Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 5

1888528_691949574190690_1152809380_n

 

Author : Ulfa Muriza | @Yaegi_cho11700

Poster : Muthia

Rating : R – 17 

Please don’t be silent reader. Be smart & creative readers. The whole story is mine!

Enjoy my story line :)

OoOoO

 

“Minumlah…”

Soo Rim membawa secangkir air putih dari  dapur dan menyodorkan pada sosok sahabatnya yang kini masih terlihat setengah frustasi itu pada sofa yang terdapat pada ruang tamu rumahnya.

Gomawo.” Yaegi langsung meneguk sedikit air yang ia ambil dari tangan Soo Rim.

“Hufh ..” untuk kesekian kalinya Yaegi menghela nafas pasrah.

Soo Rim duduk pada sofa di samping Yaegi, perlahan jemari – jemari lentiknya menata rambut Yaegi yang tergerai tak menentu bercampur keringat dingin yang mulai mengering pada dahi gadis mungil itu.

“Apa lagi yang kau pikirkan aegi ? ChanSha sedang tidur nyenyak di kamarku.” Tukas Soo Rim dengan suara khasnya .

Yaegi menggeleng pelan, dengan kedua tangan yang masih menangkup wajahnya. “Aku tidak tahu Soo Rim –ah.”

“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan . Mertuamu orang yang baik. Dia berusaha keras untuk mencari keberadaanku di Bandara untuk menitipkan Geum Chan dan Geum Sha padaku karena tidak ada yang menjaga mereka di rumah.” Jelas Soo Rim panjang lebar.

“Aku memang sangat teledor Park Soo Rim. Aku selalu membuat orang di sekeliling ku merasa dirugikan karena sifat teledor ku ini.” Yaegi menatap Soo Rim sayu.

Kali ini Soo Rim menyangkal cepat, “jangan merasakan hal yang membuatmu tertekan. Semuanya akan baik – baik saja Cho Yaegi.” Soo Rim mengusap – usap pelan punggung Yaegi.

“Aku bisa gila jika ChanSha benar – benar akan terbang ke Vancouver bersama Ibu . Lalu aku harus berupaya keras mencari sebuah cara untuk membawa mereka kembali.” Yaegi menyibakkan poninya yang berjatuhan.

Soo Rim tersenyum tipis, “Ibu mertuamu juga seorang wanita yang pernah melahirkan seorang anak, Yaegi –ya. Ibu Kris tidak seperti yang ada di pikiranmu, mungkin ia hanya memerlukan waktu untuk mengerti dan memahami kehidupan rumah tangga kalian. Jangan pernah melupakan jika suami mu adalah satu – satunya yang ia miliki di dunia ini. Kris akan selalu menjadi yang pertama dan terakhir baginya. Sekarang, bernafaslah dengan tenang.” Soo Rim berpindah duduk pada sofa yang sama dengan Yaegi.

Yaegi mengangguk kecil, “hmm, akan ku coba. Neomu gomawoyo Park Soo Rim.” Yaegi mendongakkan wajahnya, dan langsung berhamburan memeluk sahabatnya itu.

“Jika aku selalu menjadi yang terbaik  seperti yang  kau katakan selama ini, hentikan mengucapkan kata – kata terimakasih itu. Shireoseo (aku tidak suka).” Soo Rim menyudahi pelukannya.

Araaa.” Yaegi menjawab dengan gaya mencibir.

Dalam waktu yang bersamaan, dering ponsel Soo Rim mengalihkan fokus keduanya. Soo Rim meraih cepat ponselnya yang tergeletak di atas meja.

“Oh. Myunnie sudah datang, kau tunggu sebentar ne?” Soo Rim beranjak dari duduknya.

Dengan cepat Yaegi menahan lengan Soo Rim sesaat, “ani, sebentar. Myunnie kata mu? Suho oppa? Dia kemari? Di sini? Bagaimana bisa?” Yaegi berubah panik.

“Mertuamu hanya menitipkan ChanSha dan kereta bayi mereka. Tidak ada popok, tidak ada susu, tidak ada perlengkapan mandi dan bahkan ChanSha belum mengganti pakaian sejak sore tadi. Jadi aku menyuruh Myunnie untuk membelinya.” Soo Rim menjelaskan cepat.

“Kau melupakan siapa kekasihmu itu uh? Park Soo Rim kau benar – benar sudah gila.” Yaegi semakin mencerca.

“ Jangan cerewet. Aku dan Myunnie hanya menyayangi keponakan kami, sudah lepas. Dia tidak bisa berlama – lama. Kau tahu? Seoul Busan tidaklah dekat Cho Yaegi.” Soo Rim mencoba menggeser tangan Yaegi.

“Ah sebentar!”

“Aish. Apa lagi?!” Soo Rim mulai sesungutan.

Yaegi ikut beranjak dari duduknya, tak lupa ia menyambar blazer hitam dan tas miliknya, “jangan katakan jika aku berada di sini, eo? Jangan mengatakan apapun.” Yaegi menyilangkan kedua tangannya dengan suara setengah berbisik.

Dahi Soo Rim mulai mengernyit, “jadi kau juga sedang bertengkar dengan suami mu?”

Yaegi menggeleng cepat, “tidak. Bukan. Sungguh. Oke? Baiklah, aku ke kamar mu sekarang. Ingat, jangan mengatakan jika aku ada di sini, mengerti?” Yaegi mengacungkan telunjuknya ke arah wajah Soo Rim.

Soo Rim dengan cepat menepis  telunjuk Yaegi dari hadapannya, “lalu, jika Myunnie pergi bersama seseorang yang bernama Kris, apa yang harus ku katakan?”

“Sungguh?” Yaegi berubah melotot. “Jadi Suho oppa pergi bersama Kris? Bagaimana mungkin? Aku tadi bertemu Kris di SM.” Yaegi berdecak panik.

Soo Rim memutar kedua bola matanya frustasi, “itu dua jam yang lalu Cho Yaegi! Ayyh kau ini benar – benar! Sudah, minggir!” Soo Rim mendorong Yaegi pelan dari hadapannya dan berlalu menuju pintu rumah.

“Ingat. Jangan mengatakan apapun!” Yaegi berteriak setengah berbisik. “Opps! Hampir saja.” Selang beberapa detik ia menutup rapat mulutnya karena menyadari jika Suho bisa saja mendengar suaranya.

 

Ceklek!

Soo Rim menarik gagang pintu usai memutar kunci rumahnya.

“Sudah menunggu lama? Mian..” Soo Rim langsung menerima dua buah goodie bag  yang di bawa oleh sosok laki – laki berambut pirang di hadapannya saat ini.

Laki – laki yang memiliki senyuman malaikat itu hanya tersenyum tipis, “tidak juga. Mian, aku tadi harus menunggu Minwook hyung.”

“Jadi kau kemari bersama siapa?” Soo Rim setengah berjinjit melihat sebuah mobil dengan lampu yang masih menyala tepat pada halaman rumahnya.

“Hyung.”

“Hyung? Hyung mu?” Soo Rim terlonjak tak percaya.

Suho mengangguk enteng, “ne. Hyung sedang berada di sekitar dorm dan mengajak ku untuk minum kopi. Aku di berikan izin oleh Yongmin hyung karena hyung langsung datang ke dorm. Ah ne, coba di lihat sudah lengkap semuanya?” Suho menunjuk kantung belanjaan yang ia bawa.

Soo Rim mengeceknya sesaat, “sepertinya sudah. Ani, siapa yang membeli semua ini?”

“Hyungie –ya.” Suho menyahut pelan.

“Hyung mu? Sungguh? Daebak. Terimakasih banyak. Ah ne, kirimkan nomor rekeningmu. Aku akan segera mentransfer uang ganti —“

“Apa – apaan kau Sooie?” wajah Suho langsung berubah dingin.

Soo Rim menahan senyumannya, “uhm, araaa.” Ia menyikut lengan Suho pelan.

Suho mengecek ponselnya sesaat, ia juga tidak mungkin membiarkan kakak laki – laki sematawayangnya menunggu lama. “Jika kau bisa menghubungi Yaegi, tolong beritahu aku uhm? Ponselnya tidak dapat dihubungi. Bukankah lebih baik kita memberitahu Kris atau Yaegi jika ChanSha ada di sini uh? Kita seperti penculik bayi Sooie.”

Soo Rim mengangguk kaku, “ahh.. itu.. maksud ku, iya. Akan ku beritahu besok saja. Ini sudah terlalu malam. Kau tidak pulang bersama Kris?”

Suho menggeleng, “M memiliki latihan tambahan karena mereka akan melakukan comeback  perdana lebih awal.”

“Ah begitu.” Soo Rim mengangguk mengerti.

“Baiklah, aku pulang dulu. Tidur yang nyenyak .” Suho mengusap lembut puncak kepala Soo Rim, dan menarik pelan bahu Soo Rim hingga gadis itu merengkuh hangat dalam pelukannya meskipun hanya sesaat.

Tanpa ragu Soo Rim mengalungkan kedua tangannya sesaat pada pinggang Suho sebelum pelukan singkat itu berakhir dengan sebuah kecupan hangat di kening gadis bermarga Park itu.

“Chup – Aku akan pulang dan membawa uang yang banyak untuk keluarga kecil kita.” Suho mengusap lembut pipi Soo Rim yang kian memerah usai mendengar lelucon konyol Suho.

“Mwoyaa.. “ Soo Rim mencubit pelan perut Suho.

Suho terkekeh pelan, “aku memiliki mimpi semacam itu bersama mu Park Soo Rim.”

“Hmm. Araseo. Pulanglah, kau butuh istirahat.” Soo Rim balas mengusap wajah Suho.

“Ne, annyeong…” Suho beranjak pergi.

“Annyeong…” Soo Rim membalas lambaian tangan Suho yang kini sudah masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu mobil tersebut keluar dari pekarangan rumahnya, Soo Rim lebih dulu menutup pintu rumahnya.

Dalam waktu yang bersamaan, tanpa Suho dan Soo Rim sadari, Yaegi sejak tadi terus memperhatikan mereka dari balik jendela kamar Soo Rim yang langsung menghadap ke halaman depan  kediaman keluarga Park tersebut.

“Sebenarnya yang sudah menikah itu, aku, Kris atau mereka? Membuat iri saja. Cih.. ah molla!” Yaegi semakin dibuat frustasi oleh adegan singkat nan romantis yang ia saksikan beberapa menit itu. Ia memilih untuk menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk Soo Rim.

Ia memiringkan kepalanya ke samping kanan dan menatap lekat wajah Geum Sha yang tidur menyamping menghadapnya. Perlahan Yaegi mengangkat kepalanya agar dapat melihat kedua buah hatinya dengan jelas. Ia menarik selimut keduanya agara Geum Sha maupun Geum Chan kembali terbungkus hangat oleh selimut.

“Kalian adalah kekuatan bagi ku. Apapun yang terjadi, siapapun yang mengajak kalian pergi, kalian harus tetap bersama eomma, mengerti? Kalian paham? Uh?” suara Yaegi bergetar, perlahan cairan bening kembali keluar dari pelupuk matanya.

“Geum Sha –ya.. Geum Chan –ah.. “

Chup – chup –

Yaegi mengecup pipi kedua buah hatinya bergantian. Ia menempelkan bibir merah mudanya sedikit lama pada masing – masing pipi malaikat kecil itu. Bagiya, saat ini ChanSha adalah satu – satunya alasan mengapa ia tidak pernah merasa takut atas apa yang akan terjadi padanya di masa yang akan datang.

Dering ponsel membuat gadis berponi itu beranjak dari tidurnya.  Ia meraih ponselnya yang semula ia taruh di meja belajar Soo Rim.

Ada beberapa e-mail masuk dan sebuah panggilan tak terjawab. Dengan alis yang sedikit ia naikkan, Yaegi mulai membuka satu persatu.

Dari semua pesan yang masuk, semuanya adalah pesan KK yang di kirim langsung dari kantor pusat. Ya, Yaegi akan selalu menerima setiap laporan rinci tentang perusahaan sang Appa melalui pesan singkat maupun e-mail. Sebagian besar pesan itu melaporkan hasil pertemuan direksi di SM sore tadi. Yaegi memilih untuk tidak membacanya lebih rinci karena terlihat dari judulnya saja, sepertinya ia sudah mengerti pesan yang hendak disampaikan oleh sang operator.

“Woo Yeon Jung”

Satu panggilan tak terjawab menampilkan nama kontak tersebut.

“Sssh… ada apa Yeon menelfon – “

Desisan Yaegi terhenti ketika sebuah panggilan kembali menghiasi layar ponselnya, tetapi kali ini …

Panggilan tersambung.

“Eodiya?” suara bass di ujung sana dengan cepat menyapa.

Yaegi memutar posisinya ke  arah jendela, “Busan.” Sahutnya singkat.

“Kau menginap?”

“Uhm. ChanSha do.”

“Geure. Aku sepertinya pulang subuh.”

Yaegi mengangguk kecil, “hmm. Araseo.”

“Sebelum keberangkatan ku esok hari, aku akan ke apartement – “

“Piryeobseotjo  (tidak perlu).” Yaegi memotong cepat.

“Waeyo?” suara di seberang sana penuh tanya.

“….. “ Yaegi bungkam.

“Pikachu? Apa terjadi sesuatu? Kau sungguh di Busan?” suara Kris semakin menyiratkan kekhawatiran.

Seketika lamunan Yaegi terbuyarkan, “ah ye. Benar.  Aku di rumah Soo Rim. ChanSha sudah tidur.”

“Jangan membohongiku.”

“Nde?” Yaegi terperangah.

“Uljimma.”

Satu patah kata yang membuat hati kecil Yaegi langsung terenyuh ketika mendengarnya. Ucapan singkat Kris sukses membuat air matanya kembali menetes.

“Ani. Aku baik – baik saja.” Yaegi menahan  kedutan hati dengan memegangi dadanya.

“Aku akan menjemputmu ketika aku tiba di dorm.”

“Jangan Kris –ah. Tidak perlu. Dan, jangan katakan pada samchon ataupun Jae oppa jika aku di sini. Uh?”

“Kau harus menjalani operasi lusa ini kan –“

“Aku tidak mau pulang. Di sana sepi sekali. Biarkan aku di sini untuk beberapa waktu Kris –ah.” Yaegi kembali memotong ucapan Kris.

“Aku akan menghubungimu lagi dalam 30  menit ke depan. Ku tutup sebentar.”

Suara Kris berubah berbisik dan disusul oleh sambungan yang terputus usai terdengar sayup – sayup suara yang memanggil namanya.

Yaegi memandangi layar ponselnya sesaat.

Ceklek!

“Kenapa belum mengganti pakaian mu?”

Sosok Soo Rim yang baru saja masuk ke kamar membuat Yaegi berbalik. “Soo Rim –ah.” Ia berjalan beberapa langkah menghampiri Soo Rim yang mulai mengeluarkan semua barang belanjaan yang ia pesan pada Suho.

“Wae? Pilih piyama yang kau suka. Di kamar mandi sudah ada handuk. Segera bersihkan badan mu.” Soo Rim semakin larut dalam membongkar semua perlengkapan bayi dari dalam goodie bag yang bertuliskan sebuah nama toko baby stuff terlengkap.

“Auuhh… Jun Myun ku itu bodoh atau apa? Apa Geum Sha akan pergi ke pesta? Yaegi –ya, kau lihat ini..” Soo Rim memperlihatkan sebuah mini dress bayi berwarna putih mutiara pada Yaegi.

“Begitulah cara Jun Myun mu menghamburkan uangnya.” Yaegi menahan tawanya.

Soo Rim masih bergidik kesal atas ketidakpuasannya dengan barang – barang yang dibeli oleh Suho. “Ck. Geum Sha akan menangis di tengah malam karena bajunya mulai terasa lengket. Ouhh.. benar – benar!”

Yaegi menepuk pelan bahu Soo Rim, “tidak masalah. Geum Sha tahan menderita. Geum Chan do.”

“Mwoya?” Soo Rim langsung berbalik menatap Yaegi penuh tanya.

“Aku dan Kris seringkali ceroboh dan membuat mereka menggelinding dari tempat tidur ke lantai. Maka dari itu – “

“Maka dari itu kau hanya membiarkan begitu saja ketika anak – anak mu menderita, uh?” potong Soo Rim cepat.

Senyuman Yaegi berubah kecut, ia menghela nafas sesaat. “Maka dari itu, jika aku bisa terlahir kembali, aku memilih untuk bermarga Park saja. Cho itu terlalu malang.”

Soo Rim melipat kembali mini dress kecil Geum Sha dan menarik kedua bahu Yaegi agar menghadap padanya, “Yaegi –ya…” ia dapat merasakan sorot mata Yaegi yang berusaha untuk terlihat baik – baik saja di depannya.

“Park Soo Rim aku butuh bantuan mu.” Yaegi menyanggah cepat sebelum Soo Rim melanjutkan kalimatnya.

Soo Rim mengangguk, “Hmm, katakanlah.”

“Aku ingin menghirup udara segar dan akan segera kembali ke sini. ChanSha.. aku titip ChanSha ku, uh?” Yaegi mulai memaki blazernya kembali seperti semula.

“Kau mau pergi kemana? Mobil KK yang mengantar mu sudah tidak ada di depan Yaegi –ya. Lagipula ini sudah hampir larut malam.” Soo Rim tak mengindahkannya begitu saja.

“Sebentar saja. Aku sudah lama tidak berjalan – jalan di pusat kota Busan. Tidak lebih dari satu jam, aku akan segera kembali.” Yaegi meyakinkan Soo Rim.

“Jadi kau tidak pergi ke rumah ahjumma?”

“Ahjumma pasti sudah tidur.”

“Ah tapi mobil ku sedang di pakai oleh Soo Ra eonni, bagaimana?” Soo Rim baru mengingatnya.

Yaegi tersenyum singkat, “tidak perlu khawatir. Ganda (aku pergi).” Tanpa menunggu lama, Yaegi segera melangkah keluar dan menghilang di balik pintu kamar.

Soo Rim menghela nafas panjang sejenak. Ia berkacak pinggang sembari menggeleng pelan dengan mata yang melihat setiap sudut kamarnya. Terkadang ia memang tak habis pikir dengan kehidupan yang hingga kini tengah dijalani oleh sahabat kecilnya Cho Yaegi. Jika diminta untuk mendengarkan, maka ia akan mendengarkan. Ketika Yaegi hendak meminjam bahunya, ia akan dengan segera memberikan, Namun, ketika Yaegi menolak dan memilih untuk menyendiri seperti saat ini, dengan segala keterpaksaan Soo Rim harus mengiyakan perkataan sahabatnya itu.

“Hufh – pergi kemana dia? Ah syukurlah, paling tidak dia membawa ponselnya.” Soo Rim mengintip Yaegi dari balik tirai jendela kamarnya.

Soo Rim kembali berbalik dan bergegas untuk menyusun semua perlengkapan ChanSha agar tertata rapi. Ia juga memindahkan kereta bayi ChanSha ke sudut kamar, tetapi sesuatu yang terdapat di dalam kereta bayi menghentikan aktivitasnya sejenak/

“Uh? Ini ap-a? Ace?” Soo Rim mendapati si Alpaca putih bertopi bajak laut di dalam kereta bayi ChanSa.

“Ckckck.” Ia menggeleng frustasi dengan sosok Ace yang ia angkat ke depan wajahnya.

Sesaat Soo Rim memalingkan tatapannya dan memandang ChanSha yang terlelap, lalu ia kembali memandang boneka Alpaca tersebut yang notabene nya adalah anak sulung dari seorang  Kris Wu itu.

“Aigoo… Nyonya Wu besar benar – benar menyayangi putranya hingga cucu sulung ini juga di titipkan pada ku?  Ckckck.”

 

+++

Di waktu yang sama…

“Ne, hyung?” Kris memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket dan menghampiri Seunghwan yang tadi memanggilnya.

Seunghwan yang tampak sedang menerima telfon dari seseorang meraih bahu Kris, “Yaegi tidak di apartement? Tadi yang kau hubungi siapa?” Seunghwan setengah berbisik.

Kris mencoba mencari jawaban yang tepat dengan tidak mengatakan yang sebenarnya, tetapi itu cukup sulit untuk ia utarakan.

“Hey, palli. Dokter Jung menanyakan Yaegi.” Seunghwan menunjuk ponselnya yang masih menempel di telinga.

Kris setengah terhenyak, “ah.. itu.. aku tidak bisa memberitahu hyung.” Kris berkata spontan.

“Apa kau bercanda? Cepat kata –“

“KREASE! CEPATLAH KEMARI.”

Teriakan manajer Im membuat Kris menoleh cepat. Ia bisa menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Seunghwan.

“Hyung, aku di panggil Im hyung.” Dengan langkah seribu Kris berbalik dan berjalan menuju ruang latihan mereka.

Melihat itu, Seunghwan berdecak kesal dengan mulutnya yang terus bergerak seperti sedang mengutuk sosok anak didiknya yang sekaligus adalah suami dari keponakan sewatawayangnya Cho Yaegi. “Heish.. dasar bocah busuk ! Apa dia bercanda?! Apa ini sebuah lelucon?!  ini keadaan darurat!  Inilah alasan kenapa aku tidak pernah setuju dengan pernikahan — oh! Dokter Jung, kau masih di sana?” bahkan Seunghwan nyaris melupakan panggilan yang masih tersambung karena menikmati ocehannya terhadap Kris.

“Ah geure – geure. Terimakasih banyak atas kerja keras mu Jung Woo Yeon –ssi. Ne ne, baiklah. Neeee.”

Bip. Seunghwan menyudahi panggilan tersebut.

“Ouhh… keponakan busuk itu dimana dia sekarang? Tidak bisa di hubungi. Ck!” Seunghwan kali ini sedang mencoba menghubungi Yaegi di sudut koridor.

“Auuwh! Benar – benar! Woo Yeon sudah sangat baik ingin membantu proses operasi itu, tapi dia pergi kemana? Cho Yaegi busuk!” Seunghwan mendadak frustasi. Bahkan ia tidak menyadari jika seseorang  sejak tadi masih berdiri di sampingnya.

“Cho Yaegi kenapa kau tidak bisa ku hub – AAA! YA!” Seunghwan terlonjak hebat ketika mendapati sosok Lay ketika ia membalikkan tubuhnya.

Lay yang mendapat semburan dadakan langsung memundurkan kepalanya secepat kilat.

“Kau ini mengejutkan saja! Ada apa eoh!” Seunghwan mulai mendidih.

Lay terlihat sedang menelan salivanya dengan susah payah, “aniyo hyung.. Jae hyung ta-di memanggil mu..”  Lay menjelaskan dengan terbata sembari menunjuk arah ruang latihan.

“Kenapa tidak mengatakannya dari tadi! Wae! Apa kau masih sangat merasa akrab dengan nama Jung Woo Yeon eoh! Kau menyesal telah menyerahkannya pada raja legenda setan SM yang pernah ada eoh? Eoh eoh!”

Lay mendadak pucat pasi. “A-ku.. tidak mengerti hyung. B-baiklah, a-ku kembali ke sana h-hyung..” Lay segera berbalik arah dan memakai langkah seribu menuju ruang latihan.

“Ouhh! Menjengkelkan sa – “

Drt – drt..  sebuah panggilan masuk menghentikan cacian Seunghwan.

Bip. Tidak sampai hitungan detik Seunghwan langsung mengangkatnya, “ne, Soo Ra –ya.. ne, waeyo?” dalam seketika suara manajer jelmaan setan itu berubah lembut.

Lay yang sedikit lagi tiba di depan pintu ruang latihan dapat mendengar dengan jelas, ia berbalik sesaat dengan memicingkan matanya ke  arah Seunghwan, “apa yang akan terjadi pada hyung itu jika aku mengadu pada Lee Soo Man seongsaengnim, uh? Aiyoo! Ck.”

ooOoo

Pusat Kota Busan …

Yaegi menyusuri pinggiran jalan pusat kota Busan dengan pandangan yang terus melihat semua yang ada di sekitarnya. Sesekali senyuman kecil terukir dari bibir merah muda yang setengah memucat itu ketika kenangan masa lalu melintas di benaknya. Ya, di tempat inilah Yaegi banyak menghabiskan masa kecilnya hingga ia beranjak remaja. Pusat kota Busan yang penuh dengan canda tawa, penat bahkan amarah. Saat ini gadis bermarga Cho itu sedang berdiri di depan sebuah toko komik dengan cafe kecil di dalamnya. Samar – samar klise masa lalu membentuk sempurna di dalam pikirannya..

 

“ Jung Hee –ya! Na Young –ah! Kim Nana! Ah palliwa! Aku bisa mati kebosanan di sini. Palli, perutku sudah lapar sekali.”  Yaegi menghentakkan kakinya kesal sembari menunggu ketiga sahabatnya selesai membaca komik. Ia sangat tidak betah jika harus berada di sana.

Na Young yang sedang asik memilih – milih komik untuk dibaca menyikut pelan lengan Jung Hee yang sedang duduk di sebelahnya. “Eyhh.. benarkah? Benarkah dia kelaparan?”

“Dia itu sedang gugup.” Nana menyambangi.

“Eoh matna! Kakak senior kelas sastra sebentar lagi akan tiba. Kyaa!” Na Young tergelak bersemangat.

“MWOYA! YA! Harus berapa kali kutakan jika Samchon akan membunuh ku jika — “ Yaegi sangat tidak terima jika dia harus di sodor – sodorkan oleh beberapa sunbaenya oleh ketiga yeoja disana.

“Ouhhh.. jangan terus menerus mengambing hitamkan Samchon mu kutu kecil..” Nana mengigit habis coklat pasta yang sejak tadi bergelayut di bibirnya dan membuangnya ke arah Yaegi.

“Ya Kim Nana!”

 

“Cih.. “ Yaegi tertawa kecil sambil mencibir bayang – bayang itu. Tempat dimana ia dan ketiga sahabatnya selalu menghabiskan waktu ketika tahun pertama mereka memasuki bangku kuliah. Ketika Kyuhyun pergi, Jung Hee, Na Young dan Nana adalah orang yang selalu berada di sana bersamanya.

Kini Yaegi membuang tatapannya ke seberang jalan tempat dimana ia berdiri saat itu. Kilasan masa lalu kembali membayanginya…

 

“Gamshaeyo ahjussi. Aku akan bekerja lebih keras lagi esok hari.”

“Ye, ye. Datanglah kapanpun jika sekolah mu sedang libur.”

“Algaeseumnida ahjussi.”

“Ah ye, berikan ini pada Ha Sun. Dia sangat menyukai pancake labu ini.”

“Ah nde nde. Neomu gamshaeyo ahjussi. Aku pamit pulang. Sampai jumpa besok ahjussi.”

 

Yaegi menghembuskan nafas hangat sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku blazernya. Seorang Cho Yaegi dengan seragam  sekolah berbalutkan mantel tebal keluar dari sebuah restoran pancake kala musim dingin jelas terlihat di matanya saat ini. Meskipun harus meninggalkan les tambahan untuk persiapan mengikuti ujian akhir demi bisa membayar uang kursus, Yaegi sangat menikmati perkerjaan paruh waktu yang dahulu ia geluti. Lebatnya hujan salju selalu menjadi teman setianya kala selesai bekerja dan berjalan menuju halte bis yang akan mengantarkannya pulang. Baginya, hingga saat ini.. masa – masa itu bahkan adalah tempat terbaik di bandingkan posisi seorang Cho Yaegi yang di anggap sedang berada di tempat terbaik oleh kebanyakan orang seperti saat sekarang.

“Ahjussi itu.. apakah dia sehat – sehat saja sekarang?” gumamnya pelan.

 

“Appa… appa… kapan Bom bisa pulang bersama kita? Aku tidak memiliki teman bermain.”

“Bom harus menginap di klinik hewan untuk beberapa waktu. Kau bersabar saja nde?”

“Tapi, Bom pasti bisa di bawa pulang kan?”

“Tentu saja. Appa akan membawa pulang Bom dan chajaaa… Bom akan bermain bersama putri ku sepanjang hari.”

“Appa berjanji?”

“Geuroomm. High five! Yay!”

“Appa saranghaeyo…”

 

Seorang gadis kecil bergandengan tangan dengan seorang pria paruh baya yang ia panggil dengan sebutan ‘appa’ melewati Yaegi yang masih berdiri di sana. Tatapannya tak luput dari sepasang ayah dan anak itu.

“Aku dan appa juga pasti pernah berjalan – jalan seperti itu.” desis Yaegi pelan. Ia tidak tahu pasti apa saja hal yang pernah ia lalui di masa kecil. Karena kenangan itu hilang bersama serum yang tertanam di dalam otak kecilnya. Namun, Yaegi sangat yakin jika ia dan sang appa pernah melakukan hal yang paling menyenangkan seperti anak dan ayah yang baru saja melewatinya. Malam kian larut, setiap sudut kota Busan telah ia telusuri meskipun tak sepenuhnya. Paling tidak, itu bisa mengobati perasaannya yang sedang tak menentu saat itu.

 

“Ya! Apa kau bisa di sebut sebagai seorang wanita? Kau sudah menghabiskan dua cup ramyun Cho Yaegi!”

“Auhhh Park Soo Rim sudah di makan saja. Cerewet sekali.”

“Shireo! Apa kau buta? Aku sudah bengkak dan akan menjadi babi jika aku melahap ramyun malam – malam seperti ini.”

“Cih.. babi kata mu? Percayalah, babi cantik akan tetap menikahi seorang pangeran berkuda putih yang tampan.”

“Omong kosong.”

“Kau hanya perlu berkenalan dengan suamiku kelak. Park Soo Rim, ini pangeran ku… seperti itu. gahaha.”

“Cho Yaegi sepertinya kau demam, eoh?”

“Ani. Aku benar – benar bisa merasakan kedatangannya menuju diri ku. Sebentar lagi.. 1 bulan.. 2 tahun.. atau besok?”

“Kau  menikmati Kyuhyun yang bertekuk lutut di depan mu?”

“Ani. Pangeran itu bukan dari marga yang sama dengan ku. Bahkan kami bisa saja memiliki banyak perbedaan..”

“Sinting. Ahh palli habiskan ramyun mu!”

“YA! PANAS!”

 

Yaegi melipat kedua tangannya dengan senyuman mengembang ketika mendapati toko swalayan yang berada di sebelah utara tempat ia berdiri saat itu. Kilasan dirinya dan Soo Rim yang seringkali singgah di sana dan menikmati ramyun instan serta cacian Soo Rim yang sangat berusaha keras untuk tetap langsing.

“Pangeran berkuda putih? Cih… ternyata aku memalukan.” Yaegi terkekeh pelan ketika mengingat semua istilah – istilah dunia dongeng yang selalu menjadi alat bantunya untuk berkhayal.

Selang beberapa saat, kuluman senyum itu berubah kecut. “Hmm, benar. Aku belum memiliki kenangan bersama pangeran berkuda putih itu, dan juga… dua malaikat kecil ku.” Hati kecil Yaegi berbisik jelas. Ia hampir tidak menyadari jika sejak lama ia berjalan – jalan di sana, tidak ada satupun hal yang dapat membuatnya mengingat keluarga kecilnya itu.

Kris, dan ChanSha.

“Akh..” tiba – tiba Yaegi meremas kuat bagian perutnya. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Sshhh… “ Yaegi nyaris meringkuk di sisi jalan.

Pada saat itu juga, perkataan Dokter Kim kembali terngiang di pikirannya..

 

“Nyonya Wu, apa kau siap jika pengangkatan rahim mu dilakukan dalam waktu dekat ini? Kita akan mendatangkan ahli anastesi terbaik korea, agar obat bius tidak akan merusak sistim kerja serum di tubuhmu. Apa kau – siap untuk koma dalam waktu yang lama?”

Yaegi memejamkan matanya sesaat. Sejujurnya, pertanyaan terakhir dari dokter Kim membuat rasa takutnya kembali tak dapat terbendung.

“Ani. Aku akan segera terbangun ketika operasi itu selesai, dan akhh..” rasa nyeri bagaikan tersayat – sayat oleh pisau kembali mendera secara tiba – tiba.

 

Obat yang baru saja ku suntikkan akan bekerja 7 x 24 jam dan kau akan merasakan nyeri sementara waktu. Jika kau sudah merasakannya, segera datang ke rumah sakit. Itu pertanda bahwa embrio mu sudah melebur.”

 

“Ani. Tidak. Aku tidak merasakannya. Sama sekali tidak sakit. Aku bahkan belum menghabiskan waktu ku malam ini untuk menyusuri kota Busan. Tidak, sama sekali tidak sakit. Aku harus memiliki sesuatu yang dapat ku ingat bersama keluarga kecil ku ketika aku tertidur di waktu yang lama.” Yaegi terus berseteru di dalam batinnya. Ia melawan rasa sakit itu agar tidak mengalahkannya begitu saja.

“Aku tidak akan tinggal lama untuk kesekian kalinya di rumah sakit. Tidak akan.” Yaegi berusaha untuk kembali berdiri tegap dan menyebrang jalan.

Dengan langkah tertatih, ia kini berhenti di sebuah tempat yang sangat menarik perhatiannya sejak pertama kali ia turun daru taksi beberapa saat lalu. Sebuah butik pengantin. Seakan deretan baju pasangan pengantin  menjadi penghilang rasa sakit yang ia rasakan.

Tanpa Yaegi sadari, seseorang juga tengah mengkutinya menyebrang jalan usai melihatnya berpindah tempat. Sosok yang memakai pakaian serba hitam itu sudah sejak lama mengikuti gerak – gerik Yaegi. Ia merapat pada sebuah restoran ayam goreng agar dapat melihat Yaegi dengan jelas.

Drt – drt … getar ponsel membuat sosok itu dengan segera merogoh handbag branded yang terdapat pada lengannya.

“Eo, eomma.”

“Daeshi-ya, dimana —“

“Ye, masih di Busan. Eomma, ku pikir obat itu sudah bekerja. Tapi, aku tidak melihatnya sedang mencoba menghubungi seseorang.”

“Kau tidak salah orang kan?”

“Aku tidak sebodoh itu Dr. Kim.”

“Syukurlah. Kau harus memastikan jika dia kembali ke rumah Nona Park dengan selamat. Lalu segeralah pulang. Eomma akan menghubungi dokter Jung setelah ini.

“Eomma, tapi aku — “

“Pulang!”

Gadis berambut panjan hitam nan legam itu segera menjauhkan ponsel dari telinganya ketika suara sang eomma nyaris membuatnya tuli.

 

Someone call the doctor nuga nal butjapga malhaejwo ~

 

“OMONA!”

“Daehshi –ya? Daeshi –ya apa yang terjadi?”

Gadis bermarga Lee itu kini terperangah takjub ketika ia mendengar potongan dari lagu terbaru EXO yang barus saja di rilis secara resmi pada hari ini. Ia menatap lekat TV yang terdapat pada restoran  ayam goreng di belakangnya dengan panggilan yang masih tersambung.

“Lee Daeshi apa kau dengar eomma?!”

Daeshi tersadar jika sang eomma masih membuat polusi suara di seberang sana.

“Ah ne eomma. Eomma, tolong tutup telfon mu segera. Aku harus melihat calon suami ku di masa depan yang cerah saat ini. Eo? Annyeong eomma.”

“Nugu?”

“Tentu saja Kim Jong In.” Bisiknya jelas.

“Aku sudah salah menempatkan mu di sekolah psikologi Daeshi.”

“Aih terserah apa kata mu. Ku tutup. Bye eomma!”

“Ya! Lee Dae—“ Bip. Bip

Daeshi segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam handbag berwarna putih gadingnya dan kini ia menempel sempurna pada dinding kaca restoran ayam dengan kedua mata yang tak luput dari layar TV.

“Tuhan… jangan biarkan aku menghabiskan seluruh hidupku hanya dengan berdelusi. Bukankah Kim Jong In juga manusia? Seorang fans yang di nikahi oleh idolanya, bisakah kisah di dalam novel terjadi di kehidupan ku? Jong In –ahhh… andwae… “ gumamnya frustasi.

“Oh! Omo! Cho Yaegi, apakah dia masih disana?” syukurlah psikolog muda berbakat Lee Daeshi cepat tersadar.

“Ssshh… gadis itu bukankah dia istri dari Wu Yi Fan? Bagaimana bisa? Nah.. dia saja bisa. Mengapa aku tidak? OH HO! Bukankah tuhan sudah menyusun rencana seperti ini agar aku segera bisa di pertemukan dengan Jong In? Aigooo… Cho Yaegi. Aku berjanji, aku akan menjadi juru selamat di sepanjang hidupmu. Uhm, hwaiting! Ini demi masa depan ku dan Jong In hwai – Astaga! Cho Yaegi, dimana dia? Kyaaa! Kemana perginya dia! Ouhh… sial!”

 

Dalam waktu yang bersamaan..

Yaegi masih terpaku menatap gaun putih nan indah dengan sepasang tuxedo coklat susu di sebelahnya. Senyumannya kembali mengembang ketika ia mengingat sesuatu yang selalu berada di dalam pikirannya, Kris.

“Angry bird ku pasti tampan sekali jika dia memakai tuxedo ini. Geundae, eonjae?” sorot matanya kembali meredup. Namun, beberapa detik kemudian…

“Cho Yaegi, apa yang kau pikirkan?! Tidak. 7 tahun itu tidaklah lama. Ssshh… enyahlah pikiran bodoh!” Yaegi mengetuk pelan kepalanya agar pikiran – pikiran konyol itu tidak kembali merasukinya.

“Sudah ku katakan untuk selalu memegang ponsel mu. Apa yang kau lakukan di sini?”

DEG!

Sebuah suara berat membuat Yaegi berbalik. Tapi rasa terkejutnya tidaklah bertahan lama. Yaegi menatap sosok itu dengan tatapan tenang.

“Saat ini semua orang menghawatirkan mu. Apa yang kau pikirkan Cho Yaegi?”

Yaegi menatap sosok itu lebih lekat, “wae? Kau datang kemari juga untuk menyalahkan ku?”

 

To Be Co

 

 

 

 

 

90 thoughts on “Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 5

  1. Asssa….akhirny dpost jga….Waaah…kli ni ngebuat prasaan campur aduk…
    Twins Wu tahan menderita..ksian bnget kcil2 dah dbwt mnderita..hehe
    Yg nyamperin yaegi tu kris y…
    Yaegi mw g y nglakuin operasi pngangkatan rahim tu…
    yaegi hwaiting..kris hwaiting..twins wu bogoshipo…🙂🙂
    next chapny jgn lama2 y saeng…
    saengi hwaiting..🙂

  2. waaah diluar gudaan ternyata chap 5 datang lebih cepat. aku kira chap 5 bakal lama nongolnya, eeeh ternyata enggak syukurlah😉
    seperti biasa tiap chapter mesti ada ada aja scene yg ngga terduga. kak upa suka banget kasih kejutan tiap chapter dan berakhir dengan kata penasaran kalo udah to be continued hahahaha
    tapi its ok, itulah yg bikin kita penasaran terus sama kelanjutan ceritanya

    kak upa fighting!!😉

  3. waaahhh itu siapa yang datang??
    kyu? lian? kris-_-? joon?!
    ohohohooooo siapapun yg penting eonni cpt update
    jadi, apakah daeshui-kai-pacarkai bakal jd next series?
    my sweety half sugar kyungsoo kapan eonn?
    hueeee im waiting for your story eonni.. fighting!!!!

  4. hiyaaa nugu nugu daeshi new cast ne ?
    nugu yang dateng ke yaegi siaranya berat ehmmmm lian ne ? next thorr penasaran🙂

  5. Wah akhirx chap 5 mncul jga . . .
    Kirain ChanSa d bw am ny.Wu . . . Trnyata ibux kris gk jht, jd ada resiko koma mknya yaegi ampe sgitunya . . .
    D tggu nextnya kk upa . . .

  6. Woooo, kasian banget chansa udah terbiasa menderita -_- #poorchansa dan siapa yang dateng eon? Kyu? Lian? Atau Jae? Ditunggu kelanjutannya eon, jangan lama2 ya😉 Fighting buat bikin kelanjutannya😀

  7. Aku telat kan ;$
    Biarin lah ya, dari pada gak baca😀
    Aku kira ChanSha mau di bawa ke kanada -_-” Untung gak jadi huuuu
    Aduhh si $uho itu ya… Menghamburkan uang saja😄
    Nextnya ya Eonnie😀

  8. Kyaaa~ TBC (again)
    Itu siapa??siapa itu yg dtg??lian??kris??
    Kyaaa~ next next next
    Q kira chansa bakal d bawa k kanada ma ny wu besar, syukur deh ternyata d titipin k soorim..
    SuSoo sweet bgt..
    Tp knp chansa d beliin dress bwt k pesta ma suho?? Aigooo -____-
    Anakanya dr Kim ternyata fansnya jongin??kkkk
    Kyknya bkala tambah seru nih percintaan OT12..

  9. Huhh krain ChanSha di apa”in trnyata enggak syukurlah:))
    Ksian bnget y si yaegi u,u jdi ChanSha gk bklan dpet adik dong u,u pdhal aku pngin bnget ChanSha pnya adik,
    Trus it siapa yg bru dtg? Bkin pnasaran aja @@
    Ttp smangat ngelanjutin fanficnya eonn^^ Fighting!!

  10. Itu Kris? Gak mungkin. Ato Lian? Di chapter ini Lian gak keliatan ya eon, satu nama aja gak ada ‘3’

    Lee Daeshi itu nanti beneran sama Kai? Inget flasback Nana-Luhan yang ketemu di apartement itu. Berasa De Ja Vu😄

    gak biasanya cerita eonni banyak typo. Ngejar waktu ya eon? Gapapa laa~ penting eonni semangat ngerjain tugas kuliahnya sama nulis ff nya. Jiayou! :3

  11. ngeliat sunghwan marah” akunya jdi ketawa sendiri:-P
    krisyaegi momentnya udah jarang kliatan d’seris ini,,,semoga bsa cpet selesai deh masalahnya:-(
    aku rasa yg dateng lian,kan gak mungkin kris d’biarkan berkeliaran hehehe:-D
    next part d’tunggu^^

  12. kyaaaaaaaaaaaaa ada lay muncul *ups salah fokus hehehe . . . syukurlah trnyata chansha tdak d.bwa trbang olh ibunya kris, ish soo rim sma suho so sweet bnget dah bneran deh soo rim baik bnget hohoho kasian yaeginya, jdi dia jalan” d.busan biar nanti jika dia koma bsa mmpnyai knangan gitu?? eh itu sypa oenn yg nyamperin yaegi ah aku penasaran next oenn jngan lama” ne . . FIGHTING😉 . .

  13. eonniiii !!! wooahh !! jinja daebakkk !! (y) itu yanh dateng di akhir kyuhyun ya ?? aaissh, jinjja-__- eon, banyakin adegannya susoo dong ‘3’ eh, lian nanti ada series tersendirinya kan ? ada doongg. aku lagi terpesona ama kewibawaan dia *apabanget-_- eh, xiumin adain seriesnya juga eon. baek juga, yeol juga, kyungsoo juga, chen juga, kai jugaaaa

  14. siapa yg dateng ketwmu ma yaegi???? kris kah??? ato org lain?????
    yaegi kasian bgt sih,,, ngak nyangka ternyata yg dipikirin bukan hanya masalah operasinya aja ternyata ada efek y yg ngebuat yaegi agak ragu mau dioperasi….
    apa dia bakal bangun lg apa koma dgn waktu tak tertentu…. kasian yaegi…..
    berarti kehamilan yaegi yg sekarang bakal digugurin dong T.T T.T yaaaah
    ChanSa ngak bakal dapet adik deh……
    Lanjut….

  15. Ohhh yaegi nggx tega lihat dia kesakitan aku rasa ff series belakangan ini yaegi terus menderita. Kasihan yaegi divonis akan koma dan siapa yang ngikutin yaegi selain daeshi .

  16. Omg itu siapa yg datang?? Kris kah?? Astaga, yaegi kasian banget…
    Terusss, ada couple baru nih haha, jongin_daeshi yuhuuuu^^ …
    Next next next penasaran eonn, ditunggu yaa eon next chapnya *paipai^^*

  17. Baru baca sekarang,,
    Liat kenangan lalu yaegi,, jadi kangen sama Kim Nana. Strong Woman
    jika operasi itu dilakukan ,, apa fict ini akan berisi Wufan yang ditinggal koma ama Yaegi??
    Mungkin Bisa di isi sama cerita Nyonya Wu besar dan kris.
    Oya,, berarti Jong in di kasih 2 pilihan yeoja dong??? wah interest banget XDD gak sabar nunggu story life nya jong in .
    Haaahh,,, galau lah. Kris kenapa ada berita begitu sih >////<
    Aduhhh Wufan kuuuu,,, jangan galau yaa di china sana .

  18. Baru sempet baca sekarang.. yaegi masih berjuang aja ngelawan sakitnya, jadinya dia kapan di operasi.? Dan itu dia akhir siapa yg ngomong gitu ke yaegi, haha ada lee daeshi psikolog konyol huehehe.. lanjut

  19. Ahhh ketinggalan jauhh…kebutt baca,,
    Ihh Suho lucu jg kalau bermanja-manja sama So Rim…manager jg tuh sama lucunyaa..
    Woo couple Jong In mulai muncul, dokter lagi? Bakalan seru nih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s