo.” Geum Chan spontan merespon pertanyaan Yaegi tanpa melihat ke arah kedua orang tuanya. Ia sibuk mencolok mata boneka angry bird kesayangannya.

Tingkah ChanSha akhirnya dapat menciptakan sebuah senyuman lebar dari wajah sang eomma. Yaegi tertawa geli karena kedua buah hatinya.

“Ada – ada saja.” Yaegi menggeleng tak habis pikir.

Sebuah tangan mendarat pada puncak kepala Yaegi, “jangan murung seperti tadi lagi. Kau semakin keriput Pikachu.”

“Heish!” Yaegi menepis cepat tangan Kris dari puncak kepalanya. Ia menatap Kris tajam.

“Aku masih 20 tahun, Tuan!” Yaegi berdecak kesal. Ia sangat sensitif terhadap kalimat ‘kerutan wajah.’

Kris terkikik pelan. “Begitu lebih baik. Berteriaklah setiap hari hingga aku tuli. Hmm?”

“Aihh Wu Yi Fan hentikan?!” kali ini Yaegi mengusap pipinya yang baru saja ditarik gemas oleh Kris.

“YAEGIIII… CHANSHA… I’M COMING HOME… “

Sebuah teriakan dari luar kamar terdengar jelas. Seketika raut wajah kekhawatiran Yaegi kembali terpancar.

“Kris-ah, Ibu sudah pulang.” Yaegi tampak panik.

“Aku sudah memindahkan hasil laboratorium itu. Tenanglah.” Kris menunjuk meja rias, tempat di mana ia menaruh amplop yang dikirimkan oleh petugas rumah sakit beberapa saat lalu.

Yaegi menggeleng cepat, “tidak. Bukan itu. Kita harus memberi tahu Ibu sekarang.”

Kris menaruh tangannya pada puncak kepala Yaegi, “tenanglah. Kita tunggu penjelasan lebih lanjut Dokter Kim nanti malam, lalu kita bisa menjelaskannya pada Ibu. Hmm?”

“Tidak Kris-ah. Ibu harus mengetahui semuanya sekarang. Ibu harus mengetahui meskipun pengangkatan rahimku belum diputuskan.”

“Tapi itu masih diagnosa sementara Cho Yaegi.”

“Di situ tertera jelas, aku tidak bisa hamil untuk kesekian kalinya jika kandunganku kali ini akan mengalami keguguran Wu Yi Fan!” emosi Yaegi nyaris memuncak.

“Dengarkan aku. Aku suamimu.” Kris berkata dingin. Ia menaruh Geum Sha ke atas ranjang.

Kris meraih kedua tangan Yaegi, “apapun nanti yang kau dengar dari Ibu, kau harus bisa memakluminya. Ibu terkadang memang terkesan ketus. Tapi percayalah, Ibu sangat menyayangimu seperti putri kandungnya sendiri, Pikachu. Kau mengerti kan?” Kris mencoba meyakinkan istrinya.

Yaegi hanya tertunduk lemah tanpa sepatah katapun.

Kris mengeratkan genggaman tangannya, “aku memang bersalah atas permasalahan waktu itu. Tidak seharusnya aku mengatakan pada Ibu tentang pertengkaran kita. Sekarang, coba katakan padaku, apa yang Ibu katakan ketika menyuruhmu pindah kembali ke mari? Apa Ibu mengatakan sesuatu yang membuatmu tersinggung? Hmm?” Kris mengangkat dagu Yaegi agar menatapnya.

Sesaat Yaegi hanya menatap kedua manik mata Kris lekat, lalu ia menggeleng, “tidak ada. Ibu memintaku dengan sangat baik. Sungguh tidak ada.” dustanya.

Meskipun waktu sangat membatasi mereka, tetapi Yaegi adalah bagian dari hidupnya. Wanita kedua setelah sang Ibu yang menghabiskan sebagian besar waktu bersamanya. Kris dapat membaca guratan kebohongan di sana.

“Kau tidak ingin mengatakannya padaku?” tanya Kris penuh harap.

Yaegi mengulum senyumannya, “dia orang yang melahirkanmu, Kris. Ibu adalah orang yang membuatku bisa bertemu dengan ayah dari kedua anakku.”

Mendengar itu, Kris hanya bisa menghela nafas singkat. “Tunggu aku pulang, lalu kita akan memberitahu Ibu bersama – sama, mengerti?” Kris menempelkan dahinya pada dahi Yaegi.

Yaegi mengangguk pelan, “hmm.”

                                                                        +++          

Sore menjelang petang …

Yaegi sedari tadi terus mondar – mandir di depan pintu apartemennya. Ia menunggu Kris yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Yaegi melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 sore, entah kenapa rasa kalut dan gusar bercampur menjadi satu dan terus mengaduk perasaannya.

“Yaegi sedang apa kau di situ, Nak?” suara sang mertua membuat Yaegi berbalik ke sumber suara.

“Ah Ibu. Aku, aku menunggu Kris pulang.” Yaegi menunjuk pintu dengan ibu jarinya.

Dahi Ibu Kris sedikit mengernyit, tidak biasanya Yaegi melakukan hal seperti itu selama ia berada di Korea. “Menunggu Yifan katamu? Kenapa harus menunggunya?”

Pertanyaan sang ibu mertua membuat Yaegi mematung sesaat.

“Hmm.. uhm.. Yifan .. kami memiliki janji dengan Dokter Kim, Bu.” Yaegi tidak dapat menyembunyikan sesuatu, akhirnya ia mengatakan yang sebenarnya.

“Tentang kandunganmu? Ibu sampai lupa, kau sudah memeriksakan kandunganmu sayang? Ini bulan pertama kan?” Ibu Kris berjalan menuju sofa ruang utama dan menaruh cangkir teh yang ia bawa di atas meja.

Yaegi mengangguk kaku, “sudah Bu.” Ia bukan orang yang pintar memainkan sebuah skenario.

Ibu Kris menyesap lagi teh maple hangat favoritnya seraya mengangguk, “bagaimana? Semuanya baik – baik saja kan? Ah ya, Ibu sudah memesan beberapa baju hamil untukmu. Mungkin esok hari akan tiba.”

Yaegi ikut menghampiri sang mertua. Ia duduk pada sofa yang berhadapan dengan mertuanya, “baju hamil? Aku bahkan tidak sempat memakai semua baju hamil yang dulu Ibu berikan padaku. Tidak usah, Bu.”

“Meskipun sedang mengandung, kau harus tetap terlihat cantik Yaegi.”

“Tapi aku jarang bepergian, Bu.”

“Ibu sudah terlanjur memesannya.”

Yaegi tidak memiliki hal yang bisa ia katakan lagi, ia memilih untuk mengangguk mengiyakan. “Terima kasih, Bu.”

“Bagaimana kandunganmu sayang? Apa yang dikatakan oleh Dokter Kim? Ibu ingin segera mengetahui jenis kelamin cucu keduaku ini, agar dapat langsung berbelanja perlengkapan bayi. Itu menyenangkan…”

Mendengar semua itu membuat hati Yaegi semakin mencelos. Ibu Kris bahkan tidak mengetahui apapun hingga sejauh ini. Yaegi menunduk sesaat. Pikirannya mulai dirasuki perasaan bingung dan bersalah. Haruskah ia menunggu Kris pulang atau langsung mengatakan yang sebenarnya saat ini juga?

“Ibu..” panggil Yaegi ragu.

“Hmm?” sang mertua menanggapi santai.

“Aku khawatir jika aku keguguran—.”

Ting!

Belum sempat Yaegi menyempurnakan kalimatnya, dentuman cangkir membuatnya tersentak. Ibu Kris tidak sengaja menaruh cangkir sedikit keras dan menghasilkan bunyi dentuman.

“Biarkan Lian yang pergi ke Beijing. Kau tidak perlu pergi kemanapun hingga persalinanmu selesai, Nak. Perusahaanmu tidak akan bangkrut hanya karena satu Convention Center kan?”

“Ye?” Yaegi refleks menyahut dalam bahasa Korea.

“Ah maksudku, bukan Bu. Bukan seperti itu, tapi — “

Ibu Kris berpindah duduk di samping Yaegi. “Kau harus mengutamakan kewajibanmu sebagai seorang istri, sayang. Ibu tidak melarangmu, tapi tunggulah hingga persalinanmu selesai. Apa kau keberatan?” jari jemari wanita paruh baya itu membelai lembut rambut Yaegi.

Ini semua benar – benar membuat Yaegi merasa serba salah.

“Jenis kelamin? Perlengkapan bayi? Aku bahkan tidak tahu jika janinku ini hidup atau tidak bernyawa, Ibu.” Gumam Yaegi di dalam hatinya.

“Libur musim semi ini, Ibu ingin membawa ChanSha ke Kanada. Kau tidak keberatan kan?”

Yaegi langsung mendongak terkejut, “berlibur?”

Ibu Kris mengangguk, “hmm. Berlibur. Mereka sudah cukup besar untuk berjalan – jalan. Ibu akan meminta seorang baby sitter untuk menjaga mereka.”

“Tapi Ibu, ChanSha tidak boleh ditinggal sendirian. Mereka —“

“Ibu tidak mengurus sebuah perusahaan besar. Tenanglah, Ibu akan selalu berada di rumah untuk bermain bersama mereka.”

Tatapan Yaegi meredup. Hatinya seperti tersayat. Terkadang, perbedaan argumen terhadap sang mertua membuatnya harus memendam penderitaan batin yang tidak bisa ia ungkapkan.

“Kenapa Ibu seperti sedang menyindirku?” tukasnya dalam hati.

Ceklek!

Suara pintu kamar tamu membuat keduanya menoleh.

“Li? Di mana mereka?”

Lian keluar dengan rambut yang acak – acakan. Ia menunjuk arah kamar tamu sambil melangkah menuju dapur, “Wu Sha dan Wu Chan tertidur di kamar tamu.”

Ibu Kris sontak bangun dari duduknya, “astaga Lian! Mereka bisa jatuh dari tempat tidur!”

Lian meneguk habis air yang ia ambil dari kulkas, “di lantai Ibu.” Jawabnya santai.

“Wu Lian!” suara sang Ibu meninggi.

Lian menyeka sisa – sisa air minum di sudut bibirnya, ia menatap sang Ibu dengan tatapan heran. “Ada apa dengan lantai?”

“Mereka bisa masuk angin! Kau ini bagaimana?! Yaegi, ambil mereka.” Ibu Kris mengajak Yaegi masuk ke kamar tamu untuk mengambil ChanSha yang tertidur pulas setelah lelah bermain – main dengan paman keripik kentang.

“Bagaimana aku bisa tahu? Aku tidak pernah memiliki anak.”

“Jangan menjawab!”

Yaegi menatap sang mertua dan Lian bergantian. Ia sukar untuk bergerak. Ia menatap Lian yang juga menatapnya dengan tatapan santai sambil mengangkat bahu. Laki – laki itu bahkan tidak ciut sama sekali ketika Nyonya Wu besar bergidik kesal.

 

Beberapa saat kemudian…

 

Ceklek!

Suara pintu apartemen yang dibuka oleh seseorang membuat Yaegi bangun dari sofa.

“Kris –ah..” Yaegi menghampiri sosok Kris yang juga berjalan ke arahnya.

“Ibu di mana? ChanSha sudah tidur?” Kris mengusap sesaat wajah Yaegi yang terlihat gusar itu.

Yaegi mengangguk cepat, “sudah. Lian oppa juga tidur di sini. Mereka semua ada di kamar.”

“Lian juga tidur di kamar kita?”

“Tidak. Aku tidur di sini.” Suara Lian tiba – tiba menginterupsi. Tuan keripik kentang itu keluar dari dalam kamar menuju kamar tamu dan keluar lagi dengan selembar selimut tebal dan sebuah bantal. “Aku tidak bisa tidur tanpa TV.” Lian dengan penuh suka cita membentangkan selimutnya dan berbaring di depan TV.

Kris hanya menatap sinis sesaat, lalu ia kembali beralih pada Yaegi. “Kita sudah terhubung dengan Dokter Kim. Kris menunjuk saku celananya.”

“Sungguh? Kris –ah, biarkan Ibu juga mendengarnya. Biarkan Ibu mengetahui semuanya Kris-ah, jebalyo…” Yaegi mengenggam kedua tangan Kris, ia terus memohon.

“Pikachu, kita pasti akan memberitahu Ibu. Tapi tunggu setelah ini. Hmm?” Kris berbisik pelan, kedua bola matanya masih mengintai Lian yang berbaring di balik sofa besar di sana. Kris sama sekali tidak yakin jika Lian tidak mendengar semua hal yang tengah mereka perbincangkan, namun satu hal yang sangat Kris ketahui tentang Lian, laki – laki itu bukanlah orang yang memiliki hobi untuk mengurus permasalahan orang lain.

“Ibu sudah berpikir terlalu jauh Kris. Aku tidak tega. Ibu pasti sangat kecewa jika kita terus menyembunyikannya. Kris –ah…”

“Aku yang berbicara pada Ibu. Cho Yaegi, dengarkan aku..” Kris menatap lekat kedua manik mata Yaegi.

Sorot mata yang penuh ketakutan itu membuat Kris nyaris tidak dapat berpikir jernih.

“B-baiklah.” Suara Yaegi mulai terdengar bergetar,

Kris menarik seulas senyuman, “kita ke beranda apartemen saja ya? Kita juga sudah lama tidak menghirup udara malam bersama. Hmm?”

“Beranda? Aku — “

Ceklek! Suara pintu yang ditarik paksa terdengar.

“Apa ini Yifan? Yaegi?”

DEG!

Kris dan Yaegi berbalik bersamaan. Keduanya langsung terperangah hebat ketika seseorang keluar dari dalam kamar sana dengan sebuah amplop coklat di tangannya.

Ibu Kris mengangkat amplop coklat yang ia temukan di dalam kamar. Jauh dari yang Yaegi perkirakan, ternyata Nyonya Wu besar hanya tertidur sesaat untuk menemani ChanSha.

“Ibu..” wajah Yaegi terkesan memucat.

To Be Continued…

 

T/N : Buat yang nanya umur ChanSha, entar aku selipin di cerita aja ya😀

 

108 thoughts on “Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 2

  1. Si kembar gemesin. Apalagi si peri kecil.
    Kasian bgt yaegi, tertekan dgn ibu mertuanya. Sy blm berumah tngga sih, tp byangin mertua yaegi jadi ngeri.

  2. I’m deeply sorry because its already long time I’m not visit and read ur story, yaegi-ahh ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ
    but now I’m back for reading ur story~ how r u? I hope you always fine🙂
    I missed this story so much……

  3. wees,, kasian si yaegi kaya tertekan gitu. Terlihat bahwa yaegi takut sama mertuanya hehe. Berarti si ibu mertua itu sangat mengharapkan yaegi punya baby lagi yaa? tapi aku masih kurang jelas kenapa hrus angkat rahim? klo yaegi hamil itu membahayakan yaegi,anaknya atau ada janin di rahim yaegi tp ngga berkembang gitu? Okedeeh, sekian cuap cuapnya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s