EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 3

5738_757117507648989_1240196035_n

Author / Script Writer : Ulfa Muriza – @_choUpa 

Poster by : Tiara / Han Jae Rin 

Rate : T 

Genre : Family, Friendship, romance, sad, ( – marriage life )

Cast :

– Kim Jong In / Kai

– Han Jae Rin / OC

– Lee Dae Shi / OC

– YaeFan / Cho YaeGi – Wu Yi Fan / Official Couple :D 

– Yoon Soo Hee / SM’s Model

– EXO 

– Another Cast 

TYPO EVERYWHERE!

***

 

 

Flashback

 

Kai menatap Soo Hee sedikit lama setelah ia menerima minuman yang diberikan Soo Hee padanya.

“Yoon Soo Hee –ssi..”

Soo Hee menghentikan tegukannya, “ya, kenapa?” Soo Hee merespon santai sambil duduk perlahan disamping Kai.

“Kau terlihat seperti selalu –“

“Han Jae Rin. Gadis  yang berdebat denganmu di lokasi syuting waktu itu,  benar kan?” potong Soo Hee cepat.

Kedua bola mata Kai membulat sempurna  ketika mendengar pertanyaan Soo Hee.

“Siapa yang kau maksud?” Kai mencoba berdalih.

Soo Hee menarik seulas senyuman yang sulit diartikan, “ya, atau bukan? Gadis yang mendatangimu lalu membuat kissing scenes  dibatalkan. Benar kan itu namanya?” tatapan Soo Hee menajam.

Kai berusaha untuk mengatur gerak tubuhnya agar tidak terlihat gugup.

“Lantas kenapa?” Kai bertahan dengan gaya berkelitnya.

Soo Hee terkekeh sambil membuang tatapannya ke arah kolam. Rambut hitam kecoklatan miliknya yang tergerai lurus membuat sosok gadis yang berprofesi sebagai model SM itu semakin terkesan misterius setiap kali ia tersenyum.

“Aku bisa menjadi siapapun ketika blitz kamera mengelilingi ku, tapi aku adalah diriku sendiri yang sangat membenci seseorang yang bertingkah kekanak – kanakan.” Soo Hee berbalik menatap Kai yang masih duduk disampingnya, tak lupa ia menekan setiap kata – katanya yang baru saja ia ucapkan.

Kai hanya meresepon dengan tatapan.

“Gadis brutal itu membuat sebuah website Yoon Soo Hee – anti. Aku berhak marah kan?” tanya Soo Hee skeptis.

Kai spontan bangkit dari duduknya, “bisa saja kau salah orang. Lagipula itu sama sekali tidak beralasan. Kau terlihat seperti bukan sosok pada profesimu yang sebenarnya, terlihat kampungan.” Kalimat Kai kian menusuk. Meskipun Kai sendiri percaya jika sosok yang dimaksud oleh Soo Hee adalah sosok Jae Rin nya, ia masih bersikeras untuk berdalih.

Soo Hee ikut bangun dari duduknya. Ia melipat kedua tangannya dan maju satu langkah mendekat ke  arah wajah Kai.

“Kampungan? Ahh.. aku hanya memperkenalkan namaku waktu itu.” Soo Hee tersenyum. Namun sedetik kemudian, senyuman itu berubah menjadi tatapan tajam, “aku Yoon Soo Hee. Aku tidak pernah mengusik siapapun. Tapi aku akan selalu mencari tahu orang – orang yang mencoba merusak nama baikku, Yoon Soo Hee. Aku menghargai siapa saja, sekalipun ia berasal dari tempat sampah. Tetapi aku akan selalu penasaran dengan orang – orang yang hidup seperti sampah dan berusaha menyeretku kesana. Han Jae Rin, tidak cukupkah dia merusak profesionalisme kerjaku waktu itu?”

Kata demi kata yang Soo Hee ucapkan, cukup membuat degup jantung Kai  berhenti. Ia tidak pernah menyangka jika Soo Hee memiliki sifat yang terlihat begitu pemarah.

“Tidak. Lupakan. Dia hanya fans fanatik.” Kai mencoba mengalihkan.

Soo Hee kembali pada posisinya semula, ia masih menatap Kai seraya tersenyum tajam.

“Han Jae Rin. Aku akan menemukan gadis itu.” Soo Hee menekankan kata – katanya.

Kali ini Kai membalas tatapan tajam itu, “jangan menyentuhnya.” Rahang Kai mengeras.

“Dia yang mengusikku!”

 

Flashback End

 

Kai berlarian menyusuri jembatan kayu yang menghubungkan  hilir sungai Han. Ia berkali – kali menutupi kepalanya dengan penutup kepala yang terdapat pada jaketnya. Kai terus berlari sambil memegang ponselnya, ia terus mencoba menghubungi seseorang. Hingga langkahnya terhenti ketika ia  mendapati dua sosok gadis yang berdiri tak jauh darinya.

“Jae Rin. Jae Rin -ah!” bisiknya tertahan. Tanpa merasa was was sedikitpun akan sasaeng ataupun fans yang sedang berkeliaran, Kai langsung berlari demi menghampiri dua sosok disana yang ia yakinkan sebagai Han Jae Rin dan Yoon Soo Hee.

Ya, Soo Hee pasti dengan mudah mengetahui identitas Jae Rin serta menemukan gadis itu dengan mudah. Kai masih tidak menyangka jika Soo Hee benar – benar seorang model yang sedikit mendapatkan job sehingga ia dapat berkeliaran kemanapun yang ia inginkan.

“hosh – hosh – hosh..” nafas Kai terengah – engah.

“Rin –ah..”

Plak!

Belum sempat Kai mengatur nafasnya, ia kembali dikejutkan dengan sebuah tangan yang mendarat mulus pada pipi kanan Jae Rin. Mata Kai sontak terbelalak lebar. Ia justru seperti kelu, tak bisa berbuat apapun.

Sosok yang barus saja menyapukan tangannya pada wajah Jae Rin, kini berbalik menghampiri Kai.

“Aku, Yoon – Soo – Hee.” Suara bisikan Soo Hee membuat Kai geram bercampur gugup. Soo Hee terkekeh pelan, lalu melenggang pergi darisana.

Kai hanya menatap tajam punggung Soo Hee sekilas,  tanpa pikir panjang ia berlari menghampiri Jae Rin.

“Rin – ah? Rin –ah bagaimana bisa dia –“

“Sudahlah Jong In –ah. Aku baik – baik saja.” Suara parau Jae Rin membuat kalimat Kai menggantung.

“Tidak apa – apa? Sungguh?” Kai meraba lembut sisi wajah Jae Rin dengan kedua tangannya.

Jae Rin terus menggeleng, “sungguh. Sudahlah, tidak enak jika ada yang melihat.” Jae Rin memindahkan tangan Kai dari wajahnya.

Kai menarik Jae Rin agar berdiri tepat dibalik pohon pinus besar disana. Agar tidak ada orang yang dapat melihat mereka secara jelas.

Kai merogoh saku jaketnya, ia sengaja menghidupkan layar ponselnya sebagai cahaya diantara dirinya dan Jae Rin.

“Kenapa kau mengajak bertemu disini? Saat ini sedang musim hujan, dan sudah larut malam. Kita bisa bertemu dirumah mu atau dirumah ku. Hmm?” tanya Kai lembut.

Jae Rin masih menunduk, tanpa sepatah katapun.

Kai menatap Jae Rin sedikit lama. Sebuah tatapan yang seakan mewakili segenap perasannya terhadap gadis itu.

“Mianhae Rin –ah. Dia – “

“Tidak masalah.” Sanggah Jae Rin cepat.

“Aku memang bersalah. Dia patut menamparku seperti tadi.” Jae Rin menyelesaikan kalimatnya seraya tersenyum pada Kai.

Kai semakin merasa tidak enak bercampur rasa bersalahnya.

“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Kai untuk kesekian kalinya.

Jae Rin lagi – lagi menggeleng, “Jong In –ah..” panggil Jae Rin lirih.

“Hmm?” Kai merespon cepat seraya mengusap pipi kanan Jae Rin.

Jae Rin memberanikan dirinya untuk mendongak menatap sosok Kai yang memang nyaris tidak berjarak lagi darinya, “ayo berhenti. Kita. Ayo kita berhenti disini.”

Dengan cepat Kai meremas pergelangan tangan Jae Rin usai ia mendengar hal tersebut. “Han Jae Rin..” rahang Kai mengeras, seiring dengan cengkraman tangannya yang semakin kuat.

Jae Rin sama sekali tidak meringis,  ia justru menatap teduh kedua bola mata Kai.

“Ayolah Kim Jong In, aku tidak bisa lagi.” Jae Rin menggeleng, kedua bola mata coklatnya perlahan meneteskan bulir – bulir hangat.

Kedua tangan Kai berpindah meremas kedua sisi bahu Jae Rin, “sudah berapa kali aku katakan jangan lakukan hal ini, Jae Rin –ah.. uh?” kedua mata Kai ikut berkaca – kaca.

“Aku pernah pergi bersama Ray tanpa memberitahu mu. Aku juga orang yang merusak pekerjaan mu, seperti orang bodoh datang ke lokasi syuting dan menangis. Lalu aku pulang, kemudian membentuk sebuah forum anti dari gadis yang akan melakukan kissing scenes bersama mu waktu itu, tidak cukupkah itu semua? Aku hanya mengusik mimpimu Jong In –ah..” Jae Rin mulai terisak.

Kai menggeleng cepat. “Apa aku pernah menyalahkanmu? Teruslah bersikap seperti ini, tapi jangan katakan jika kau akan berhenti. Rin –ah, ku mohon…” Kai mengeratkan genggaman tangannya.

“Kim Jong In semua ini akan  terasa sulit jika kita tidak berhenti. Aku ingin menjalani hidupku dengan normal.”

“Kau tidak percaya padaku? Kau tidak percaya jika aku akan mengenggam tanganmu dan mengatakan didepan mereka semua jika kita saling memiliki? Rin –ah, kita berjanji untuk selalu percaya dengan ‘suatu saat nanti,’ suatu saat nanti semuanya akan berubah. Suatu saat nanti aku, Kai, dan aku sebagai Kim Jong In adalah orang yang sama. Kau ingatkan?”  Kai terus mendesak Jae Rin untuk menarik kembali kata – katanya.

Jae Rin masih dengan pendirian yang sama, ia terus menggeleng tanda menolak permintaan Kai.

“Ayo berpisah. Hiks..” Jae Rin menyeka kasar air matanya yang semakin deras mengalir. Ia berusaha membuang tatapannya dari hadapan Kai agar kedua mata indah itu tidak terus menangis.

Kai kembali membawa wajah Jae Rin untuk melihatnya, “Rin –ah, jebal. Han Jae Rin ku mohon.” Tegas Kai dengan segenap tatapan penuh harapnya.

“KITa BERPISAH! APA KAU TULI!” Jae Rin tiba – tiba membentaknya. Emosi gadis itu kian meluap dengan air mata yang terus mengalir.

Jae Rin mendorong Kai sedikit keras agar menjauh dari sisinya.

“Han Jae Rin dan Kim Jong In, tidak akan pernah menjadi kita. Mengerti! Hiks..” Jae Rin bergegas pergi.

“Han Jae Rin!” Kai menarik kasar pergelangan tangan Jae Rin.

Jae Rin kembali menoleh. Ia menyipitkan kedua matanya karena lampu sebuah mobil menyinari mereka, sebuah mobil yang akan melintasi pohon pinus yang menutupi mereka.

“Lepas.” Tukas Jae Rin lirih.

Kai hanya menoleh sesaat, genggamannya menjadi mengendur karena mereka bisa saja terlihat dengan lampu jalan yang begitu terang benderang.

Jae Rin lebih dulu melepaskan tangannya. Gadis itu membetulkan letak topi yang ia kenakan, dan mulai melangkah pergi.

“Rin – “ Kai menahan keinginannya untuk mengejar Jae Rin yang sudah berlari menuju jalan yang disinari oleh setiap lampu jalan. Mustahil jika Kai harus mengejarnya dan terlihat oleh orang – orang yang berlalu lalang disana.

Kai meremas rambutnya frustasi, “arrgh!” ia menghentakkan kakinya pertanda rasa amarah mulai menguasai.

Tak ada yang dapat ia lakukan kecuali menunggu hari dimana ia memiliki kesempatan untuk pulang ke rumah. Namun hari itu masih cukup jauh dari harapan karena EXO masih memiliki serangkaian kesibukan hingga berpuluh – puluh waktu ke depan.

Drt – drt

Kai mengusap kasar layar ponselnya.

“Oh Sehun

Kau dimana? Cepatlah pulang.”

Sebuah pesan singkat yang nyaris membuat Kai semakin berapi – api.

“Dia bodoh atau idiot? Bagaimana aku bisa pulang dengan cepat!” Kai mengutuk si pengirim pesan singkat dengan menatap jalanan kosong yang terbentang dihadapannya.

“Shhh! Aish jinjja!” Kai masih memutar otaknya untuk mengingat – ingat sebuah nama yang bisa menjemputnya disini.

Kai melihat semua nama yang terdapat pada daftar kontak ponselnya. “Seunghwan hyu –“

Tin!

“Omo!” Kai terhentak hebat ketika sebuah klakson mobil terdengar keras.

Kai menajamkan penglihatannya untuk melihat ke dalam mobil yang baru saja berhenti di hadapannya. Lampu di dalam itupun dinyalakan oleh seseorang yang duduk dibangku kemudi

“Naaiklah.”

“Noona.” Suara dan sosok itu pun membuat keraguan Kai lenyap.

“Yaegi noona, bagaimana kau bisa  -“

“Ayo cepat. Ku lihat beberapa gadis sedang bersepeda disana.” Yaegi menunjuk arah belakangnya.

Tanpa berpikir panjang, Kai langsung berlari kecil dan  masuk ke dalam mobil.

Tap! Suara pintu mobil yang tertutup rapat. Mobil sedan putih itupun kembali melaju.

“Gomawoyo noona.” Kai memecah keheningan.

Yaegi yang sedang fokus menyetir memberi anggukan kecil. “Hmm.”

Kai hanya melirik Yaegi sekilas, tak ada hal yang bisa ia perbuat untuk mengisi obrolan.

“Tindakanmu tadi sangat berbahaya.” Tukas Yaegi secara tiba – tiba.

Kai kembali menoleh, “hmm, aku terpaksa.” Sahut Kai ragu.

Yaegi menarik senyumannya, itu terlihat jelas dari sisi samping wajahnya.

“Jadi kau bertemu dengan kekasih mu? Han Jae Rin.” Yaegi mulai membuat suasana menjadi hangat.

“Pasti kau diberitahu oleh si Hun kan?” Kai langsung bersugesti.

Yaegi mengangguk tanpa ragu, “lalu darimana lagi? Sudahlah, Sehun hanya memberitahu namanya saja. Tidak yang lain.”

Kai memutar sedikit posisi duduknya agar menjadi menyamping menghadap Yaegi yang sedang memutar stir menuju arah gerbang apartement.

“Noona, jadi kau tinggal lagi bersama kami? Ah ani, maksudku kau tinggal lagi diapartement yang sama lagi dengan kami?” Kai mencoba mengalihkan pembicaraan.

Yaegi mengangguk pelan, “seperti yang kau dengar. Aku membutuhkan tempat tinggal ketika aku bekerja.”

“Dan diakhir pekan kau akan kembali ke Guangzhou? Setiap hari seperti itu?” tanya Kai dengan sangat berhati – hati.

“Hmm.” Yaegi hanya mendeham, seraya mengangkat kedua alisnya.

“Kita sudah sampai.” Yaegi tidak masuk ke dalam basement. Melainkan hanya mematikan mesin mobil tepat didepan pintu lobi apartement.

“Ah ye.” Kai melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil.

Ia mendapati sosok seseorang berjalan keluar dari lobi, dan sepertinya untuk menghampiri ia dan Yaegi.

“Cepat sekali..” sosok tersebut berbasa – basi sambil menerima kunci mobil yang disodorkan oleh Yaegi.

“Gomawo. Kau tidak jadi bermalam diapartement baruku? Ayolah.” Yaegi menggandeng hangat lengan gadis yang lebih tinggi darinya itu.

Sosok itu menggeleng, “aku harus menjemput eomma di bandara. Ah ya, Lian oppa sudah pulang. Anak – anak sudah di atas. Apartement yang cukup nyaman. Kalau begitu, aku permisi sekarang ya.”

“Sekali lagi terimakasih Daeshi –ya.” Yaegi menepuk pundak sosok psikolog muda Lee Daeshi, yang sudah beberapa waktu terakhir menjadi temannya.

“Itu bukan masalah. Aku pergi. Bye!” Daeshi bergegas masuk ke dalam mobil tanpa menyapa Kai sama sekali.

Kai yang juga sama sekali tidak mengenal Daeshi hanya menatap sepintas. Usai mobil Daeshi berlalu dari area apartement, ia dan Yaegi berjalan masuk melalui pintu lobi.

“Sepertinya teman – temanmu yang lain sudah sampai.” Yaegi melihat dua Van hitam yang terparkir rapi di basement apartement.

Kai mengangguk tak bersemangat, bayang – bayang Jae Rin kembali memenuhi pikirannya. “Hmm, ya.”

Yaegi menepuk punggung Kai, “jangan khawatir, aku sudah mengatakan sesuatu sehingga kau tidak akan dimarahi. Sudah, ayo.” Yaegi menarik Kai masuk ke dalam lift.

Tanpa Kai dapat mengendalikan hati dan pikirannya, tiba – tiba sesuatu tebersit begitu saja ketika ia memandang sosok Yaegi yang kini berada tepat disampingnya.

“Seandainya saja kau bisa bertahan seperti Yaegi noona, Rin –ah..”

***

Sementara itu di apartement baru Yaegi …

Cekikikan tawa memenuhi ruang tengah apartement yang baru saja dihuni itu. Dua orang balita menggemaskan tak henti – hentinya tertawa hingga wajah mereka nyaris memerah, Wu Geum Chan & Wu Geum Sha.

“Lian .. Lian .. lihat ini. Ini pororo, ini pororo, ku bilang ini pororo..”

“Pororo ya? Ahakhakhak..”

“Popo popo ahakhakhak..”

Geum Chan & Geum Sha masih belum bisa berhenti tertawa ketika menunjuk gambar pororo yang ada di baju piyama mereka.

“Wu Sha satu kancingan lagi … yap! Selesai.” Lian telah selesai mengancing baju piyama mungil yang dipakai oleh Geum Sha.

Kedua balita kembar itu kini telah berganti pakaian dengan piyama bermotif pororo yang serupa.

“It’s bed-time! Go go kita tiduuurrr… “ Lian sedikit kerepotan untuk menggiring kedua ponakan kesayangannya itu untuk masuk ke dalam kamar.

“Lian, eomma eodiseo? Eommaneun.. “ Geum Chan mengeraskan langkahnya, ia enggan untuk masuk ke kamar.

“Eomma sebentar lagi pulang. Aku akan membuat susu, kalian duduk disini. Mengerti?” Lian menuntun ChanSha untuk duduk di depan TV, menunggu ia kembali dari dapur.

“Pororo.. pororo… Liaaann! Pororo… “ Geum Sha masih berteriak menunjuk bajunya.

“Ya. Pororo kan? Aku sudah tahu.” Lian menggeleng sambil terkekeh melihat tingkah Geum Sha dan Geum Chan yang terkadang membuatnya nyaris menyerah.

Sementara menunggu sang paman membuat susu, ChanSha memperhatikan sekitarnya sesaat. Mereka mulai merasakan suasana yang berbeda. Geum Chan menoleh ke belakang, sesuatu menarik perhatiannya. Pangeran kecil itu mulai mengangkat pantatnya untuk bangun.

“Oppa, oppa.. “ Geum Sha memanggil Chan dengan sangat jelas. Peri kecil nan menggemaskan kesayangan Kris itu ikut bangun mengikuti sang kakak.

“Oppa..eodiya?!” Geum Sha berdiri dibelakang Geum Chan yang mencoba meraih sesuatu dari atas buffet dengan kedua kakinya yang berjinjit.

“Appa.. appa igeon appaneun.. appa bulchiyaneunde..”

“Appa? Appa nugu? Appaneun nuguchinka? Pororo .. “

(-_-‘ )

Sepasang bayi kembar itu mulai mengeluarkan bahasa burungnya.

Bunyi pintu dan derap langkah seseorang mengalihkan perhatian Geum Chan dam Geum Sha dalam sesaat.

“Eomma!”

“Kyaaa eommaaaa!”

Dua malaikat kecil itu langsung berhamburan menuju sosok yang baru saja terlihat dari balik pintu.

Yaegi berjongkok untuk menyambut pelukan kedua buah hatinya itu. “Aigo aigo.. kalian belum tidur, hmm?”

“Appa.” Geum Chan menunjuk atas buffet.

“Appa nugu? Eomma pororo, igeon pororoneun.. eommaa!” Sementara Geum Sha terus memaksa Yaegi untuk melihat piyama barunya yang bermotif pororo.

“Ah iya, bagus sekali. Siapa yang membelinya ?” Yaegi merespon.

“Lian.” Geum Sha menjawab spontan sembari menunjuk arah dapur.

Geum Chan menarik Yaegi agar mengikutinya, “eomma.. appa igeon, appa..” pangeran kecil itu kembali berjinjit untuk meraih sesuatu di atas buffet.

“Appa tidak disini nak. Besok kita pulang, dan bertemu appa. Hmm? Ayo kemari.” Yaegi mengusap sayang puncak kepala ChanSha bergantian.

“Chiya. Appa. Appa!” Geum Chan menarik tangannya dari genggaman Yaegi. Ia masih bersikeras menunjuk arah atas buffet.

Yaegi bergidik bingung. Biasanya Geum Sha yang akan bertingkah seperti itu.

“Appa tidak ada disini Chan. Jika Chan ingin bertemu appa, harus tidur sekarang. Ara?” Yaegi mencoba membujuk putra kecilnya itu.

Geum Chan hanya menundukkan  kepalanya, “chiya.”

“Wo de papa, wo de papa.. eomma eomma..” Geum Sha kini ikut merengek.

Yaegi merasakan kepalanya mulai berdenyut. Jika rengekan Geum Chan masih dapat ia dengar, tetapi tidak dengan teriakan Geum Sha.

“Jika tidak ada yang mau mendengar eomma, eomma pergi saja.” Yaegi beranjak dari posisinya yang semula berjongkok.

ChanSha hanya memperhatikan sosok sang Ibu yang beranjak pergi meninggalkan mereka menuju kamar.

“Sudah pulang?”

Langkah Yaegi tertahan ketika ia berpapasan dengan Lian yang baru saja keluar dari dapur dengan dua botol susu di tangannya.

Yaegi memijat pelan pelipisnya, “hmm. Baru saja. Kau tidak bermalam di Suwon?”

Lian menggeleng pelan, ia menghampiri ChanSha untuk memberikan susu mereka. “Tidak. Aku bermalam disini, bolehkan?”

“Hmm. Aku istirahat duluan, kepalaku pusing.” Yaegi hendak melenggang menuju kamar.

“Hey! Anak mu nona!”

Lagi – lagi gerak Yaegi tertahan. Kali ini Lian sedikit menekankan intonasi suaranya.

Yaegi menatap ChanSha bergantian. “Appa  eodiseo, appa eodiseo. Hanya itu yang akan mereka katakan padaku.” Yaegi bergidik kesal. Sifat kekanak – kanakan ibu dua anak itu kembali terlihat.

Lian meraih sesuatu dari atas buffet tanpa merespon perkataan Yaegi.

“Kalian mau bertemu appa?”

ChanSha langsung menghentikan aktifitas minum susu mereka ketika mendengar ucapan Lian.

“Appa..”

“Wo de papa..”

ChanSha benar – benar mengabaikan Yaegi. Dua malaikat kecil itu mengikuti Lian menuju sofa dengan sebuah note ditangannya.

“Nahh, sebentar. Aku akan menyulap layar ini menjadi wajah appa kalian.” Lian mulai menghubungkan video call.

Tersambung.

“Hmm, kena – “

“Appa!”

“Wo de papa!”

Suara dan wajah Kris yang semula malas untuk menerima video call dari Lian, kini berubah terkejut.

“Appa…”

Wajah ChanSha tentunya memenuhi layar ponsel yang dipegang oleh Kris saat ini.

“Hi kids! Kalian belum tidur? Ini sudah malam.” Kris melambaikan tangannya seraya tersenyum sumringah melihat dua malaikat kecilnya yang tak kalah berbinar ketika melihat wajahnya dari layar note.

“Wo de papa..” Geum Sha berusaha menarik note dari tangan Lian.

“Wu Sha hati – hati, itu mahal.” Lian mengawasi kedua ponakannya itu.

Terlihat tatapan Kris sesaat menuju pada Lian, “perhitungan sekali kau.” Tukas Kris ketus.

“Apa kau pikir biaya panggilan internasional itu tidak mahal? Kau yang pelit. Menghubungi anakmu saja tidak bisa.” Kata – kata Lian kali ini sedikit menusuk bagi Kris, namun ia tetap berusaha terlihat keras kepala.

“Jika saja kau tidak lebih dulu menghubungiku, aku sudah lebih dulu menghubungi mereka.” Jawab Kris acuh.

“Menghubungi ku maksudmu?” Lian terkekeh seraya melihat Yaegi yang ternyata masih berdiri dibelakang sana.

Kris memutar otaknya untuk menjawab Lian, “hmm, ponselnya tidak bisa dihubugi. Dimana dia?”

“Dia siapa?” tanya Lian cepat.

“Appa eodiya?” Geum Chan mendekatkan wajahnya ke layar note.

“Appa dirumah. Segeralah pulang, appa menunggu kalian. Oke?”

“Ne.” suara Lembut Geum Chan membuat Kris tersenyum senang.

Seketika perhatian Geum Sha teralihkan ketika mendapati Yaegi yang masih berdiri di dekat pintu kamar.

“Eomma!” Geum Sha menunjuk sang ibu.

Kris ikut terlihat celingukan dari balik layar note, “dimana eomma nak? Ayo panggilkan eomma.” Kris bersemangat.

“Yayaya.. sepertinya aku harus pergi.” Lian beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Yaegi, “ayo bicaralah.” Lian mencoba membujuk Yaegi.

Yaegi masih berdiri tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Lian melihat sekilas pada ChanSha yang masih menikmati video call bersama Kris, “Daeshi tidak mengatakan apapun padamu? Dia tidak menjelaskan jika pertengkaran orang tua tidak patut untuk diperlihatkan di depan anak – anak? Sepertinya nilai F memang selalu cocok untuk gadis itu.”

“Mwo?” Yaegi seperti mendengar sesuatu yang tak ia mengerti.

Lian kelepasan bicara, “ah sudah, lupakan. Jika tidak ingin berbicara, maka segera putuskan sambungannya. Ku lihat kalian lebih kekanak – kanakan dibandingkan ChanSha.” Lian terlihat kesal. Laki – laki itu langsung menarik knop pintu kamar dan menghilang dibaliknya.

“Shhh, kenapa dia marah – marah?” Yaegi menatap aneh pintu kamar Lian.

“Eomma!”

Lagi – lagi suara ChanSha berteriak memanggilnya. Yaegi menjadi serba salah. Ia tidak mungkin pergi kesana, karena ia memang sedang tidak ingin mengatakan hal apapun. Tapi Yaegi juga tidak mungkin meninggalkan ChanSha disana sendirian bersama note milik Lian.

“Eomma..”

ChanSha berlarian menghampirinya.

“Eomma, nahh..” Geum Sha menyodorkan note yang ia pegang kepada Yaegi.

“Eh?” Yaegi semakin tidak bisa berbuat apapun. Terlebih ketika matanya berpapasan dengan wajah Kris dari layar note.

“Jangan dimatikan.”

Kris bertitah cepat. Ia tahu persis apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.

Usai memberikan note pada Yaegi, ChanSha kembali melanjutkan aktifitas dengan kedua botol susu mereka. Dua malaikat kecil itu seakan mengerti jika kedua orang tuanya perlu seorang pendamai -_-

Yaegi perlahan mengangakat layar note ke hadapannya,  ia memberanikan diri untuk manatap wajah Kris disana.

“Kenapa tidak menjawab telfonku?” lagi – lagi Kris langsung menyerangnya.

Yaegi memutar bola matanya, ekspresi wajahnya berubah malas.

“Untuk apa?” sahutnya sinis.

“Jadi kau masih mempermasalahkan hal itu!” suara Kris terdengar kesal.

Mendengar perkataan Kris membuat kedua mata Yaegi seakan mengeluarkan kilatan tajam.

“Jadi kau menganggap itu bukan masalah! Itu kenapa alasannya aku muak –“ Yaegi menghentikan ucapannya ketika mendapati ChanSha kini sedang memandang padanya.

“Uhm.. “ Yaegi mulai kikuk. ChanSha masih terus memperhatikannya.

Yaegi memutar kedua bola matanya sejenak, ia harus berpikir cepat.

“Ah, appa.. ChanSha harus tidur sekarang. Sampai jumpa dirumah appa. Cha.. sayang, ayo katakan selamat malam pada appa..” Yaegi menyodorkan note ke hadapan ChanSha.

“Hei hei.. iya selamat malam sayang. Tapi jangan dimatikan, Cho Yaegi! Hei!” suara Kris terdengar panik.

Yaegi tersenyum manis pada kedua buah hatinya, “sudah kan? Sekarang kita tidur ya.”

Ketika menatap layar note, wajah yang semula menjelma sebagai ibu peri kini berubah mengerikan.

“Yaegi – ya, aku belum selesai –“

Bip.

Yaegi lebih dulu memutuskan sambungan video call nya.

***

Di waktu yang sama..

Dorm EXO

“Benarkah? Benarkah mereka tinggal di depan apartement kita? Ah, hyung! Katakan sesuatu hyung!”

Tao sejak tadi terus mendesak Suho untuk bersuara menjawab pertanyaannya.

Sehun menutup komik yang sedang ia baca, “hei Zitao, kau ini cerewet sekali. Ya, memang benar. Lalu kenapa? Aku dan Jong In tadi pulang bersama mobil Yaegi noona.” Sehun menunjuk – nunjuk Tao dengan lollipop yang sedang ia nikmati.

Tao memejamkan mata frustasi, “jadi itu benar? Woah .. sulit dipercaya.”

“Apanya yang sulit dipercaya? Kau ini terkadang sangat berlebihan. Noona mau tinggal dimana saja itu urusannya.” Sehun mulai mencerca.

“Hei hei kau magnae! Kenapa bicaramu jadi ketus seperti itu?!” Baekhyun melempar bantal yang semula ia tiduri ke arah Sehun.

“Hei hei ByunBaek itu bantalku!”

Baekhyun langsung tersenyum lebar pada Chanyeol yang sudah memplototinya. “Mian ParkChan.”

“Hei hei ini sudah pukul berapa? Hei hei ayo tidur. A- yo what’s up a-yo this is Chen EXO rapper yooo..”

“Aaaak! Jong Dae kau!”

“Eoh! Bwahahaha! Mian hyung, aku tidak sengaja.”

Seketika memberdeul terhenyak ketika suara teriakan Xiumin memenuhi dorm. Disusul oleh tawa Chen yang semula berniat beranjak untuk masuk ke kamar sambil bernyanyi tanpa melihat kaki Xiumin.

“Jong In kau sakit?”

D.o baru menyadari jika salah satu dari mereka tak bergeming sejak tadi.

“Sakit hati.” Sahut Sehun seenaknya.

“Hun..” Suho menyikut lengan Sehun.

Tao celingukan melihat ke  arah kamar Luhan.

“Manajer hyung masih di kamar Luhan – ge ya? Xing –ge, didapur ada sampah tidak? Mana, aku akan membuangnya sekarang.” Pinta Tao bersemangat.

Semua mata memberdeul langsung tertuju pada sosok Tao yang berdiri ditengah – tengah mereka.

“Tempat pembuangan sampah di Incheon. Kau mau ke Incheon dengan sepedamu Tao?”

Suara Seunghwan manajer menginterupsi.

“Hyung..” Tao tak jadi berkutik.

“Kondisi Luhan sudah lebih baik dari tadi siang. Kalian semua, segeralah istirahat. Aku keluar sebentar.”

“Kemana?”

Tao dan Suho bertanya bersamaan.

Itu semakin membuat memberdeul terheran – heran.

Seunghwan mengernyit penuh tanya, “kalian bertanya padaku?” sindirnya tajam.

Hening. Tak ada yang menjawab.

“Yasudah, aku akan kembali ke kantor sebentar, lalu segera pulang. Masuklah ke kamar kalian. Kali ini saja mendengarkan manajer busuk ini.” Seunghwan berkacak pinggang.

Sehun segera menutup komiknya, dan meletakkan kembali ke rak komik yag terdapat diruang tengah.

“Kau sakit Jong In –ah?” tanya Seunghwan dengan nada menyindir.

Kai mendongak pelan, “tidak hyung. “ ia lekas beranjak menuju kamarnya.

Seunghwan memberikan anggukan kecil, “kalau begitu, aku pergi sekarang. Matikan TV, tidak ada game, tidak ada tidur larut malam.”

“Yeee hyunggg.” Sahut memberdeul serempak.

Seunghwan pun beranjak pergi.

Bam.

Suara pintu keluar apartement menandakan Seunghwan telah pergi.

Memberdeul sesaat saling bertatapan satu sama lain. Selang 10 detik berikutnya…

“Sungguh? Yaegi –ssi tinggal disini juga?”

“Aigoo.. ini sulit dipercaya.”

“Bagaimana bisa?”

“Lalu Kris hyung juga?”

“Aih itu mana mungkin.”

“Yaegi –ssi tidak kemari ya?”

“Entahlah. Mungkin dia masih marah.”

“Marah kenapa?”

“Molla.”

Kesepuluh namja yang semula sudah beranjak dari ruanga tengah, kini kembali duduk pada sofa dengan raut wajah seorang ahjumma yang sedang bergosip.

Semuanya begitu bersemangat, kecuali Kai. Namja itu terlihat datar setiap kali merespon pembicaraan member lainnya.

Pikirannya saat ini terasa semakin kalut. Rasanya ia belum dapat menerima keputusan Jae Rin yang sepihak itu. Rasa geram, amarah, bercampur bingung membuatnya semakin gelisah. Pikirannya semakin terberai entah kemana. Hanya satu hal yang saat ini ada dipikirannya, yaitu sesuatu yang bisa membuat Jae Rin menarik kembali kata – katanya.

Tiba – tiba sesuatu terlintas begitu saja dari pikiran Kai.

Sesaat ia memperhatikan sosok Suho, memandang lebih lama..

Lalu ia menoleh sejenak pada pintu kamar Luhan yang tertutup rapat. Pikirannya semakin menerawang jauh..

 

“jangan khawatir, aku sudah mengatakan sesuatu sehingga kau tidak akan dimarahi. Sudah, ayo.”

 

Hinggga, suara dan sosok Yaegi berkelebat memenuhi pikirannya secara tiba – tiba.

“Yaegi noona.” Batin Kai berbisik.

“Kris hyung.” Batinnya kembali berbisik.

Kai perlahan beranjak dari tempat duduknya tanpa menghiraukan mereka yang masih membicarakan sesuatu yang tidak ia mengerti.

Hingga..

“AAAAKKK!” teriakan D.o menggelegar.

Semua memberdeul tersentak hebat.

“Aihh! Ada apa?”

“Wae geurae Kyungsoo –ya?”

Mata bulat D.o seperti ingin keluar dari tempatnya, dengan tergagap D.o menunjuk arah pintu apartement.

“J-jong In.. DIA PERGI!” teriak D.o histeris.

Chanyeol dan Xiumin spontan menutup telinga bersamaan.

“Jangan berteriak!” bentak Lay dengan wajah yang memerah.

“Ini gawat! Ini gawat HYUNG!” D.o mulai panik.

“Gawat kenapa? Tolong hilangkan sifat ahjumma mu ketika berbicara Do KyungSoo!” Baekhyun ikut membentak.

Sehun menarik lollipop dari dalam mulutnya, “dia sepertinya baru saja patah hati.”

“MWO?” memberdeul semakin tak mengerti.

“AAK! Jadi benar?” D. kembali histeris.

“OUH YAK! SUARAMU!”

D.o meraih jaketnya yang tergeletak dilantai, ia seperti hendak beranjak pergi.

“Kyungsoo-ya, kau mau pergi kemana?” Chen semakin bergidik bingung.

Langkah D.o terhenti, ia menatap memberdeul dengan tatapan frustasi.

“APA KALIAN TIDAK TAU! DIA CIDERA, KAKINYA PATAH. DAN KALI INI BISA SAJA DIA BUNUH DIRI!”

“MWOYA??!!!!”

To Be Co

 

Note :

Untuk yang kangen ChanSha dan keluarga. Noh udah nyempil dikit yak. Keep calm, series YaeFan akan selalu hadir setelah series lain selesai.

Sedikit gambaran untuk karakter Jong In disini.

Jae Rin itu sangat berpengaruh bagi Kai. Jadi wajar aja, kalau disini karakter Kai terlihat sedikit linglung. Yang lainnya, tebak & ikuti terus ya. Keep stay! J

 

Yang punya LINE. Yuk join di grup reader YaeFan & EXO

Add : ulfamuriza117

See ya soon! ^^

LOVE YA!

 

 

109 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 3

  1. masih ga ngerti nih eonni hehe . aku gatau masalah apa yg sedang melanda exo , luhan sakit? sakit apa? si kai kakinya beneran patah? astaga . banyak amat masalah yg ada wkwk , kris yaegi knpa lagi? cpt baikan deh klo bsa , itu si chansa lucu bngt , umur mereka bru 1 thun 3 bln matjo? kkk

  2. Ouuh si chansha lucunya..
    Kris yaegi ada mslh aplg ya ko tiba” berantem..

    Karakter jongin dsni msh belum bsa dihayati.. Mgkn karna msh dipart” awl yaah.. Emmm next baca ya

  3. tapi kenapa yaegi keliatannya marah ya sama fanfan, gara” dia out kah dari exo apa gimana….. wah spertinya aku harus baca ulang series sebelumnya ya -_-”
    aku suka penggambaran karakter kai di story ini.

  4. Aduuhh…yaegi -kris lagi ada masalah yah? #Kepo kepo…kai juga kenapa kakak? Masih bingung baca nya soalnya baru mulai udh lgsg lompat ke chapt ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s