EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 5

5738_757117507648989_1240196035_n

 

Author / Script Writer : Ulfa Muriza

Poster by : Tiara / Han Jae Rin

Rate : M (berhubung udah masuk YaeFan -_-)

Genre : Family, Friendship, romance, sad, ( – marriage life )

Cast :

– Kim Jong In / Kai

– Han Jae Rin / OC

– Lee Dae Shi / OC

– YaeFan / Cho YaeGi – Wu Yi Fan / Official Couple 😀

– Yoon Soo Hee / SM’s Model

– EXO

– Another Cast

TYPO EVERYWHERE!

***

Flashback

 

 

 

Yaegi mempersilahkan Kai untuk duduk. Sementara Lian memilih untuk masuk ke dalam kamar karena ia merasa tidak memiliki kepentingan apapun. Meski, rasa penasarannya sudah menduduki level tingkat akut.

“Duduklah.”

Nde.”

Yaegi menunggu Kai untuk berbicara.

Nnu-na..”

Panggil Kai ragu. Ia bahkan sulit untuk memandang Yaegi yang ada di depannya.

Nde, bicaralah.”

Yaegi menyahut pelan. Ia semakin bertanya – tanya di dalam hatinya, perihal apa yang membawa Kai nekat untuk mengetuk pintu apartementnya di malam hari tanpa Oh Sehun.

Kai menghela nafas pendek sebelum kembali mengucapkan sesuatu, “nuna, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

“Ya, tentu.” Yaegi memberi anggukan kecil.

Kai memberanikan diri  untuk mendongakkan wajahnya yang sejak tadi hanya menunduk, “nuna kau masih menjadi investor disana?”

Ada sedikit guratan heran dari wajah Yaegi, “kenapa Kai?” Yaegi tak langsung memberi jawaban pasti.

Kai sangat sulit untuk mengutarakan secara langsung, terlebih ia dan Yaegi tidak memiliki komunikasi yang baik beberapa waktu ini.

Nuna, bisakah kau menjawabku lebih dulu?” tanya Kai gugup bercampur rasa takut. Takut jika Yaegi akan tersinggung oleh ucapannya.

Yaegi menurunkan kakinya yang semula duduk bersila, wajahnya berubah serius.

“Aku akan resign pada pertemuan direksi besok pagi. Kenapa kau bertanya tentang itu Kai?” tanya Yaegi lagi.

Andwaeyo nuna.”  Kai menyanggah secara spontan.

Yaegi menautkan alisnya, “waeyo? Apa terjadi sesuatu?”

Nuna kau tahu jika Kim Young Min adalah pamanku? Kau tahu itu?” Kai berucap tak karuan. Ia tidak bisa lagi berpikir, atau menyusun kata – kata yang pas.

Yaegi mengangguk, “ya, aku tahu.”

Nuna bisakah kau tetap disana dan tidak resign? Paman, pamanku – ”

“Kenapa dengan pamanmu Kai?”

Mata Kai berubah berkaca – kaca. Yaegi semakin kebingungan melihat sosok namja yang lebih mudah setahun darinya itu.

“Kai –ya? Gwaenchana?” Yaegi mulai khawatir melihat  Kai yang berubah nanar.

Kai menggeleng, ia menyeka titik air mata yang baru saja meluncur bebas di wajahnya, “aniya nuna, hiks..”

Yaegi beranjak dari duduknya, ia menghampiri Kai dan berjongkok di samping namja itu. “Nuna tolong aku, bantulah aku nuna.” Kai berbalik dan meraih kedua tangan Yaegi.

Yaegi terperanjat kebingungan, “iya, aku akan membantumu. Tapi kau belum mengatakan apapun Kai. Kenapa dengan Kim Young Min –ssi? Apa yang terjadi? Uh?” Yaegi mulai tidak sabaran.

“Paman sedang merencanakan sesuatu. Han Jae Rin, nuna tahu nama itu kan? Dia juga trainee sebelum didebutkan seperti kami. Jae Rin ditransfer ke manajemen lain karena paman tidak menyetujui hubungan diantara artis se-agensi. Tapi lihatlah sekarang nuna, semuanya menjadi kacau balau. Ku rasa ini tidak adil. Han Jae Rin, aku sangat menyukainya nuna, hiks.. sungguh, aku – hiks..” Kai terisak hebat ketika hendak melanjutkan kalimatnya.

Kebingungan Yaegi semakin bertambah, “Kai –ya, ssst.. jangan menangis. Tenanglah, semua ini pasti akan ada jalan keluarnya, uh? Jangan menangis lagi. Sebentar, akan ku ambilkan air –“

Nuna,” Kai menahan Yaegi untuk bangun dari posisinya.

Yaegi masih tidak mengerti apa dimaksud oleh Kai. Tebersit sekilas dalam pikirannya, ini karena Kai sedang mengalami fase putus cinta, ya begitulah sosok Kai saat ini. Ia terlihat labil, dan tidak dapat mengontrol emosinya.

“Kai –ya..” Yaegi mengusap hangat pundak Kai. Meminta Kai untuk menatapnya.

“Bisakah kau memberiku satu alasan kenapa kau memintaku untuk tidak resign? Tenanglah, jangan menangis lagi. Ya! Kim Jong In..” tangan Yaegi beralih mengusap – usap punggung Kai. Namja itu kembali terisak.

 

Yaegi bersabar menunggu Kai hingga ia  berubah sedikit tenang.

“Hiks, nuna..”

“Hmm, beritahu aku.”

“Jangan mengatakan hal ini pada siapapun. Aku mempercayaimu sepenuhnya.”

Arayo.”

“Kris hyung memilih untuk keluar karena kontrak yang tidak sesuai. Baekhyun hyung – Taeyon nuna harus berkencan untuk perolehan saham yang semakin tinggi. Paman tidak bisa melakukan itu pada Luhan hyung karena Nana nuna adalah sepupuku. Ayah nana nuna akan ikut turun tangan jika paman mengacaukan pertunangan Luhan hyung.”

“Lalu?” Yaegi menyimak setiap kalimat yang Kai ucapkan. Ia semakin mengerti.

“Karena Luhan hyung tidak bisa, maka aku, aku harus menggantikannya.”

“Berkencan maksudmu?”

“Hmm.”

Yaegi menghela nafas frustasi. Ia tidak menyangka jika hingga kehidupan pribadi pun harus selalu dikorbankan.

“Mungkin saja paman ingin memberimu langkah yang lebih baik, bisa saja kan?” Yaegi memberikan sugesti positif.

Kai menggeleng cepat, “aku tidak melakukan ini agar aku dan Jae Rin tetap bisa bersama, tapi aku tidak mau nuna! Aku tidak mau sama sekali berkecan dengan Bomi atau siapapun itu!”  wajah Kai memerah, ia semakin kalut.

“Bomi? Aku seperti pernah mendengar hal ini sebelumya. Chorong dan Luhan –“

“Ya, kau benar nuna. Paman akan melakukan apa saja agar semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Aku tidak memiliki akses apapun untuk menyampaikan ini pada Lee Soo Man-nim. Nuna, ku mohon..”

Yaegi menelan getir salivanya. Ia merasa prihatin dengan ketidakadilan yang saat ini tengah mewarnai agensi ternama itu.

“Apa yang bisaku lakukan Kai? Aku pun bukan orang yang paling berpengaruh disana.” tanya Yaegi setengah tak yakin.

Nuna kau harus memiliki artis yang bisa kau sponsori. Dengan begitu setengah dari wewenang akan selalu menunggu jawaban pihak sponsor jika agensi ingin mengikat kerjasama dengan agensi lain. Seperti Woolim saat ini.”

Ne? Aku investor Kai, aku tidak memiliki kredibilitas dalam mensponsori seorang artis. SM tidak akan memberikan wewenang seperti itu pada investornya.” Yaegi menjelaskan panjang lebar, meskipun mungkin Kai tidak paham betul apa inti dari pembicaraannya.

“Lakukan sesuatu nuna. Ku mohon, bantulah kami..”

Yaegi diam tak bergeming, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Kai.

“Kau bisa membawa pergi Kris hyung dari sana karena kau memiliki kekuatanmu sendiri. Lalu bagaimana jika keberuntungan itu hanya ada pada Kris hyung saja? Nuna, ku mohon..” Kai terus mendesak Yaegi.

Perasaan Yaegi seakan terenyuh mendapati pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Seorang main dancer EXO, sedang memohon padanya demi kepentingan pribadinya, tidak,  tapi untuk mereka semua.

“Tapi Kai aku memiliki keluarga. Bagaimana aku mengatakan ini pada Ibu mertua –“

“Lalu kami bukan keluarga bagimu? Apa Kris hyung  membenci kami? Nuna..” air mata Kai kembali tumpah.

“Kai –ya..” Yaegi meremas kuat tangan Kai, ia tidak bisa menyaksikan pemandangan seperti ini lebih lama lagi.

“Yaegi nuna jebal.. “

Pikiran Yaegi semakin bercampur aduk, ia tidak bisa memberikan jawaban sesingkat itu.

“Aku akan menghubunngi Kris hyung, aku akan mengatakan langsung padanya..”

Yaegi mendongak tak percaya, “apa yang akan kau lakukan Kai? Tenanglah, aku akan mencoba membantumu untuk mencari jalan keluarnya.”

Nuna, aku hanya mengetahui perusahaanmu. Appa dan eomma justru tidak mau tau soal ini. Nuna, ku mohon..”

 

Flashback End

 

Yaegi duduk pada tepi tempat tidur dengan raut wajah gusarnya.  Sesekali ia memanjangkan leher untuk melihat ke sisi teras depan kamarnya. Menunggu Kris kembali masuk ke dalam setelah berbicara dengan Kai melalui telfon.

 

Sret –

Bunyi pintu kaca yang tergeser membuat Yaegi segera bangkit.

“Apa yang Kai katakan?” tanya Yaegi penuh rasa was was.

Kris meletakkan ponselnya ke atas meja rias, “kau yang mengatakan apa padanya?”

Yaegi terlonjak  mendengar Kris bertanya ketus padanya.

“Kenapa jadi marah – marah?” Yaegi balik menuding.

Tatapan Kris melemah, ia berjalan menghampiri istrinya itu.

“Tidak, aku tidak marah. Kenapa kau sensitif sekali, hmm?” Kris menyolek ujung hidung Yaegi dengan telunjuknya.

“Ck, lalu bagaimana sekarang?” Yaegi kembali duduk di tepi ranjang, disusul oleh Kris yang juga ikut duduk disampingnya.

Kris merangkul Yaegi, sedikit menarik yeoja itu agar lebih rapat dengan posisinya, “SM pasti memiliki kebijakan sendiri untuk itu. Mungkin fokus Kai terpecah karena dia sedang ada masalah dengan kekasihnya itu, hmm? Ayolah, jangan terlalu pikirkan.”

Seketika Yaegi menatap Kris usai mendengarkan hal itu, “jadi kau tidak mau membantu mereka?”

“Bukan seperti itu Pikachu, tapi kau sudah berjanji pada ibu untuk menetap di Beijing.” Kris mencoba menjelaskan.

Yaegi memiringkan posisi duduknya agar menghadap pada Kris, “aku tahu Wu Yi Fan, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Kai. Aku tidak bisa. Tidak bisakah kau membantuku untuk berbicara pada Ibu? Paling tidak aku hanya ke Seoul satu kali dalam sebulan, uh?”

Kris melepas rangkulannya, “kenapa kau langsung mengiyakannya pada Kai? Kenapa tidak bertanya padaku lebih dulu?”

“Aku tidak mengiyakannya Wu Yi Fan! Tetapi aku juga tidak bisa menolaknya. Apa kau bisa melihat mereka seperti itu? Tidak akan ada Zeyang jika bukan karena Kris. Jangan pernah melupakan hal itu!”

Kris bangkit dari duduknya, “apa maksudmu berbicara seperti itu?” Kris sepertinya tersinggung dengan kalimat yang Yaegi ucapkan barusan.

“Mereka saudaramu Kris –ah, mungkin jika aku benar – benar anak dari seorang bibi pembersih dorm kita juga tidak akan menikah.”

“Cho Yaegi!” Kris gagal mengontrol emosinya.

“Ck. Aku akan menerimanya.” Yaegi berdecak kesal.

Kris membalikkan tubuh Yaegi yang hendak membelakanginya, “jangan keras kepala. Ibu akan marah besar jika kau memaksa untuk melakukan itu Yaegi –ya, mengertilah.” Kris mulai frustasi.

Yaegi menatap lekat wajah suaminya, “kau suamiku. Bisakah sekali saja kau membelaku? Mendukungku dengan apa yang ku perbuat? Kita yang menikah, kita yang menjalaninya Wu Yi Fan!”

“Aku mengerti!” Kris balas membentak Yaegi.

Yaegi membuang tatapannya ke  arah jendela kamar, lalu ia kembali menatap Kris, tatapannya berubah nanar.

“Karena ini aku menjadi muak untuk pulang!” Yaegi berjalan menuju arah lemari, ia membuka kasar lemari besar yang terletak di sudut kamar mereka.

Kris menjambak kasar rambutnya sendiri, rasa geram mulai menguasainya. Ia berjalan menghampiri Yaegi yang sedang berusaha mengeluarkan koper besar dari dalam lemari.

“Yaegi –ya, hey.. ayolah, jangan seperi ini Pikachu.” Kris mencoba untuk membujuk.

Yaegi sama sekali tidak merespon perkataan Kris. Ia menarik asal beberapa bajunya yang tergantung rapi di dalam lemari.

Kris menggeser koper itu dari hadapan Yaegi, “Yaegi –ya!” Kris menarik bahu Yaegi sedikit kasar.

Kali ini Kris berhasil menghentikan Yaegi. Sosok mungil itu kini hanya mematung dihadapannya.

“Yaegi –ya..” bisik Kris pelan.

Yaegi menatap tajam kedua bola mata Kris dengan matanya yang sudah semakin berkaca – kaca, “kau tahu? Mungkin jika ayah dan ibuku masih ada, kau juga akan merasakan hal yang sama denganku.”

“Yaegi –ya..” hati Kris terasa berkedut mendengar kata – kata Yaegi.

“Tidak akan ada pekerjaan apapun setelah kau keluar dari EXO, kau harus menghabiskan waktu bersama istri dan anakmu, jika kau tidak mendengarnya, ayah dan ibu ku juga pasti akan melakukan hal yang sama  padamu, SEPERTI YANG AKU RASAKAN SAAT INI! KAU TAHU ITU! Hiks..”

“Ssssttt! Yaegi –ya.” Secepat kilat Kris menarik Yaegi ke dalam pelukannya.

Tangisan Yaegi pun memecah disana, “hmmphiks.. hhiks ..”

“Jangan menangis, jangan seperti ini. Ssstt.. Pikachu, maafkan aku.” Kris mengecup puncak kepala Yaegi, ia menumpukan dagunya pada puncak kepala istrinya itu.

“Ssst, jangan menangis lagi. Hmm, kita akan mencari jalan keluarnya bersama – sama. Aku juga tidak memberikan komentar lebih pada Kai, aku hanya mengiyakan semua yang ia katakan.”

Seketika tangisan Yaegi berhenti, ia menolak Kris yang semula memeluknya. Yaegi memandang Kris dengan mata sembab, “kau bilang apa barusan? Kau sudah mengatakan pada Kai bahwa kita akan membantunya? Kenapa tidak bilang dari awal!”

Kris sedikit terlonjak dengan teriakan Yaegi, “kau terlalu mendramatisir keadaan. Memangnya kau mau pergi kemana malam – malam seperti ini? Ini bukan negaramu Nyonya Pikachu. Kau bisa saja diperkosa lalu dijadikan santapan babi hutan. Pria Cina sangat menyukai gadis berwajah Pikachu sepertimu. Kau tau itu, uh! Ada – ada saja.” Kris menolak pelan batang hidung Yaegi.

“Tidak lucu! Aku serius akan pergi sekarang!” Yaegi berkacak pinggang.

Kris kali ini lebih terlihat santai, ia melipat kedua tangannya memperhatikan Yaegi yang kembali menarik koper besar disana.

“Kau tidak menahanku?” pertanyaan bodoh dari seorang Cho Yaegi nyaris membuat Kris terbahak.

“Untuk apa?” Kris berpura – pura tidak peduli.

Yaegi terduduk pasrah ditepi ranjang, “sudahlah, aku lelah.” Suara Yaegi terdengar lemah.

“Tidak jadi pergi?” Kris menedang pelan sisi tempat tidur mereka.

Yaegi yang semula sudah merebahkan badannya kembali bangun, “ah Wu Yi Fan!” rengek Yaegi pada Kris.

Kris melepas tawanya, “Pikachu bodoh..” Kris melompat asal ke atas tempat tidur.

“Aak! jangan seperti itu!” Yaegi kembali berdecak kesal.

Kris membaringkan tubuhnya dalam posisi menyamping, dengan kepala yang ia tumpukan pada satu tangannya.

“Tidak ada hadiah?” Kris memandangi Yaegi yang sedang sibuk menata selimut.

Yaegi memutar bola matanya sejenak, “hadiah?”

Kris mengangguk enteng, “hmm…” ia menunjuk pipinya sendiri.

Chup –

Tanpa menunggu lama, Yaegi mengecup singkat pipi Kris.

Kris menggeleng, “no no no. Bukan seperti itu putri Pikachu.“

Yaegi menunggu kalimat lanjutan yang akan Kris utarakan.

Kris mengeluarkan smirknya, ia mengabsen sosok Yaegi dari ujung rambut hingga ujung kaki, “your body”  bisik Kris seduktif.

Blam –

Satu bantal mengenai wajah Kris.

“Mesum!”

“Hahaha.”

***

Di waktu yang sama..

Rumah sakit Internasional Busan

 

“Dokter, dia sudah siuman..”  Suster Min segera mengecek denyut nadi  pasien yang baru saja membuka matanya.

Woo Yeon mulai mengarahkan stetoskop pada si pasien, ia mulai memeriksa pasien yang terkulai lemah diruang UGD tersebut.

“Nona Han Jae Rin? Itu namamu kan?” Woo Yeon mencoba berinteraksi.

“Unghh..” pasien yang bernama Han Jae Rin itu mendesah parau, ia tampak meringis kesakitan pada saat hendak berusaha untuk bangkit dari tempat tidur.

“Nona kau tidak boleh bergerak untuk sementara waktu, kakimu masih membengkak.” Suster Min menahan tubuh Jae Rin yang hendak memaksa untuk bangun.

Jae Rin menggeleng pelan, “dokter..” bibir pucatnya bergetar.

Woo Yeon memberikan  tatapan teduhnya, “ye, agasshi. “

Jae Rin tetap berusaha untuk bangun meskipun ia merasakan sakit yang luar biasa. Perlahan tangannya mencoba meraih tangan Woo Yeon, menggenggamnya dengan sisa – sisa energi yang ada.

“A-ku.. tidak bisa , tti-dak boleh tinggal ddi – sini..” air mata Jae Rin menetes perlahan.

Hal itu semakin membuat Woo Yeon merasa iba, Woo Yeon berpikir bahwa Jae Rin memiliki hal pribadi yang mungkin bersedia untuk diutarakan padanya.

“Suster Min, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu yang lain sekarang. Terimakasih.” Woo Yeon meminta suster Min untuk meninggalkan dirinya dan Jae Rin saja secara halus.

“Ye, aku mengerti.” Suster Min meraih papan yang berisi catatan pasien yang selalu ia bawa kemanapun, dan beranjak pergi dari bilik Jae Rin.

Eonni..” Jae Rin memanggil Woo Yeon lirih.

Woo Yeon sempat mengernyit sesaat, “ne?”

“Boleh aku memanggilmu seperti itu? Kau terlihat masih muda sekali. Kau sangat cantik eonni.”  Lanjut Jae Rin lagi.

Woo Yeon memberikan anggukan kecil, “hmm.  Tapi kenapa kau tidak bisa tinggal disini? Keluargamu dimana?” Woo Yeon mencoba untuk mencari tahu.

Jae Rin kembali menggeleng, “aku tinggal di dorm YG Entertainment.”

“Jadi kau seorang trainee?” tanya Woo Yeon tanpa pikir  panjang.

Jae Rin mengangguk pelan, “dulu.”

“Dulu?”

Jae Rin melihat arah kaki kanannya, lalu kembali menatap Woo Yeon dengan tatapan nanar, “apa sekarang aku masih boleh menari eonni?”

Seketika rasa sesak ikut memenuhi dada Woo Yeon, ia hampir melupakan jika Jae Rin memang tidak boleh menari lagi untuk selamanya.

“Han Jae Rin kau tetap bisa melakukan banyak hal selain menari, bukan?” Woo Yeon mengusap pundak Jae Rin, mencoba memberikan sugesti positif bagi pasiennya itu.

Jae Rin mengusap pelan air matanya yang kembali menetes, ia menarik senyum simpul, “untuk berjalan saja aku pasti kesulitan, lalu bagaimana aku bisa melakukan hal lain eonni –ya?” suara Jae Rin semakin bergetar.

Woo Yeon tersenyum kecut, ia sungguh tidak bisa mendengar apalagi melihat pemandangan seperti ini di depan matanya.

“Kau tahu nona? Kau sangat cantik ketika tersenyum. Kau bisa tersenyum setiap hari, itu juga hal yang dapat kau lakukan untuk dirimu sendiri. Kau pasti akan sembuh, aku akan membantumu.” Woo Yeon menarik kursi didekatnya, dan duduk di sisi Jae Rin.

“Aku tidak memiliki siapapun. Aku dibesarkan oleh marga lain. Marga ku Han karena panti asuhan yang memberiku nama itu.”

Woo Yeon harus kembali menelan pahitnya saliva yang ia telan, “eonni do (aku juga). Aku juga meminjam marga orang lain.” Woo Yeon tidak segan – segan menceritakan latar belakang pribadinya.

Jae Rin setengah tidak percaya, “sungguh? Tapi eonni kau sangat cantik. Kau juga seorang dokter yang hebat. Aku sering melihatmu di majalah kesehatan, dan kau juga pernah muncul di acara Vitamin kan?” suara lemah Jae Rin terdengar sedikit bersemangat.

Woo Yeon tersenyum seraya mengangguk, “jika eonni bisa melakukan hal itu, maka Jae Rin juga bisa melakukannya. Bukankah begitu?”

“Tapi kakimu tidak sakit eonni.” Bibir berwarna oranye pucat Jae Rin kembali bergetar. Ia menatap nanar kaki kanannya.

Woo Yeon meraih telapak tangan Jae Rin yang terpasang selang infus secara hati – hati, “Harapan. Jika mimpi telah meninggalkanmu, maka harapan akan membantu mewujudkan hal lain yang ingin kau capai. Kau bisa saja bermimpi, tapi harapan jauh lebih membawamu untuk hidup. Han Jae Rin, kau memiliki nama yang bagus, senyum yang indah, kau pasti bisa menjadi seseorang yang berpengaruh di masa depan. Eonni akan membantumu. Hmm?” Woo Yeon mengusap lembut telapak tangan Jae Rin.

Tanpa terasa air mata Jae Rin menetes tanpa henti, ia mulai terisak hebat.

“Hiks.. eonni, bolehkah aku memelukmu eonni?”

Tanpa menunggu lama Woo Yeon langsung membuka lebar kedua tangannya, dan mendekat pada Jae Rin.

“Hiks.. hmmhiks..” tangis gadis belia itupun pecah di dalam dekapan Woo Yeon, membuat jas putih bername – tag “profesional doctor” itu basah oleh bulir – bulir air mata Jae Rin.

“Aku, aku sudah sangat banyak melakukan hal bodoh eonni, hiks.. aku sangat bodoh.. “ tangisan Jae Rin semakin menjadi.

“Ssstt.. kau anak yang pintar, jangan menangis lagi.” Woo Yeon memeluk erat tubuh Jae Rin yang lebih kurus darinya itu, mengusap hangat punggung Jae Rin yang terus terisak.

“Hiks.. neomu gomawoyo eonni.”

Woo Yeon menyeka titik – titik air mata di wajah Jae Rin dengan jemari lentiknya, “hmm, hwaiting! Han Jae Rin hwaiting!” Woo Yeon mengangkat tangannya bersemangat.

Jae Rin ikut tersenyum, perasaannya jauh lebih lega setelah ia menumpahkan air matanya bersama Woo Yeon. Meskipun mereka tidak saling mengenal sebelumya, tapi itulah kekuatan emosional Woo Yeon sebagai seorang dokter, mampu menciptakan hubungan kekeluargaan diantara dirinya dan pasien.

Eonni, pasti laki – laki yang akan menikahimu adalah laki – laki yang paling beruntung didunia ini. Dia pasti sangat tampan. Aku benarkan eonni?”

Woo Yeon mengusap puncak kepala Jae Rin, “Jae Rin do. Laki – laki yang akan menikahimu kelak, adalah seseorang yang penuh keberuntungan di dalam hidupnya.”

“Dokter Jung, dokter magang mu sudah berkumpul di aula.” Sosok Jay tiba – tiba muncul, menyingkap tirai  UGD yang membatasi setiap ruang pasien.

Woo Yeon segera bangkit dari duduknya, “baiklah. Jae Rin –ah, aku tinggal sebentar ya. Tetaplah disini, menurutlah pada suster yang akan menjagamu. Aku akan segera kembali kesini, kau mengerti?”

Jae Rin mengangguk seraya tersenyum, “ne eonni.”

“Ayo.” Woo Yeon keluar dari bilik Jae Rin bersama Jay.

Jae Rin melihat sekitarnya, perlahan ia mencoba meraih ponsel yang terdapat pada meja kecil di sisi kirinya.

Jae Rin membuka panggilan masuk yang sejak malam kemarin tidak ia lihat sama sekali. Begitu pula dengan pesan masuk.

 

“Jong In”

“Jong In”

“Jong In”

“Jong In”

“Jong In”

 

Nama kontak itu  mendominasi ponselnya.

Ibu jari Jae Rin perlahan membuka satu persatu pesan yang dikirimkan oleh Kai. Sebagian besar isi dari pesan yang Jae Rin terima, semuanya adalah kalimat yang memiliki makna sama.

Jae Rin menengadahkan wajahnya, “hufh ..” ia menghembuskan nafas singkat, berusaha keras untuk menahan air mata  yang siap untuk tumpah.

“Tidak boleh Han Jae Rin. Kali ini kau harus konsisten.” Jae Rin berbisik pada dirinya sendiri.

 

“Rin –ah, apa alasanmu untuk menari?”

“Aku ingin menjadi seorang main dancer di grup ku kelak. Waeyo?”

“Kau tidak bertanya apa alasanku? Kenapa aku sangat suka menari?”

“Taemin oppa. Kau ingin segera didebutkan seperti Taemin oppa. Itukan?”

“Aniyo. Han Jae Rin.”

“Nde?”

“Han  Jae Rin adalah alasanku untuk tetap menari. Tidak peduli rasa nyeri pada kaki dan pinggulku akan datang kapan saja, tetaplah disisiku Rin –ah..”

“Kim Jong In…”

“Aku akan tetap menari meskipun aku tidak dapat mendengar suara musik dengan jelas. Tapi, aku tidak akan bisa menari lagi jika Han Jae Rin tidak ada disini. Maka itu, jangan pernah pergi kemanapun, Rin –ah, suatu saat nanti, kau harus percaya dengan suatu saat nanti..”

 

Bayang – bayang masa lalu  yang tanpa sengaja terputar didalam memorinya, membuat Jae Rin merasakan sesak yang luar biasa.

“Jong In –ah.. hiks..”

“Apa yang harus ku lakukan Jong  In –ah? Nan eotteokhaji? Hiks.. hmmhiks..”

Tangisan Jae Rin kembali memecah, ia lagi lagi terisak sejadi – jadinya setelah melihat nama kontak Kai yang tertera jelas di layar ponsel. Kim Jong In, sosok yang seutuhnya adalah jelmaan oksigen bagi seorag gadis belia yang sangat lihai dalam menari itu, Han Jae Rin. Musik dan oksigen, dua hal yang memiliki makna perbedaan yang cukup dalam.

 

Disisi lain rumah sakit ..

“Kau jadi melakukan amputasi pada gadis tadi?” Jay yang berjalan di samping Woo Yeon memulai percakapan.

Woo Yeon menggeleng ragu, “entahlah. Mungkin rumah sakit ini akan menjadi rumahnya.”

Langkah Jay langsung terhenti, “kau akan menjadi donasi? Itu tidak mudah.”

“Aku akan meminta daddy untuk mengangkatnya menjadi anak yang di adopsi oleh yayasan rumah sakit ini.”

“Kau bukan miliarder. Itu akan menghabiskan setengah bahkan lebih penghasilanmu.” Sanggah Jay santai seraya tertawa meremehkan.

Woo Yeon menoleh pada Jay yang sejak tadi terus menuai protes, “lalu kau menjadi seorang dokter untuk menjadi miliarder? Kau salah dokter Jay Wang.”

Jay tercekat, perkataan Woo Yeon menamparnya keras. Kini ia memilih untuk diam dan menyusul Woo Yeon yang sudah lebih dulu meninggalkannya, “hey Jung Woo Yeon tunggu aku!”

 

***

Hari berikutnya …

Ini mungkin sudah puluhan kalinya Yaegi duduk dan berdiri, berlalu lalang di depan Kris dengan raut wajah gelisah. Ia juga tak henti – hentinya melirik jam dinding besar yang terletak pada dinding pembatas ruang utama dan ruang tengah kediaman keluarga Wu.

“Oh! Lian oppa sudah pulang!”

Yaegi langsung berlari keluar rumah, dan berbelok menuju pintu garasi pada saat mendengar suara mobil memasuki pintu garasi.

Oppa, bagaimana? Kau berhasil?”

Lian menatap sekilas adik iparnya itu dengan tatapan setengah jengkel. Ia baru saja melakukan perjalan Seoul – GuangZhou, menyetir sepanjang Beijing – GuangZhou, dan pulang disambut dengan hal yang masih berkaitan tentang hal kantor yang nyaris membuatnya frustasi.

“Bisakah kau membiarkanku untuk masuk dulu?” Lian menyuruh Yaegi enyah dari hadapannya. Yaegi terus mengikuti Lian hingga ke ruang tengah, “oppa, katakan sesuatu.”

“Dimana Wu Chan dan Wu Sha?” Lian mengalihkan pembicaraan, ia bertanya pada Kris yang sedang duduk dengan semangkuk keripik kentang.

“Pergi berjalan – jalan bersama ibu.” Kris menyahut malas.

“Ah oppa, jeball..” Yaegi mulai merengek, ia terus mengikuti Lian hingga dapur. Kris sejak tadi hanya mengamati istri dan kakaknya dengan memutar kepala kesana kemari.

Lian keluar dari dapur dengan secangkir air putih ditangannya, “ouhh.. ini gila.” Lian menjatuhkan badannya pada sofa yang berhadapan dengan Kris. Yaegi ikut duduk ditengah – tengah dua kakak beradik itu, “gila? Apanya yang gila oppa?” tanya Yaegi penuh rasa penasaran.

Lian bangun dari sandarannya, ia mengangkat tangan dengan menunjukkan 3 jari pada Yaegi.

“Tiga? Apanya yang tiga?” Yaegi semakin penasaran.

“Tiga puluh  milyar won untuk menatap disana. Waras sekali mereka, cih..” Lian terkekeh frustasi.

MWO? 30 Milyar won? Maksudmu itu harga kedudukan sponsor yang harus kita bayar?” mata Yaegi terbelalak lebar.

MWOYA!”

Lian dan Yaegi terhentak bersamaan ketika Kris tiba – tiba ikut berteriak histeris seraya menurunkan kakinya yang semula ia naikkan ke atas meja.

“Apa itu? Uang?” tanya Kris dengan mulut penuh dengan keripik kentang.

“Sp*rma mu.” Tukas Lian geram dalam bahasa mandarin. Seketika wajah Kris langsung berubah murka.

Yaegi melihat keduanya bergantian, lalu bertanya pada Lian, “kau bilang apa barusan oppa? Kenapa wajahnya jadi seperti itu?” Yaegi menunjuk wajah Kris yang nyaris sudah sempurna menjadi replika tokoh angry bird.

“Ah sudah, lupakan. Beri aku solusi untuk mengatakan sesuatu pada Kim Young Min. Dia akan menghubungiku nanti malam.” Lian mengerang frustasi.

“Kau sudah mengecek keuangan perusahaan?” tanya Yaegi hati – hati.

“Sudah. Uang sebanyak itu hanya bisa cair dalam kurun waktu 3 bulan.” Lian mengusap kasar wajahnya.

“Satu artis dengan sponsor setinggi itu? Itu tidak mungkin.” Kris menyambangi.

“EXO dan project SM Rookies. Mereka tidak akan bersedia menerima jika hanya mensponsori satu artis saja.” Jelas Lian lagi.

“Tapi itu jumlah yang sangat banyak.” Lanjut Kris.

Yaegi mulai bergidik bingung, “aigoo.. bagaimana ini? Kapan mereka akan mengesahkan dokumennya?”

“Dalam minggu ini.”

“Kau tidak memiliki tabungan oppa?” tanya Yaegi penuh harap.

Lian menatap sang adik ipar setengah geli bercampur nanar, “lalu bagaimana caraku untuk menggoda wanita tanpa uang sepeserpun adik ipar?”

“Tapi setelah uang perusahaan cair, aku akan membayarnya oppa!” Yaegi merengek setengah memaksa.

“Jika memang tidak bisa, jangan dipaksakan.” Kris kembali menyambangi.

Yaegi seperti memiliki seceracah harapan ketika mendengar suara Kris. Ia berpindah duduk ke samping suaminya itu, “Kris –ah, bagaimana jika kita cairkan deposito ChanSha, uh? Itu tidak akan memakan waktu yang lama kan?” Yaegi menatap Kris penuh harap.

Kris memandang Yaegi getir, “ChanSha masih terlalu dini untuk dikorbankan, uh?” Kris berpura – pura polos.

“Eyh!” Yaegi memukul bahu Kris pelan, ia berdecak kesal.

Sejenak suasana menjadi hening. Mereka larut dalam pikirang masing – masing.

Hingga, Yaegi menepuk tangannya dan bangkit dari duduknya.

“Oho!”

Lian dan Kris mendongak bersamaan.

Yaegi meraih ponselnya dari atas meja, “aku akan mencoba membicarakan hal ini bersama paman Hwang. Fighting!” Yaegi mengepalkan tangannya bersemangat, dan langsung berlalu menuju kamar.

Lian dan Kris memandang sosok Yaegi  penuh rasa heran.

“Kau berencana ingin kembali pada kesebelas rekanmu itu?” tanya Lian ketus.

Kris hanya mematung tanpa memberikan jawaban apapun.

“Istrimu begitu berupaya keras untuk tidak memutuskan hubungan kerja bersama pihak agensi. 30 milyar won, hhh.. itu gila.” Lian beranjak meninggalkan Kris, dengan masih menyebut nominal fantastis yang dilayangkan SM.

Kini Kris tinggal seorang diri disana, ia menjadi gusar tanpa alasan.

“Shhh.. Kenapa jadi seperti ini!”

 

***

SMEnt _ 09 P.M

 

EXO practice room

 

“Hey, hey.. kalian sudah mendengar berita kalau kita akan disponsori oleh sebuah perusahaan nomor satu  Asia? Daebaaakkk! “

Tao mengalihkan semua perhatian memberdeul yang sedang tergeletak di lantai demi melepas lelah usai berlatih seharian penuh.

“Ya, itu bagus.” Suho mengangguk singkat. Ia  tidak begitu tertarik dengan hal – hal demikian.

“Mungkin pemilik perusahaan itu berpikir bahwa Kris hyung masih berada disini.” Chanyeol terkekeh miris.

Sesaat memberdeul menatap Chanyeol dengan tatapan yang tak kalah miris, seisi ruanganpun menjadi hening.

Tok – tok

Hingga dua kali ketukan pintu memecah keheningan itu.

“Ung? Siapa?”

Memberdeul celingukan melihat pada kaca yang terdapat pasa sisi atas pintu practice room.

Kai yang duduk menghadap ke arah pintu langsung bangun dari duduknya, meskipun langkahnya terlihat gontai.

“Siapa Jong?” tanya Sehun penasaran.

Tanpa menoleh pada Sehun dan member lainnya, Kai terus berjalan menuju arah pintu.

“Eo? Itu seperti Yoon Soo Hee..” Chen menangkap sekilas sosok Soo Hee yang terlihat ketika Kai menghilang dibalik pintu practice room.

“Apa akan ada episode lanjutan dari drama Wolf kita?” Baekhyun menyindir halus.

Xiumin mengangkat kedua bahunya, “yaa bisa saja seperti itu.”

“Tapi skenario music video yang kau tulis itu sungguh keren Minseok hyung..” Lay mengalihkan pembicaraan.

Mendengar itu Suho juga ikut mengacungkan jempolnya, “ya, aku sangat tersentuh dengan music video itu. Seperti sebuah cerita nyata.”

“Tapi kenapa kau tidak mau menuliskan namamu diskenario itu hyung?” D.o menyambangi.

“Uhm, itu benar. Kau bisa saja menjadi sutradara music video untuk comeback kita mendatang.” Luhan menambahkan.

“Benar – benar keren..” memberdeul terus memuji Xiumin.

Xiumin terus menggeleng, ia akan selalu menyangkal jika menerima pujian seperti itu.

“Tidak, itu hanya kebetulan saja.” Jawabnya singkat.

“Eyh – apa itu terjadi di masa lalumu?” Chen dengan gaya menggodanya.

Xiumin menggeleng keras, “aniya. Aku menulisnya karena bintang music video itu adalah seorang artis terkenal Zhang Yixing..”

“EYHHHHH —- “ memberdeul sontak menyoraki Xiumin.

Xiumin tertawa keras melihat ekspresi spontan dari para dongsaengdeul-nya, meskipun jauh di dasar hatinya,  “bogoshipeo, Min Ra -ya..”

 

Di sisi lain gedung SM ..

 

Kai terus berjalan lurus tanpa menghiraukan Soo Hee yang berusaha menyamakan langkah dengannya. Hingga mereka tiba pada ruang latihan trainee yang pada malam itu sama sekali tidak gunakan.

Kai berbalik menatap Soo Hee tajam, “tidak perlu menemuiku hingga ke ruang latihan.”

Soo Hee melipat keduanya tangannya, ia tersenyum angkuh, “ganti ponselku yang sudah kau banting itu.” Soo Hee menadahkan tangannya pada Kai.

Kai memandang sekilas tadahan tangan Soo Hee sebelum ia merogoh saku celananya.

“Ini ambil.” Kai memberikan Iphone S5 miliknya pada Soo Hee tanpa menarik kartu simnya.

Soo Hee terkekeh licik, “kau yakin memberikan ponselmu untukku? Wow! Ini menarik.”

Kai nyaris muak dengan sosok itu.

“Nona Yoon Soo Hee..” panggilnya dengan intonasi yang sengaja ia tekankan.

Soo Hee mendeham pelan, “hmm..”

“Aku tidak mengenalmu. Jika kau tidak selalu berusaha muncul dihadapanku, aku juga tidak mengingat namamu dengan baik. Kau adalah orang asing.”

Kata demi kata yang Kai ucapkan sedikitnya sangat menusuk bagi Soo Hee. Ini adalah kali keduanya Kai bersikap kasar secara tak langsung setelah Kai melempar ponsel gadis itu beberapa hari yang lalu.

“Jadi kau menyerah dengan Jae Rin mu? Uhm?”

“Aku tidak peduli.” Jawab Kai cepat.

Soo Hee menyibakkan rambutnya yang tergerai, wajahnya perlahan ikut frustasi karena ia gagal untuk memancing Kai.

“Kim Jong In kau bodoh.” Umpatnya geram.

“Terserah apa katamu.” Kai hendak berbalik pergi. Rasanya ia tidak memiliki kekuatan apapun lagi untuk menghadapi sosok yang tiba – tiba menjadi pengganggu ketentramannya itu.

“Ya Kim Jong – “ Soo Hee mencoba meraih lengan Kai, berniat untuk menahan langkah namja itu.

“Ughh!” Kai menghentakkan tangannya kasar hingga tangan Soo Hee ikut terhempas.

Tanpa Kai ketahui, kedua mata Soo Hee mulai bermunculan kristal – kristal bening.

“Kim Jong In apa tidak pernah berpikir? bertanya kenapa aku tiba – tiba saja datang seperti ini? Apa kau tidak bisa peka terhadap keadaan?”

Kai masih tetap berdiri membelakangi Soo Hee, ia justru kembali hendak melangkahkan kakinya.

“YA KIM JONG IN!”

Teriakan Soo Hee membuat Kai spontan berbalik, tatapan membunuhnya kian menusuk.

“Aku dan Han Jae Rin telah selesai karena  orang asing ini . LANTAS APA LAGI YANG KAU INGINKAN SEKARANG!!” Kai berteriak lantang. Rahangnya mengeras.

Teriaka Kai membuat Soo Hee menitikkan air matanya dalam seketika, “NAN SARANGHAE! TIDAK TAU KAH JIKA AKU SANGAT MENYUKAI-“

“AKU TIDAK PEDULI!!”

PLAK!

To Be Co

 

Note :

Untuk masalah SM yang diceritain ama Kai, murni fiktif belaka ya readerdeul. Kita sama sekali tidak tahu menahu apa isi didalam agensi itu dan bagaimana sosok Kim Young Min. Sekali lagi, itu hanya karangan ku saja, 100% hayalan😀

 

Komentar kalian semua bakalan aku baca dan aku accept satu satu ya. Berhubung aku memposting dua chapter dalam waktu dekat, jadi aku balas komentar kalian di chap 5 saja ya. :*

Thanks a lot. Love ya!

Silent readers, watch out!😀

 

 

152 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 5

  1. Di chapter ini moment YaeFannya banyak😀 tp eon, aku kangen sama susoo + jitao moment, selipin dikit boleh dong eon? *nawar :p aku tunggu kelanjutannya dan semangat terus buat bikin next chapnya eonni😀 hwaiting ^^9

  2. sebenarny bukan alter ego, aku ngerasa tingkah chen itu ‘mirip’ sama eyke (hala, sok banget XD).
    upssss jangan ngomong hitam ah, ih, soalnya radar lee daeshi kuat. hahaha.
    lee daeshi!!

  3. eonii pertanyaan lian ke kris yg ini “kau berencana kembali oesebelas rekanmu itu?” ahh eonii itu bikin aku jd kangen banget sm exo ot12😥 eonii ak kepo kelanjutannya aku tunhgu eon

  4. Eaaaa drama mereka terus berlanjuut, aku msh bingung mau comment apa, trus kmrn karna jangka waktunya lama sm chapt awalnya jd musti baca2 ulang, jd bnyk yg lupa cerita awalnya hehehe
    pasti udh kangen bgt sm cerita exodeul ini drama2 mereka yg riweeeh tp ngangenin wkwkwkkw
    Di tunggu chapter2 selanjutnya!!

  5. Aku baru bisa komen lg eonn.
    Mian,aku ga tau ini udah lanjut aku bener2 ngerasa bersalah.
    Itu kai di tampar ya?
    Astaga aku kira bakalan ada apa gitu karna ratenya M eh gada
    Eon kriseu ama yaegi eonni ga bakal pisah kan, aku ga rela mereka pisah chansha kan masih kecil huhuhuhu
    Semangat ya eon nelanjutinnya.

  6. Aku baru bisa tinggal jejak sekarang eon mian, aku febipal kalo ga salah id aku itu.hehehehe.
    Itu kriseu mau cerai? Aku ga ikhas. Kasiam chansha nya.
    Semangat eon buat ngelanjutin semuanya
    Bow

  7. eonniiii😀 jujur aja kirain hiatus😀 aku lagi iseng2 buka WP eonni eh ternyata udah ada beberapa postingan😀
    eonni semangat ! keep writing🙂
    eh btw, di atas ratenya M. kirain mau NC :p *plak
    makin penasaran sama kisah kai. soalnya complicated. tapi jujur aja aku juga nunggu sehun hehe. lanjut eon😀

  8. Omayaaa CEO 30M
    Jaerin kasian amat mau di amputasi
    semoga jangan deh
    baekhyun munculnya dikit tp kata katanya nyindir banget
    kkkk
    semoga masalah jaerin kai so hee cpet slesai
    di tunggu next nya eom

  9. woohooo akhirnya aku bisa baca chapter 5 inii😀 kereeeen eon permasalahannya tambah banyak tapi kai kasian T.T dan gak ada chansa nya eon, di next chapter ada chansa dong eon.. eonniiii hwaiting !!!

  10. Huaaaa rasanya aku pengen nangis tau keadaan Jaerin, kenapa dia bisa cedera separah itu? Eonni, jangan pisahin KaiRin dong..
    Tapi aku lega deh ternyata YaeFan baik baik aja, dan semoga YaeEon berhasil dapat uang biar entar YeolPpa nggak ikut”an dating palsu Uuh #HugYeolPpa ..
    Ditunggu lanjutannya Eonni!!!
    Aja! Aja! Hwaiting! Jiayou!

  11. Wah moment yaeris banyak…kirain kris makin dewasa ternyata sama aja gak berubah msh absurd dan mesum kalo ada yaegi…ahhaahahah…sedih gak ada moment chansa..hiks…sedih bgt bagian kai curhat ma yaegi kebawa bgt emosinya…pukpukpuk jongin…

  12. kasian kai-rin >,<
    ak gereget sendiriii bacanya😀
    jadikan ini happy ending eoonn :v.
    ditunggu part selanjutnyaa ^^

  13. 30 milyar won…weowe -___-” duh kok jadi gak suka sama si soo hee itu -_– Kai kasian bgt…TT.TT
    ditunggu next chapter unni! ;3
    Hwaiting ‘-‘)o0o0o0o9 xoxo

  14. Dsni konflik nya bener” rumit..
    Terkait stu sama lain gt ya..
    Itu ai soohe nyebelin banget.. Suka tp maksa gt ya.. Kasian kairin ga bsa bersatu T.T

  15. HAHAHA aduh lucu banget waktu lian ngmg yg disensor itu. aku ga nyangka kalo kamu bakalan bkin scriptnya begitu loh HAHAHA.
    aduh kisah cinta jongin sm jaerin itu begitu rumit ya </3

  16. Aku bingung harus comment gimana
    -_- ceritanyaaa nyeuusss bangettt berada dikehidupan nyataaa aaaaaaaakkkhhh sukaaaaaaa…..!!!!

  17. yaaaaa…kereennn.tapi bisa jdi ini seperti didunia nyata mereka kk…penasaraaan sama chapt selanjutnya…..selamat kk ff mu membuat ku terenyuh + sedih juga liat uri kai sedih gitu…hiksss….

  18. huhuhu…
    sedihnya part ini..😥
    kasian jae rin knp kakinya bs cedera…?
    kai jg hrs pisah sma jaerin..
    bangga bgt sma kai rela matimatian mohon sama yaegi buat sodara n cintanya…

    makin keseelll sma soo hee…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s