EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 6

5738_757117507648989_1240196035_n

Author / Script Writer : Ulfa Muriza

Poster by : Tiara / Han Jae Rin

Rate : M (berhubung udah masuk YaeFan -_-)

Genre : Family, Friendship, romance, sad, ( – marriage life )

Cast :

– Kim Jong In / Kai

– Han Jae Rin / OC

– Lee Dae Shi / OC

– YaeFan / Cho YaeGi – Wu Yi Fan / Official Couple 😀

– Yoon Soo Hee / SM’s Model

– EXO

– Another Cast

TYPO EVERYWHERE!

 

***

Dorm EXO – Pukul 10 malam

 

Ceklek –

Suara pintu kamar membuat D.o  terhenyak dari atas kasurnya yang bersebelahan dengan ranjang Kai. D.o mengerjap – ngerjapkan matanya agar dapat melihat lebih jelas seseorang yang sedang melangkah masuk ke kamar mereka.

“Junmyun hyung, wae?” D.o menyibakkan selimutnya.

“Jong In sudah tidur?” Suho menunjuk arah ranjang Kai.

D.o menggeleng sekaligus mengangkat bahunya, jawaban antara belum atau memang tidak tahu.

Sejak sepulang dari SM, Kai tidak berbicara sepatah katapun. Ia duduk diposisi bangku paling belakang Van, dan langsung masuk ke kamar sesampai mereka tiba di dorm. Guratan khawatir dan bingung sempat menghinggapi pikiran semua member, tak terkecuali Seunghwan & Im manajer yang tadi pulang bersama mereka. Namun mereka menyimpulkan bahwa Kai mungkin terbilang sangat lelah hari ini, ia memang memiliki jadwal latihan lebih di dance room.

Suho berjalan menghampiri ranjang Kai. Dengan hati – hati ia menyentuh bahu Kai yang saat itu tertidur dalam posisi menyamping.

“Jong In.. Jong In –ah, kau sudah tidur?” Suho menepuk pelan bahu Kai yang berbalutkan selimut.

Kai memberikan respon. Ia menggeliat dari dalam balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

Waeyo hyung?” suara parau Kai menggema dari balik selimut.

Suho memposisikan dirinya untuk duduk pada tepi ranjang, “kau sakit?” Suho menyibakkan selimut Kai perlahan. Kai  sama sekali tidak berbalik.

“Hey..” Suho mencoba memastikan dengan  mengintip arah wajah Kai.

Hyung,” tangan D.o menepuk pelan paha Suho, membuat namja berkulit susu itu menoleh padanya sesaat, “wae?” tanya Suho lembut.

D.o menunjuk pipinya sendiri lalu berbisik sesuatu sambil menunjuk Kai, dan menggeleng. Suho memahami bahasa isyarat itu, ia kembali beralih pada Kai.

“Kim Jong In, bangunlah.” Kali ini tangan Suho sedikit memaksa bahu Kai untuk berbalik.

“Eunghh.. waeyo hyung? Aku benar – benar mengantuk.” Kai menarik lagi selimutnya.

Suho semakin merasa  ada yang tidak beres, “kau tidak akan pernah terbangun jika kau benar – benar sudah tidur. Kau tidak sedang tidur, palli ireona. Ireona.”  Suara Suho berubah tegas. Tetap tidak ada respon apapun.

Suho dan D.o  saling bertatapan. D.o lagi – lagi mengangkat kedua bahunya, tanda tidak mengerti.

“Kim Jong In..” panggil Suho lagi.

“……….”

Suho menghela nafas singkat, “apa kau ingin membuat hyung ini juga pergi karena sifat keras kepalamu? Hmm?” Suho mengancam halus.  Tanpa Suho sadari ucapannya barusan membuat D.o  terenyuh dalam diam.

D.o dengan cepat  kembali merebahkan badan ke atas kasur empuknya, tak lupa menarik selimut dan tidur membelakangi Suho. “Junmyun hyung bicara apa dia.” D.o menggumam. Ya, begitulah gambaran perasaan setiap member EXO akhir – akhir ini. Sedikit sensitif, dan penuh dengan emosional.

Ternyata perkataan Suho barusan bukan hanya memberi pengaruh pada mood D.o, tetapi juga membuat Kai langsung menyibakkan selimutnya dan perlahan bangkit dari ranjang.

“Ada apa hyung?” Kai berpura – pura menguap, ia menyembunyikan sesuatu yang sedang meradang dari sisi kanan wajahnya.

“Ceritakan padaku, apa yang terjadi.” Suho tidak lagi berbasa – basi.  Kai bungkam.

Secara tak sengaja Suho melihat sesuatu yang berbeda dari cara Kai menatapnya, seperti sedikit mengeyampingkan posisi wajahnya. Suho segera bangun menuju saklar lampu agar dapat melihat seisi kamar KaiSoo dengan jelas.

“Kenapa dengan wajahmu?” Suho menarik dagu Kai, ia melihat lebih jelas pipi Kai yang sedang meradang merah.

Kai menepis pelan tangan Suho dari wajahnya, “gwaenchana hyung.” Sahut Kai datar.

“Kyungsoo –ya,”

D.o menarik kembali mood buruknya, ia segera menyibakkan selimut “ye hyung!”

“Tolong ambilkan handuk dan sebaskom air hangat kemari. Kita harus mengompresnya agar tidak menjadi memar.” Suho menunjuk pipi Kai.

Tanpa menunggu lama, D.o beranjak dari ranjangnya, sesaat kemudian ia kembali dengan sebaskom air hangat dan selembar handuk putih berukuran kecil.

“Ini hyung.”

Gomapta. Tidurlah, biar aku yang mengerjakannya.”

“Umm.. geure.” D.o menurut saja.

“Jadi tidak mau bercerita?” Suho mulai mengarahkan kompresan handuk pada pipi Kai.

“………………” tak ada jawaban.

“Ireojimma  (jangan seperti ini).”

Satu kata yang membuat Kai  mau melihat  kepada Suho.

Hyung.” panggil Kai lirih.

“Katakan saja.”

Mata Kai kembali menumpuk kristal – kristal bening, ia mencoba mengatur nafas agar emosinya tidak kembali meluap. “Aku menelfon Kris hyung malam kemarin. “

Ucapan Kai membuat Suho menghentikan aktfitasnya pada wajah Kai, tapi ia namja tidak mengucapkan satu patah katapun.

“Dan aku juga… “ Kai menggantungkan kalimatnya, tenggorokannya terasa sangat kering karena air mata yang ia tahan.

“Aku juga meminta Yaegi nuna untuk menjadi sponsor kita setelah hal yang menimpa agensi saat ini membuat saham anjlok. Aku tidak mau jika salah satu dari kita harus kembali melakukan kamuflase demi keuntungan agensi. Aku tidak mau hyung.” Kai tertunduk lemah.

Sang leader tetap bungkam akan komentar.  Ia justru  berhenti mengompres wajah Kai.

“Dia sehat?” satu kalimat dari bibir tipis Suho.

“Sepertinya begitu.” Kai mengangguk seadanya.

Suho tersenyum kecil, “itu bagus. Baiklah, kau bisa istirahat sekarang. Besok pagi jangan lupa untuk mengompresnya lagi dengan air dingin. Biar aku yang mematikan lampunya, jangan mengotak – atik ponselmu lagi. Tidurlah.” Suho beranjak dari ranjang Kai.

“Hyung.” Tangan Kai menahannya.

Suho menoleh dengan tatapan  yang perlahan berubah nanar, “ya, kenapa?” suara yang sedang mencoba untuk terlihat tegar dihadapan Kai.

“Luhan hyung, Luhan hyung dia akan segera kembali dari Beijing kan? Uh?” ketakutan yang sama persis saat Kris pergi kembali menyergap Kai.

Suho meraih tangan Kai, “suasana agensi saat ini sedang tidak menentu karena kesalahpahaman yang terjadi pada sunbaenimdeul (Fx & Snsd),  masing – masing orang harus pintar mengendalikan emosinya. Tenanglah, Luhan hyung baru saja menelfonku, dia akan segera kembali. Anak itu hanya sedang merindukan ayah dan ibunya. Jangan khawatir.”

Genggaman Kai pada pergelangan Suho perlahan melemah, ada secercah ketenangan usai mendengar tentang Luhan yang baru saja menghubungi Suho.

“Aku juga sudah mulai mengantuk. Sampai besok.” Suho berjalan keluar kamar, serta tak lupa memadamkan kembali lampu kamar KaiSoo.

Kedua mata Kai  terasa kian memanas. Disatu sisi ia begitu memikirkan Jae Rin, namun disisi lainnya ia berharap mimpi buruk yang pernah terjadi pada EXO tidak akan berulang untuk kedua kalinya.   Kai memandang langit – langit kamar dengan tatapan hampa, pikirannya jauh menerawang entah kemana.

Sekilas sosok Soo Hee melintas dalam pikirannya, bayangan pada saat Soo Hee melayangkan tamparan ke wajahnya  kembali terputar jelas dalam ingatan namja itu.

“Aku tidaklah sulit untuk peka, hanya saja tidak bisa menatap kemanapun.” Batin Kai berbisik.

Ia berbaring dalam posisi menyamping,  meraih  ponsel yang ia selipkan di bawah bantal tidurnya. Ia mulai mengetuk papan layar ponsel, meskipun ia tahu sesuatu yang ia harapkan tidak akan ia lihat pada layar ponselnya. Lagi – lagi Kai kembali mencoba untuk mengetik sebuah pesan singkat untuk seseorang yang sama..

“Ayo bertemu. Aku berjanji tidak akan memaksamu lagi. Hanya bertemu saja.”

Dan, dengan isi pesan yang sama.

“Jong In –ah, kau sudah tidur?”

Suara D.o membuat Kai spontan berbalik, “kenapa?” Ia melihat D.o beranjak dari ranjang dan duduk disana.

“Kau dan Yoon Soo Hee –ssi, kalian memiliki hubungan sekarang?” D.o bertanya tanpa embel – embel.

Kai beranjak bangun,  “Kyungsoo -ya..”

“Hmm?”

“Kau pernah mengalami ini saat bersama Hyun Soo dulu. Apa yang kau rasakan?”

D.o menggeleng, “ani. Aku dan Hyun Soo tidak pernah bersama.”

“Tapi kau menyukainya,” bantah Kai dengan suara lemah.

Kali ini D.o tidak mengelak sedikitpun, ia mengangguk tenang, “hmm, benar. Tapi tidak setelah dia memutuskan untuk pergi.”

Mendengar jawaban D.o membuat Kai tertunduk pasrah, kedutan itu kembali terasa.

“Menahan seseorang yang ingin pergi meninggalkan kita itu hanyalah hal percuma, terlebih dia pergi karena keinginannya. Jong In –ah, aku memang tidak mengenalmu seperti gadis itu mengenalmu. Tapi ku rasa kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri.”

Kai mengangguk kecil, “aku tahu. Tapi dia seperti ini karena ada hal lain yang mengusiknya Kyungsoo –ya.”

“Lantas dia tidak memberitahumu?”

Kai menggeleng lemah,  “entahlah. Mungkin aku saja yang tidak mengerti ketika ia memberitahuku.”

“Apa karena Yoon Soo Hee –ssi? “

“Tentu bukan.” Kai langsung bereaksi.

“Lalu?”

“Entahlah Kyungsoo –ya. Semuanya terjadi begitu saja.”

D.o memandang rekan sekaligus sosok yang telah ia anggap sebagai saudara laki – lakinya  itu sesaat lebih lama, “Ya Kim Jong In.” lembut suara D.o menyapu atmosfer hening kamar mereka.

Kai balas memandang D.o dengan sorot mata ‘ya, kenapa?’

“Cobalah untuk melihat orang yang selalu berusaha untuk tetap tinggal dan membahagiakanmu, bukan mereka yang hanya kau yakini bisa membuatmu bahagia dan memaksa dirimu untuk harus bertahan. Karena terkadang, keyakinan hampir selalu akan kalah dengan usaha.”

Kata – kata yang baru saja terucap dari bibir sensual D.o membuat Kai tertegun kaku. Namja itu menyerap  inti dari kalimat yang entah bagaimana bisa keluar dari bibir dari seorang ‘Do KyungSoo.’ Ya, tetapi itulah persahabatan, sesuatu yang menjelma menjadi sosok yang tidak akan pernah pergi ketika yang lain menyerah untuk bertahan.

 

***

Di waktu yang sama, apartement Woo Yeon.

 

Ceklek –

Suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang membuat Ji Ah langsung menyelipkan tab miliknya ke bawah bantal.

“Yeon..” Ji Ah bangun dari rebahannya.

“Aku akan pergi ke rumah sakit, ada jadwal operasi mendadak.” Sosok Woo Yeon berdiri di depan pintu kamarnya.

Ji Ah mengangguk, “uhm, ne.”

“Jika kau belum mengantuk, masuklah ke kamarnya. Ajak dia mengobrol.”

“Namanya siapa Yeon?”

“Han Jae Rin. Yasudah, aku pergi dulu.”

Ji Ah kembali mengangguk, begitulah reaksinya sehari – sehari terhadap apa yang dikatakan oleh Woo Yeon.

“Ah Yeon, tadi Kyuhyun oppa – “

Woo Yeon menahan langkahnya, “uhm, Kyuhyun baru saja membawa Kyubin pulang. Sudah ya, aku pergi sekarang. Katakan pada kekasihmu itu untuk menyudahi video call malam ini. Kau baru saja tiba, istirahatlah yang cukup.”

“Ne ne ne ne…” Ji Ah menyahut malas. Ia kembali meraih tabnya, dan mengarahkan benda itu ke hadapannya dalam posisi telungkup.

“Mianhae Tao –ya..”

“Eonni mu ?”

“Uhm.”

“Han Jae Rin itu siapa?”

“Kau mendengarnya?” Tanya Ji Ah tak percaya.

“Tentu. Aku lihai dalam menguping.”

“Molla. Sepertinya pasien Woo Yeon yang akan tinggal di yayasan daddy. Wae! Dari namanya saja kau tertarik? Uh?” Ji Ah mendekatkan lubang hidungnya ke arah layar tab.

Tao terkekeh, “aniya. Hanya saja namanya mirip seperti nama yeojachingu Jong In.”

“Yeojachingu? Jinjja? Wooah daebak. Kalian semua berkencan diam – diam. Heol!”

“Tidak semua. Mereka sepertinya sudah putus. Ah molla, itu bukan urusanku. Geundae, kenapa pasien eonnimu bisa tinggal disana?” wajah Tao mendadak penasaran.

“Molla. Woo Yeon memiliki sifat yang terkadang mengerikan, ia mungkin juga  bisa membawa perampok yang sedang sekarat kesini hanya karena rasa ibanya  yang berlebihan.”

“Jadi Han Jae Rin itu perampok?” wajah Tao berubah histeris.

“Eyhh tentu bukan!” Ji Ah mulai kesal, terkadang sifat bodoh Tao terlalu berlebihan.

“AKKHH..!”

Suara ringisan dari luar kamar membuat Ji Ah spontan bangun dari posisi bermalas – malasannya.

“Omo! Tao –ya, chamkan!”  Ji Ah berlarian keluar kamarnya. Ia mendapati sosok yang dimaksud oleh Woo Yeon kini terduduk dilantai.

“Han Jae Rin –ssi gwaenchana?” Ji Ah dengan cepat menghampiri Jae Rin yang meringis kesakitan.

Jae Rin menggeleng pelan, “mianhaeyo agasshi. Aku membangunkanmu. Aku haus.” Jae Rin berusaha untuk berdiri.

“Aniya. Aku belum tidur. Kenapa tidak memanggilku saja?” Ji Ah membantu Jae Rin untuk berdiri.

Dengan menahan sedikit rasa sakit, Jae Rin perlahan berdiri. Ji Ah memapahnya hingga sofa.

“Duduklah disini, aku akan mengambilkan air untukmu.”

“Gomawoyo.” Jae Rin merasa tidak enak. Keluarga Jung  memperlakukannya dengan sangat baik.

Langkah Ji Ah tertahan ketika kakinya nyaris menginjak sebuah ponsel yang juga ikut jatuh bersama Jae Rin, “ponselmu..” Ji Ah meraih ponsel tersebut, dan hendak memberikannya pada Jae Rin. Namun tanpa sengaja tatapan Ji Ah mengacu pada layar ponsel yang tengah hidup itu.

Deg!

Kedua mata Ji Ah membulat sempurna ketika ia mendapati layar ponsel Jae Rin dengan sebuah potret gadis itu bersama seorang namja. Ji Ah langsung menghampiri Jae Rin yang masih memegangi kakinya itu.

“Kau benar kekasih Kim Jong In? Ani, Kai! EXO Kai! Benar? Ini Kai member boygroup itukan? Eoh?” tanya Ji Ah tanpa jeda sambil mencodongkan layar ponsel Jae Rin kehadapan si pemilik.

Jae Rin mematung kaku. Ia tidak berani  memandang Ji Ah yang mengharapkan jawaban darinya. Belum sempat Jae Rin menyusun kata – kata untuk membayar rasa penasaran Ji Ah, lulusan Ontario Kanada itu langsung berlari menuju kamarnya.

“Tao –ya! Tao –ya!”

***

Guangzhou – 30 sept, pukul 08 malam.

 

Yaegi dan Lian kembali berkutat dengan lembaran dokumen – dokumen yang akan dibawa menuju Korea esok hari. Meja makan yang semula penuh dengan hidangan makan malam, kini telah disulap menjadi meja kerja bagi mereka.

“Oppa, paman Hwang sudah mendengar rumor yang beredar tentang SM akhir – akhir ini. Dia tidak mau memproses dana itu. Eotteokhae? Besok kita harus melakukan delegasi.” Yaegi menunjuk layar ponselnya.

Lian yang tadinya sedang fokus dalam mengetik, sesaat memijat pelan pelipisnya, “coba ulangi nominal sponsor itu, adik ipar.”

“30 milyar won.” Yaegi berbisik lemah.

Lian memejamkan matanya frustasi, “baiklah.”

“Apanya?” tanya Yaegi bingung.

“Aku harus tiba di Bank Korea pukul 8 besok pagi.”

Mata Yaegi memancarkan secercah harapan, “kau mendapatkannya oppa?”

Lian menghela nafas sejenak, “Woo Yeon bersedia memberikan pinjaman.”

“Jeongmal? Woo Yeon memberikan uang sebanyak itu?” Yaegi terperangah tak percaya.

Lian menatapnya jengkel, “hanya pinjaman sementara. Tapi setengahnya adalah tabunganku.”

Yaegi memundurkan wajahnya, “ah ye.”

“Oppa, bagaimana jika Kim Young Min –ssi berubah pikiran?”

“Berubah pikiran bagaimana?”

“Berubah menjadi 50milyar atau lebih misalnya? Aku membaca berita pagi tadi, satu personil dari Girl Group mereka kembali mengundurkan diri. Jadi bisa kan mereka – ”

Tap –

Lian spontan menepukan tangannay ke atas permukaan meja, “jangan mengada – ada! Aku akan mencincang tubuhnya saat itu juga jika dia berani mengatakan 50 milyar Won. Habiskan dokumen yang akan kau tandatangani. Kau ini suka sekali menunda pekerjaan. Apa kau kira menjadi atasan itu pekerjaan yang mudah? Kau menanggung ratusan pekerja diperusahaanmu Cho Yaegi!”

Yaegi nyaris tidak bisa bernapas ketika Lian memarahinya secara bertubi – tubi. Mencari bala bantuan dari Kris pun sudah tidak mungkin, karena laki – laki itu pasti sekarang sudah lebih dulu terlelap bersama ChanSha, paska perjalan singkat Hongkong – Beijing siang tadi.

Baru kali ini Yaegi mendengar Lian memanggilnya dengan nama lengkap.

Yaegi enggan untuk berkutik. Ia memandangi sosok Lian yang sudah kembali fokus berkutat didepan laptop, lama kelamaan Yaegi kembali merasakan sesuatu dari sosok Lian.

“Melihatnya dari samping, dia benar – benar seperti Kim Nana.“

Lian menyadari jika Yaegi tengah memperhatikannya sejak tadi, “kenapa? Kau sudah menyadari jika aku lebih tampan dibandingkan suami mu yang baru saja bermain kereta api menuju Hongkong hanya itu membeli Iphone terbaru? Uh?” Lian kembali mengomel cepat.

“A – ani oppa. Aniya.” Wajah Yaegi nyaris memucat, ia menggeser kursi duduknya sedikit lebih berjarak dari Lian, berjaga – jaga bila Lian kembali menghujamnya dengan rentetan cercaan.

“Lanjutkan pekerjaanmu.”

“Ne.”

Lian mencoba merenggangkan otot – otot lehernya yang kaku karena seharian penuh terus berkutat di depan laptop. Ia merasa ia sudah terlibat terlalu jauh dalam hal ini, “aku tidak perlu melakukan hal ini, jika kau bukan sepupuku Kim Jong In.”

 

Pukul 02 Dinihari

Yaegi dan Lian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan mereka di kamar masing – masing. Karena segala bentuk dokumen telah siap di tandatangani. Yaegi melangkah gontai masuk ke dalam kamarnya dengan sebuah laptop yang ia pegang. Dengan sangat berhati – hati Yaegi menutup pintu kamar agar suami dan kedua buah hatinya tidak terjaga.

“Aigoo.. lucu sekali..” sesaat Yaegi tersenyum gemas melihat pemandangan yang ada dihadapannya saat ini. Kris tidur bersama ChanSha disampingnya. Ditambah satu tangan Kris yang mampu memeluk dua malaikat kecil itu sekaligus.

Usai puas menyaksikan pemandangan langka tersebut, Yaegi melanjutkan lagi pekerjaannya pada meja kerjanya.

Hingga rasa kantuk mulai menyerang. Yaegi menyudahi pekerjaannya setelah melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 dinihari. Ia sejenak merenggangkan otot – otot tubuhnya agar terasa lebih rileks. Yaegi bergerak menuju ranjang, dan mulai berbaring secara perlahan.

“Hmmngg.. “ Geum Chan tiba – tiba bersuara. Pangeran kecil itu mengusap – usap wajahnya.

“Sstt.. sstt.. ssst..” Yaegi menepuk – nepuk punggung Geum Chan agar pangeran kecilnya itu kembali tidur nyenyak.

Chup –

Yaegi mengecup pipi Geum Chan, dan hanya mencium tangan putri kecilnya karena Geum Sha tidur tepat disebelah Kris.

Melihat pemandangan ini lagi membuat Yaegi enggan memejamkan matanya. Ia tak henti – hentinya tersenyum. Hingga..

“Ngghhh.. Yaegi –ya..” Kris terjaga dari tidurnya.

Yaegi masih dalam posisi setengah duduk dengan siku tangan yang menumpu tubuhnya, “uhm, waeyo?”

“Pekerjaanmu sudah selesai?” tangan Kris mencoba meraih tangan Yaegi yang sedang mengusap rambut ChanSha bergantian.

Yaegi mengangguk, “sudah. Ayo kita tidur.” Tangan Yaegi beralih mengusap lembut lengan Kris.

“Uhm, good night love.” Kris mengusap sayang rambut istrinya itu sebelum ia kembali terlelap.

Yaegi hanya membalas dengan senyumannya. Ia selalu berharap keluarga kecilnya akan terus memiliki waktu seperti ini. Meskipun ia harus kembali membiasakan diri dengan profesi Kris yang telah tidak sama lagi seperti dulu.

“Jangan menyembunyikan apapun dariku Kris –ah. ”  Yaegi hanya mengucapkan itu di dalam hatinya.

 

***

Keesokan harinya..

Seoul –  pukul 3 sore.

 

Sebuah Hyundai hitam metalic melesat masuk ke dalam basement sebuah apartement yang terletak persis  ditengah – tengah pusat kota, namun masih sedikit jauh dari hiruk pikuk kota Seoul.

“Oke, kita sudah sampai.” Ji Ah melepas sabuk pengamannya.

Sementara seseorang yang duduk disebelahnya masih melihat sekelilingnya dengan tatapan heran.

“Ji Ah –ssi kita sedang – “

“Eits! Panggil aku Jiji. Jangan terlalu formil.” Ji Ah menggoyangkan telunjuknya.

“Jiji eonni, ini tempat tinggal temanmu?” Jae Rin masih belum melepas sabuk pengamannya.

Jiji sejenak melirik kaca spion demi merapikan tatanannya, “eo. Setelah dari sini aku akan langsung mengantarmu ke rumah sakit. Ingat, jika ditanya Woo Yeon,  katakan  kita masih dirumah dan ketiduran. Aro?”

Rasa ketidakyakinan atas niat baik Ji Ah mengajaknya untuk jalan – jalan semakin menguatkan perasaan Jae Rin  bahwa ini terkesan aneh. Dia dan Ji Ah baru saja bertemu dan berbicara tadi malam. Ditambah status Ji Ah yang juga memiliki hubungan dengan salah satu member EXO, itu semakin membuat Jae Rin menaruh rasa curiga pada Ji Ah. Sempat tebersit dalam benaknya bahwa ini adalah apartement EXO, bisa saja Ji Ah berinisiatif mengajaknya kemari agar mereka bisa melakukan double – date. Tetapi, setelah berpikir bahwa hubungannya dan Kai telah berakhir, mana mungkin Ji Ah orang yang baru saja ia kenal langsung mau mengajaknya kemari. Pada kenyataannya, apapun dan kemanapun Ji Ah mengajaknya untuk pergi, Jae Rin tidak mungkin bisa menolak karena keluarga Jung sudah memperlakukannya dengan begitu baik.

Kecuali …

“Tao –ya, aku sudah di basement.” Ji Ah mengetuk – ngetukan telunjuknya pada sisi pintu mobil, menunggu balasan dari si peneriam pesan. Kedua mata Ji Ah juga tak henti – hentinya mengintai Jae Rin yang masih duduk manis disampingnya.

Ji Ah berkali – kali menggumam di dalam hati semoga ia dan Tao benar – benar dapat mempertemukan Kai dan Jae Rin sore ini juga. Setelah memberitahu bahwa Han Jae Rin yang tinggal di apartementnya adalah Han Jae Rin yang Tao ceritakan  sebelumnya, Tao berupaya untuk mempertemukan dua orang tersebut usai mengetahui keadaan hubungan mereka yang sebenarnya dari  Oh Sehun.

Tao dan Ji Ah saat itu merasa seperti Mr. & Miss cupid yang siap menancapkan anak panah pada hati  sepasang mantan kekasih itu. Tanpa memikirkan sebab akibat yang akan berefek pada Kai dan Jae Rin di waktu ke depan.

“Kai sedang dalam perjalanan menuju dorm. Hanya dia sendiri yang memiliki jadwal hari ini.”

“Kau yakin tidak apa – apa? Aku akan dimarahi Yeon jika dia tahu aku membawa pasiennya Tao –ya. Anak ini sedang sakit kaki Tao-ya!”

“Sudah, tenang saja. Kita sudah berbaik hati ingin mempertemukan mereka. Cepat, jangan sampai Jae Rin lebih dulu melihat Kai di basement. Palliwa!”

Ji Ah hanya membaca saja balasan terakhir dari Tao. Ia memasukkan kembali Iphone seri terbaru miliknya ke dalam tas kecil yang ia pakai.

“Kau bisa berjalan kan?” tanya Ji Ah setengah khawatir.

Jae Rin segera mengangguk, “ne eonni. Ani, maksudku Jiji –ya.” Jae Rin ikut melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil.

“Ayo. “ Ji Ah menarik tangan Jae Rin, sedikit menuntun  gadis itu agar tidak terjadi sesuatu yang serius jika kakinya kembali merasakan nyeri.

“Ah Jiji –ya, sebentar.” Jae Rin menahan langkahnya.  Ia mendapati banyak sepeda yang terparkir  rapi pada tempat khusus yang juga berada di basement itu. Rasa curiganya semakin menyeruak ketika melihat deretan sepeda – sepeda disana. Perasaannya mulai menolak untuk mengikuti Ji Ah.

“Jiji –ya, temanmu .. temanmu itu namja atau yeoja?”

Sesaat Ji Ah memutar cepat otaknya, ia bingung memilih antara jujur atau berbohong.

“Yeoja.” Jawabnya spontan.

Jae Ri menarik senyum yang ia paksakan, “apa .. apa aku.. boleh menunggu di dalam mobil saja?”

Jae Rin semakin bersikeras untuk tidak mengikuti Ji Ah ke dalam apartement setelah mendapati sebuah mobil Van berwarna hitam disudut basement. Ia juga seorang Fangirl, bahkan ia dapat menebak tempat itu bukanlah apartement yang hanya dihuni oleh orang tua atau pengusaha saja. Ya, ini sebuah apartement yang terlihat sangat privasi.

“Wae? Aku akan lama di dalam. Ayolah, temanku itu baik. Ayo..” Ji Ah memaksa Jae Rin gara tetap ikut bersamanya.

“Tapi Jiji –ya –“

“Aihh ayoo.. ayoo..”

Ji Ah menarik Jae Rin hingga gadis itu enggan untuk menolak lagi. Jae Rin melangkah pasrah dengan tangannya yang digenggam oleh Ji Ah.

“Semoga Jung Ji Ah –ssi tidak sedang membohongiku.” Jae Rin terus memohon dalam hatinya.

 

Tak sampai 5 menit berselang ..

Van hitam EXO baru saja tiba bersamaan dengan sedan putih yang berjalan di belakang mereka sejak dari pekarangan apartement.

Tap!

Seorang yeoja keluar lebih dulu dari sedan putih yang terparkir tepat di samping Van EXO.

“Aish sial. Kenapa menyuruhku menggantikannya di mata kuliah kepribadian? Apa dia lupa? Aku mendapatkan nilai F! F! Aish Jay Wang itu benar – benar!  Dia  lupa siapa yang memberiku nilai memalukan itu? Wang Lian! Dan sekarang ahjussi tua ini menyuruhku untuk menjemputnya kemari. Duo Wang ini tidak pernah bosan untuk menyiksaku! Awas saja mereka! Aku ini Lee Daeshi! Psikolog muda berbakat! Bukan supir! Auuwhhh benar – benar Hufh!” si pemilik sedan putih itu membanting keras pintu mobilnya tanpa berhenti mencerca dua orang dengan marga yang sama, Jay dan Lian.

Dering ponsel  membuat gadis penyuka warna hitam itu merogoh cepat handbag yang ia pegang,

“Hallo! Tunggu sebentar! Aigooo apa tidak bisa aku menunggu disini saja?  Aku harus menggantikan Jay di kelas  -“

Tut – tut – tut

“Aishhh sialan! Perjaka tua itu benar – benar!” Daeshi tak henti – hentinya mengutuk seseorang yang saat ini mungkin tengah mengayun – ayunkan kaki sembari menunggunya datang menjemput, Wang Lian.

Singkatnya, Lee Daeshi si psikolog muda berbakat adalah anak asuh dari dua pria yang ia sebut – sebut sebagai penyiksa dalam hidupnya, Jay dan Lian. Anak asuh dalam ruang lingkup universitas. Ya, mereka pernah bersekolah dalam satu atap ketika di Eropa beberapa waktu silam.

“Psikolog Lee! Kau kah itu?”

Daeshi  spontan menoleh ke sumber suara yang sepertinya memang mengarah padanya, “Seunghwan –ssi..” ia melotot tak percaya jika akan bertemu dengan paman sematawayang dari kliennya, Cho Yaegi.

“Yaegi ada disini? Dia tidak mengabariku.” Seunghwan datang menghampirinya.

Daeshi menggeleng cepat, “ani. Aku memiliki keperluan dengan Wang Lian. Bagaimana kabarmu Seunghwan –ssi?” Daeshi memberi salam sopan.

“Hmm, seperti yang kau lihat. Kalau begitu, aku duluan naik ya. Sampai jumpa di lain waktu.” Seunghwan hanya menyapanya sebentar.

“Ah ye. sampai jumpa.” Daeshi  menunduk sopan.

“Jong In –ah! Cepatlah turun!”

DEG!

Lutut Daeshi seketika terasa melemah ketika Seunghwan berteriak pada seseorang dengan nama yang tak asing di telinganya.

Daeshi melihat Seunghwan sudah lebih dulu berjalan menuju lobi, dan sekarang…

Binggo! Sosok Kai turun dari pintu depan Van.

Detak jantung Daeshi mulai tidak beraturan. Suasana basement yang sangat sepi membuatnya semakin tidak dapat berpikir jernih. Semua aksi kriminal berlalu – lalang di dalam pikirannya saat ini. Menculik Kai, menyekap , atau mencium bibir namja itu lalu melarikan diri. Jiwa Fangirl Daeshi mulai bergejolak, lebih tepatnya aura sasaeng yang berkedok psikolog muda berbakat dalam diri seorang Lee Daeshi akan selalu memunculkan radar ketika sosok Kai berada di sekitarnya.

“Ya tuhan ya tuhan.. omo omo omo! Kim Jong In, dia Kim Jong In. Ya tuhan! Ya tuhan tolong aku!” Daeshi berbalik menghadap kaca spion mobilnya, ia sengaja membelakangi Kai karena  rasa gugupnya yang luar biasa. Ia bahkan nyaris kehilangan jati diri ketika Kai mulai melangkah menuju lobi dengan harus melewatinya.

“Lee Daeshi tenanglah. Huffh.. tenanglah.. keep calm. Okay, it works!” Daeshi mulai berucap bodoh, menunggu sosok Kai benar – benar berlalu dari hadapannya.

Akan tetapi..

Jeogiyo…”

DEG!

Suara itu.

Daeshi meremas kuat dadanya, memejamkan kedua matanya frustasi.

“Ya tuhan makhluk tampan nan mempesona ini, masa depanku yang cerah, benarkah dia sedang bersuara padaku? “ Daeshi masih enggan untuk berbalik. Justru berharap itu hanyalah halusinasi semata.

“Agasshi.. Agasshi..”

Suara Kai kembali memenuhi kedua telinganya.

Daeshi mempersiapkan mentalnya sebelum ia benar – benar berbalik, “1, 2, 3.. “

DEG! DEG! DEG!

Tatapan Kai jelas mengacu pada kedua bola mata Daeshi yang baru saja menoleh padanya.

Daeshi semakin merasakan kedua lutut kakinya semakin melemah, tidak ada siapapun disana. Seakan tatapan Kai mengunci gerak bola matanya sehingga tidak dapat berputar kemanapun.

Gulp –

Bila Kai dapat mendengar saliva yang tengah ditelan susah payah oleh Daeshi, mungkin namja itu akan mengetahui jika sosok yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang fangirl sejati  dari seorang Kim Jong In.

“Y-ye?” Daeshi merespon Kai dengan segala kegugupannya, berusaha mati – matian untuk bersikap sewajarnya.

Tatapan Kai berubah polos, ia menunjuk sisi pintu mobil Daeshi, “kau bisa melepasnya?”

“Nde?” Daeshi terbelalak bodoh, tidak mengerti maksud dari pertanyaan Kai.

Kai menunjuk sisi pintu mobil Daeshi dengan lebih jelas, “bajumu. Bajumu tersangkut. Gwaenchaseumnika?” tanya Kai dengan kalimat yang begitu formal.

DUAR!

Daeshi merasa jika saat ini sedang ada ribuan tangan yang menampar wajahnya habis – habisnya. Ingin sekali ia mecopot wajahnya dan melemparnya jauh ke dasar sungai Hain akibat kecerobohannya sendiri.

“Ah! Ye, geure! Geure! Haha. Gwaenchana. Haha, nee.. gomapseumnida.. haha.” Daeshi kalang kabut menutupi dressnya yang terjepit oleh pintu mobil. Sementara Kai sudah berlalu dari hadapannya.

“Haha! Gomapseumnidaaa…” Daeshi masih berteriak pada Kai yang sudah melangkah menuju lobi demi menutupi rasa malunya.

Daeshi dengan cepat merapikan kembali dressnya  sebelum sebuah mobil lagi meluncur masuk ke area basement.  “hah! Memalukan!”

 

Dalam waktu yang bersamaan…

Ting!

Ji Ah dan Jae Rin akhirnya tiba dilantai dimana dorm EXO berada.

“Chajaa… kita sudah sampai. Ayo.” Ji Ah dengan sumringah menggandeng tangan Jae Rin sembari menuju apartement dengan nomor urut apartement yang Tao katakan padanya tadi malam.

Tit – tit

“Ji Ah –ssi..” Jae Rin menarik tangannya dari genggaman Ji Ah pada saat sosok Tao menyembulkan kepala dari arah pintu dorm.

Ji Ah mencoba menahan Jae Rin yang seperti ingin segera kabur darisana, “waeyo?” Ji Ah berpura – pura tidak mengerti.

Jae Rin menarik paksa tangannya, “Ji Ah –ssi aku menunggu di mobil saja. Mian.” Wajah Jae Rin berubah panik, ia berbalik hendak segera pergi dari sana.

Bruk –

“Akh..!” Jae Rin sepenuhnya melupakan  ia hanya bisa berjalan pelan, tidak untuk berlari.

“Omo! Jae Rin –ssi!” Ji Ah mulai kalang kabut. Ia langsung berlari ke arah Jae Rin.

Tao juga ikut keluar demi menghampiri dua gadis disana.

“Auw.. sshh.. sakit..” Jae Rin meringis kesakitan.

Ting!

Pintu lift kembali terbuka, dan muncul dua orang dari sana.

“Ada apa –“

“Rin –ah!”

Belum habis Seunghwan berucap, Kai yang baru saja tiba bersamanya langsung keluar dari dalam lift dengan tergesa – gesa.

“Han Jae Rin!” Kai berjongkok ditengah – tengah Tao dan Ji Ah, bahkan dari kejauhan ia dapat mengenali sosok yang sedang meringis menahan sakit itu.

“Rin –ah gwaenchana?” wajah Kai berubah panik. Ia sama sekali tidak menghiraukan mereka kecuali sosok Jae Rin.

Jae Rin hanya menggeleng pelan, ia berusaha untuk berdiri.

“Tao –ya, apa yang terjadi?” Seunghwan bergidik bingung melihat pemandangan dihadapannya. Terlebih dengan  keberadaan Ji Ah dan Jae Rin.

“Bagaimana ini? Kakinya pasti kembali terasa nyeri.” Ji Ah ikut panik, bayang – bayang Woo Yeon mulai menghantuinya.

Ji Ah berupaya untuk memapah Jae Rin, dan segera pergi dari sana.

“Biar aku saja.” Kai menyambar tangan Jae Rin dari bahu Ji Ah.

Tanpa mengatakan apapun pada sang manajer Kai langsung memberikan punggungnya pada gadis itu, “naiklah.  Cepat, naik.”

Rasa sakit yang semakin menjalar membuat Jae Rin tidak dapat berpikir lagi, ia perlahan mengalungkan tangannya dan naik ke punggung Kai.

“Jong In pinggangmu masih – “

“Aku hanya mengantarnya sampai di basement hyung.” Sahut Kai cepat ketika Seunghwan menahannya.

“Agasshi, dimana mobilmu? Kau membawa kendaraan kan?” Kai bertanya spontan pada Ji Ah.

“Ah ya, dibawah. Ayo. Tao –ya, aku akan menghubungimu nanti. Bye!”

Ji Ah mengikuti Kai masuk ke dalam lift.

 

Sesampainya dilantai dasar ..

“Agasshi dimana mobilmu?”

“Disana.” Ji Ah menyamakan langkahnya dengan Kai yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.

“Rin –ah, gwaenchana?”

Jae Rin hanya bisa menahan tangisnya tanpa bisa menjawab. Kakinya mulai berdenyut.

Tiba – tiba …

Langkah Kai berhenti begitu saja pada saat ia menyadari jika disana ada dua orang yang berpapasan dengannya.

Lee Daeshi.

Yoon Soo Hee.

Kai melihat Daeshi dan Soo Hee yang menatapnya secara bersamaan.

“Jiji –ya…”

“Shi eonni..”

To Be Co

 

Selamat Id Adha bagi yang merayakan. ^o^

 

Note : Series KaiRin ini akan lebih berbau brothership kali ya. Karena paska out nya Kris dari grup. Untuk cinta – cintananya gak 100%😀

Soalnya EXO lagi banyak cobaan sekarang kekeke *elah bahasanya

Untuk SuSoo dan HanNa momentnya harap bersabar😀

Author mencoba untuk mewujudkan nya atu demi atuuuu :*

Love ya!

 

61 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 6

  1. OMO EONNIE~~ ahh aku saja kah yg telat banget disini? Aku readers lama mu ehehe ^^ udah jarang buka blog mu lagi, terakhir itu baca FF ini yg Part 1 dan aku tunggu lanjutannya lama banget…. Huhuhu dan ternyata!! Ini sudah sampe part 6?! Aku langsung baca marathon jadi baru komen di sini..

  2. Wuaaahhh aku baru baca ff kamu lagi chinguuuu.. jd mian kalo baru comment soalnya baca ceritanya dirapel…. ntah knapa ff kamu tuh slalu bikin aku ngrasa kaya kejadian beneran soalnya kamu slalu sisipin fakta yg ada soal exo…. aisshhh aku sedih… kangen kris eh skrg luhan keluar… T_T aku pengen mreka utuh lagi ber12.. kalo aja ada investor yg bs bayarin exo supaya ber12 lagi yaaaa…. hahahahahaha mulai ngehayal…. ditunggu next chapternya yaa….

  3. chapter yang ini banyak melibatkan emosi makin makin makin suka ceritanyaaa
    aduuuh mr & mrs cupid nya lucu hahahaha
    keep figihting!😀

  4. aku nggak bisa ngomong apa lagi *etdah bahasanya hahaha
    Masih bingung + penasaran sama jalan ceritanya…lanjut chapt ya kk….daebaaakkk…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s