Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 6

1888528_691949574190690_1152809380_n

Author : Ulfa Muriza | @Yaegi_cho11700

Poster : Muthia

Rating : R – 17 

Please don’t be silent reader. Be smart & creative readers. The whole story is mine! Plagiat OUT!

Typo Everywhere kkkk ~ 

Enjoy my story line :)

 

OooO

Bunyi decitan rem mobil serta sinar lampu dari audy sport berwarna merah itu menyilaukan pemandangan  sekitarnya. Dua orang yang sejak tadi berada di dalam mobil masih tetap tak bergeming . Hingga …

Sebuah dering ponsel membuyarkan salah satunya.

“Ne Soo Ra –ya.. “

“……”

“Geure. Berhati – hatilah dalam mengemudi. Nde, aku akan menghubungi setelah ini.”

“…..”

“Uhm.”

Panggilan pun terputus. Pria dewasa yang memakai kemeja merah bermotif kotak – kotak dengan kancing yang sengaja di biarkan terbuka, memperlihatkan T-Shirt hitam pekat yang membentuk tubuh six packnya itu, melepas ikatan sabuk pengaman yang semula terlilit di badannya.

“Turunlah.” Suara berat pria tersebut  membuyarkan gadis yang memiliki selisih usia belasan tahun darinya, Cho Yaegi.

“Ani, samchon chamkanman.” Yaegi tidak langsung melepas sabuk pengamannya.

Pria yang ia panggil dengan sebutan paman itu tak menghiraukannya dan tetap keluar dari dalam mobil terlebih dahulu, ia berjalan ke sisi pintu mobil dimana Yaegi duduk.

Pintu mobil pun terbuka. “Palliwa.” Pria yang memiliki marga palsu Lee itu menatap dingin Yaegi dengan satu tangannya yang ia selipkan ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan.

Mau tidak mau Yaegi akhirnya menggerakkan kaki dan ikut berpijak pada tanah atau lebih tepatnya hamparan pasir berwarna putih ke abu – abuan.

Usai memastikan Yaegi turun mengikutinya, pria itu berjalan lurus menuju sebuah papan kayu yang telah usang di bibir pantai. Ya, saat ini mereka sedang berada di sebuah pantai yang sangat dekat dari pasar tradisional Jagalchi.

“Samchon, tidak adakah tempat yang lain? Aku bosan melihat pemandangan pan – “

“Cho Yaegi ku sudah mengenal kata bosan sekarang?”

“Seunghwan samchon.” Yaegi menahan tangan pamannya itu yang menyela perkataannya tanpa berbalik.

Sentuhan tangan Yaegi membuat Seunghwan berbalik, “wae? Shireoso? Kau bosan? Kau sudah bisa mengeluh sekarang?” suara Seunghwan perlahan semakin berat.

Yaegi dengan cepat memindahkan tangannya, dan membuang tatapannya ke sisi sampingnya. Menatap kosong gulungan ombak yang hanya berpantulkan cahaya bulan sabit yang tak seterang bulan purnama.

“Anio (bukan). Nan pigonhae (tapi aku lelah).” Lirih suara Yaegi keluar bersamaan dengan desahan nafasnya yang berat.

Seunghwan mengikuti kemana posisi tubuh Yaegi menghadap, “Cho Yaegi.. “ suara Seunghwan kembali menyuarakan namanya.

Yaegi berbalik seraya tersenyum, “samchon dan Soo Ra eonni mendesign baju pernikahan kalian di butik itu? Bagus sekali. Aku menyukai semua jenis modelnya. Apakah samchon akan memakai tuxedo berwarna coklat susu itu? Joaheseo.”

Seunghwan hanya menatap keponakan satu – satunya tanpa mengangguk atau bersuara sepatah katapun.

Seketika wajah Yaegi berubah seperti terkejut kecil, “ani! Jadi samchon menyuruh Soo Ra eonni untuk pulang sendiri? Seunghwan samchon bagaimana bisa kau seperti — “

“Bukan urusan mu.” Penggalan kalimat yang bahkan tidak akan membuat Yaegi terkejut lagi meskipun itu terdengar kasar.

Yaegi kembali tersenyum simpul, “hari pernikahan mu semakin dekat. Kau pasti gugup sekali..”

“Berhenti mengalihkan pembicaraan gadis busuk.” Seunghwan lebih dulu menduduki papan kayu yang terdapat di depan mereka.

Yaegi berjalan ke depan wajah Seunghwan. “Ah ye, apakah ini menyangkut perusahaan? Uhm. Kau benar. Convention hall KK kehilangan investasi dalam 3 jam terakhir, karena ulah yang tidak bertanggung jawab. Kau ingin melempar ku ke laut lepas samchon? Haebayo..” Ia merentangkan tangannya seakan siap untuk ditendang oleh Seunghwan saat itu juga.

Seunghwan mendongakkan wajahnya, menatap lekat ponakannya itu.

“Cho Yaegi apa kau tidak bisa menjadi dewasa? Mandiri, mengandalkan diri mu sendiri, tidak manja, suka mengeluh, dan egois?”

Pertanyaan beruntun Seunghwan membuat Yaegi berubah kaku. Dua bola mata coklatnya menatap Seunghwan tanpa berkedip sedikitpun. Ia tidak tahu pasti apakah Seunghwan sedang marah atau hanya pertanyaan biasa, karena marah atau tidak intonasi Seunghwan tetaplah sama.

“Anja.” Seunghwan menarik telapak tangan Yaegi agar duduk di sampingnya. Yaegi menurut begitu saja. Ia tidak akan bisa berkata – kata lagi, meski banyak hal yang ingin segera ia tumpahkan.

“Jika aku tidak mengetahuinya dari Soo Ra, mungkin aku akan menemukan mayat mu besok pagi di seberang restoran ayam di sana.”

Yaegi sontak berbalik menatap Seunghwan. “Samchon!”

Seunghwan terkekeh, “wae? Kau takut mati? Semua orang akan menemuinya.”

Yaegi kembali menatap lurus ke depan, “paling tidak, aku harus memiliki hidup yang lebih baik sebelum aku menemui kematian.”

“Kau sendiri yang membuat hidupmu terlihat menyedihkan.” Seunghwan menimpali.

“Uhm, samchon kau benar. Hidup ku penuh dengan keterpaksaan. Semua yang ku jalani adalah pemaksaan.” Yaegi mengangguk kecil.

“Itu karena kau tidak pernah menggunakan logika mu untuk berpikir. Hati tidak selamanya bisa di andalkan. Sekalipun seseorang meminta mu mati dan mendonorkan jantung mu karena kau telah berhutang budi padanya, aku yakin kau juga pasti melakukan  —“

“Samchon.” Yaegi menyanggah cepat.

Seunghwan juga melakukan hal yang serupa, sebelum Yaegi melanjutkannya ia lebih dulu mencekatnya. “Cho Yaegi, siapa aku? Siapa nama ku?”

Kedua bola mata Yaegi berubah berkaca – kaca. Ia seperti pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu sebelumnya. Bahkan ia mengingat jelas bahwa pertanyaan itu pernah masuk ke dalam mimpinya.

“Samchon ireumi mwoya? Yaegi –ya.. hmm?” Seunghwan berbalik dan menghadap lurus pada keponakannya itu.

“S-sa-samchon ..” hidung Yaegi mulai memerah.

Perlahan Seunghwan meletakkan kedua telapak tangannya yang besar pada wajah mungil Yaegi. Ia menatap lekat kedua manik mata Yaegi dengan sorotan yang tak biasa.

“Jawab aku. Siapa aku? Siapa nama ku?” Seunghwan mengulanginya.

“Ap-a.. apakah… ini pernah aku dengar di masa kecilku?” Yaegi terbata.

“Jae oppa nuguya? Ha Sun ahjumma nuguchi?” Seunghwan menambahkan.

“Hiks… samchon… “ entah di mulai sejak kapan, kini air mata Yaegi kembali membentuk sungai kecil di pipinya.

Perlahan jemari Seunghwan menyeka bulir – bulir hangat itu, “kau bisa merasakannya?”

Yaegi mengangguk cepat, “hmm. Iseoso.”

“Aku … aku adalah orang yang akan menukarkan sebelah tangan atau kaki ku agar kau hidup dengan baik. Ini adalah pertama kalinya setelah 15 tahun berlalu, aku dapat kembali menyentuh wajah putri kecil kebangggan Gihoon hyung. Niga appa. Ternyata, putri kecil itu, putri kecil itu tidak hidup dengan baik. Ani, dia bahkan hanya hidup untuk menahan semua kesalahan yang di limpahkan padanya. Aphaseo? Uh?” suara Seunghwan ikut bergetar. Kedua mata yang memiliki sudut kelopak yang sama dengan Yaegi itu, ikut berair.

“Mianhanda, aku tidak pernah berada di sisi mu. Mianhanda, jika putri kecil ini tidak pernah bahagia dengan hal yang sangat membahagiakan menurut orang lain. Geurigo mian –“

Lingkaran tangan Yaegi yang berhamburan memeluknya, membuat Seunghwan terdiam.

“Hiks… “ Yaegi sudah terisak di bahunya.

Seunghwan tanpa ragu membalas pelukan erat Yaegi, dan seketika tanpa sepengetahuan Yaegi, air matanya ikut tumpah.

“Marhaebwa. Katakan semuanya Yaegi –ya. Aku selalu menunggu mu untuk datang seperti ini setiap hari. Aku ingin kau berlari pada ku setiap kali kau sedang mengalami kesulitan. Bahkan jika itu hanya seekor lebah yang mengejar mu seperti 15 tahun yang lalu, aku akan meninggalkan semuanya. Mianhanda,  aku tidak memiliki sesuatu yang dapat ku tunjukkan sebagai kasih sayang. Aku … aku memilih mendidik mu hidup seperti ini, membentak mu setiap kali berada di depan ku, agar kau menjadi kuat. Mianhanda Cho Yaegi..” air mata Seunghwan terus tumpah. Ia tak sanggup lagi membendung penat hati yang telah ia pendam belasan tahun lamanya. Kehilangan waktu bermain bersama Yaegi, tidak memiliki tempat pada kenangan masa kecil Yaegi, semata – mata hanya untuk gadis bernama Cho Yaegi.

“Hiks.. aku takut. Hiks.. aku takut samchon –ah. Bagaimana, bagaimana jika aku tidak akan bangun di waktu yang lama? Apa yang harus ku lakukan samchon –ah? Hiks.. “ Yaegi meremas erat kedua sisi lengan Seunghwan dan terisak sejadi – jadinya.

Seunghwan mengangguk di sela – sela tangisannya, “nan ara Yaegi –ya. Marhaebwa, katakan semuanya.. “

“Bagaimana … bagaimana dengan semua orang yang ku kasihi jika aku harus tertidur lagi dalam waktu yang lama samchon –ah? Siapa yang akan merawat mereka? Aku takut… aku takut jika aku bahkan akan melupakan wajah mereka satu persatu ketika aku terbangun hmppksss… OTTEOKHAE SAMCHON! Hmmhiks.. “Yaegi berteriak dalam tangisannya.

Seunghwan semakin mengeratkan pelukannya. Saat ini energy kepedihan yang di pikul oleh Yaegi selama ini, seakan dapat ia rasakan sepenuhnya.

“Yaegi –ya. Ketakutan itu,  jangan membuat ketakutan itu menjadi kenyataan. Kau harus merubah ketakutan itu menjadi sebuah keyakinan. Ketika kau tertidur,  mimpi juga akan menjadi sebuah kehidupan ketika kau tidak bisa melihat kenyataan ini sementara waktu. Tapi  jangan pernah lupa untuk menyisipkan harapan bahwa kau akan terbangun dari mimpi itu dan menjadi seseorang yang lebih baik di masa yang akan datang. Masa dimana kau kembali terbangun. Simpan semua orang yang kau kasihi di dalam mimpi mu, percayalah kau tidak akan pernah melupakannya. Kau mengerti?”

“Hiks… “ Yaegi hanya mengangguk kecil, meskipun masih sulit untuk mencerna semua makna dari perkataan Seunghwan. Paling tidak, sebagian ketakutan itu kini pupus karena sebuah keyakinan yang perlahan merasukinya.

 

Beberapa jam  sebelumnya …

Seunghwan yang semula sudah lebih dulu tiba di depan sebuah Butik, tempat dimana ia dan calon istrinya Park Soo Ra telah berjanji untuk bertemu malam itu, secepat kilat melesat masuk ke dalam mobil Soo Ra yang baru saja tiba dan memarkirkan mobil di sebelahnya.

“Oppa, wae geuraeyo?” wajah anggun Soo Ra tampak sedikit terkejut. Tangannya yang semula hendak membuka ikatan sabuk pengaman kini berpindah pada salah satu lengan Seunghwan.

Seunghwan membalas menepuk pelan bahu kekasihnya itu tanpa mengalihkan pandangannya yang lurus ke depan. Melihat itu, Soo Ra mengikuti kemana tatapan Seunghwan mengarah.

Sesaat Soo Ra mengerenyitkan alisnya, “oppa pergi bersama Yaegi?” Soo Ra jelas menemukan sosok tersebut yang berdiri di depan butik yang hendak mereka tuju.

Seunghwan menggeleng pelan, lalu ia berbalik menatap Soo Ra dengan tatapan yang tak biasa.

“Soo Ra –ya..” Seunghwan menarik kedua telapak tangan Soo Ra ke dalam tangkupan tangannya. Soo Ra semakin bergidik bingung tak mengerti.

“Setelah Comeback Show Shanghai, kita kembali kemari uhm?” tatapan Seunghwan penuh harap.

Soo Ra yang masih tak mengerti, menarik tangannya dari genggaman Seunghwan, “oppa kita tidak memiliki banyak waktu untuk ini. Usai kau kembali dari Shanghai, kita harus membicarakan tentang gereja itu. Apa terjadi sesuatu?” wajah Soo Ra mulai tampak tidak nyaman. Sedikitnya, kekecewaan terpatri jelas di wajah anggunnya saat itu.

Seunghwan kembali menarik kedua tangan Soo Ra, dan kali ini sedikit kasar.

“Kau tahu kan bahwa aku sangat mencintai gadis bernama Park Soo Ra? Bisakah kita melangsungkan pernikahan ini setelah semuanya benar – benar siap?”

“Cho Seunghwan… “ Soo Ra menutup mulutnya tak percaya. Tangannya mulai bergetar.

Seunghwan menghela nafas berat, butuh upaya keras untuk meyakinkan Soo Ra kali ini. Karena ini adalah kali keduanya mereka menunda pernikahan di karenakan Seunghwan yang sangat fokus dalam comeback EXO di tahun 2014. Namun, semua harus kembali tertunda dan kali ini juga dengan alasan yang berbeda.

Seunghwan menatap sosok Yaegi sekilas dari kaca mobil, “Soo Ra –ya..”

Soo Ra hanya bungkam, diam tak bergeming.

Seunghwan mulai frustasi. Ini adalah pilihan yang tidak mudah baginya. Ia bahkan nyaris kehilangan akal sehatnya karena telah menganggap Yaegi lebih penting dari peristiwa penting yang akan ia hadapi satu kali seumur hidupnya bersama Soo Ra.

“Aku harus memastikan berapa lama keponakan ku akan tertidur dan berbaring di waktu yang panjang. Geurigo, Wu Geum Chan dan Wu Geum Sha, aku tidak mungkin membiarkan dua bayi kembar itu menetap jauh dari Yaegi. Jika aku tidak bersikeras, maka Jae dan ahjumma dengan mudah menyetujui jika ChanSha akan di bawa ke Kanada.” Jelas Seunghwan panjang lebar.

Seunghwan melanjutkan kalimatnya, dengan menepuk pelan dadanya sendiri, “aku Soo Ra –ya. Aku adalah ayah, dan aku adalah ibu bagi anak itu.”  Seunghwan menunjuk Yaegi dengan tatapannya.

“Tidak akan ada orang yang bertahan di sisinya dan mempertahankan semua apa yang ia miliki, kecuali laki – laki pecundang ini.” Seunghwan menunjuk dirinya sendiri.

Ia menuntun kedua bahu Soo Ra agar menghadapnya, “ku mohon Soo Ra –ya..”

“Aku tidak akan keberatan jika ChanSha hidup bersama kita, oppa.” Soo Ra mulai menangis.

Seunghwan menghela nafas sesaat, “bukan itu permasalahannya saat ini Park Soo Ra. Jadi, ku mohon Soo Ra –ya. Aku berjanji, setelah semuanya selesai, pada waktu itu juga aku akan mengucapkan sumpah ku, uh? Kau mempecayaiku?” Seunghwan mengenggam erat kedua tangan Soo Ra.

Tanpa kata yang terucap dan dengan air mata yang terus menetes, Soo Ra hanya mengangguk kecil pertanda ia bisa menerima semua itu.

OooO

SM Office pukul 02 dinihari

“HAHAHA!”

Tiba – tiba tawa dari main vocal M menggelegar, memecah keheningan ruang latihan hingga membuat Luhan yang baru saja menutup matanya di atas sofa kembali terbelalak lebar.

“Jongdae niga mwoanya!” Luhan memandang kesal pada Chen yang masih tergeletak di lantai dengan ponselnya.

Chen bangun bangkit dari rebahannya, dan berjalan dengan lutut mendekat pada Xiumin, Kris, Tao, dan Lay yang duduk di bawah sofa.

“Tao –ya, Tao –ya lihat ini. Hahaha!” tingkat kecemprengan yang tidak dapat tertandingi itu memaksa Kris memejamkan mata frustasi karena telinganya yang nyaris tuli.

Tao yang semula hanya merundukkan wajah pada kedua sisi lututnya mendongak malas melihat layar ponsel Chen, “apa hyung?” tanya Tao tak bersemangat.

“Kyungsoo mengirimkan ini. Hahaha! Lucu sekali. Hahaha!” Chen masih tertawa hingga wajahnya memerah.

Luhan mulai penasaran, ia memajukan sedikit posisinya dari atas sofa untuk melihat gambar tersebut.

“Ouh.. itu vulgar. Andwaemida. Aku masih polos.” Tao menutup matanya.

Chen menolak keras bahu Tao untuk menjauh darinya, “cih!”

“Jongdae-ya. Berhentilah bermain – main seperti itu.” Xiumin menyambangi.

Chen menggeleng cepat, “aniya Minseok hyung! Ini, lihatlah. Apanya yang vulgar? Tao sembarangan bicara.” Chen menunjukkan layar ponselnya pada Xiumin dengan jelas. Kris dan Lay ikut melihat sekilas.

“Uri Jongdae sepertinya mencintai salah satu dari kita.” Luhan terkekeh pelan, ia kembali berbaring di atas sofa.

“Apa maksud mu?” Chen langsung menoleh tajam.

Kris yang masih meluruskan kakinya ikut tertawa. “Kim Jongdae, are you a man?”

Chen beralih menatap Kris tidak senang, “mwol?! Mwol hyung?! Mwooolll!”

“Aaahhh… manajer hyung kenapa lama sekaliiii.” Tao tiba – tiba merengek frustasi.

“Kau, tidak memiliki seseorang yang pernah kau sukai Chen -ah?” dengan tiba – tiba pula, si polos Zhang Yixing melontarkan pertanyaan seperti itu.

Kris hanya mengayunkan satu telunjuknya ke  arah Chen. Bahasa tubuh yang memberikan isyarat bahwa ia setuju dengan pertanyaan Lay.

“Apa – apaan itu?” aura wajah Chen menanggapi datar. Ia menyeret sedikit pantatnya dan langsung menjatuhkan kepala pada pangkuan Xiumin.

“Aaaa! Hati ku sakit sekali! Apha! Apha!” Tao lagi – lagi mengerang frustasi dengan sendirinya.

“Wae geurae?!” Xiumin mengalihkan perhatiannya.

Tao memajukan sedikit kepalanya dan berbisik jelas, “kalian tahu? Di luar sana, semua Hailang sedang merayakan ultah ku. Bahkan… “ Tao menggantung kalimatnya sambil meraih cepat ponsel yang berada di sampingnya.

“Lihat ini. Lihatlah! Bahkan mereka membuat fanfiction ku dengan seorang gadis khayalan sebagai kekasih ku!” Tao berdecak geram.

“Aaaahh… aku sepertinya mengerti.” Luhan memiringkan posisinya menghadap memberdeul yang lain.

“Sudahlah Zitao. Kau harus bersyukur karena telah merayakannya.” Lay dengan gaya ahjummanya menasehati Tao.

“Jung – Ji – Ah.” Bisik Luhan jelas dengan nada menggoda.

Semua memberdeul menoleh pada Luhan.

“Benarkan?” Luhan kini berpose ala putri duyung dari atas sofa, dengan senyuman yang mengembang menatap Tao.

“Ck! Mollayo! Dia bahkan tidak menghubungi ku dalam waktu yang lama.” Tao kembali melipat kedua kakinya dan meredam wajahnya yang frustasi.

“Huang Zhi Tao apa itu saja yang ada di pikiran mu?” Kris angkat bicara. Tao tetap bungkam di posisinya.

“Geurotjiiii. Hidup ini akan terasa singkat jika kita mulai menyukai seseorang. Itu merepotkan.” Chen menyambangi sambil berkutat dengan ponselnya yang ia tadahkan ke atas.

“Jadi kau sungguh menyukai seseorang di antara kami?” Lay spontan bertanya.

“Eo.” Chen menjawab cepat.

“Nugu??” Xiumin dan Lay spontan bertanya bersamaan.

“Hyungieya.” Jawab Chen singkat tanpa beralih fokus dari layar ponselnya.

“Hyung yang mana?” kepolosan Lay yang tiada akhir membuat Kris memijat pelan pelipisnya sendiri.

“Sudah berapa kali kalian menjadi korban omong kosong Jongdae ini? Itu hanya bualannya saja. Ouhh benar – benar!” Kris menggeleng frustasi.

Luhan yang semula sudah menutup bagian matanya dengan lengannya kembali menyamping, menatap Tao dengan tatapan yang berbeda, “Zitao kau tahu hal apa yang lebih menyengsarakan mu? Terikat, tapi kau tidak pernah tahu bagaimana dia mengikat mu.” Kedua mata Luhan berubah lesu.

Memberdeul kembali melihat padanya, begitu pula dengan Tao yang langsung mendongak.

“Oh ho! Aku mengerti!” Chen dengan cepat bangun dari pangkuan Xiumin dan menatap Luhan lekat.

“Aku nyaris melupakan jika hyung ku ini sudah laku terjual. Kekeke.” Chen terkekeh.

Lay melihat sekitarnya sebelum ia akan kembali keceplosan bicara. Aman. Tidak ada staff manapun di ruangan mereka.

“Apa itu Kim Nana –ssi ?” tanya Lay ragu.

Luhan memetikkan jarinya ke arah Lay, “yes, yoo man.”

“Kris ge tolong tanyakan pada kakak ipar, uh? Kim Nana –ssi.” Tao menggoyangkan lengan Kris yang bertumpu di lantai.

“Piryeopseo.” Luhan menyangkal cepat. Lalu ia kembali berbalik membelakangi memberdeul, hendak melanjutkan tidurnya.

“Aigoo – aigoo.. ckckckck.” Chen menggelengkan kepalanya.

“Haruskan aku membuat akun Instagram ku sekarang?” Chen menatap satu persatu memberdeul.

“Lakukan sesuka mu” Kris menjawab tidak tertarik.

Chen mengambil posisi ancang – ancang, melipat kedua kakinya. “Oh ho! Joaheso! Aku akan membuat satu akun. Lalu, akan mengunduh foto – foto kalian satu persatu dengan label di bawahnya. Hahaha!” raja troll EXO itu kembali tertawa.

“Label?” Lay tidak mengerti, di susul dengan tatapan heran memberdeul yang lain.

Chen mengangguk dengan bibirnya yang ia runcingkan, “eo.  Label.”

“Kris hyung SOLD OUT!”

“Suho hyung SOLD OUT!”

“Luhan hyung SOLD OUT!”

 

“Sold out?” Xiumin mengernyit.

Chen mengangguk cepat. “Eo. KrisYae, JoonSoo, HanNa. Geutji?” dengan konyolnya raja troll  itu mengucapkan cepat, nama singkatan dari ketiga hyungnya.

Hanya Lay dan Xiumin yang mengangguk setuju. Sementara Luhan masih tidak berbalik. Kris dan Tao masih menatap datar Chen yang sedang membual.

“Chanyeol SALE!”

“Xiumin SALE!”

“Lay SALE!”

 

Xiumin reflek melempar topinya ke arah Chen ketika ia mendapati dirinya dengan label ‘sale.’

Sementara Lay, masih menunjuk – nunjuk dirinya sendiri tidak mengerti, mengapa ia juga di masukkan ke dalam kategori ‘sale.’  -__-

“Kai DISCOUNT!”

 

“Kenapa diskon?” Lay sepertinya mulai mengikuti permainan bodoh Chen.

“Sepertinya dia masih berhubungan dengan dinggg.” Chen seperti member kode sensor.

“Ahhh.. kalau begitu, Chanyeol juga.” Lagi – lagi mengomnetari bersemangat.

“Yejin?” Xiumin bertanya dengan suara kecil.

Lay mengangguk mantap, “umm.”

Chen melanjutkan tanpa menghiraukan perkataan Lay.

“Baekhyun … sepertinya … aaah SOLD OUT!”

“D.o SALE!”

“Sehun ERROR!”

“Tao SOLD OUT!”

“Chen… SEXY, FREE & SINGLE!”

Plak! Satu sepatu melayang dan nyaris mengenai bahu Chen ketika sampai kategori terakhir. Sexy, free, & single. -___-

“Sexy? Kau ? Cih… “ Tao mencibir keras tidak terima.

Xiumin sedari tadi sudah menahan tawanya. Terkadang Chen memang terkesan lebih konyol.

Luhan tiba – tiba berbalik, “ani, chamkan. Sehun kenapa  error?”

“Belum cukup umur.” Chen menjawab santai.

Kris hanya bisa ikut tergelak. “Bahasa Inggris mu meningkat pesat eoh?!”

“Geurooooommm.” Chen tersenyum bangga.

“Ponsel yang memakai kata sandi, itu pertanda sold out.” Luhan mengomentari sembari memandang ke arah Kris.

“Eo, aku menggunakan sandi. Kalian terkadang lebih  mengerikan di bandingkan sasaeng.” Kris mengangkat ponselnya.

Kini Luhan dan Chen terbahak bersamaan. Mereka berdua adalah oknum yang sangat suka membongkar ponsel, maupun komputer dari para memberdeul dan di bantu oleh oknum K, agen Oh Sehun, Do Kyungsoo dan Byun Baekhyun. -__-

“Yo yo yo. Kita pulang sekarang.”

Sebuah suara membuat mereka semua menoleh pada pintu ruang latihan.

“Im hyung. Kenapa lama sekali?” Tao kembali merengeka sambil beranjak dari duduknya. Mereka bergegas pulang menuju dorm.

“Sudah, cepat. Kita hanya memiliki waktu 2 jam sebelum menuju Beijing.” Im manajer lebih dulu berjalan di depan mereka.

Setiba di luar ruang latihan, langkah mereka terhenti sesaat.

“Seunghwan –ah.” Langkah manajer Im ikut surut ketika mendapati Seunghwan yang baru saja tiba dengan seseorang bersamanya.

“Aku sudah memberi tahu Jae, Minwook, dan Yongmin. Kris, ini..” Seunghwan melempar sesuatu pada Kris.

Dengan sedikit linglung karena seseorang yang tiba bersama Seunghwan, Kris berhasil menangkap sebuah benda dengan tangannya.

“Ayo.” Seunghwan mengajak memberdeul untuk segera turun.

Im manajer menatap Kris dan sosok yang bersama Seunghwan bergantian, ia mulai mencoba memahami keadaan yang sudah berlangsung lama tersebut. “Kris, kau tidak apa – apa?” lebih tepatnya pertanyaan Im manajer menyiratkan bahwa Kris yang belum istirahat sama sekali  dan harus mengemudi pada dinihari seperti saat sekarang.

Kris mengangguk pelan, “aku baik – baik saja, hyung.” Kris tentu tidak akan memiliki jawaban lain karena sosok itu adalah Yaegi.

“Yasudah, ayo.”

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju lantai bawah. Kris memilih untuk berjalan paling belakang bersama Yaegi.

“Hanya kami yang berlatih hingga pagi hari ini.” Kris meraih lengan Yaegi dan menggandengnya.

Luhan dapat memperhatikan keduanya dari ujung matanya, sesaat ia menggumam frustasi melihat pemandangan tersebut. Mengingatkannya pada sosok Nyonya Rusanya, Kim Nana.

“Kim Nana aku bahkan nyaris melupakan teriakanmu, tidak bisakah kau menghubungi ku satu kali saja?”

 

OooO

Sesampai di Basement …

Usai Van EXO lebih dulu melesat keluar SM, barulah Kris ikut bergerak masuk ke dalam mobil Seunghwan yang di berikan padanya untuk ia kemudikan. Begitu pula dengan Yaegi, tanpa menunggu Kris berjalan membukakan pintu untuknya, ia lebih dulu bergegas menarik pintu mobil dan masuk ke dalam.

“Jangan lupa sabuk pengamannya.” Kris memasang sabuk pengamananya sembari berbasa – basi dengan istrinya yang hanya mengangguk sambil ikut melilitkan sabuk pengaman.

Mesin mobil sudah di hidupkan, laki – laki yang sangat menyukai kata ‘galaxy’ itu mulai memutar stir mobil menuju pintu keluar basement.

Sepanjang perjalanan Kris sudah berkali – kali mencuri pandang  ke arah samping kanannya. Ia dapat melihat jelas dengan ujung mata bahwa sepasang earphone tengah tersemat di kedua daun telinga Yaegi saat itu. Apakah itu alasan mengapa sosok yang mampu membuat darahnya berdesir setiap saat tersebut tidak mengajaknya berbicara sama sekali? Pikirnya.

Kris reflek menggerakkan sebelah tangannya dan menarik satu tali earphone dari telinga Yaegi. Itu membuat Yaegi menoleh langsung padanya, “wae?” tanya Yaegi polos.

“Aku supir pribadi mu ?” nada suara Kris terdengar kesal.

Yaegi memandangi wajah itu sesaat. Sisi yang sangat di sukai olehnya, yaitu menatap Kris dari arah satu sisi saja. Yaegi menggeser sedikit posisi duduknya hingga ia menyamping menghadap Kris yang sedang menyetir.

“Jangan memandang ku seperti itu.” Kris melihatnya sekilas dan kembali fokus menyetir.

Yaegi menyandarkan kepalanya pada bangku mobil yang beralaskan bantal bermotif bola kaki. “Kau  terlihat sangat tampan jika di lihat dari samping seperti ini..”

Kris kembali menoleh padanya sembari tersenyum paksa. “Cih..” cibirnya keras.

“Kris –ah, kita mau pergi kemana?”

“Tentu saja pulang. Aku hanya memiliki waktu dua  jam sebelum menuju Beijing.” Jelas Kris tanpa menoleh pada Yaegi.

Kris tidak sempat melihat sorot kekecewaan dari kedua bola mata coklat yang sejak tadi terus menatapnya itu. Perlahan Yaegi kembali memutar posisi duduknya menjadi lurus ke depan.

“Uhm, benar. Kau harus beristirahat.” Yaegi mengangguk lemah dengan suara khasnya.

“Kenapa kau bisa ikut bersama hyung?”

“Ingin bertemu dengan mu saja.”

“Jadi ChanSha bermalam di Busan? Soo Rim –ssi sudah tahu jika kau di sini?”

Yaegi mengangguk, “sudah.”

“Hmm, itu lebih baik.” Kris hanya mengangguk seadanya dan menambah kecepatan karena rasa kantuk mulai menyerang.

Yaegi membuang tatapannya ke sisi samping kaca mobil. Ada banyak hal yang belum ia katakan pada Kris, tetapi mengingat waktu Kris yang cukup singkat, tidak banyak hal yang dapat ia lakukan. Ia harus menunggu dua hari ke depan untuk dapat bertatap muka kembali dengan laki – laki yang telah resmi menjadi suaminya itu sejak tahun terakhir. Karena usai perjalanan menuju Beijing, EXO akan menggelar comeback show yang bertempat  di Shanghai. Sesungguhnya itu bukanlah sebuah masalah jika Yaegi akan segera siuman dan terlepas dari pengaruh obat bius usai operasi yang ia jalani selesai. Namun, inilah permasalahan yang terus bergelut di dalam batin ibu dua anak itu, ia tidak yakin jika ia akan segera terbangun usai operasi selesai.

 

Tidak hanya Yaegi yang larut dalam perseteruan batinnya. Ternyata tanpa sepengetahuan Yaegi, sepajang perjalanan dari SM hingga tiba di parkiran apartement, Kris masih berpikir keras akan Seunghwan yang dengan mudahnya mengizinkan Yaegi untuk bertemu dengannya di sela – sela kesibukannya bersama EXO.

“Katakan sesuatu Cho Yaegi. Aku.. aku sangat membenci pertanyaan ku sendiri jika aku mendengar sebuah jawaban yang tidak ku harapkan.” Kris menggumam dalam batinnya. Ia bukan tidak mengetahui apapun, meskipun tidak secara tersirat, tetapi sorot mata Yaegi telah mewakilkan semuanya. Kris berkali – kali melirik Yaegi dengan ujung matanya, hingga gadis itu tersadar dan.. plak!

“Aak! Mengejutkan saja!” Kris sontak berteriak tertahan ketika tangan Yaegi menepuk bahunya.

“Apa yang kau lihat! Kau bisa menabrak apapun di depan mu Wu Yi Fan!” Yaegi menunjuk jalanan di depan mereka.

Kris hanya berdecak kesal tanpa merespon lagi perkataan Yaegi.

 

Selang beberapa menit kemudian ..

Tit – tit – tit. Kombinasi password sesuai.

Kris mendorong pintu apartement dan langsung berhamburan masuk ke dalam di susul oleh Yaegi di belakangnya.

“Kau tidak salah masuk apartement?” pertanyaan Yaegi membuat Kris menunda untuk membuka sepatunya, dan berbalik melihat Yaegi yang masih berdiri di depan pintu.

Yaegi menunjuk arah apartement yang bersebelahan dengan apartemennya.

“Masih ingin membuat lelucon di pagi buta seperti ini uh?” Kris menatapnya malas. Ia membuka kedua sepatunya dan melangkah masuk ke dalam apartement.

Yaegi menghela nafas frustasi sambil mendorong pintu apartement, “selera humor mu buruk sekali. Geezh.” Yaegi mendesis sebal dengan sendirinya. Ia menyusul Kris yang sudah menghilang di balik pintu kamar.

“Handuk ku dimana? Gerah sekali..” Kris mengibaskan T-Shirt polos yang ia kenakan sambil melihat seisi kamar untuk mencari handuknya.

“Kau sudah membawa semuanya ke dorm. Hanya ada piyama mu di lemari.” Yaegi berjalan menuju lemari dan mengeluarkan sepasang piyama.

“Pinjam punya mu.” Kris menadahkan tangannya. Rasa gerah tidak dapat menahannya lagi untuk segera membasuh tubunya yang lengket akan keringat.

Yaegi menari satu sisi pintu lemari dan mengeluarkan sebuah handuk yang masih terlipat rapi. “Ini..” Yaegi melempar pelan  ke arah Kris.

“Eh!”

Suara Yaegi menahan Kris yang hendak melepaskan T-Shirtnya. Kris menoleh tanpa memikirkan apapun, “wae? Aku mau mandi Cho Yaegi. Gerah sekali.”

Yaegi menyadari jika tadi itu adalah tindakan refleknya. Tidak seharusnya ia memasang ekspresi seperti itu. Dengan cepat ia memutar otaknya, “ahh..  tidak akan ada yang mencuci baju untuk beberapa hari ke depan. Jangan lupa untuk membawanya pulang ke dorm.” Yaegi beralasan.

Kris baru mengingat sesuatu, ia berbalik menghadap Yaegi yang berdiri di seberang tempat tidur.

“Apa lagi?” Yaegi memelototi Kris.

Kris merapikan kembali bajunya dan duduk di sisi tempat tidur. “Aku tidak jadi mandi.” Ia mengangkat kedua kakinya dan mulai berbaring.

Yaegi masih berdiri di sisi ranjang dengan menatap Kris heran. “Kenapa?”

“Aku mandi di dorm saja.” Kris menutup wajah dengan lengannya.

Yaegi melepaskan sepasang sandal Winnie the poohnya dan duduk bersandar di tepi ranjang, “waeyo? Kau harus mandi. Jorok sekali.” Yaegi menutup wajah Kris dengan handuk.

Kris menggeser handuk tersebut, mengangkat sedikit kepalanya dan melihat Yaegi yang duduk di dekatnya. “Apa aku hanya memerlukan piyama saja?”

“Nde?” Yaegi masih tidak menangkah arah pembicaraan Kris.

Kris menunjuk arah kakinya dengan kedua mata, lalu kembali menatap Yaegi.

“Aaahh.. ya itu.. tidak ada pakaian da –lam di sini.” Yaegi mengangguk tanda ia sudah sangat memahami maksud Kris.

“Cepat bersihkan wajah mu. Kau bisa menggoreng telur dadar dengan minyak di wajah mu.”

Plak! Yaegi melibas pelan handuk ke arah Kris. Kris hanya tergelak.

Selang beberapa saat, Yaegi keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil. Ia mendapati Kris yang kini duduk pada sisi tempat tidur dengan sebuah buku.

“Kau tidak jadi tidur? Sudah pukul 3.30 ..” Yaegi melirik jam dinding.

Kris menutup buku yang semula ia baca. “Aku tidak bisa tidur.” Ia menaruhnya kembali pada laci yang terdapat di sudut tempat tidur.

Yaegi berjalan ke arahnya dan langsung meraba dahi Kris. “Gwaenchana?” Yaegi merasakan suhu tubuh Kris berubah hangat. Yaegi sudah dapat menerka dari sebelumnya, dari wajah Kris yang terlihat sangat lelah.

“Aku bisa tidur di pesawat.” Kris memegangi tengkuknya bergegas untuk berbaring lagi.

Yaegi menahan lengannya, “ada beberapa vitamin mu yang tersisa, ikut aku.” Yaegi menarik Kris, mengajaknya keluar dari kamar.

Mereka berjalan menuju dapur. Yaegi meraih sebuah kotak dari atas kulkas dan menaruhnya di meja dapur. “Vitamin yang ini kan? Ah sebentar, gunting. Dimana aku menaruhnya kemarin.” Yaegi mendesis pelan sambil mencari – cari gunting untuk membuka vitamin C yang biasa di konsumsi oleh suaminya itu.

“Chaja.. nah. Ayo di minum.” Yaegi menggunting sisi atas bungkusan vitamin tersebut dan memberikannya pada Kris.

Kris langsung meneguk habis dan memberikan bungkusan itu kembali pada Yaegi.

“Jangan lupa untuk meminumnya secara teratur. Jika tenggorokan mu sakit, kau bisa saja demam karena itu.” Yaegi menyodorkan segelas air putih pada suaminya.

“Uhm, gomawo.” Kris memberikan kembali gelas kosong pada Yaegi.

Yaegi menaruh gelas tersebut di dekat westafel dan bergegas berjalan keluar dapur.

“Kita nonton TV saja, hmm?” Yaegi yang semula bersikap santai tiba – tiba berubah ekspresi menjadi sedikit terkejut ketika merasakan sesuatu menahan tangannya.

“Waeyo?” ia menatap Kris yang menahannya.

Tanpa mengatakan apapun, Kris menarik pinggang Yaegi dan memeluknya. Ia mengeratkan pelukannya hingga membuat Yaegi susah untuk berjinjit agar tidak kehabisan nafas karena wajahnya yang tenggelam pada dada Kris yang lebih tinggi darinya itu.

1 detik, 15 detik, Kris belum melepaskan pelukannya. Ia masih berada di posisi yang sama.

“Kris –ah?” hingga Yaegi membuka suara.

Kris perlahan melepas pelukannya, menatap dua manik mata Yaegi sedikit lama.

“Wae? Kau mulai tidak enak badan? Uh?” Yaegi mulai terlihat panik. Ia meraba seluruh permukaan Kris yang memang semakin hangat tersebut.

Kris akhirnya memberikan respon. Ia menggeleng, “ani.” Hanya sepatah kata, lalu ia langsung menarik tangan Yaegi menuju ruang TV.

Perasaan Yaegi mulai was – was. Benarkah jika Kris sudah mengetahui semuanya?

Kris lebih dulu duduk di sofa tanpa meraih remote TV. Yaegi ikut duduk di sampingnya.

“Jangan di hidupkan.” Tukas Kris ketika Yaegi hendak meraih remote TV.

Yaegi menurut begitu saja. “Geure.” Ia bersikap sangat manis saat itu. Perlahan ia menggeser duduknya agar lebih dekat dengan posisi duduk Kris. Tanpa ragu, Yaegi menyandarkan kepalanya pada bahu Kris sambil melingkarkan kedua tangannya.

“Kau harus memberikan yang terbaik untuk comeback show nanti. Hwaiting!” bisik Yaegi sambil mengangkat satu tangannya.

“Setelah operasi selesai, kau harus langsung memberitahu ku. Kau mengerti?” Kris mengusap punggung Yaegi dengan satu tangannya.

Yaegi mengangguk kecil, “uhm, pasti akan ku lakukan.”

“Jangan membohongi ku lagi.” Sebuah kalimat yang langsung membuat Yaegi mengangkat kepalanya. Sebuah kalimat yang langsung membuat hatinya terenyuh, dan merasa sangat yakin jika Kris sudah mengetahui akan sesuatu.

“Siapa yang membohongi mu?” Yaegi berusaha untuk menutupi rasa haru yang telah menyelimutinya. Melihat keadaan Kris seperti saat ini, membuatnya semakin tidak tega untuk mengatakan apapun.

Kris menarik satu tangan Yaegi dan menangkupnya. “Jangan mengatakan kau baik – baik saja, padahal kau tidak baik – baik saja. Jangan menyukai hal yang tidak kau sukai. Jangan melakukan sesuatu hanya untuk menjaga perasaan orang lain. Fake nae style aniya. Kau harus menggunakan slogan itu mulai saat ini, aro?”

Kata demi kata yang Kris ucapkan, membuat Yaegi semakin mengerti. Ya, selama ini itulah yang laki – laki itu lakukan. Berpura – pura tidak mengetahui apapun, tapi pada kenyataannya Kris selalu mengetahui apapun yang ia rasakan.

“Fake nae style aniya?” Yaegi mengulanginya secara perlahan.

Kris mengangguk, ia mengusap kedua sisi pipi Yaegi. “Hmm. Fake is not my style. Kau harus menanamkannya di sini mulai sekarang. kau mengerti?” Kris memindahkan tangannya pada sisi kepala Yaegi.

Yaegi masih menatapnya penuh rasa bingung tak mengerti.

“Kau tahu? Terkadang keegoisan membuat mu lebih kuat. Jika manusia hidup hanya untuk melindungi perasaan manusia lainnya, lalu apa yang akan di lakukan oleh para malaikat? Yaegi –ya..  aku telah menemukannya hari ini.”

“M-wo.. m-woeyo?” tanya Yaegi terbata.

Kris masih menatapnya lekat. “Sesuatu yang membuat ku tidak akan pernah meninggalkan Cho Yaegi.”

“Nde?”

“Karena Cho Yaegi bukanlah orang yang menyukai masa lalu.”

“Aku bukan tidak menyukai masa lalu, tapi aku tidak mengingat – “

“Ara.” Kris memotong cepat. Lalu ia kembali melanjutkan kalimatnya, “hingga saat ini, kau belum pernah bertemu dengan Daddy, geutji? Kenapa kau tidak pernah bertanya pada ku? Apa kau tidak ingin mengenal seseorang yang juga memberikan kelahiran pada ku?”

“Karena kau membenci hal itu Kris –ah. Karena kau melarang ku untuk menanyakannya.” Yaegi menjawab lugas.

Senyum tipis Kris melengkung sempurna dari sudut bibirnya, “benar. Dan, aku ingin istri ku hidup seperti itu.”

“Aku tidak mengerti maksud mu.” Jelas Yaegi singkat.

“Bersikaplah seperti apa yang kau rasakan. Hiduplah seperti apa yang kau inginkan.”

Bersamaan dengan kalimat yang Kris tuturkan, air mata Yaegi kembali tumpah diluar kendalinya. Yaegi meremas kuat salah satu tangan Kris yang masih menyentuh wajahnya, ia mengangguk berulang kali. “Hiks.. arayo Kris –ah.. hiks.. “

“Ssstt..” Kris menarik Yaegi kembali ke dalam pelukannya. Air mata itu, bukanlah hal yang ingin ia lihat saat ini.

Yaegi terus terisak di dalam pelukannya. Tangan gadis itu pun semakin kuat memeluk Kris yang juga sedang menenangkannya saat ini.

“Untuk seterusnya jangan membersihkan badan mu terlebih dulu, jika kita bertemu. Hiks..”

“Nde?” Kris mengernyit bingung.

“Aku lebih mengenal bau keringat ini dibandingkan aroma parfum yang kau gunakan.” suara Yaegi yang teredam oleh pelukan Kris  terdengar parau.

Senyuman tenang dari seorang Wu Yi Fan kembali terpatri jelas membingkai lekuk wajahnya yang sempurna itu. “Haoa. Aku akan menyimpan semua baju kotor ku pada saat comeback show nanti dan akan ku bawa pulang menjadi oleh – oleh buat mu, begitukan?”

“Kris –ah.. “

“Hmm?”

“Aku bahkan sangat menyukai suara Chanyeol. Tidak bisakah kau membuat ku juga menyukai suara suami ku sendiri?”

“Kau ingin aku bernyanyi?” Kris hendak menyudahi pelukannya ketika mendapatkan isyarat seperti itu. Namun dengan cepat Yaegi menahannya, “biarkan seperti ini.” Yaegi menarik tangan Kris agar tidak melepasnya.

“Aku tidak bisa bernyayi seperti itu.” Kris mulai panik. Ia tidak memiliki keberanian sama sekali jika harus bernyayi di hadapan Yaegi.

“Seperti apa?”

“Minta yang lain saja, ne?” Kris bernegosiasi.

Yaegi menggeleng, “palli.”

Kris mulai berdecak frustasi tanpa sepengetahuan Yaegi. Ia berpikir keras untuk memutuskan lagu apa yang akan ia nyanyikan.

“Untuk seterusnya kau harus bernyanyi untuk ku meskipun aku sedang tertidur, kau janji?”

Permintaan yang sangat sulit untuk Kris kabulkan kembali membuatnya enggan untuk menjawab. “Aku akan merusak  tidur mu jika aku bernyanyi Cho Yaegi.”

“Lalu apa yang kau lakukan selama 4 tahun sebelum kau di debutkan Wu Yi Fan?” sanggah Yaegi cepat dengan suaranya yang mulai seperti orang yang menahan rasa kantuk.

Kris tidak memiliki pilihan lain. Ia mulai menarik nafas dan mengambil ancang – ancang.

“Ck. Geure, tidurlah. Jangan mendengarkannya, aro?” Kris memperingatkan Yaegi.

Yaegi tersenyum kecil dari balik dada Kris, “eo. Aku tidak akan mendengarnya. Sudah, cepat nyanyikan sesuatu.”

Sesaat seisi apartement terasa senyap …

 

nǎ lǐ yǒu cǎi hóng gào su wǒ…

(Where do rainbows exist? Tell me.)

 

Kris mulai melantunkan nyanyiannya.

 

“Oh, joaheseo.” Yaegi mengomentari.

Sesaat Kris menunda lirik selanjutnya, “ayyh! Sudah ku bilang jangan mendengarnya.” Wajah Kris  nyaris memerah.

“Ani. Aku sungguh menyukai lagu itu. Ayo nyanyikan lagi.“ Yaegi kembali mengeratkan lingkaran tangannya.

“Yixing lebih baik dalam menyanyikannya.” Kris mengalihkan pembicaraan.

“Aku suka bagian suara mu.” rengek Yaegi.

“Geotjimal (bohong).”

“Jinjayo.”

“Hanya lagu mandarin itu yang ku simpan di playlist ku.”

“Geotjimalaguu! (jangan berbohong).” Kris menahan tawanya. Ia tahu jika Yaegi sedang mengeluarkan rayuan untuk menggoyahkannya.

Yaegi terbahak. “Aniranikka. Jeongmalyo. Palli.”

Kris menepuk – nepuk pelan wajahnya sendiri, berusaha menepis rona merah yang nyaris muncul di wajahnya. “Geure. Jangan mendengarnya.”

“Umm.” Yaegi mendeham singkat.

 

 

nǎ lǐ yǒu cǎi hóng gào su wǒ…

(Where do rainbows exist? Tell me.)

 

Ia bahkan harus  mengulangi dari bait pertama -_-

 

néng bu néng bǎ wǒ de yuàn wàng hái gěi wǒ

wéi shén me tiān zhè me ān jìng

suó yǒu de yún dōu pǎo dào wǒ zhè lǐ

(Could you please return me my wishes?

Why is the sky so quiet?

Why do all the clouds all come to my place?)

 

Entah dimulai sejak kapan, tiba – tiba Kris merasakan sesuatu yang berdesir dari dalam hati kecilnya. Sebuah rasa haru yang tak beralasan. Apakah lagu yang sedang ia nyanyikan adalah alasannya?

Kris memilih untuk menyelesaikan nyayiannya dengan cepat.  Ia langsung mengambil bagian yang di sebut reff.

 

kàn bú jiàn nǐ de xiào wǒ zěn me shuì dé zhe

( I can’t see your smile, and how can I be able to sleep?)

 

Cairan hangat tiba – tiba menetes tanpa ia inginkan. Ia berusaha untuk menahannya agar Yaegi tidak curiga.

 

nǐ de shēng yīn zhè me jìn wǒ què bào bú dào

(Your voice is so close, yet I could not embrace it.)

 

Kris semakin tidak dapat mengendalikan bulir – bulir hangat itu.

 

méi yǒu dì qiú

tài yáng hái shì huì rào

méi yóu lǐ yóu

wǒ yě néng zì jǐ zǒu

(Without Earth, the sun will still rotate around. Without reasons, I also can walk by myself.)

 

Hmmhiks..” hingga pada akhirnya ia pun gagal untuk menahan tangisan ketika sampai pada bait terakhir nyanyiannya.

Yaegi yang merasakan sesuatu langsung melepas pelukannya dan mendongak menatap wajah Kris.

“Waeyo?”  kedua mata Yaegi ternyata sudah lebih dulu sembab.

“Aku membuat mu menangis uh?” suara Yaegi bergetar.

Kris menyeka kasar air matanya, dan menggeleng cepat. “Tidak. Bukan. Hmmphhiks.” Kris menarik kembali Yaegi ke dalam pelukannya. Ia tidak ingin jika gadis itu melihatnya dalam kondisi memalukan seperti saat sekarang.

“Yaegi –ya.. hiks..” isakan Kris semakin terdengar jelas. Ini adalah kali pertama Yaegi mendengar dan menyaksikan langsung Kris yang menangis hingga bersuara seperti itu.

Yaegi terus mengusap – usap punggung Kris agar nafas suaminya itu tidak menjadi sesak, “wae geuraeyo? Kenapa kau menjadi seperti ini uh? Kris –ah..”

“Naneun.. naneun.. hmmhiks.. “

“Iya, kau kenapa?” Yaegi berusaha untuk tetap tenang.

Kris akhirnya memilih untuk menghabiskan sisa tangisannya terlebih dahulu sebelum ia berbicara. “Aku pernah mengatakan jika aku membenci rumah sakit karena mu.”

“Hmm, lalu?”

“Ketika aku pulang, bisakah kau sudah berada di rumah lagi ?” Kris menahan kuat air matanya yang selalu hendak tumpah setiap kali ia sedang mengucapkan kata demi kata.

Ia merasakan sakit yang luar biasa, meskipunYaegi tidak mengatakan tentang resiko dari operasi kali ini. Kris dapat merasakan sesuatu, tetapi dia tidak menemukan hal yang mengganjal tersebut.

Yaegi tersenyum di sela – sela tangisannya, “sebelum aku mengabulkan permintaan suami ku ini. Bisakah kau berjanji  pada ku?”

Kris hanya mengangguk tanpa bisa menjawab dengan suaranya.

“Jangan sampai jatuh sakit. Kau harus tetap makan dengan lahap, dan tidurlah yang nyenyak. Ara?” Yaegi menutup mulutnya dengan bersandar di bahu Kris. Sesungguhnya ia merasakan kedutan yang luar biasa ketika harus mengatakan kalimat sederhana itu.

“Hmm.” Air mata Kris semakin mengalir deras. Ia mengangguk cepat.

Senyuman yang menyiratkan ketenangan pun terpatri pada wajah mungil Yaegi, usai ia mendapatkan anggukan dari Kris.

“Aku berjanji. Aku akan langsung meminta Woo Yeon untuk membawa ku pulang setelah operasi itu selesai. Pulanglah tepat waktu hmm? Kau sudah terlalu lama tidak bermain bersama anak – anak. Hiks.. “

Kris memejamkan kedua matanya agar cairan hangat itu dengan mudah mengalir dari pelupuk matanya. Tidak perduli sudah selembab apa kemeja yang Yaegi kenakan karena air matanya.

“Uhm.. aku berjanji Yaegi –ya..”

“Gomawo.”

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sesuatu yang sebenarnya tidak boleh Kris lahirkan kembali mengusik batinnya. “Haruskah aku benar – benar meninggalkan mereka (EXO) agar aku bisa selalu berada di sisi mu Yaegi –ya? Ibu, dan juga keluarga kecil kita. Fake nae  style aniya. Miweoyo. ”

 

 

To Be Co

Nantikan chapter akhirnya yeorobun. Ah iya, yang di nyanyiin Kris itu lagu Rainbow nya Jay Chou yang di remake ama Lay & Kris di acara radio waktu itu. (buat yang belum  tau)😀

See ya! Saranghae ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

101 thoughts on “Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 6

  1. ya ampun sedih bgt…
    ampe iktan nangis pas scenenya yaekris nangis..😥😥😥
    semoga yaegi operasinya lancar n tidurnya jgn lama2 kasian chansa n krisnya..
    EXO-L Fighthing.. ↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s