Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 3

1888528_691949574190690_1152809380_n

Author : Ulfa Muriza | @Yaegi_cho11700

Poster : Muthia

Rating : R – 17 

Please don’t be silent reader. Be smart & creative readers. The whole story is mine!

Enjoy my story line :)

+++

Suasana ruang utama apartemen yang bersebelahan tepat dengan dormitory Exo – M saat ini sangatlah dingin. Bukan karena suhu pendingin ruangan yang rendah, melainkan suasana hati dari orang – orang penghuni apartemen tersebut.

Kris masih duduk diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Ia juga tidak berani menatap sang Ibu yang duduk pada sofa yang berhadapan dengannya. Usai melakukan panggilan video bersama Dokter Kim yang juga didengar langsung oleh Ibunya, Kris menyuruh Yaegi untuk lebih dulu masuk ke kamar. Ibu Kris tak banyak berkomentar, usai panggilan video itu terputus, aura dingin langsung menyeruak.

“Kenapa kau masih di sini?”

Suara sang Ibu membuat Kris mendongak, “ini salahku.”

Ibu Kris melihat arah pintu kamar sesaat, “Ibu juga tidak marah padanya, hanya sedikit terkejut.”

“Yaegi ingin memberitahukan langsung pada Ibu, tapi aku menahannya.” Kris memberanikan diri untuk menyampaikan maksud hatinya.

“Ini akibat kau tidak pernah mendengarkan Ibu, Yifan.”

Kalimat sang Ibu kali ini membuat mata Kris membulat sempurna. “Ibu, gunakan mandarinmu.” Kris memperingatkan. Ia tidak ingin jika Yaegi sampai mendengar apa yang akan di katakan oleh Ibunya.

“Kamar itu cukup kedap suara. Jadi, apa yang di katakan Dokter Kim itu semuanya adalah benar?” Ibu Kris menanyakan langsung pada putranya setelah cukup lama bungkam. Ia tak memberikan sepatah katapun pada Yaegi dari awal ia menemukan kertas diagnosa tersebut dan hingga akhir percakapan mereka bersama Dokter Kim melalui  panggilan video.

“Itu bukan sebuah penyakit Ibu. Yaegi tidak menderita penyakit apapun. Kecelakaan masa kecil yang membuatnya harus mengalami semua ini.” Kris mulai mengeluarkan argumennya sedikit demi sedikit.

“Bukankah Ibu pernah menawarkan keluarga kecilmu untuk tinggal di Kanada? Setelah ia sembuh dari pembedahan serum itu, Ibu juga memintanya untuk ikut tinggal bersama. Ternyata kau suka hal yang berbau keras kepala Yifan.”

“Ibu.” Kris menekankan intonasinya dengan volume suara kecil.

“Perusahaan itu adalah pemicu dari semua masalah yang ada di dalam keluarga ini. Kau pernah menyadari akan hal itu?”

Kris hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Mengingat Yaegi yang menyandang status sebagai pewaris tunggal dari salah satu perusahaan besar Asia, membuatnya kalah telak.

“Apa kau menyukai seorang gadis yang menjadi pewaris tunggal seperti itu? Kau tidak melupakan jika perusahaan keluarga Najin juga pengusaha sukseskan?”

“Sungguh yang berbicara ini adalah Ibuku?” Kris menyahut cepat.

Perkataannya membuat mata sang Ibu menatapnya tajam, “benarkah ini putraku yang penurut itu?” sang Ibu balik bertanya.

Kris membuang tatapannya ke  sudut lain, ia tidak ingin dianggap sedang membangkang saat ini. “Yaegi sudah banyak menderita karenaku Ibu. Aku ke kamar dulu.” Kris bangkit dari duduknya, ia melangkah menuju kamar.

“Yifan.”

Suara sang Ibu masih menahan langkahnya, Kris berhenti tanpa berbalik.

Ibu Kris yang masih duduk di sofa juga tidak membalikkan posisinya, ia melipat kedua tangan  tanpa melihat ke belakang.

“Seharusanya sebuah pernikahan itu memiliki banyak hal yang perlu dilakukan. Fitting baju pengantin, konsultasi calon pengantin, memilih gereja yang dikelilingin pemandangan yang-“

“Cukup Ibu.” Sahut Kris pelan. Ia sangat menyadari jika wanita yang terus menerus ia bantah itu adalah orang yang melahirkannya ke dunia ini, tapi entah mengapa ada rasa yang menyelengit ketika mendengar setiap patah kata yang dilontarkan oleh sang Ibu yang terus tertuju untuk memojokkan Yaegi.

Tanpa sepengetahuan Kris, air mata Ibunya menetes. Ibu Kris dengan cepat menyeka air matanya, dan menarik seulas senyuman getir, “hmm. Aku tidak mungkin selamanya bertempat seorang diri di hatimu Yifan.”

Kris memejamkan mata frustasi, ia pun langsung berbalik. “Ibu!” Kris berjalan menghampiri Ibunya. Hatinya berkedut ketika mengingat bahwa wanita di hadapannya itu adalah satu – satunya orang yang Kris miliki di dunia ini.

“Masuklah ke kamarmu.” Perkataan Ibu Kris membuat langkah Kris berhenti.

“Aku menyayangi Ibu. Sangat. Bahkan lebih. Aku tidak mengerti dengan posisiku saat ini, Bu. Apa yang harus ku lakukan Ibu?!” Kris menahan sesuatu yang sudah bertumpuk pada pelupuk matanya. Hidungnya mulai memerah.

Sang Ibu masih tidak menoleh padanya. Nyonya Wu besar sama sekali tidak berbalik, ia masih duduk dan membelakangi Kris.

“Seharusnya Najin yang tinggal di apartemen ini.”

DEG!

Kris sangat tidak menyangka, jika kalimat itu benar – benar diucapkan oleh Ibunya. Kata – kata yang selama ini ia takutkan akan ia dengar.

“Ibu tidak pernah melupakan jika Yaegi adalah orang yang membuat Yifanku seperti ini.”

“Aku sudah menikah Ibu. Di mana letak kesalahannya? Apa karena Yaegi tidak bisa lagi memberi mu seorang cucu lagi? Apa Ibu melupakan jika gadis yang aku nikahi itu nyaris mengorbankan nyawanya untuk sepasang cucu kembar Ibu?” suara Kris mulai bergetar. Ia akan selalu seperti ini ketika berhadapan dengan Ibunya.

“Tidak. Ibu tidak menyalahkan Yaegi atau siapapun. Ini hanya sebuah mimpi terbaik yang pernah kau berikan pada Ibu, Yifan.”

“Jika aku menikahi Najin dan tidak bisa memberikan keturunan, apa Ibu akan mengatakan hal yang sama saat ini?” Kris menyahut cepat.

Tak ada balasan apapun dari sang Ibu. Wanita itu hanya diam tak bergeming.

Perlahan Kris berjalan mendekat dan memeluk Ibunya dari belakang. Ia menaruh dagunya pada salah satu pundak sang Ibu, “aku sangat menyayangi Ibu. Ibu tidak akan pernah berbagi tempat dengan  siapapun. Aku cukup hidup bersama Ibu.” Kris mengeratkan pelukannya ketika bayang – bayang masa lalu melintas di dalam pikirannya.

‘Aku cukup hidup bersama Ibu’, kalimat yang selalu sukses membuatnya tidak dapat menahan rasa haru ketika harus mengingatnya lagi , apalagi harus mengucapkannya kembali…

Perlahan tangan Ibu Kris menyentuh hangat salah satu telapak tangan besar Kris yang berada di pundaknya, “maafkan aku, Yifan. Aku akan selalu berubah egois ketika itu menyangkut kebahagiaan putraku. Hiks.” Isakan pertama sang Ibu membuat hati Kris semakin berkedut. Kris menggeleng cepat, “aku sangat bahagia Ibu. Aku sangat menikmati semua kehidupan yang Ibu perjuangkan untukku. Bahkan  aku sangat bersyukur atas kesalahan yang ku perbuat. Aku sangat menyukai kesalahan itu Ibu. Maafkan aku, jika mimpi terbaik itu tergantikan begitu saja.”

Ibu Kris mengangguk, “ berikan Ibu waktu untuk semua ini, Yifan.” Perlahan sang Ibu menyeka air matanya sendiri.

Perlahan pula Kris merenggangkan lingkaran kedua tangannya dan kembali berdiri tegap seperti semula. Tak banyak hal yang dapat ia katakan saat ini, pikirannya terberai karena rasa khawatirnya kian berkecamuk mengingat Yaegi yang sejak tadi berada di kamar seorang diri. Kris mulai memutar arah dan melangkah pelan menuju kamarnya. Tanpa sengaja bahu kirinya sedikit tersenggol oleh bahu Lian yang melangkah berlawanan arah menuju ruang utama. Kris hanya menatap tajam Lian sesaat, sementara Lian sama sekali tidak membalas menatapnya. Laki – laki itu tampak terburu – buru akan sesuatu.

“Lian, kau mau pergi kemana?”

Kris dapat mendengar jelas suara sang Ibu yang bertanya pada laki – laki yang seharusnya ia panggil dengan sebutan kakak itu.

Tampak dari ujung mata Kris, Lian menyambar cepat jaket kulit yang terdapat di badan sofa, dan bergegas menuju pintu keluar apartemen.

“Shin Yi membutuhkanku Ibu.” Jawab Lian dengan suara datar.

Deg! Kris spontan berbalik. Ia sangat menghafal nama itu. Nama seseorang yang selalu ia dengar ketika tanpa sengaja ia melewati kamar Lian setiap malamnya, dahulu.

Sang Ibu pun sontak terbangun dan menghampiri Lian.

“Jangan gila. Tetaplah diam di rumah. Lian Ibu bilang jangan pergi kemanapun!”

Lian tak menjawab apapun, ia hanya menatap sang Ibu dengan tatapan kosong.

“Mereka akan menarik mu lagi nak. Kau akan celaka Lian! Daddy bisa membunuh mu!” tangan Ibu Kris meremas keras bahu Lian.

Melihat itu Kris semakin mengernyitkan dahinya. “Shinyi? Bukankah Kak Shinyi itu sudah – ah mana mungkin!” Kris menghapus sugesti bodoh di dalam batinnya.

“Shinyi sudah menunggu ku Ibu, aku pergi.”

“Dia bukan Shinyi Wu Lian!”

Blam!

Hanya debaman pintu yang menjawab suara tegas Ibu Kris. Lian berlalu begitu saja.

“Shinyi? Shinyi yang mana?” Kris semakin bertanya – tanya.

Ibu Kris berbalik sembari memijat pelan pelipisnya, ia mulai merasakan pusing yang luar biasa. Ternyata Ibu Kris tidak menyadari jika putra bungsunya masih berada di sana. Kris menatap polos sang Ibu.

“See? Dua orang putra yang selalu ku banggakan benar – benar sudah gila.” Bisik sang Ibu sambil menunjuk arah pintu keluar.

Kris tetap dengan ekspresi angry birdnya dan kembali beralih berjalan menuju pintu kamar tanpa menjawab apapun.

DEG! Jantung Kris seakan  berhenti berdetak dalam seketika. Pintu kamar tidak tertutup rapat. Getaran mulai merambah pada lengan kanan Kris yang hendak meraih knop pintu kamar tersebut. Perlahan Kris memberanikan diri untuk mendorong pintu kamar dan…

“Yaegi –ya..”

Dugaan Kris tidak meleset sedikitpun. Yaegi pasti mendengar semuanya. Gadis itu berdiri tepat di balik pintu kamar dengan mata yang nyaris hanya membentuk sebuah garis. Sepertinya Yaegi sudah menangis cukup lama.

“Yaegi –ya, kau baik – baik saja? Hey.” Kris dengan segera menutup rapat pintu kamar dan meraih wajah Yaegi dengan kedua tangannya.

“Pikachu? Ssstt..” Kris menyeka lembut bulir – bulir hangat yang masih mengalir dari pelupuk mata Yaegi.

“Hiks.. waeyo? Kenapa kau meminta Ibu untuk berbicara mandarin? Waeyo Kris –ah?” Yaegi menahan isakannya.

Kris tertunduk sesaat. Yaegi benar – benar mendengar semuanya.

“Jawab aku. Hiks.. waeyo? Kenapa kau meminta Ibu untuk mengubah bahasa yang tidak aku mengerti? Wu Yi Fan jawab aku! Hmmpks.” Yaegi menarik T-shirt bagian dada Kris. Ia terus menangis tanpa henti.

“Yaegi –ya.. Cho Yaegi..” Kris berusaha untuk menenangkan istrinya itu. Berkali – kali Kris menyeka air mata Yaegi, serta menyeka bibir Yaegi yang juga lembab akan air mata.

Namun berkali – kali juga Yaegi mencoba menepis tangan Kris dari wajahnya, yang gadis itu inginkan saat ini hanyalah sebuah penjelasan.

“Kenapa tidak menjawab ku? Uh? Ibu mengatakan hal yang mengerikan? Apa yang Ibu katakan? Hiks.  Wae? Kenapa kau meminta Ibu untuk mengubahnya Kris? Jawab, jawab aku! Hiks.. hmpkks…” Yaegi terisak geram. Ia merapatkan rahangnya dengan terus memukul dada bidang Kris.

Kris berusaha untuk meraih kepala Yaegi dan hendak membawa ke dalam pelukannya meskipun Yaegi terus berontak.

“Kau percaya padaku kan? Ibu tidak mengatakan hal yang mengerikan. Tidak sama sekali.” Kris mengusap sayang wajah Yaegi, ini sungguh pemandangan yang sangat ia benci.

Yaegi menggeleng keras, “ani. Kau bohong. Apa aku terlihat sangat bodoh sehingga bisa mempercayai mu begitu saja? Apa karena IQ ku lebih rendah dari mu lalu kau berpikir bahwa les mandarin yang ku ikuti tidak menghasilkan apapun? Cepat katakan! Palli!” kali ini pukulan tangan Yaegi sedikit keras.

Yaegi tertunduk pasrah di hadapan Kris. Ia sama sekali tidak bisa berhenti menangis.

“Kau sudah mendengar semuanya kan? Aku.. kita.. tidak akan ada bayi lagi di rahimku. Bahkan rahimku juga tidak akan ada lagi” Yaegi menutup rapat mulutnya agar isakannya dapat ia kendalikan.

Ia mendongak menatap Kris yang hanya terdiam kelu di hadapannya seraya menatapnya lekat.

“Ibu tidak menyuruh mu untuk kembali ke Cina sementara waktu? Kau tidak pergi? Bukankah surat percerai —“

“Cho Yaegi dengarkan aku!” dengan cepat Kris memotong kalimat yang sama sekali tidak ingin ia dengar itu. Kris menangkup erat kedua tangannya pada wajah Yaegi agar Yaegi tidak bisa menggerakkan wajahnya sama sekali.

“Lihat aku. Cho Yaegi lihat aku.”

Dengan perasaan ragu Yaegi perlahan mengarah menatap Kris yang sudah sejak tadi menatap lekat matanya. Kini nafas mereka saling bertemu satu sama lain. Bahkan nyaris tidak ada jarak lagi diantara keduanya.

“Kau ..” Kris menggantungkan kalimatnya. Hembusan nafas Kris membuat Yaegi terpaksa menghirupnya karena tak ada ruang lagi yang dapat memberinya udara bebas.

“Kau Cho Yaegi. Gadis yang ku genggam di depan altar. Gadis yang membuatku harus mengucapkan sumpah sakral seumur hidupku, serta wanita yang ku percaya untuk menjaga dua malaikat kecilku. Apa aku ada menyelipkan kalimat perceraian di dalam sumpahku waktu itu Yaegi –ya? Hmm?” suara Kris lambat laun berubah lirih. Suara bass itu kini bergetar.

“Hiks.. “ Yaegi masih sesenggukan. Ia membalas tatapan Kris.

“Tidak akan ada bayi lagi Kris –ah.  Kita tidak akan pernah bisa memiliki bayi lagi. Ibu tidak akan pernah mendapatkan cucu yang dia inginkan Wu Yi Fan! Apa kau tuli uh!” Yaegi meninju bahu Kris. Rasa geram yang ia rasakan begitu menyeruak. Lebih tepatnya, ia merasa tidaklah patut menjadi seorang istri bagi Kris.

Kali ini Kris ikut menggeleng keras. “Tidak. Tidak perlu bayi. Aku tidak mau memiliki bayi, Wu Lincoln apapun itu namanya. Piryeobseoyo.” bisik Kris pelan.

“Apa yang harus ku lakukan Kris –ah? Ibu pasti membenci ku. Eoh? Hmppkss..”

Kris menarik cepat Yaegi kedalam dekapannya. Membiarkan tangisan gadis itu tumpah membasahi T-shirt coklat yang ia kenakan.

“Hmmphks.. hhh.. hiks.. “ Yaegi semakin terisak. Ia menggeser sedikit posisi kepalanya dan memeluk Kris erat. Aroma khas dari tubuh Kris kini telah bercampur dengan tetesan air matanya yang semakin membasahi dada laki – laki itu.

“Jangan menangis lagi. Apapun itu — “

“Apapun itu kau tidak boleh pergi kemana pun hiks..”  Yaegi menyanggah cepat di sela tangisannya.

Seulas senyuman terlukis dari wajah oval Kris usai mendengar hal tersebut. Ia mengangguk seraya mengusap lembut rambut Yaegi yang tergerai lurus.

“Hmm. Aku tidak akan pergi kemanapun, ani.. aku memang tidak pernah bisa pergi kemanapun Yaegi –ya.. “ Kris mengeratkan pelukannya.

Lambat laun suara isakan Yaegi menghilang, ia mulai berhenti menangis. Yaegi sangat amat dapat merasakan kenyamanan yang luar biasa setiap kali berada di dalam dekapan laki – laki bernama Wu Yi Fan itu. Kenyamanan yang tak akan pernah ia dapatkan setelah kepergian sang appa.

“Kita harus menyaksikan hujan turun terlebih dahulu jika ingin melihat pelangi yang melengkung indah. Kau mengerti?” Chup –  satu kecupan mendarat pada puncak kepala Yaegi.

Dari dalam dekapan Kris, Yaegi mengangguk cepat. “Gomawo..”

Kris menyudahi pelukannya, ia menggeser kepala Yaegi perlahan dari dalam dekapannya dan kembali menatap lekat kedua manik mata itu.

“Cho Yaegi adalah sesuatu yang akan selalu ku  pertahankan meskipun Cho Yaegi itu akan bernafas lebih lama dari ku.”

“Lalu bagaimana kau terus mempertahankannya jika kau tidak bernafas lagi?” Yaegi spontan bertanya polos.

Kris masih menatap Yaegi dengan tatapan sayunya, “berikan aku waktu untuk memikirkan jawabannya Pikachu.”

Yaegi nyaris terkikik, “cih.. mwoya?!”

Kris tersenyum lebar. Baginya ini jauh lebih baik, melihat Yaegi kembali ceria seperti biasanya.

“Kau harus menyaksikan langsung comeback ku di bulan ini.”

“Ne? Secepat itukah?” Yaegi bahkan tidak menahu sama sekali.

Kris mengangguk, “hmm. Jika pada bulan ini juga EXO menempati chart pertama, itu artinya ChanSha bisa merayakan ulang tahun yang pertama dengan banyak hadiah. Bukankah aku Genius?” Kris mulai sumringah.

“Banyak hadiah? Genius?” Yaegi berpikir keras.

Kris menghela nafas singkat, “ChanSha akan genap berusia satu tahun Mei mendatanag. Kau melupakan ulang tahun anakmu sendiri Nyonya Wu?” Kris meraih kedua bahu Yaegi.

Yaegi menggeleng cepat, “bukan. Bukan itu. Tapi hadiah. Jangan terlalu memanjakan mereka Kris –ah.”

“Memangnya kenapa? ChanSha memiliki sebelas ahjussi yang akan dengan senang hati membelikan mereka hadiah mahal.” Kris tersenyum evil.

“Jadi kau mengambing hitamkan anak – anak mu Tuan? Kau ingin mengatakan pada memberdeul jika Geum Sha membutuhkan parfum apricot lalu Geum Chan menginginkan sepatu senilai 500 ribu dolar? Apa kau pikir mereka bodoh? Eyh, minggir. Aku mau ke kamar mandi.”

Hug – secepat kilat Kris memeluk Yaegi dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang gadis itu.

Plak!

“Wu Yi Fan!” Yaegi menepuk keras salah satu lengan Kris.

Kris justru menaruh dagunya pada bahu Yaegi, “aku juga ingin ke kamar mandi..” bisiknya seduktif.

“Jangan berpikiran yang tidak – tidak. Pakaikan ChanSha lotion malam, aku belum memakainnya pada mereka.” Yaegi berupaya untuk melepaskan lingkaran tangan Kris.

“Aku juga belum memakai lotion malam ku..” Kris beraegyo ria.

Seketika rasa was – was mulai menyelinap pada benak Yaegi. Dengan cepat Yaegi berbalik, “aku akan menjalani operasi tiga hari mendatang, kau tidak lupa kan?”

Perkataan Yaegi langsung membuat ekspresi wajah Kris berubah redup.

“Bukan. Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu Yaegi –ya. Sungguh. Aku –“

“Lotion malam ChanSha ada di keranjang bayi. Aku membasuh wajahku dulu.” Yaegi memotong cepat, dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa sepengetahuan Kris, Yaegi berusaha mengatur nafasnya agar rasa sesak yang baru saja sirna tidak kembali mencuat ketika harus kembali mengingat bahwa sebentar lagi dia tidak lagi terhitung sebagai wanita yang sempurna.

Kris terus memperhatikan punggung istrinya itu hingga Yaegi menutup pintu kamar mandi. Terselip rasa bersalah di benaknya.

“Apa yang salah dengan mu Yaegi –ya? Kau bahkan terlihat terlalu sempurna dengan semua kecerobohanmu itu..”

“Hikkk… eommmaaaaa…”

Suara tangisan pangeran kecil Wu membuat Kris terhentak dan langsung berbalik.

“Chan –ah… appa yeogisseo..”

 

+++

Keesokan harinya …

Sebuah jaguar hitam  melesat masuk menuju basement SM. Mobil itu terparkir rapi tepat pada sisi papan yang bertuliskan VIP parking lot. Dua orang pria berpenampilan formal lengkap dengan jas hitam lebih dulu turun dari bagian depan mobil. Salah satu di antaranya segera membukakan pintu belakang.

Tap! Seorang gadis berambut hitam panjang sedikit bergelombang turun dengan penampilan casual yang telah menjadi ciri khasnya, Cho Yaegi. Lalu, pada sisi kiri pintu mobil Lian juga ikut menampakkan batang hidungnya.

Yaegi memandang jengah dua orang pria yang berdiri layaknya pengawal mafia di hadapannya saat itu.

“Fiuh – “ Yaegi meniup poninya malas. Ia beralih menatap Lian yang tampak sibuk sedang melilitkan dasi pada kerah kemeja biru tosca yang ia kenakan.

“Oppa.”

Suara Yaegi membuat Lian bergerak menghampirinya.

“Hari ini kau akan bertemu langsung dengan segala jenis hewan buas, adik ipar. Serigala berbulu domba, ular berkepala dua, bahkan katak di dalam tempurung. Kau siap?” Lian merangkul Yaegi.

Yaegi hanya menghembuskan nafas pasrah. Pagi – pagi buta ia harus bangun dan meninggalkan ChanSha begitu saja tanpa niat hati sama sekali. Terkadang ia berpikir bahwa KK grup hanya akan menyulitkan hidupnya, tetapi jika ia mengingat jerih payah sang appa, Yaegi tidak akan pernah tega untuk mengabaikan perusahaan itu begitu saja. Meskipun ia sangat menyadari bahwa ia tidaklah terlahir untuk menjadi seorang pembisnis licik.

“Hwang Ji Ra, Hwang Ji Seul juga hadir pada rapat direksi hari ini.”

Perkataan Lian membuat Yaegi spontan menoleh padanya. “Hwang Ji Ra? Ji Seul? Dia kakak kandung Ji Ra yang kau maksud?”

Lian mengangguk santai dengan tangan yang masih sibuk menata dasi yang belum terpasang rapi sepenuhnya. “Dia putra tertua dari keluarga Hwang. Ji Seul memiliki racun yang sangat mematikan. Kau harus berhati – hati.”

“Eh?!” Yaegi terkejut ketika Lian tiba – tiba menggenggam tangannya erat.

Lian menatapnya lekat, “bisnis itu sebuah permainan.”

“Mwo?” Yaegi lagi – lagi tergagap di buatnya.

Tanpa banyak basa – basi, Lian menarik lengan Yaegi dan menyeret adik iparnya itu untuk melangkah masuk menuju lobi.

Di dalam perjalanan menuju lift, tanpa sengaja kedua mata Yaegi mendapati beberapa orang yang juga berjalan menuju lift yang sama. Dengan sigap Yaegi menarik tangannya dari genggaman Lian ketika seseorang bertubuh jangkung di ujung sana juga ikut terlihat.

Lian semula sempat bertanya – tanya, tetapi usai ia ikut membuang tatapan ke  arah yang sama dengan Yaegi, ia hanya tersenyum tipis.

“Lama tidak berjumpa dengan mu tuan Li.” Seunghwan manajer menyapa langsung mereka di depan pintu lift.

Yaegi hanya menatap sebal paman sematawayangnya itu. Yaegi mendapati Kris yang berdiri di belakang Seunghwan yang melambaikan tangan sekejap padanya. Yaegi hanya membalas dengan sebuah senyuman. Sementara Suho dan Chen yang berdiri di sisi kiri dan kanan Kris hanya ikut tersenyum pada Yaegi.

“Banyak sekali hal penting yang ingin ku bicarakan padamu tuan.” Seunghwan menepuk ramah bahu Lian.

Lian mengangguk, “begitu juga dengan ku.”

Sekilas Seunghwan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lobi. Ia melihat seseorang gadis sedang berjalan ke arah mereka. Dengan cepat Seunghwan menurunkan tangannya dari bahu Lian. “Hmm, baiklah. Aku akan menghubungi mu nanti.” Suara Seunghwan setengah berbisik.

“Sudah, ayo.” Seunghwan menunjuk lift yang bersebelahan dengan lift yang hendak di naiki oleh Yaegi dan Lian.

Darah Yaegi seketika berdesir hebat ketika dengan kilatnya Kris mengedipkan sebelah mata pada saat melewatinya. Yaegi sedikit bergidik aneh.

“Rambut mu..” Yaegi spontan menunjuk rambut Kris yang sudah berubah warna itu. Sepertinya mereka baru saja keluar dari ruang make over.

“Eoh, Suho oppa?!” Yaegi juga terheran – heran dengan warna rambut Suho yang baru ia lihat seumur hidupnya itu.

Suho yang juga berjalan di belakang Kris mengangkat tangannya dan membentuk OK sign pada Yaegi. Sementara Chen hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

“Cho Yaegi –ssi!”

Sebuah suara sempat menginterupsi langkah Seunghwan dan yang lainnya.Yaegi menoleh ke sumber suara.

“Ah mwoya?!” Yaegi langsung memasang ekspresi malasnya ketika mengetahui sosok tersebut, Yoon Na Jin.

“Heish ponakan busuk jaga sikap mu!” Seunghwan menyikut kuat lengan Yaegi sambil berbisik kesal.

“Aih samchon!” Yaegi balas mendengus kesal.

Ting! Salah satu pintu lift sudah tertutup. Seunghwan & EXO sudah lebih dulu berlalu.

Yaegi menarik nafas singkat dan berbalik ke sumber suara, “ne?” Yaegi memasang mimik wajah semanis mungkin.

“Hari ini adalah penentuan siapa investor yang akan bertahan. Aku sangat gugup.” Cetus Na Jin dengan gaya bicaranya yang sangat terkesan palsu itu.

Yaegi hanya menatap Lian dan Najin bergantian, lalu ia kembali memberikan senyuman yang ia paksakan. “Tentu perusahaan mu nona Yoon.” Yaegi bergegas menuju lift.

“Benarkah? Jadi isu kebangkrutan KK itu bukanlah hanya berita murahan?” Najin ikut melangkah menuju lift yang sama.

Lian memilih untuk tidak berkomentar. Ia hanya berdiri diam di tengah – tengah dua gadis yang pernah memiliki hubungan dengan Kris atau bahkan benar – benar dalam sebuah hubungan dengan Kris hingga saat ini.

“Apa kau membaca surat kabar yang sudah kadaluarsa?” Yaegi balik mencerca dengan senyuman manisnya.

Na Jin sesaat tersenyum dengan rahangnya yang merapat. Terkadang ia menyadari jika berbicara dengan Yaegi hanya akan membuat kerutan pada wajah jelitanya  bermunculan.

“Kapan kau akan melakukan pengangkatan rahim?”

DEG! Tidak hanya mata Yaegi yang membulat sempurna, tetapi Lian juga reflek menoleh pada Najin meskipun masih dengan gaya coolnya.

Najin sangat menangkap raut keterkejutan dari wajah Yaegi.

“Ah.. Ibu mengatakan bahwa ia sangat sedih sekali. Mungkin dia hanya ingin mencurahkan isi hatinya pada ku..” tukas Najin.

Yaegi merasakan getirnya saliva yang ia telan. “Untuk apa Ibu mengatakannya pada orang lain? Ah sudahlah.” Yaegi segera menepis hal negatif yang terlintas pada pikirannya.

“Begitukah? Hmm, mungkin beberapa hari mendatang.” Yaegi merespon pelan.

Najin menyunginggkan senyumannya, “apa setelah comeback nanti, Yifan juga harus ke rumah sakit?”

Tit. Yaegi spontan menekan tombol lift di lantai dua. Ia memilih melangkah keluar. Itu hal yang sangat sensitif baginya saat ini.

Lian berbisik pada Najin sebelum ia ikut melangkahkan kaki keluar dari lift. “Kau ini menyusahkan saja.”

Najin hanya bergidik kesal ketika mendapat perlakuan demikian dari mantan calon kakak iparnya itu.

 

“Kenapa kau mengikuti ku oppa? Lift yang lain sudah penuh. Aku naik tangga  darurat saja.” Yaegi semakin mempercepat langkahnya menuju tangga darurat lantai 3.

“Hey. Jangan seperti anak kecil. Dia hanya ingin menghilangkan fokus mu. Hey tunggu!” Lian berlari kecil menaiki anak tangga.

“Dia siapa? Aku hanya ingin berolahraga.” Yaegi terus menaiki anak tangga tanpa menoleh ke belakang.

“Lihatlah, betapa romantisnya kita. Berkejar – kejaran di tangga darurat lalu di akhiri dengan sebuah ciuman di ujung pintu sana.” Lian masih sempat melemparkan lelucon bodohnya dengan nafas terengah – engah.

Yaegi sudah tiba pada pintu darurat menuju lantai 3. Ketika ia menarik gagang pintu, sejenak ia berhenti dan menoleh pada Lian, “oppa.”

“Hmm? Hosh – hosh.” Lian berhasil tiba di hadapan Yaegi. Ia belum menyadari jika tatapan Yaegi berubah meredup.

“Oppa, apa kau melihat sesuatu yang salah dari ku? Dimana?”

Lian yang semua membungkuk untuk menetralkan nafasnya, mendongak. “Tidak ada yang salah. Aku juga tidak mungkin menyewa pembunuh bayaran untuk memisahkan Ibu dan Najin, adik ipar. Mereka telah bersama sejak suami mu duduk di bangku sekolah.”

Yaegi menahan hidungnya yang mulai kembang kempis, “kau itu sok tahu sekali. Siapa yang bertanya tentang itu?” Yaegi masih mempertahankan gengsingnya.

Tanpa menunggu respon Lian, Yaegi menarik gagang pintu dan segera melesat menuju lantai 3.

“Yaegi! Cho Yaegi!” Lian masih menyusulnya dari belakang.

Yaegi terus berjalan lurus. Lian merasa Yaegi berbelok pada lorong yang keliru. “Adik ipar liftnya di sana!”

Yaegi masih tidak menggubris perkataan Lian. Ia langsung berbelok menuju sebuah ruangan kecil yang bertuliskan ‘toilet.’

Melihat itu, Lian memilih untuk menunggu pada bangku yang terdapat pada pinggiran koridor. Sejenak melepas lelah karena tangga darurat yang lumayan panjang. Perhatian Lian teralihkan pada beberapa orang yang tampak keluar dari sebuah ruangan yang bertuliskan ‘recording room.’

Di sana ia  mendapati Kris, Chanyeol, Sehun, dan Tao bersama beberapa staff yang menaungi EXO, Jordan Keyle sang music director serta Shim Jaewon si koreografer permanen SM.

Beberapa staff yang mengenal Lian, menegurnya secara bersamaan.

“Wang Lian –ssi kau memiliki pertemuan bersama pihak pemasaran hari ini?” salah seorang staff menunjuk ruang pemasaran album yang juga terdapat di lantai tiga.

Lian menggeleng, “tidak. Aku sedang menunggu partner ku.”

 

“Hiks… Apa yang salah dengan ku? Hiks. Appa aku tidak mau melakukan semua ini!! Eomma!  hiks.. “

 

DEG! Suara itu sangat terdengar jelas oleh mereka yang berdiri di sana. Lian menatap tegang mereka semua yang juga tentu mendengar suara tersebut.

 

“Hiks.. hmmpkhs…hiks..”

 

“Yaegi!” Batin Kris ikut berdetak. Kakinya reflek  bergerak.

Suara tangisan itu mulai terdengar terisak. Tao, Chanyeol, dan Sehun saling bertatapan. Mereka sama sekali tidak mengenali suara tersebut.

 

“Hhhmmhiks.. “

Suara isakan itu terdengar semakin menjadi.

 

“Yaegi!”

 

“Hyung!”

“Ge!”

Memberdeul serempak menerikai Kris bersamaan yang spontan berlari ke arah toilet.

 

BRAK! Terdengar suara pintu yang di dobrak paksa.

DEG! Tao, Chanyeol, Sehun dan Lian kini sama – sama membeku karena menyadari staffdeul yang menatap heran Kris.

“Yaegi? Siapa Yaegi?”

“Apa yang terjadi dengan Kris?”

Staffdeul semakin bertanya – tanya. Mereka ikut melangkah menuju toilet.

 

To Be Co…

 

 

 

135 thoughts on “Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 3

  1. Anneong apakh kali ini komenku bisa, bgaimana craku mngetahuinya chingu . . Chingu ffnya tmbh daebak ibunya kris sma najin sdah sdekat itukah???, munculin yixing dong chingu . . Next next next

  2. unnieee,,, kenapa terserang penyakit TBC sih???
    Kan aku jd penasaran…. Nge post next part nya hrs cepet ya!!! Kekeke *maksa…
    unn,, klo aku jd yaegi sih… Si najin Udh nae sengak2 tu sampe berbusa-busa…. Sampe dia nyesel gtu lho… Oh iya unn,, nae ganti nama ya,, td nya ~SONEXOTIC~…. Sekarang jd,, itu yg atas.. Wkwkwkw…. Dah dlu ya unn…. Pai~Pai ‘-‘ ^^

  3. author… kenapa harus TBC disaat lagi seru-serunya??? T-T
    Yaegi kasian banget. Ibunya Kris kok jadi kaya gitu sih??? Kan kasian Yaegi..
    Next Chapter ditunggu😀

  4. akhhhhj kris lepas kontrol krn khawatir ma yaegi…..
    yg lain tau deh status mereka n bakal jd masalah deh…
    Najin jahat bgt sih….

  5. Omo knpa ibux kris kyak gtu? Oh my god,apa slahx yaegi. Huhuhu yaegi kmu pasti bsa kok.. Eiy kris main nyelonong sja msuk ke kmar mandi,uuuuu. Next sunbae😀

  6. Aduh jgn sampe dah staff lain tau married life-nya yaekris -_- maaf eon baru baca dan comment skrg dikarenakan tugas kuliah yg smakin menggila haha

  7. AHHHHHHHHHHHH !!!!
    Nyebelin banget sih eomma nya kris and na jin ???
    Sumpah kesel bgt _-_
    Awas aja yaegi knapa napa ..
    gyaa eonnieeee nan neomu micheoseo ..

  8. aigo kris. jangan hilang kendali. >.<
    itu ibunya kris nyebelin amat sih. kenapa pake cerita sama si najin segala. -,-
    next chap ditunggu ^^

  9. Kenapa ibu krisGe jadi gitu? Jujur aq kecewa bgt lagipula bukan kemauan YaeEon kejadian nya jadi gini,udah cukup banyak beban yang harus ditanggung YaeEon ..
    Semoga ibu krisGe nggak nekan YaeEon lebih lama lagi..
    YaeEon Aja! Aja! Hwaiting!

  10. annyeong eonni, hime here i am. mian baru commant ya, soalnya lagi ga megang hp jadi ga bisa commant. aigoooo…. bikin penasaran bgt, aduh kris ge, hati” pintu.a ancur gra” terlalu khawatir sama yaegi eonni. eonni fighting🙂

  11. Omoo.. ikutan teriak bareng EXO-deul….aniyya…..nati ketauan lagi menambah masalah baru…aihh Shin Ye itu yeojanya Lian, aduh bikin penasaran aja?? Dibahas lebih mendalam dong tentang tuan keripik kentang ini….

  12. Staffnya belom pada tau kan? Omo!!! Itu kris nedobrak pintu toilet??
    Hmm, semoga ga ketauan kalopun ketauan semoga ga kesebar *amiinn😀 Eonni fighting (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s