Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 8 End

1888528_691949574190690_1152809380_n

Author : Ulfa Muriza 

Poster : Muthia

Rating : R – 17 

Please don’t be silent reader. Be smart & creative readers. The whole story is mine! Plagiat OUT!

Typo Everywhere kkkk ~ 

Enjoy my story line :)

+++

Flashback

Tok tok tok

“Silahkan masuk.”

Seseorang dari dalam ruangan dokter menyahut suara ketukan pintu. Tak lama, seseorang melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Seorang wanita dengan gayanya yang selalu terlihat elegan, dengan rambut hitam lurus yang dibiarkan tergerai, ia adalah Ibu Kris.

Dua orang yang menggenakan jas putih di dalam sana langsung berdiri, memberi salam sopan pada Ibu Kris sambil tersenyum ramah.

“Selamat siang Ny. Silahkan duduk.” Salah seorang dari mereka berpindah tempat dari kursi kerja menuju sofa yang terdapat di tengah – tengah ruangan. Diikuti oleh seseorang lainnya yang duduk bersebelahan dengan meja yang bertuliskan sebuah papan nama ‘Dr. Woo Yeon Jung’, ahli anastesi terbaik , Dr. Jay Wang.

Woo Yeon dan Jay tidak banyak berbasa – basi lagi, karena mereka juga  telah dihubungi terlebih dahulu oleh suster yang baru saja keluar dari ruang rawat inap Yaegi yang beberapa jam lalu sudah tersadar dari komanya.

“Bagaimana kondisi menantuku? Apakah memungkinkan untuk melakukan penerbangan saat ini juga?” tanya Ibu Kris dengan raut wajah penuh harap.

Sesaat Woo Yeon dan Jay saling bertatapan, lalu Jay mewakili dari keduanya dan mengangguk, “meskipun kemungkinan akan muncul resiko, kita akan mencobanya.”

“Syukurlah.” Ibu Kris bernafas lega.

“Tapi – “ Woo Yeon menggantungkan kalimatnya, “ izinkan salah satu diantara kami untuk dapat ikut bersama anda Ny. Karena kondisi Ny. Cho Yaegi masih sangat rentan. Meskipun hanya pengkuretan yang dilakukan, namun resiko pendarahan cukup tinggi karena pengkuretan embrio dilakukan melalui operasi.” Jelas Woo Yeon sedikit panjang lebar.

Tanpa menunggu lama, Ibu Kris langsung menyetujuinya, “baiklah. Sebenarnya aku ingin meminta hal seperti itu sebelumnya.”

Guratan cemas dari wajah Woo Yeon dan Jay sedikit berkurang, ketika pihak keluarga yang bersangkutan menyetujui saran mereka.

“Kalau begitu, pihak rumah sakit akan mengutus Dr. Jay untuk ikut bersama anda Ny. Karena hal yang terpenting adalah serum yang terdapat pada sistim limbik si pasien. Ia harus disuntikkan cairan penawar agar tingkat kesadaran Ny. Cho Yaegi tetap terkendali. Lain dari pada itu, semuanya baik – baik saja.” Jelas Woo Yeon lagi.

“Jadi tidak ada permasalahan apapun terhadap rahimnya?” ekspresi Ibu Kris semakin terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Woo Yeon mengangguk pelan, “ya, benar. Kami, tim dokter memilih untuk tidak mengangkat rahim Ny. Cho Yaegi karena hormon yang terkandung didalam rahim masih sangat produktif. Maka, kami memutuskan untuk mengobatinya dalam waktu berkala. Untuk hasil selengkapnya, akan segera kami keluarkan beberapa saat lagi melalui laboratorium.”

“Ny. Tidak boleh tertekan dalam kondisi apapun, hingga  ia terbebas dari pengaruh obat bius.” Jay menambahkan.

Tersirat rasa bahagia dari wajah mertua Yaegi itu, “jadi menantuku bisa hamil lagi?”

Woo Yeon dan Jay tersenyum bersamaan, “semuanya akan menjadi mungkin jika Ny. Muda pulih total.”

Ibu Kris tertawa kecil, ia menyadari jika dia telah keluar dari konteks akibat rasa bahagia yang tak dapat ia sembunyikan. “Terimakasih banyak atas bantuan kalian selama ini. Kalian telah bekerja keras.” Ibu Kris beranjak bangun dari duduknya.

Jay dan Woo Yeon ikut bangkit dari sofa. “Sudah menjadi kewajiban kami, Ny.” Jawab mereka dengan keramah tamahan.

“Kalau begitu, aku kembali ke kamar menantuku sekarang.” Ibu Kris hendak berbalik pergi.

“Ya, silahkan menunggu. Pihak rumah sakit sedang mempersiapkan semuanya untuk keberangkatan.” Jay dan Woo Yeon mengantar Ibu Kris hingga ke depan pintu keluar ruangan.

“Baiklah. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih yang sebesar – besarnya.” Mereka berjabat tangan.

Jay langsung berbalik ke arah sofa usai memastikan Ibu Kris menghilang di balik pintu ruangan mereka.

“Hufh!” Jay menghela nafas kasar. Ia memijat pelan pelipisnya, sebuah keadaan yang sangat berbanding terbalik ketika ia berhadapan dengan Ibu Kris beberapa saat lalu.

Woo Yeon yang berdiri di belakang Jay, menyentuh bahu rekan kerja sekaligus sahabatnya itu. Woo Yeon mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Jay saat ini.

“Lian juga berada di Guangzhou saat ini..” gumam Woo Yeon pelan.

Jay menopang dahinya dengan telapak tangan, perlahan memejamkan matanya, “yes, but  there are no option. Aku melakukan ini untuk pasienku, Yeon.” Tukas Jay lirih.

Woo Yeon mengangguk mengerti seraya menepuk pelan bahu Jay, “hm. Kau pasti bisa melakukannya, teman.”

Flashback End

+++

Kris masih terduduk di tepi ranjang berukuran king size nya tanpa tatapan yang berkutik sedikitpun. Kedua bola matanya seakan nyaris tak berkedip karena terus memandang sosok yang kini terbaring lemah di hadapannya, Cho Yaegi. Ya, Kris benar. Tadi bukanlah sebuah mimpi, Geum Sha tidaklah hanya halusinasi belaka. Sang Ibu benar – benar membawa keluarga kecilnya kesana, tempat dimana ia juga berada.

Perlahan Kris mengusap dahi Yaegi dengan tangan besarnya, seakan sedang mencoba mengalirkan seluruh hal yang ia rasakan saat ini kepada wanitanya itu. Meskipun Yaegi kembali tertidur karena pengaruh obat yang baru saja disuntikkan, tapi Kris berharap Yaegi akan membuka matanya dengan segera.

“Sayang, jangan lupa minum obatmu.” Seseorang melangkah masuk ke kamarnya dengan pintu yang memang sengaja dibiarkan terbuka.

Kris tidak menoleh sama sekali, namun ia menjawab sosok itu. “Iya bu. Sebentar lagi. Aku masih ingin melihatnya .”

Ibu Kris menyentuh kedua sisi bahu putranya itu, “biarkan istrimu beristirahat. Kalian bisa bertemu besok pagi ketika dia bangun, hm?” bisik sang Ibu dengan suara lembut.

Kris menyentuh satu tangan sang Ibu yang menempel di bahunya, “Terima kasih buat semua yang Ibu lakukan.” Kris tidak dapat melukiskan kelegaannya sama sekali.

Ibu Kris berpindah mengusap puncak kepala Kris, “kenapa kau mengucapkan hal seperti itu ? Ibu tentu akan melakukan apapun demi putraku ini.” Ibu Kris mengecup puncak kepala Kris dengan penuh kasih sayang.

“Tapi Ibu – “ Kris membalikkan posisi duduknya menjadi membelakangi Yaegi.

“Kenapa nak?” Ibu Kris menarik kursi yang berada di dekatnya, lalu ia duduk berhadapan dengan Kris.

Kris sesaat hanya menatap Ibunya sebelum ia mengatakan sesuatu, “Ibu..”

“Hm?”

“Konser perdana kami akan dimulai sebentar lagi. Apa Ibu sudah memberitahu pihak agensi?” Kris mengatur kalimatnya sedemikian rupa, agar tidak membuat amarah sang Ibu kembali menyeruak.

Raut wajah Ibu Kris berubah kaku, ia mengusap wajah putranya perlahan dengan tangan hangatnya, “kau masih merasakan nyeri pada dadamu nak?” Ibu Kris mengalihkan pembicaraan.

Kris menggeleng, “sudah tidak. Aku merasa lebih baik sekarang.” Dari perkataan Kris, terselip sebuah keinginan untuk meyakinkan sang Ibu perihal kondisinya.

Ibu Kris tersenyum mendengar hal itu, “syukurlah. Mulai sekarang, kau harus lebih banyak beristirahat dan menghabiskan waktumu di rumah. Tidur yang cukup, makan yang teratur, dan jangan terlalu lelah. Ibu menyayangimu Yifan.” Ibu Kris meraih satu tangan Kris dan menangkupnya hangat.

“Itu –“

“Itu hanya pengecekan ulang kontrak saja kan, bu?” tanya Kris ragu.

Ibu Kris lagi – lagi hanya tersenyum, ia menarik satu tangan Kris lagi dan kini menangkup keduanya, “Yifan..”

“Apa kau tidak bisa menerima kenyataan nak? Di posisimu seperti saat sekarang, kau tidak mungkin bisa kembali bersama teman – temanmu.”

Kris menggigit kecil bibir bawahnya, gemuruh mulai muncul memenuhi rongga dadanya. Perasaannya semakin bergejolak.

“Tapi – “

“Ini hanya sementara saja kan bu?” sorot mata Kris menyiratkan sesuatu berbentuk harapan.

“Yifan..” panggil sang Ibu, lirih.

“Mulai sekarang, tidak akan ada konser apapun. Tidak ada penerbangan ke Seoul, juga tidak ada pihak agensi.”

“Ibu…” kedua mata Kris mulai memerah.

Ibu Kris mempererat genggamannya, “kuasa hukum akan menyelesaikan semuanya. Jika kau sakit seperti kemarin, Ibu merasa seperti Ibu akan mati saat itu juga. Kau mengerti maksud Ibu kan?”

Kris terdiam dengan posisi wajah yang menunduk, perlahan ia memberikan sebuah anggukan kecil, “ya. Tapi mereka –  teman – temanku, aku belum mengatakan apapun pada mereka Ibu. Mereka bahkan lebih dari itu. Mereka – hiks..” Kris terisak secara tiba – tiba. Entah kapan air mata itu memupuk di kedua matanya.

Hati sang Ibu kembali tersayat perih jika melihat Kris kembali terpuruk seperti ini. Meskipun itu berat bagi Kris, namun semua ini juga demi putra tunggalnya, Wu Yi Fan.

“Setelah kau sembuh nanti, kau bisa menceritakan semuanya. Ibu yakin, Tao dan yang lainnya pasti akan mendengarkanmu. Hm?” Ibu Kris mencoba menguatkan.

Kris menggeleng cepat, ia menyeka kasar air mata dari wajahnya, “tidak. Bukan itu.”

“Yifan..” jemari – jemari lentik Ibu Kris membantu menyeka sisa – sisa air mata Kris.

“Kau akan melewati semuanya dengan baik. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Ibu akan selalu berada di sisimu, kita akan menjalani hidup yang lebih baik. Hm?” mata Ibu Kris mulai berkaca – kaca.

“Hiks.” Isakan Kris semakin menjadi. Entah apa yang sedang ada di dalam pikirannya saat itu, sehingga membuatnya semakin terhanyut oleh kesedihan. Inilah seorang Wu Yi Fan yang sebenarnya, ia akan tersenyum ketika ia merasa bangga akan ketampanannya, ia akan menangis ketika sedang merasa sakit, dan akan selalu berkata ‘iya’ bagi orang – orang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Kekuatan kecil melawan kekuatan besar, Kris tidak lebih dari seorang anak yang penurut jika orang yang berada di hadapannya saat ini telah memohon

“Sssttt.. Yifan?” Ibu Kris memegang wajah Kris agar kembali mendongak menatapnya.

“Yifanku selalu mengatakan jika dia ingin melihat Ibunya harus hidup dengan baik, bukankah begitu? Dengarkan Ibu nak, kau harus tetap sehat. Yifanku harus sembuh, hm?” kini air mata Ibu Kris sukses membasahi kedua pipinya.

Meskipun hati Kris belum sepenuhnya mengatakan ‘iya’, tetapi Kris tetap mengangguk mengiyakan perkataan sang Ibu.

Seulas senyum kembali mengembang dari wanita yang ia panggil dengan sebutan ‘Ibu’ itu, “baiklah. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil Ibu, ya? Malam ini Ibu mengizinkanmu untuk tidur bersama Yaegi. Tetapi besok, jika suster yang akan mengurus Yaegi sudah datang, maka kau harus berbagi kamar dengan kakakmu, mengerti?” Ibu Kris bergegas bangun dan keluar kamar.

Kris mengangguk lemah, “hm, ya.”

Kris memperhatikan langkah Ibunya hingga pintu kamar kembali tertutup rapat.

Kris menggosok wajahnya p, membuat raut kegusaran yang semula terlihat jelas, kini menjadi sedikit memudar. Ia berpindah tempat ke sisi lain tempat tidur, dan mulai membaringkan tubuh lemahnya, menunggu rasa kantuk membuatnya dapat memejamkan mata perlahan. Kris tidur dengan posisi terlentang, memandang langit – langit kamar dengan pikiran yang masih terberai. Sorot mata kosong dari laki – laki bersurai emas itu semakin menyiratkan bahwa dia benar – benar mengalami pertikaian batin yang cukup serius saat itu.

Untuk kesekian kali, Kris menghela nafas berat. Ia memalingkan wajah ke sisi samping kanannya,  melihat Yaegi sejenak. Lalu, tangannya meraih sesuatu dari bawah bantal. Kris mengecek benda yang tadi terasa bergetar tersebut,  berupa sebuah pesan singkat dari seseorang yang memiliki nama kontak `Seunghwan Hyung`.

“Tolong beritahu aku jika sesuatu terjadi pada Yaegi.”

Sepenggal kalimat singkat namun memiliki makna yang cukup kuat. Secara langsung, Kris sudah dapat menyimpulkan bahwa Yaegi bisa tiba di sini, juga telah melalui persetujuan Seunghwan dan keluarga yang merawatnya di sana.

Kris merasa sangat kosong, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pikirannya yang kacau balau menambah rasa tidak enak pada perasannya, ditambah Yaegi yang masih terbaring lemah tanpa bergerak sedikitpun dengan selang infus yang masih tersemat pada salah satu punggung tangannya.

Kris  merubah posisi menjadi menyamping, menghadap kepada Yaegi. Ia berpikir, bahwa dengan memandangi istrinya yang sedang terlelap itu, ia juga bisa memejamkan mata nantinya.

“Pikachu..” bisik Kris pelan. Tangannya bergerak menyentuh dahi Yaegi yang tertutupi oleh poni. Tiba – tiba Kris tersenyum kecil tanpa sebab apapun, ternyata itu karena hal yang terlintas di pikirannya beberapa saat lalu.

“Kamar ini, tempat kau menghabiskan malam bersamaku.” Batin Kris menggumam, membuat semburat merah ikut terlihat pada wajahnya, namun sekian detik selanjutnya…

“Oh! Apa yang ku pikirkan. Ya tuhan, benar – benar!” Kris cepat – cepat menghapus pikiran konyol  itu sambil mengerjap – ngerjap kan matanya. Dan, ia kembali tersenyum geli dengan sendirinya.

“Yaegi –ya?”

Tiba – tiba Kris sontak mengangkat kepalanya ketika merasa Yaegi seperti sedang membuka kedua matanya. “Yaegi –ya? Pikachu?” Kris bangun dari tidurnya untuk memastikan.

Ternyata itu benar, Yaegi sungguh membuka matanya.

Kris semakin mendekatkan posisinya untuk melihat lebih jelas lagi, “Yaegi –ya, kau bangun?” tanyanya setengah gugup.

Secara perlahan Yaegi menggerakkan posisi kepalanya untuk melihat kepada Kris.

“Hm.” Satu dehaman kecil dapat didengar jelas oleh Kris.

Ada sesuatu yang membuncah dari dalam hati laki – laki itu, juga rasa gugup yang bercampur menjadi satu, sehingga ia tidak memiliki hal lebih yang dapat ia tanyakan, “kenapa kau bangun?”

Kris menunggu Yaegi untuk menjawabnya. Tetapi, Yaegi justru menggerakkan tangannya untuk memegang lengan Kris yang bertumpu di dekatnya. Kris mengikuti gerak tangan yang masih lemah tersebut, memegangi lengannya.

“Aku gerah sekali..” Yaegi mengucapkan sesuatu dengan suara yang nyaris tidak dapat didengar.

Kris mencerna cepat apa yang Yaegi katakan barusan, “ngg? Kau mau minum? Sebentar aku ambil –“

Tangan dingin Yaegi meremas pelan lengan Kris, mengisyaratkan bahwa ia sedang menahan Kris untuk mengambil air minum.

“Kenapa?” tanya Kris heran.

Yaegi menggeleng lemah, “aku ingin mengganti pakaianku.”

“Ye?” kali ini Kris seperti tidak mendengar jelas apa yang Yaegi katakan. (-_-)

“Tolong ganti bajuku Kris –ah..” Yaegi memupuk segenap tenaganya untuk mengucapkan kalimat demi kalimat dengan suaranya yang sangat parau.

Kris berpikir sejenak, “baiklah. Tunggu sebentar ya, aku telfon Ibu.”

Lagi – lagi tangan Yaegi menahannya, Kris tidak jadi meraih ponselnya. Ia kembali menunggu apa yang hendak Yaegi katakan selanjutnya.

“Kau yang melakukannya..”

Meskipun tidak terkejut secara langsung, bola mata Kris yang nyaris membulat sempurna cukup dapat mewakilkan keterkejutannya setelah mendengar permintaan Yaegi.

“Pikachu tapi kau – “

“Kau tidak mau?” sanggah Yaegi.

Kris tidak menggeleng, ia berusaha memberikan pengertian yang masuk akal, “nanti jika lukamu kembali terbuka bagaimana? Kau sedang sakit Pikachu. Sebentar saja, tidak apa – apa ya? Aku telfon dulu.” Tanpa menunggu persetujuan dari Yaegi, Kris langsung meraih ponselnya.

“Bukankah—“

“Kita sudah harus selalu terbuka satu sama lain? Kau yang mengatakan seperti itu.” gumam Yaegi pelan. Itu membuat Kris berhenti mengetuk papan layar ponselnya, “hm?” Kris mencoba mencerna kalimat yang baru saja Yaegi katakan.

Yaegi memandang lekat kedua manik mata Kris, “apa yang terjadi Kris –ah?”

Kris semakin berdecak bingung, ia kembali mengambil akses ke sisi istrinya itu, “apa maksudmu Pikachu? Apa yang sedang kau bicarakan Yaegi –ya?” gumam Kris lembut.

Tangan Yaegi berpindah pada punggung telapak tangan Kris, “katakan sesuatu yang tidak aku ketahui,” suara parau Yaegi lambat laun bercampur dengan getaran yang tertahan.

Dari situ, Kris semakin mengerti arah pertanyaan Yaegi. Mata Kris menjadi tidak berkedip, ia ikut terkunci oleh tatapan Yaegi yang menghinoptisnya hingga menjadi kaku seperti saat sekarang, “tidak ada apapun.” Kris mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.

“Aku – “

“Aku mendengar semuanya Yifan..”

DEG!

Tangan Kris yang semula menggenggam hangat satu tangan Yaegi seketika melemah, tumpukan  kristal bening mulai memenuhi dua bola mata laki – laki itu.

“Pikachu, pejamkan lagi matamu. Ini sudah malam, hm?” Kris berupaya keras untuk menyembunyikan gemuruh hatinya. Meskipun ia sudah mengetahui  jika Yaegi ‘mungkin’ mendengar semuanya. Ya, semua hal yang ia perbincangkan bersama Ibunya beberapa saat lalu. Bisa dikatakan, jika Yaegi hanya memejamkan matanya, tetapi tidak dengan pendengarannya.

“Jawab aku Yifan –ah..”

Kris  tertunduk lemah, jika Yaegi tidak lagi memanggilnya dengan nama `Kris` , dan itu adalah simbol bahwa ia benar – benar serius.

Kris menjatuhkan badannya secara perlahan di samping Yaegi tanpa melepas tangan wanitanya itu, “Cho Yaegi dengarkan aku..”

Yaegi diam tak bergeming, menunggu kalimat selanjutnya yang akan Kris ucapkan.

“Tidak terjadi apapun, semuanya baik – baik saja.”

Bersamaan dengan apa yang Kris utarakan, Yaegi menggeser pelan tangannya dari genggaman Kris untuk  mewakili rasa amarahnya.

“Kau sudah mendengarnya? Pengangkatan rahim tidak jadi dilakukan.” Kris masih bersikeras untuk menyembunyikan semuanya dengan mengalihkan setiap pembicaraan.

Setetes cairan bening keluar dari sudut mata Yaegi sembari ia menatap wajah suaminya itu.

“Hei, kenapa? Sstt..” Kris menyeka cepat air mata Yaegi.

Tetapi air mata itu kembali menetes. Ya, Yaegi sudah menangis sekarang. “Sungguh tidak mau mengatakannya padaku?”

Kris menarik seulas senyum, ia mendekatkan wajahnya ke sisi kening Yaegi, dan mengecupnya lembut. “Jika Cho Yaegi selalu berada di sisiku, maka tidak ada hal buruk yang dapat ku katakan.” Bisik Kris tepat di telinga Yaegi.

Yaegi mengedipkan kedua matanya, membiarkan tumpukan kristal di matanya itu tumpah membentuk sungai kecil di wajahnya, “lalu – apa Wu Yi Fan berpikir bahwa aku akan baik – baik saja jika bertahan di sisi orang yang suka berpura – pura di depanku, uh?”

“Pikachu, ku mohon jangan seperti ini.”  Kris berubah semakin gusar. Ia harus sangat berhati – hati, karena Yaegi tidak boleh tertekan dalam kondisi apapun kecuali ia telah kembali pulih seperti sediakala.

“Ponselmu, kemarikan ponselmu.” Sifat keras kepala Yaegi mulai membuat Kris berjaga – jaga dan lebih bersabar.

Kris tanpa ragu memberikan ponselnya, meskipun nanti Yaegi akan dapat menyimpulkan kenyataan yang sebenarnya. Kris sudah terdiam pasrah.

Dengan kekuatan seadanya, Yaegi mengetuk papan layar ponsel miliki suaminya itu dan …

Ia pun menemukan jawaban yang sebenarnya ia inginkan.

“Ini apa?” Yaegi menatap layar smartphone Kris yang penuh dengan berita terkait isu salah satu artis yang bernaung di bawah agensi SMEnt, yang  hendak meninggalkan grupnya, EXO. Sebuah boy group yang berisikan orang – orang yang telah dianggap keluarga oleh Yaegi.

Lidah Kris terasa begitu kelu untuk menjawab Yaegi. Ia membeku di posisinya.

“Kau sakit?” ketika melontarkan pertanyaan tersebut, air mata Yaegi semakin mengalir.

Kris menggeleng cepat, “tidak. Yaegi –ya, bolehkah aku mengatakannya besok? Aku sungguh mengantuk,  kau tidur juga ya? ” Kris bersiap menarik selimut, tak lupa smartphone yang semula di genggaman Yaegi.

Yaegi tidak mengatakan apapun, ia justru masih terus memandang Kris tanpa memberikan Kris ruang gerak terlepas dari tatapannya. Kris tersenyum sekilas pada istrinya itu sebelum ia berbalik tidur membelakangi Yaegi. Hingga Kris sudah membelakanginya, tatapan itu kini hanya dapat menatap punggung Kris. Yaegi mengigit kuat bibir bawahnya, menahan rasa kesal yang sebenarnya kian memuncak. Melihat sikap Kris yang seperti ini, membuatnya ingin beranjak dari tempat tidur sekarang juga, dan mencari semua orang yang ada di rumah ini, untuk memberitahunya apa telah terjadi selama ia tertidur selama tiga hari kemarin.

“Kris –ah, jika seperti ini, aku sungguh membencimu.”

Tanpa sepengetahuan Yaegi, laki – laki yang berbalik membelakanginya itu tentu tidak benar – benar sudah memejamkan matanya. Mata Kris masih terbuka lebar, ia menatap lurus nakas yang terdapat di samping tempat tidur, “maafkan aku Yaegi –ya.”

+++

Di malam yang sama … (May_ 15th)

Dorm M

 

“Hiks.. hiks.. hiks.. “

“Hmmhiks.. hyung .. hiks..”

“Hiks.. hmmphh.. hiks.. Krisseu hyung..”

“Hiks..”

Ini sudah kesekian kali  Xiumin terbangun dari tidurnya, ia kembali berbalik melihat seseorang yang tidur pada kasur di bawahnya.

“Sehunnie ini sudah malam, tidurlah. Besok kau bisa menyambungnya lagi. Zitao, kau juga. Ayolah.” Xiumin mengerang dengan mata yang setengah tertutup.

“Minseok hyung apa – apaan kau ini? Apa kau tidak merasakan apapun? Hiks.. “ Sehun yang masih terisak pada ranjang milik Kris mendongakkan kepalanya. Ia memarahi Xiumin dengan suara yang menggumam tidak jelas.

“Sehun –ah, kau jangan pulang ke dorm ya? Tidur di sini saja, hiks.” Tao yang juga tidur di ranjang yang sama masih tersedu – sedu sambil memeluk erat bantal tidur Kris.

“Tapi ini sudah malam. Sehunnie, besok kau ada acara musik kan? Jangan sampai kau jatuh sakit. Sudah jangan menangis lagi. Kau juga, Zitao.” Xiumin berkata pasrah.

“Hmpph .. hiks.. Kris hyung apa dia melihat Suho hyung mengatakan hal seperti itu di depan TV? Apa dia melihatnya? Hiks.. apakah tidak akan terdengar lucu jika We Are One akan berubah menjadi We Lost One? Tidak lucu kan? Hiks.. apa – apaan ini. Hiks.. APA  – APAAN INI!  sungguh tidak lucu!” Sehun memeluk boneka yang ia beri nama ‘Pinku’ kesayangannya, dan terus terisak.

Xiumin tergeletak pasrah pada posisinya. Melihat anak – anak itu bertingkah seperti ini, membuat suasana hatinya semakin memburuk. Ia menarik nafas dalam – dalam, lalu melepaskannya dengan kasar. Apa yang Sehun katakan, memang ada benarnya. Tapi, dia sendiri tidak memiliki hal yang dapat ia perbuat.

“Kris, kau meninggalkan dua anak – anak cengeng di sini. Mereka merepotkan. Cepatlah kembali..” batin Xiumin berbisik pelan.

+++

May 16th

Guangzhou

 

Pagi hari yang cukup kaku di tengah – tengah kediaman keluarga Wu yang saat ini sedang sarapan pagi bersama. Lian yang biasanya selalu menyantap habis sarapannya, pagi itu tampak dingin dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya suara Geum Chan dan Geum Sha yang mendominasi ruang makan tersebut.

“Appa.. “ Geum Sha duduk pada bangku khusus bayi, ia duduk tepat di tengah – tengah Lian dan Kris. Geum Sha sejak tadi menolak untuk menerima suapan bubur beras merahnya yang di suapkan oleh psikolog Lee Daeshi.

Pihak rumah sakit ikut mengutus psikolog Lee bersama dokter Jay karena  kondisi psikis Yaegi adalah yang terpenting. Maka untuk beberapa waktu ke depan, Yaegi harus selalu bersama psikolog pendampingnya.

Namun, dalam suasana seperti saat sekarang, psikolog Lee lebih mirip dengan baby sitter yang menjaga dan mengurus Twins Wu yang semakin hari semakin sulit untuk diatur.

“Cucuku harus makan dengan lahap, ayo aaaa…” Ibu Kris larut bersama cucu laki – lakinya, Geum Chan. Geum Chan tampak sangat menikmati sarapan paginya bersama sang nenek.

“Geum Sha, ayolah. Satu suap saja ya?” psikolog Lee kembali bangun dari duduknya, ia mencoba membujuk Geum Sha yang asik menarik – narik baju Kris.

“Kemarikan, biar aku saja. Silahkan nikmati sarapanmu.” Kris mengambil piring makan Geum Sha yang semula dipegang oleh psikolog Lee.

“Ah, ini.” pLee segera memberikannya dan kembali duduk ke tempatnya semula.

“Bola – bola ini, susah sekali untuk diatu..” psikolog Lee mengatai putri tunggal keluarga Wu yang sedang asik menggoyangkan kepalanya itu kesana kemari sambil menatap Geum Sha lekat. Bayi perempuan yang akan genap satu tahun itu, memang tampak menggemaskan, namun Geum Sha akan berubah menjadi sangat menyebalkan jika dia di paksa untuk melakukan sesuatu yang dia tidak mau. Berbeda dengan sang kakak, Geum Chan. Terlihat dari dulu hingga sekarang, Geum Chan terbilang sangatlah penurut. Ia dengan lahap mengunyah makanan yang disuapkan oleh sang nenek, sesendok demi sesendok.

“Eomma dimana?”

“Iya nak? Kau mengatakan apa barusan?” Kris dapat mendengar jelas suara Geum Chan. Meskipun ia sedikit bingung dalam memahaminya.

“Eommaneun.. eomma..” Geum Chan menggumam dengan mulutnya yang penuh.

Kris mengangguk mengerti ketika Geum Chan mengulanginya, “eomma masih beristirahat. Chan, habiskan dulu sarapanmu ya?” Kris memandang putra satu – satunya itu penuh kasih sayang.

“Anakmu mengatakan apa Yifan?” Ibu Kris tidak begitu mengerti percakapan antara ayah dan anak itu.

Kris meneguk segelas susu sebelum menjawab pertanyaan sang Ibu, “dia menanyakan Ibunya.”

“Ah ya, istrimu sudah bangun? Ibu akan membawakan sarapan ke kamar.”

“Tidak usah, biar aku saja bu. Aku sudah selesai.” Lian memotong cepat dengan segera beranjak dari meja makan.

Sesaat semua yang berada di meja itu melihat Lian sekilas, kecuali Jay. Laki – laki yang berprofesi sebagai dokter muda itu, tetap melanjutkan sarapannya dengan tenang.

“Tidak apa – apa, biar Ibu saja. Sekalian Ibu ingin mengganti pakaiannya. Psikolog Lee, kau bisa membantuku kan?”

Psikolog Lee sedikit terhenyak karena larut dalam pikirannya sendiri, “ah iya Ny. Kita ke kamar sekarang?”

Ibu Kris mengangguk, “baiklah. Lian, setelah ini bisakah kau mengantarkan dokter Jay ke bandara? Dia harus kembali ke Ausi siang ini.”

Lian melirik Jay sekilas, “aku juga mengambil penerbangan Seoul pada jam yang sama, jadi tidak bisa.”

Jay berhenti menyantap sarapannya, ia membuka suara, “tidak apa – apa Ny. Aku sudah memesan taksi untuk  menjemputku kemari. Ah ya, untuk suster yang akan diutus oleh pihak rumah sakit, mungkin akan tiba nanti siang. Dokter pengganti yang di utus, juga sudah dihubungi.” Jelas Jay tenang.

“Aku kembali ke kamar dulu.” Tanpa menunggu anggukan sang Ibu, Lian melesat naik ke lantai dua.

“Dokter Jay, putraku memang seperti itu. Harap dimaklumi.” Tukas Ibu Kris kepada Jay.

Jay hanya mengangguk seraya tersenyum, “itu bukan masalah.”

“Yifan, ini obatmu. Jangan lupa diminum. Ibu melihat istrimu sebentar.” Ibu Kris dan psikolog Lee beranjak dari meja makan.

Kris hanya mengangguk, “iya ibu.”

“Appa .. appa..” Geum Sha menusuk – nusukkan ujung sendok ke lengan Kris.

Kris menoleh pada putrinya itu, ia juga menarik kursi Geum Chan agar lebih dekat dengannya.

“Kalian tadi malam sudah tidur ya? ChanSha tidak merindukan appa, hm?”

Dua malaikat kecil itu tidak menghiraukan pertanyaan Kris. Mereka larut dalam aktifitas masing – masing.

“Chan –ah.. Sha –ya..” panggil Kris lagi.

“Ne..” suara Geum Chan spontan menyahut Kris dengan lembut.

Kris tersenyum sumringah melihat respon Geum Chan, “Geum Chanku memang pintar..”

Kris nyaris melupakan Jay yang duduk di depannya. “Kau yang menangani pembedahan istriku?” tanya Kris membuka percakapan.

Jay mengarahkan serbet ke mulutnya, ia sudah menyelesaikan sarapan paginya. “Bukan. Aku hanya bertanggung jawab pada pembiusan.”

“Bahasa Koreamu sangat baik. Kau orang Korea?”

Jay tersenyum sambil menggeleng pelan, “aku penduduk asli Cina.”

Mendengar jawaban itu, membuat Kris mengangguk puas, “ah jadi begitu. Maaf, sangat telat untuk mengatakannya, tapi senang dapat berkenalan denganmu.”

“Hm, aku pun begitu.”  Jay sedikit menunduk sopan.

Dalam diam Kris memperhatikan sosok Jay lekat – lekat, ia merasa sangat tidak asing dengan gaya serta lekuk wajah itu. Ya, Kris merasa Jay bukanlah orang asing baginya.

“Orang ini terlihat sangat mirip dengan teman Wang Lian yang sering bermain ke rumah ketika di Kanada, apa dia orang yang sama? Tapi, tidak mungkin. Wang Lian justru terlihat sama sekali tidak mengenalnya.” Gumam Kris dalam hati.

Sosok Ibu Kris yang menuruni anak tangga dengan tergesa – gesa, membuat Jay dan Kris menoleh bersamaan.

“Ibu ada apa?”

Ibu Kris berbelok menuju kotak obat yang terletak di sisi dinding dapur, “bibir istrimu berdarah Yifan.”

“Apa?” Kris sontak beranjak  dari duduknya.

“Mari kita lihat.” Jay ikut bangun.

“Appa…” suara Geum Sha kecil menginterupsi langkah Kris. Laki – laki itu mulai berdecak bingung. Tanpa pikir panjang, ia terpaksa meminta bantuan pada Jay.

“Dokter Jay, bisakah kau menggendong putraku?” raut wajah Kris terlihat sungkan.

Tanpa menunggu lama, Jay mengiyakan, “tentu saja.” Ia mengangkat Geum Chan ke dalam gendongannya dan bergegas menuju lantai dua.

 

 

Psikolog Lee memperhatikan Kris dan Yaegi bergantian, ketika Ibu Kris sedang mengobati bibir menantunya itu secara perlahan.

“Apa – apaan itu. Ckckckck, bahkan dikondisi seperti ini, Kris masih terlihat sangat ganas. Aku sama sekali tidak menyangka.” Psikolog Lee menggeleng – gelengkan kepalanya sambil membatin ria.

Sikutan tangan dokter Jay membuatnya terhenyak kaget, “apa yang kau pikirkan?” Jay berbisik.

“Oh, tidak. Tidak ada apa – apa, saem (guru).” Psikolog Lee menggeleng cepat.

Ibu Kris telah selesai memoleskan obat pada bibir Yaegi. Ia memandang prihatin pada menantunya itu yang kini duduk dengan tubuh yang bersandar pada kepala tempat tidur.

“Kau bisa mengunyah dengan baik sayang? Makan sedikit saja ya? Agar dokter Jay bisa menyuntikkan obatmu yang terakhir setelah ini, hm?” tangan Ibu Kris mengusap sayang rambut Yaegi.

Yaegi mendongak menatap Kris yang berdiri di sampingnya. Ia tidak mengeluarkan satu patah katapun.

Ibu Kris memandang Jay dan Daeshi bergantian, merasa khawatir jika terjadi sesuatu terhadap Yaegi saat ini.

“Eommaaa..” ChanSha sejak tadi menunjuk – nunjuk Yaegi, mereka seperti ingin naik ke atas ranjang. Tetapi itu akan sangat berbahaya bagi luka bekas operasi Yaegi yang belum sepenuhnya mengering, karena kedua bocah kecil itu pasti akan berloncat kesana kemari.

Kris menurunkan Geum Sha dari gendongannya, ia perlahan duduk di tepi ranjang. “Ibu, Yaegi akan sarapan denganku.”

“Baiklah.” Ibu Kris menjawab lugas. Mungkin mereka memang membutuhkan waktu untuk berdua, pikirnya.

“Nona, kau harus makan. Semoga lekas sembuh.” Daeshi menyapa Yaegi sebelum ia mengikuti Jay dan Ibu Kris keluar kamar.

“Imoo.” Sebuah suara membuat Daeshi menoleh. Ternyata Geum Sha dan Geum Chan juga ingin ikut bersamanya.

“Ah, ayo kita keluar.” Daeshi segera menggandeng kedua malaikat kecil itu keluar kamar.

Kini tinggal dua orang yang masih memiliki perang batin sejak tadi malam itu..

“Bubur ini sudah sedikit dingin, jadi jika kau memakannya, tidak akan terasa perih.” Kris menyuapkan satu sendok bubur pada Yaegi.

Dengan cepat tangan Yaegi menahannya  tanpa sepatah katapun.

“Pikachu, sedikit saja..” Kris menggerakkan lagi sendok yang ia pegang.

Tring! Tangan Yaegi kali ini menolak lebih keras hingga sendok itu terpental jatuh ke lantai.

Melihat itu Kris hanya bisa terdiam, ia mencoba bersabar semampunya. Kris menaruh kembali mangkuk bubur pada meja kecil di dekatnya tanpa mempermasalahkan sikap Yaegi terhadapnya.

“Kau mau melihat matahari pagi? Kita keluar, mau tidak?” Kris beranjak dari tepi ranjang, ia mendekatkan kursi roda agar memudahkan aksesnya untuk memindahkan Yaegi ke atas kursi roda. Meskipun Yaegi tak menjawab sepatah katapun, Kris perlahan mulai mengangkat tubuh istrinya itu dan memindahkannya ke atas kursi roda. Ia melakukan dengan sangat berhati – hati, agar selang infus tidak membuat tangan Yaegi kesakitan.

Kris membawa Yaegi ke teras kecil yang terdapat pada kamarnya, ia mendorong pintu kaca dan terlihatlah bumi Guangzhou yang terbentang luas, terlihat begitu indah dari lantai dua kediaman keluarga Wu.

Kris membalikkan kursi roda Yaegi, dan ia berjongkok di hadapannya. Kris meraih  kedua tangan istrinya itu, mencoba mengalirkan ketenangan melalui genggamannya.

Kris  terus memandangi Yaegi memalingkan wajah darinya. Air mata Yaegi kian tumpah tanpa suara.

“Yaegi –ya..”

Yaegi tetap tidak ingin menoleh pada Kris. Yaegi terus terisak dalam diam, hingga air matanya menetes  tanpa henti. Sekali lagi, itu adalah pemandangan yang sangat Kris benci.

“Apa yang ingin kau ketahui?” Kris akhirnya menyerah, ia meraih kedua sisi wajah Yaegi agar mau melihat padanya.

Yaegi menyeka kasar bulir – bulir yang membentuk sungai kecil dipipinya, kedua matanya yang terlihat sembab kini mulai menatap Kris kembali.

“Kau sakit?” bibir pucat Yaegi menggumam pelan.

Kris menggeleng, “tidak.” Ia tersenyum tenang.

Tatapan Yaegi kembali berubah tajam, menyiratkan rasa geram dan amarah disana.

“Baiklah. Jika kau baik – baik saja, maka aku bisa kembali ke – “

“Yaegi –ya.” Kris mempererat genggaman tangannya ketika Yaegi hendak mengatakan sesuatu. “Kau harus tetap di sini.” Pintanya dengan tatapan sayu.

“Tidak bisa. Aku memiliki tanggung jawab yang tidak bisa ku tinggalkan begitu saja. Bukankah kau baik – baik saja? Kau hanya sedang mengisi liburanmu lalu juga akan kembali, bukankah begitu?”

Kata demi kata yang Yaegi ucapkan, menampar Kris keras. Lidahnya kembali  kelu, tidak dapat mengatakan apapun.

“Jangan membohongiku. Kau selalu mengatakan itu. Apa kau berbuat hal yang sama terhadap apa yang katakan? Hiks..” Yaegi menahan isakannya.

Kris kembali mendongak ketika mendengar isakan itu. Ia menarik satu tangan Yaegi dan mengarahkan ke dadanya secara perlahan.

“Semuanya akan baik – baik saja. Maka, tetaplah tinggal di sisiku Cho Yaegi..”

“Hiks..” Yaegi semakin tidak dapat menahan tangisannya. Tangan lemahnya bergetar hebat ketika merasakan detak jantung Kris pada saat itu.

“Tidakkah ini karena pernikahan kita yang terlalu cepat? Apa ini juga sebuah kesalahan Kris –ah?”

Kris menutup cepat bibir Yaegi dengan satu ibu jarinya, “sstt.. apa yang kau katakan, hm? Semua itu tidak benar. Berhenti mengatakan hal yang tidak – tidak.”

“Berita itu – sungguhan?” mata basah Yaegi menunggu jawaban dari Kris.

Kris memberikan sebuah senyuman kecil, “kenapa? Bukankah ini adalah waktu yang kita tunggu – tunggu? Mulai sekarang, kita bisa menghabiskan waktu bersama lebih lama. Kau tidak perlu menungguku untuk menghubungimu, tidak perlu menungguku hingga larut malam, dan aku akan menemanimu bermain bersama anak – anak. Bukankah itu sangat menyenangkan?” Kris menahan rasa sesak yang mencuat dari dalam hatinya, berusaha untuk tetap kuat.

Yaegi menggeleng, “tidak. Itu bukanlah hal kau inginkan. Jika itu benar karena ku, kita bercerai saja.”

“Cho Yaegii..” Kris reflek meremas kedua tangan Yaegi. Kalimat itu sangatlah terlarang bagi indera pendengarannya.

Yaegi hanya tertunduk, larut dalam tangisannya yang semakin menjadi. Kris spontan menarik wanitanya itu ke dalam pelukannya dalam sepersekian detik.

Tangisan Yaegi pun semakin memecah di dalam pelukannya. Kris mengusap – usap punggung Yaegi yang mulai mengeratkan pelukannya.

“Maukah kau berjanji untuk selalu berada di sisiku? Jangan pergi kemanapun tanpa seizinku.”

Dengan masih menangis tersedu, Yaegi memberikan anggukannya.

Senyuman Kris mengembang, ia merasa semua ini lebih dari cukup, jika sesuatu itu adalah sosok yang berada di dalam pelukannya saat ini. Pikachunya, Cho Yaegi.

 

Ketika hari menjelang petang …

Sinar matahari sore menyelinap masuk dari pintu kaca yang terbuka lebar pada kamar Kris. Silau sinarnya tidak membuat kedua insan yang duduk bersandar di atas tempat tidur itu merasa terganggu olehnya. Justru ini adalah saat  yang mereka tunggu – tunggu, untuk melihat secara langsung matahari terbenam di bumi Guangzhou.

“Kris –ah, benarkah bisa melihat matahari terbenam dari sini? Kenapa belum juga muncul?” Yaegi mengangkat satu telapak tangannya ke arah sinar matahari yang menutupi mereka. Kris mengatakan bahwa hal yang paling ia sukai dari kamarnya adalah karena dapat melihat matahari terbenam secara langsung dari dua sisi gunung yang terhampar jelas melalui teras kecil yang terdapat pada kamarnya.

“Kenapa? Kau sudah bosan menunggu?” Kris menoleh pada Yaegi yang masih menyandarkan kepala di bahunya, dengan satu tangan menggandeng tangan Kris tanpa melepasnya sama sekali.

Yaegi menggeleng dari pundak Kris, “tidak. Aku kan bertanya saja.”

Kris menyapu halus puncak kepala Yaegi seraya tersenyum, “Yaegi –ya..”

“Hm, kenapa?”

“Apakah kau sudah siap untuk memulai lagi hidup kita yang baru?” mata Kris ikut menerawang lurus keluar pintu kaca di hadapannya.

Tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun dari pundak Kris, Yaegi memberikan anggukan kecil, “hm.” Yaegi mendeham pelan.

“Benarkah? Kau tidak khawatir jika aku akan menjadi pengangguran dalam waktu yang lama?”

“Jika kau sangat menyukai mimpi itu, maka aku membantumu untuk kembali memilikinya.”

Perkataan Yaegi membuat Kris menggerakkan bahunya, itu membuat Yaegi beranjak dari sandarannya.

“Apa maksudmu?” Kris tidak mengerti.

Yaegi menatap Kris dengan kedua bola mata bulatnya, “kenapa?” Yaegi balik bertanya polos.

Kris mulai mengerti arah pembicaraan Yaegi, ia menggeser sedikit duduknya, “jangan melakukan apapun. Meskipun sepenuhnya kau akan terlibat dengan mereka, jangan pernah membelaku atau melakukan sesuatu dengan hal yang kau miliki. Kau mengerti kan?”

Yaegi menautkan alisnya, “kenapa? KK adalah perusahaan keluarga kita Kris –ah, kau suamiku, maka kau juga –“

“Jangan membuatku menjadi tidak berguna Yaegi –ya.” Tukas Kris pelan.

Yaegi mengerti apa yang dimaksud oleh Kris, ia memilih untuk tidak berkomentar apapun dan kembali menjatuhkan kepalanya di pundak Kris.

“Kenapa? Kau tersinggung karena hal yang ku katakan?” Kris mengintip wajah Yaegi.

Yaegi menggeleng cepat, “sama sekali tidak. Tapi kau akan mati jika suatu saat kau melupakanku begitu saja.”

“Kenapa kau bisa memiliki pikiran seperti itu?” Kris menarik lagi tangannya hingga kepala Yaegi kehilangan sandaran.

Plak! Yaegi memukul keras lengannya, “apa – apaan kau ini! Aku sedang bersandar Kris –ah!”

Kris menunjuk wajah Yaegi dengn telunjuknya, “ulangi sekali lagi yang kau katakan barusan.”

Ekspresi wajah Kris yang terkesan mengancam itu justru membuat Yaegi menggembungkan pipinya karena ingin tertawa, “tidak mau.”

“Awas saja.” Kris menolak dahi Yaegi dengan satu telunjuknya.

Tawa Yaegi memecah. “Sssh, akh.. sakit.” Yaegi langsung meringis pelan memegangi perutnya. Ia melupakan jika luka operasinya belum benar – benar sembuh.

“Cih.. perempuan macam apa kau ini, tertawa besar – besar sekali.” Kris menatapnya sinis.

Yaegi mulai  terpancing seperti biasanya, ia menolak bahu Kris sedikit keras. “Laki – laki macam apa kau ini, masih suka mengatai istrimu sendiri!” mata Yaegi berubah melotot.

Kris terbahak. Namun sesaat kemudian, DEG! Ia spontan meremas dadanya, rasa sakit itu kembali berdenyut.

“Kris –ah, kau tidak apa – apa? Kris –ah..” Yaegi berubah panik.

Kris tidak menjawabnya, ia masih meringis menahan rasa sakit itu, “aku sepertinya akan mati sekarang Pikachu..” tukas Kris dengan suara yang tercekat.

“JANGAN BERCANDA! IBUUUU! IBUU – hmmph..” teriakan Yaegi terhenti karena sebuah tangan besar membekap mulutnya.

Kris terbahak lebih keras. Yaegi segera menepis tangannya, “YA!  TIDAK LUCU!”

Kris masih tertawa. Wajahnya ikut memerah karena ekspresi panik Yaegi sangatlah menggelikan. Namun tawanya berhenti seketika, ia menyadari sesuatu dari perubahan wajah Yaegi.

“Pi – Pikachu..” kali ini Kris yang berubah panik. Bibir Yaegi mulai bergetar, matanya mendadak berkaca – kaca.

“Pikachu kau menangis lagi? Ya tuhan, maaf.. aku bercanda. Pikachu? Pikachu jangan seperti itu, uh?” kepanikan Kris bertambah ketika Yaegi mulai terisak.

“Hiks..”

“Yaegi –ya..” Kris memegang wajah Yaegi dengan kedua tangannya, “Yaegi –ya..” wajahnya berubah takut.

“Coba ulangi apa yang kau katakan barusan.” Yaegi berbicara sambil menangis.

“Aku hanya bercanda. Tidak, aku tidak akan mati. Maafkan aku.”

Yaegi menggeleng, “aku tidak suka dengan candaan yang seperti itu. Hiks..”

“Aku mengerti. Ssstt, jangan menangis lagi ya? Kau sudah terlalu banyak menangis hari ini. Pikachu, ayolah..” raut wajah Kris semakin susah.

Yaegi menghapus cairan yang keluar dari hidungnya, dan menyeka air matanya secara asal, ia menarik bahu Kris untuk kembali bersandar tanpa merespon apa yang Kris katakan.

“Mana mataharinya? Kau bohong.” Yaegi mengalihkan pembicaraan.

Kris mulai dapat bernafas lega, “sebentar lagi. Bersabarlah. Kau tidak bisa bersabar menunggu matahari, bagaimana bisa aku mempercayaimu untuk bersabar terhadapku,uh?”

“Kau cerewet sekali. Perlukah aku meminta Dokter Jay untuk menyuntikkan serum anti cerewet? Ouhh.. benar – benar.” Yaegi mengomel cepat, tetapi ia mengeratkan lingkaran tangannya yang menggandeng lengan Kris.

Kris berdecak kesal, “heishh.. kau ini!”

“Kris –ah, apa kita sudah bisa berfoto bersama? Lalu mengunduhnya ke akun weibomu, lalu menjadi foto profil twitterku? Hm?” Yaegi mengangkat kepalanya, ia menumpukan dagunya pada bahu Kris sembari menatap laki – laki itu dengan tatapan menggoda.

Kris tersenyum berpura – pura sinis, “tidak bisa. Akan banyak gadis – gadis diluar sana yang kecewa karena hal itu. Kau pikir kau siapa?”

Yaegi merapatkan giginya, “oh! Begitukah? Hm, kau benar. Aku juga tidak boleh melakukan itu. Aku tidak akan mendapatkan banyak investor jika mereka mengetahui CEO muda ini sudah menikah.”

“Kau mengancamku?!” Kris menoleh cepat.

Yaegi  memeletkan lidahnya, “kau pikir kau siapa?” ia menirukan perkataan Kris.

Kali ini Kris yang berubah melotot, “mendekatlah, aku akan menciummu.” Kris menarik tangan Yaegi.

“Appa.”

(-.-) suara itu…

Kris langsung memejamkan matanya frustasi setelah mendengar suara itu dari depan pintu kamar, ia perlahan menoleh..

Yaegi lebih dulu antusias dengan dua sosok menggemaskan yang sedang melangkah masuk ke kamar mereka. “Kyaa! ChanSha ku.. sayang, ayo kemari.. Kris –ah, ambil mereka. ChanSha belum terlalu lancar berjalan.” Yaegi mendorong Kris, memaksanya turun dari tempat tidur.

“Appaa.. wo de pap – pa.. “ Geum Sha kecil mempercepat langkahnya ketika Kris juga sedang berjalan menghampiri mereka.

“Waa kalian sudah mandi? Cium.. ayo cium eomma.. “ Yaegi menunjuk pipinya.

Geum Chan justru hanya duduk di atas tempat tidur dengan tatapan heran.

“Kyaa.. appaa..” sementara Geum Sha masih berteriak kesenangan mencoba memeluk Kris, ayah kesayangannya.

“Akh.. jangan berloncat – loncat nak.” Yaegi kembali meringis pelan, ia menahan Geum Sha agar tidak terlalu menghentak – hentakkan kakinya dengan kuat.

“Appa .. appa..” Geum Sha mengambil ponsel Kris yang semula tidak sengaja ia duduki, lalu memberikannya pada Kris.

“Untuk apa?” Kris tidak mengerti maksud Geum Sha.

Geum Sha terus menunjuk – nunjuk ponsel itu, ia menatap Kris dan Yaegi bergantian.

“Shittaa..” Geum Chan berteriak, pangeran kecil itu menepuk – nepuk pantat Geum Sha yang masih menumpukan lututnya di depan Kris.

“Ini .. yang ini..” Geum Sha susah untuk mengutarakan maksudnya. Ia terus menunjuk – nunjuk ponsel Kris.

“Oh! Mataharinya mulai  terbenam!” Yaegi menunjuk arah luar teras.

“Sebentar, sebentar.. “ Kris dengan cepat mengetuk papan layar ponselnya, mereka akan mengabadikan ‘sunset’ tersebut dalam sebuah video.

“Cepat appa, cepat..” Yaegi semakin tidak sabaran. Kris mengarahkan kamera  ke rah dimana matahari mulai terbenam.

“Indah sekali..” Yaegi berdecak kagum.

“Mataharinya kali ini jauh lebih bagus.. “ Kris berkomentar.

“Geum Sha? Kau sedang apa nak?” perhatian Yaegi tiba – tiba teralihkan pada Geum Sha yang bersandar di badan Kris. Putri kecil itu berkali – kali tersenyum sambil berpose ke arah ponsel yang sedang Kris pegang.

Yaegi terbahak keras. “Kris –ah, dia mengira bahwa kau sedang mengambil gambarnya. Yaaa lucu sekali.. akh perutku sakit.” Wajah Yaegi kian memerah melihat tingkah Geum Sha yang tidak disangka – sangka.

“Oh, benarkah?” Kris ikut terbahak. “Cha.. duduk disana bersama eomma, appa akan mengambil gambar kalian bertiga.” Kris menggeser Geum Sha ke sisi Yaegi.

“Chan –ah.. lihat kemari.. 1 2 3! ”

JEPRET!

“Yaaayy!” Yaegi bertepuk tangan, begitu pula dengan ChanSha yang mengikutinya bertepuk tangan.

Kris terus memandangi ketiga orang yang kini tengah tertawa itu. Yaegi, Geum Chan, Geum Sha. Tiga hal yang menguatkannya hingga kini. Terlukis seulas senyum bahagia yang beberapa hari terakhir tidak dapat ia perlihatkan. Tanpa mengusik ketiganya, Kris diam – diam membuka akun Instagramnya, dan mulai mengetikkan sesuatu di sana…

 

“Aku baik – baik saja …………

Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian semua

…………………. Wu Yi Fan akan selalu berada di sini!

– 2014. 5. 16 – “

 

+++

“Selamat datang di dunia yang menggelikan ini. Dimana orang akan menyalahkanmu, menertawakanmu tanpa sesuatu yang tidak kau perbuat atas dasar keinginanmu..

Kris –ah, meskipun kau tidak akan pernah mengatakannya padaku, yang terpenting adalah bagaimana aku bisa terus berada di sisimu. Menjadi orang lebih baik di kehidupan yang akan datang, kehidupan kita bersama semua hal yang ‘mungkin’ akan terulang lagi dari awal.

Bersikaplah seperti apa yang kau rasakan. Hiduplah seperti apa yang kau inginkan.

Uri style!

EXO & Wu Yi Fan pangeranku, Let’s Love!

–          Cho Yaegi – ”

END

 

I’ll be back soon. Jangan pernah melupakan jika ini hanya fiksi belaka ya! Satu fakta di sini, tetapi aku juga tidak yakin itu fakta atau tidak.

Aku mendapatkan linknya dari salah satu temenku, April🙂

Jika readers semua juga mau melihatnya. Lihat disini. Gif dimana Kris seperti sedang memegangi dadanya dan menahan rasa sakit

 

FAKTA lainnya!

Pada saat konser, memberdeul sering menyebut ‘Pikachu’ , mungkin memberdeul merindukan kakak ipar ya kkk😀

Sesuatu yang tidak mungkin bisa saja terjadi, Kris bisa saja kembali bersama EXO. Bisa saja semua berita itu hanya untuk “Hari EXOfans” yang terlahir dari ide gila Kim Jongdae si raja troll. Haha abaikan.  Yang terpenting mari kita semua jangan menyalahkan siapapun. Baik Wupan, EXO, ataupun agensi hebat SMEnt. Harus selalu kita ingat, tidak akan ada anak – anak yang hebat dan berbakat  itu (EXO & Kris ) jika SMEnt tidak mengasuh  mereka untuk menjadi anak – anak yang mendapatkan banyak cinta dari kita semua. Aku sangat mengerti kegalauan kalian, *apa ini -_-* tapi, semuanya sudah bekerja keras. Ingat! Sesuatu yang tidak mungkin, bisa  menjadi mungkin.

Sasasarangieyoooo

EXO Let’s love!

223 thoughts on “Ridiculous Mini Series ‘What’s Wrong?’ Chapter 8 End

  1. Salut ama kamu ulfa,, Penerapan kedalam ff nya bisa sehalus ini.
    Memang terlihat sedih diluar tapi sarat akan kebahagian sebuah keluarga kecil didalam nya.
    Juga cinta sejati ibu kepada anaknya.
    semoga semua berakhir dengan baik.
    let’s meet with uri oppadeul in lost planet , jakarta coming soon
    Wufan berharap bisa disana “

  2. Ff ini daebak. Serasa sperti nyata. Kayaknya seperti ini kehidupan member exo. Dragon fly…, dimanapun kau berada aku selalu mendukung mu.

  3. baru baca sekarang, mian eonni, huah lega banget sumpah pas tau rahim yaegi ga jadi diangkat, yg bikin enak bacanya itu disini sesuai sama kenyataanya.. jadi pembawaany terkesan emng itu yg terjadi.. kerenn.. keep writting eonni

  4. “Kris, kau meninggalkan dua anak – anak cengeng di sini. Mereka merepotkan. Cepatlah kembali..” batin Xiumin berbisik pelan.

    Iya! Ngerepotin emang ninggalin anak2 cengeng itu. Mangkanya balik kakek Fan! (?) ><

    iya eon, kita doa yang terbaik aja buat semuanya. Semoga Kris cepet sembuh. Semoga EXO ngertiin Kris kenapa bisa keluar. Dan semoga Kris bener2 mungkin buat balik ke EXO. Amin!

    Next, Jiayou eonnii!!

  5. tor ff nya bakal dilanjut ga??? oia salam kenal tor lia imnida 92 line… … ff nya keren maaf baru komen di chapter ini, soalnya baru buka lepi, lewat hp susah… maaf ya.. ditunggu karya yg lain. kali ini bakal komen janji..hihihhi semangat yaegi-ya….

  6. sebenar.x aku ikutin ff ini dari awal tapi karna pake hp ga bisa komen dech
    hehehe
    mianh
    tapi sekarang dah punya laptop jadi komen dech #norak
    keren bgt ff.x bener2 ngerasa nyata
    ff terkeren yg pernah aku baca ^^
    LANJUTKAN^^

  7. Eonni, maaf baru muncul disini. Baca FF eonni dari be my fate baru kelar sekarang *ngos ngosan?*. Dan sumpahhh ff eonni bagus banget, ide di setiap ceritanya menarik-menarik ^^
    Pokoknya gabisa diungkapkan dengan kata-kata deeehhh eonni kreatif banget :”’
    Keep writing thor!!! Aku selalu menunggu(yaekris)mu wkwkwk😄

  8. anyeong aku reader baru di sini,udah baca semua tp baru sempet ninggalin jejak mianhae
    aku suka cara penulisannya jd keliatan kaya cerita nyata yang sengaja kamu share aku bener bener suka
    dan berharap ceritanya ga hanya sampai sini,lanjut ya eonnie#aku99line
    salam kenal#bow

  9. astaga.. cuma bisa nahan tangis baca ff ini..
    alur nya kayak sesuai banget sama aslinya..
    walaupun kris gatau aku dn exofans yg lainnya ada di belahan bumi mana, aku ttep ngedukung dan support dia.. exo saranghae :))
    terima kasih banyak thor udah bkin ff sebagus ini :))

  10. annyeong author-nim, aku reader baru di sini, ga sengaja nemu (?) ff ini di abang google😀
    mianhaeyo baru comment di chapter terakhir, aku udah baca dari awal padahal, mianhae author.
    btw, ff-nya keren. aku suka sama bahasa yg author pake, hebat juga bisa masukin peristiwa nyata ke dalam ff ini jadi keliatan real emang begini kejadian yg dialamin uri Wufan.
    tapi, ff Wufan masih tetap ada
    kan selanjutnya auhtor?:/
    oke, salam kenal author🙂
    bakal sering” deh mampir di blog-nya author :))

  11. mian baru ninggalin comment d chapter ini,,
    unnie muriza kereen…
    hebat memasukan fakta” yg terjadi dkehidupan EXOdeul… terlebih mengenai lawsuit uri keriseu,,
    semuanya terasa logis meskipun ini semua adalah fiktif…
    exo saranghaja,, wuyifan saranghae,,
    muriza unni hwaiting for next story,, ttep pertahakan yaekris couple.a yaa….

  12. huufff…
    part ini sungguh nguras air mata…
    ya meskipun berakhir dgn happy end plus air mata..😥😥
    aq ttp suka bgt ff ini…
    fighthing yaaa…
    ↖(^ω^)↗♥↖(^ω^)↗♥↖(^ω^)↗♥↖(^ω^)↗♥↖(^ω^)↗♡↖(^ω^)↗♡↖(^ω^)↗

  13. annyeong haseyo… ^^ I am a new raeders
    ff ini keren banget dah eon.. mian baru baru comment di sini padahal aku dah baca semua😀 #PLAK
    oh iya,,, salam kenal eonnie author ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s