EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 7

5738_757117507648989_1240196035_n

 

Author / Script Writer : Ulfa Muriza

Poster by : Tiara / Han Jae Rin

Rate : T

Genre : Family, Friendship, romance, sad, ( – marriage life )

Cast :

– Kim Jong In / Kai

– Han Jae Rin / OC

– Lee Dae Shi / OC

– YaeFan / Cho YaeGi – Wu Yi Fan / Official Couple 😀

– Yoon Soo Hee / SM’s Model

– EXO

– Another Cast

TYPO EVERYWHERE!

***

Kai kembali dari parkiran apartement usai mengantarkan Jae Rin hingga ke mobil Ji Ah. Di sana Kai masih melihat Soo Hee yang masih berdiri di pintu lobi. Lebih tepatnya, memang menunggu namja itu. Sementara sang Fangirl Lee Daeshi mengikuti Kai dari belakang karena ia juga ikut membantu Ji Ah dan Kai untuk membawa Jae Rin masuk ke dalam mobil. Sungguh suatu hal yang langka, sudah bertahun – tahun Ji Ah dan Daeshi tidak pernah bertemu setelah Ji Ah pindah dan menetap di Kanada. Singkatnya, Daeshi adalah junior dari Woo Yeon ketika mereka duduk di bangku fakultas beberapa waktu silam.

Kai berhenti berjalan karena Soo Hee yang berdiri di depannya. Ia dan Soo Hee hanya saling berpandangan satu sama lain tanpa sepatah katapun yang terucap.

Sementara Daeshi yang juga langkahnya terhalang oleh kedua orang tersebut, enggan  untuk menginterupsi dua sosok yang bisa dikatakan tengah perang dingin tersebut.

Daeshi hanya bisa mematung di belakang Kai, sesekali ia mencuri – curi pandang pada Soo Hee dan Kai secara bergantian. Hingga gerak bola matanya mendapati tangan Kai yang seperti hendak meraih sesuatu dengan gerakan ragu – ragu. Meskipun sulit untuk diterka, Daeshi melihat tangan Kai yang hendak bergerak dengan jelas.

DEG!

Daeshi nyaris terbelalak lebar ketika ia merasakan sesuatu menggenggam telapak tangannya. Ia semakin memperjelas penglihatannya ketika ia melihat arah tangannya sendiri yang benar – benar sedang dalam genggaman sosok didepannya, Kai menarik tangan Daeshi dan menggenggamnya erat tanpa melihat pada Daeshi ataupun mengucapkan sesuatu.

Soo Hee ikut melihat pemandangan itu. Kedua alisnya bertaut, ia tidak mengenal sosok gadis yang saat ini sedang di genggam oleh tangan Kai.

“K-kim Jong In – “

“Ayo.”

“Oh!”

Kai memotong ucapan Daeshi dan menarik yeoja itu bersamanya hingga Daeshi sedikit kehilangan keseimbangan. Kai melewati Soo Hee begitu saja dengan terus menggenggam tangan Daeshi.

Soo Hee berbalik denga raut wajah kesal, “ya!” Soo Hee berteriak pada Kai yang hendak menekan tombol lift.

Kai menoleh sejenak tanpa sepatah katapun.

“Kau ingin mempermainkanku?” Soo Hee menatap Kai tajam seraya menunjuk Daeshi dengan telunjuknya.

Sekali lagi, seorang Kim Jong In hanya menjawab dengan senyuman sinisnya.

“Daeshi –ya, kajja.” Suara lembut Kai bergeming sambil melangkah ke dalam lift tanpa melepas genggamannya.

Pintu lift pun tertutup.

“Sial!” Soo Hee merasa harga dirinya benar – benar di injak saat itu. Bagaimana tidak, seorang laki – laki yang sudah ia kagumi sejak lama, mengabaikannya begitu saja. Padahal, ia berniat untuk meminta maaf pada Kai atas sikap kalutnya hingga melayangkan sebuah tamparan mulus ke wajah Kai.

Sementara itu di dalam lift …

Setelah pintu lift tertutup rapat Kai langsung melepas tangan Daeshi dari genggamannya, dan langsung menjaga jarak diantara keduanya.

Kai berbalik menghadap Daeshi yang masih berdiri disampingnya,

“Mianhamnida..” Kai membungkuk begitu dalam. Ia sunggu meminta maaf atas sikapnya barusan.

Daeshi masih merasa kelu untuk berucap, serangan jantung yang bertubi – tubi membuatnya sulit untuk menerima respon.

“Y-ye. Gwaenchaseumnida.” Sahut Daeshi dengan sangat terbata.

Kini mereka kembali larut dalam pikirannya masing – masing. Entah benar atau tidak, Kai sedikit bisa merasakan bunyi sesuatu yang berdegup dari sosok yang berada disampingnya itu. Tetapi sosok Jae Rin membuat Kai berhenti mendengar degupan itu.

Pintu lift terbuka.

Mereka keluar dan menuju lantai yang sama.

Daeshi dan Kai tidak saling menyapa sama sekali, mereka terus berjalan menuju tujuannya masing – masing.

Setiba di depan pintu dorm Kai langsung menekan cepat password, sementara Daeshi langsung membelakangi Kai dan menekan bel apartement Yaegi berkali – kali tanpa berbalik sedikitpun.

Tit – tit

Bunyi tanda password telah sesuai dari dorm EXO bersamaan dengan pintu apartement Yaegi yang dibukakan oleh seseorang.

Seketika Daeshi langsung berhamburan masuk ke dalam, tanpa menyadari ia mendorong Lian yang baru saja membukakan pintu untuknya.

“Hufh – “ Daeshi memegangi dadanya sembari melepas nafas beratnya.

Lian yang baru saja kembali menutup pintu memandang Daeshi sesaat, “kau bertemu lagi dengan makhluk yang bisa melakukan telepotasi itu?” gaya khas Lian membuat Daeshi langsung berdiri tegap.

“Siapa?” Daeshi memasang wajah berpura – pura bingungnya.

“Ah sudahlah. Ikut aku.” Lian mengibaskan tangannya, dan lebih dulu menuju ruang utama.

Daeshi melihat begitu banyaknya kertas – kertas yang berserakan di atas meja ruang utama apartement kliennya itu. Dengan sebuah laptop ditengah – tengah tumpukan dokumen disana. Tiba – tiba sesuatu menarik perhatian Daeshi dalam sekejap.

“Oh, saem! Ini CD rekaman ekslusif para artis itu kan? Wooah.. dari mana kau mendapatkan – “

“Duduklah.” Lian lebih dulu memotong suara antusias Daeshi.

Lian menyodorkan 4 buah kepingan CD yang bertuliskan masing – masing nama agensi ternama disana.

“Kau pasti tahu semua ini kan?”

Daeshi mengangguk mantap, “tentu.”

Lian memberikan anggukan lega, “baiklah. Deskripsikan satu persatu.” Lian bersiap dengan laptop di depannya. Terlihat dari wajah pria berkulit eksotis itu, rasa lelah telukis jelas.

“Ani, sebentar saem. Kita tidak jadi pergi?”

“Aku hanya memiliki waktu hingga esok pagi untuk semua ini. Aku menyuruhmu datang kemari untuk ini.” Lian menyahut tanpa beralih dari layar laptopnya.

“Tapi saem, aku harus mengisi jadwal perkulihan pukul 4 sore nanti.” Daeshi berbicara penuh rasa hati – hati.

“Perkuliahan?” penyataan Daeshi sukses membuat Lian berpaling dari layar laptop.

Daeshi mengangguk ragu, “n-nde. Jay sunbaenim menyuruhku untuk menggantikannya di kelas kepribadian.” Daeshi menjelaskannya dengan susah payah.

Lian seketika memandang mantan mahasiswinya itu sejenak, “Daeshi Lee kau sudah membuatku tertawa, great job.” Lian mengacungkan kedua jempol dengan wajah datar.

Daeshi seketika menunduk lemah, “aku juga tidak mengerti mengapa Jay sunbaenim menyuruhku.”

Mendengar nama Jay, Lian sama sekali tidak berkomentar apapun, “kau hanya memiliki waktu 1 jam. Kita mulai sekarang.”

“Oh, ne.”

 

Guangzhou – pukul 5 sore

 

“EXO Luhan melayangkan tuntutan kepada pihak SM Entertainment.”

“Anggota Boygrup EXO Luhan memutuskan kontrak kerja terhadap agensi SM Entertainment.”

“Saham agensi ternama SM Entertainment menurun drastis setelah EXO Luhan melayangkan gugatannya.”

 

Sederetan judul berita yang terpampang jelas dilayar komputer membuat kedua mata Yaegi seakan tidak bisa berkedip lagi.

“Ya tuhan..” gumamnya.

Sebuah pemberitahuan email masuk membuat fokus yeoja itu beralih pada aplikasi kotak pesan elektoniknya.

 

“From : KK Office Group

Segera lakukan  pemberhentian investor yang tersebar disemua agensi SM Entertainment. Batas waktu hingga esok hari, pukul 10 pagi.”

 

Binggo! Yaegi sedikitnya sudah dapat menebak isi pesan yang dikirimkan oleh jajaran staff tertinggi di perusahaannya.

“Lian oppa, Lian oppa..” tangan Yaegi bergerak secara membabi buta untuk menemukan keberadaan ponselnya, ia harus segera mengontak seseorang yang terus ia gumamkan itu.

Namun, sebuah panggilan masuk menghalanginya.

“Sekretaris Park.”

Tanpa pikir panjang Yaegi langsung menjawab telfon tersebut.

“Ya, halo.”

“…….”

“Ah paman Hwang annyeonghaseyo.”

“………….”

“Ye? Tapi paman –  “ wajah Yaegi seketika berubah panik.

“…………”

Sesuatu yang diucapkan oleh seseorang disebrang sana membuat wajah Yaegi semakin berubah mengernyit.  Rasa panic, gusar , khawatir menjadi satu.

“Ye, aku mengerti paman.”

Panggilan terputus.

Yaegi megusap kasar wajahnya yang sudah terlihat frustasi itu. Ia mengurungkan niat untuk menguhubungi Lian karena semuanya sudah terjawab usai Tuan Hwang sang pemegang hak perusahaan hingga saat ini menghubunginya barusan.

Satu email masuk lagi membuat fokus Yaegi beralih cepat.

“Mwo!”

Yaegi reflek bangun dari duduknya. Ia mendapatkan sebuah email tidak dikenal, yang mengirimkannya sebuah link yang menampilkan sebuah berita omong kosong yang mengatas namakan perusahan sang ayah.

“Perusahaan nomor satu Asia, KK Group membuka kesempatan sponsor secara besar – besaran untuk seluruh industri  hiburan Korea.”

Yaegi berkali – kali membaca judul artikel tersebut, mulutnya nyaris ternganga lebar.

“Aish tega sekali yang membuat berita ini!”

Tanpa mematikan komputer dan membereskan meja kerjanya, Yaegi berlari menuju lemari pakaian dan menarik sebuah tas ransel dari dalam sana. Ia menarik salah satu blazer yang tergantung rapi disana dan segera memakainya. Tak lupa meraih paspor, dan semua keperluan yang selalu ia bawa ketika ia melakukan perjalanan jauh, dari dalam laci yang terdapat disisi kiri ranjang tidurnya.

Bahkan suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang tidak mencuri perhatiannya sama sekali.

“Pikachu, kau mau pergi kemana?” Kris melihat Yaegi yang sedang mengikat tali sepatunya dengan geraka tergesa – gesa.

Yaegi yang duduk di tepi tempat tidur hanya menoleh pada Kris sesaat, “Kris –ah, antarkan aku ke bandara sekarang. Aku harus tiba di Korea sebelum pukul 8 malam. Eoh, ChanSha dimana? Mereka harus mandi sekarang.” Yaegi bergegas keluar kamar.

Tetapi tangan Kris menahannya cepat. Yaegi menatap Kris setengah bingung. Ia sedang dalam keadaan darurat saat ini.

“Ibu sudah kembali ke Kanada. Biarkan ChanSha tinggal bersamaku.”

Yaegi nyaris melupakan hal itu. Kris akan sendirian dirumah, jika ia pergi bersama ChanSha.

“Besok pagi setelah semuanya selesai, aku akan langsung kembali. Uh?” Yaegi mendesak Kris agar mengizikannya membawa ChanSha.

“Biarkan anak – anak bersamaku.” Kris memperjelas.

Yaegi menghela nafas pasrahnya, ia mengusap tangan Kris yang masih memegang lengannya. “Baiklah. Aku berjanji tidak akan lama.”

Dua bola mata Kris memandang sosok itu lekat, “Yaegi –ya, jangan terluka lagi dan jangan terlibat terlalu jauh Yaegi –ya.”

Ucapan Kris sontak membuat Yaegi mendongak menatapnya. Lalu Yaegi tanpa ragu melepas genggaman Kris, dan memeluk namja itu untuk sesaat.

“Aku mengerti Kris –ah.” Yaegi menyudahi pelukannya, ia sedikit berjinjit dan mendekat ke arah wajah Kris.

Chu –

Satu kecupan singkat menyapu lembut bibir merah muda Kris.

“Aku tidak akan terluka lagi, dan tidak akan ada yang terluka lagi. Jangan khawatir.” Yaegi berbisik lembut seraya mengusap pundak suaminya itu.

“Luhan juga – “

Anggukan Yaegi memotong kalimat Kris, “hmm. Luhan juga.”

Kris sesaat menunduk tanpa berucap apapun.

“Paling tidak, Kai dan yang lainnya tidak akan terluka terlalu dalam jika ada yang berdiri di pihak mereka esok hari.”

Perkataan Yaegi membuat Kris kembali mendongak. Seakan Yaegi mengerti arti tatapan itu.

“Aku sedikit mengenal Young Min karena sayatan disini. Maka itu, KK Group tidak boleh memihak yang salah.” Yaegi menunjuk sisi bahunya yang terdapat bekas luka sayatan belati dua tahun silam. Sosok Yaegi yang berdiri di hadapan Kris saat itu, seakan menjelma menjadi seorang wanita muda yang memegang kuat tanggung jawab yang diberikan padanya. Ya, profesionalisme mulai berbicara.

“Tunggulah dibawah, aku akan menyusul. ChanSha ada diruang TV.” Kris mengusap sayang puncak kepala Yaegi.

“Geure, thanks hubby.” Yaegi berlarian menuju keluar kamar.

 

***

EXO Dorm – pukul 07 malam.

Tao dan Kai keluar kamar dengan aksi saling dorong mendorong satu sama lain. Mereka memberanikan diri untuk menyapa Seunghwan yang sedang duduk di sofa ruang utama dorm mereka. Keadaan dorm saat itu terbilang sangat sepi, memberdeul memanfaatkan waktu senggang mereka untuk tidur siang dan bangun ditengah malam.

“Kau saja yang bicara. Sudah, cepat.” Tao menarik Kai agar namja itu berpindah posisi menjadi didepan.

“Kau saja.” Kai mendorong Tao pelan.

Tao mengeras diposisinya, “tapi yang ingin bertemu itu kan kau  dan Jae Rin!” Tao berbisik kesal.

“Tapi kau yang tau dimana apartement Ji Ah. Ayolah Zitao, kali ini saja.” Kai dengan gaya memelasnya yang sangat tidak cocok untuk seorang Kim Jong In.

Tao menghela nafas kasar, ia menatap punggung Seunghwan sedikit lama.

“Ayolah Zitao, nanti akan semakin larut malam..” Kai membuyarkan lamunan Tao.

“Aih, yasudah. Kau juga didepan, jalan sama – sama!” Tao menarik tangan Kai geram.

Setiba mereka disisi Seunghwan..

“H-hyung..” Tao memanggil sosok itu ragu.

“Hmm, wae?” Seunghwan berusaha untuk menutupi raut wajahnya yang gusar karena berita Luhan yang baru saja keluar. Saat itu, memberdeul belum ada yang mengetahui berita terkait vocal line EXO – M yang juga melayangkan gugatannya kepada pihak agensi.

“Yang tadi itu… aku sungguh minta maaf hyung.” Tao menunduk lemah, ia tidak berani memandang Seunghwan lebih lama.

“Jadi dia kekasihmu?”

Tao mengangguk dengan beribu rasa ketakutan yang bergumul didalam dirinya, “n-nde.”

“Uhm, geure.” Hanya itu yang terucap dari mulut Seunghwan. Tidak seperti biasanya, ayah dari semua manajer itu hanya merespon seadanya tanpa embel – embel yang akan menyayat hati.

“H-hyung..” Tao kembali tergagap.

Kali ini Seunghwan mendongak memandang Tao dan Kai bergantian, “hmm, wae?” masih dengan intonasi mengerikan dengan berkedok datar.

“Aku ingin ke apartement Taemin, hyung. Boleh kan?” Kai angkat bicara.

Dalam waktu yang bersamaan, Suho keluar dari kamarnya dan langsung menuju pintu masuk dorm mereka.

Sesaat mata Seunghwan mengikuti sosok Suho hingga namja itu membuka pintu untuk seseorang disana.

Lalu kembali beralih pada Tao dan Kai.

“Ke apartement SHINee? Tadi aku bertemu Taemin, dia tidak mengatakan apapun.” Alis Seunghwan bertaut. Tao dan Kai saling bertatapan sejenak.

“Ung.. itu.. aku, Taemin dan Won Shik sudah berjanji untuk bertemu malam ini. Hanya bermain sebentar hyung.” Kai berusaha memperindah alasannya.

Seunghwan memperhatikan gerak  – gerik mereka berdua lebih jelas, ia sedikit memiringkan posisi duduknya dengan tangan yang bertumpu pada salah satu pahanya, “tadi kau mengatakan Taemin, dan sekarang Won Shik?” Seunghwan ikut berkelit.

Tao menyikut lengan Kai berkali – kali, ia enggan untuk melanjutkan uji nyali itu.

Tapi Kai bertahan diposisinya, berharap mendapatkan anggukan dari Seunghwan.

“Suho –ya! Siapa yang datang?” Seunghwan sesaat berteriak ke arah Suho.

Suho menoleh, “Soo Rim hanya mengantarkan makanan sebentar hyung..” Suho dengan cepat menjelaskan.

“Suruh dia masuk.”

“Ah ye.” Suho menarik pintu lebih lebar, dan munculah sosok Soo Rim darisana.

“Oppa, ada apa?” Soo Rim tidak langsung membuka sepatunya.

“Kau pulang melewati Gangnam?”

“Ye?” Soo Rim mengernyit heran dengan pertanyaan Seunghwan.

Begitu pula dengan Tao dan Kai. Gangnam adalah tempat dimana Woo Yeon tinggal.

“Hyung kau mau pergi ke Gangnam?” Tao reflek melontarkan pertanyaannya.

Seunghwan menatap tajam Tao dan Kai, “bukankah itu tujuan kalian?”

Gulp –

Tao dan Kai susah untuk menelan salivanya.

“H-hyung..” bulu kuduk Tao seketika berdiri.

Tatapan Seunghwan berubah pasrah, “pergilah. Paling tidak aku tahu itu kediaman Dokter Jung. Telfon aku jika sudah selesai.”

Kai dan Tao terperangah hebat dengan apa yang barusan mereka dengar.

“Junmyun –ah, kau tidak keberatan kan?” Seunghwan melirik Soo Rim.

Suho sedikit terhenyak, “ah gwaenchanayo hyung.”

 

Beberapa waktu kemudian ..

Soo Rim memberhentikan mobil yang ia kemudikan pada sebuah halaman apartement yang cukup ternama di daerah Gangnam. Ia melirik dari kaca spionnya, “Woo Yeon masih tinggal disinikan?” untuk pertama kalinya Soo Rim berinteraksi langsung dengan Tao dan Kai.

Tao mengangguk cepat, “ne. Neomu gomawoyo. Soo Rim –ssi gomawoyo.” Tao bergegas membuka pintu mobil.

“Nuna gomawo.” Kai menambahkan.

Soo Rim tersenyum dari kaca spionnya, “ nde. Berhati – hatilah.”

“Ummm, nee..”

Kedua namja itu kini sudah berjalan masuk menuju apartement, Soo Rim kembali melajukan mobilnya usai memastikan titipan Seunghwan sang kakak ipar telah masuk ke area lobi apartement.

 

Sesampainya di apartement ..

“Lantai berapa?” Kai melihat Tao yang ragu untuk menekan tombol lift.

Plak –

Tao memukul jidadnya sendiri. “Aku lupa menanyakannya pada Soo Rim –ssi. Bagaimana ini?”

“Jadi kau sendiri tidak tahu tempat tinggal Ji Ah?” Kai menunjuk Tao frustasi.

Tao sedikit menyeringai, “uhm. Tidak tahu.”

Bunyi langkah sepatu seseorang membuat Tao dan Kai menoleh bersamaan…

Sosok yang juga menuju pada pintu lift menghentikan langkahnya ketika melihat keberadaan dua orang yang sama – sama menutupi kepala mereka dengan penutup kepala yang terdapat pada baju tebal yang mereka kenakan.

“Yeon nuna.” Tao spontan memanggil sosok tersebut.

Ya, sosok yang tak lain adalah Woo Yeon itu ikut mengernyit, “kalian? Sedang apa?” perlahan wajah Woo Yeon kembali berekpresi tenang.

Kai senejak melirik Tao yang enggan untuk melontarkan sepatah katapun, lalu ia pun maju selangkah membelakangi Tao dan langsung membungkuk sopan dihadapan Woo Yeon, “annyeonghaseyo. Aku Kim Jong In, aku teman dari Han Jae Rin.” Kai berkata tanpa ragu sedikitpun.

Melihat sikap Kai demikian, Woo Yeon langsung mengerti mengapa dua bocah yang tidak ia kenal dengan baik itu berada dikawasan apartemennya saat ini.

 

Beberapa waktu berselang ..

Woo Yeon menekan password apartemennya dan mempersilakan Tao dan Kai ikut masuk bersamanya.

“Silahkan duduk,” wajah Woo Yeon terkesan datar, bukan tidak menyambut kedatangan mereka dengan sukacita, tetapi begitulah seorang Jung Woo Yeon.

“Ye.” Kai dan Tao duduk pada sofa yang ditunjuk oleh Woo Yen, sambil sesekali melirik sekitar mereka dengan tatapan sekilas.

“Kondisi Jae Rin saat ini sedikit menghawatirkan, dia tidak boleh berjalan kemanapun. Jika hanya bertemu disini, kau tidak keberatan kan?” tanya Woo Yeon langsung pada Kai. Sebelumnya, Woo Yeon sudah lebih dulu mendengar penjelasan dari Ji Ah siang tadi ketika Ji Ah mengantar Jae Rin menuju rumah sakit.

Kai sebenarnya enggan untuk mengiyakan, tetapi sudah diberikan kesempatan dan izin seperti saat ini itu sudah lebih dari cukup baginya.

“Ye, gamsahamnida.” Kai mengangguk sopan.

Woo Yeon tersenyum tipis, “tunggu sebentar.”

Sementara menunggu, Tao sejak tadi terus celingukan kesana kemari melihat keberadaan Ji Ah, tetapi sosok itu tak kunjung terlihat.

“Pergi kemana dia? Kakao ku juga tidak dibalas. Apa dia langsung dikirim lagi ke Kanada karena kejadian tadi siang? Ck.” Tao menggumam seraya mengotak – atik ponselnya tanpa mengajak Kai berbicara sama sekali.

“Tao –ya!”

“Eo!” Tao langsung menoleh ke arah suara yang berbisik memanggil namanya, diikuti dengan Kai yang juga ikut menoleh.

“Jiji –ya.” Tao spontan bangun dari duduknya ketika mendapati Ji Ah yang muncul dari balik pintu sebuah kamar.

Ji Ah menaruh telunjuk pada bibirnya, “ssstt..! Andwae, jangan kemari. Duduklah, duduklah.” Ji Ah berbisik dengan penuh ekspresi, sesekali gadis itu melihat ke dalam kamar.

“Wae?” Tao meminta penjelasan dari jarak jauh.

Ji Ah menunjuk ke dalam kamar, “daddy, daddy ada disini. Duduklah disana, ara? Duduk.” Ji Ah menunjuk – nunjuk sofa dengan bahasa isyrat yang ia gunakan.

Seketika mata Tao terbelalak lebar ketika menyadari Ji Ah menyebutkan kata “daddy” barusan, “sungguh? Omo! Ara ara.” Tao menutup mulutnya tidak percaya, ia langsung berbalik dan kembali duduk.

“Kenapa?” tanya Kai penuh rasa heran.

Tao hanya menggeleng tanpa menoleh lagi ke arah belakangnya.

Tak lama kemudian, Woo Yeon keluar dengan seseorang yang berjalan dengan bantuan tongkat dikedua tangannya. Seorang gadis cantik yang memiliki mata nan indah, serta bibir oranye pucatnya yang kian menambah keanggunan pemiliki wajah tersebut ketika ia menyunggingkan senyuman, Han Jae Rin.

Kai perlahan bangun dari duduknya, ketika melihat Jae Rin dalam kondisi seperti saat sekarang. Kai memperhatikan sosok Jae Rin perlahan dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

“Hati – hati..” Woo Yeon membantu Jae Rin untuk duduk pada sofa yang berhadapan dengan Kai dan Tao.

Tao tanpa sengaja beradu tatapan dengan Woo Yeon yang juga memandangnya,

“Huang Zhi Tao.” Panggil Woo Yeon dengan nada tegas.

“Ye?” Tao reflek menyahut cepat.

“Ayah Jung Ji Ah sedang berada disini, mari bertemu.” Woo Yeon meminta Tao untuk mengikutinya, seakan mengerti bahwa Kai dan Jae Rin memerlukan kesempatan untuk berbicara.

GULP –

Tao menelan salivanya dengan begitu susah payah.

“Aku?” wajah Tao berubah pucat seketika.

Woo Yeon mengangguk pelan, “kita ke ruangan sebelah sana. Ayo.” Woo Yeon menunjuk arah pintu dimana Ji Ah muncul beberapa saat lalu, dan langsung berjalan lurus. Mau tidak mau Tao juga ikut bangun dan mengikuti Woo Yeon dengan lutut yang sudah lemas lebih dulu.

Sesaat Tao meremas lengan Kai seraya berbisik, “Jong In-ah, tunggu aku. Jangan pergi duluan, ara?”

Kai menarik lengannya dari genggaman Tao, “ara.” Tukasnya singkat. Tao pun berlari kecil agar dapat menyamakan langkah dengan Woo Yeon.

Kai sejenak memperhatikan Tao dan Woo Yeon yang sudah menghilang dibalik pintu, lalu matanya perlahan kembali memandang pada sosok gadis yang hanya menunduk dihadapannya saat itu.

“Gwaenchana?” satu ucapan yang terlontar dari bibir Kai.

Perlahan Jae Rin menatap Kai. Kedua matanya terkesan begitu sembab. Jae Rin mengangguk pelan, “hmm, aku baik – baik saja.” Jae Rin menyunggingkan senyum yang ia paksakan.

“Kau tinggal disini?” tanya Kai lagi, masih dengan suara yang setengah berbisik.

“Untuk sementara waktu.” Suara parau Jae Rin kembali bergema.

Kai kembali terpaku dengan sosok Jae Rin, kedua bola matanya sama sekali tidak bisa berpindah dari wajah gadis itu. Kebiasaan yang selalu membuat Jae Rin nyaris salah tingkah, saat mereka sedang bersama.

“Jangan memandangiku seperti itu.” Jae Rin kembali menundukkan wajahnya, tatapan Kai hanya akan membuatnya merasa berat untuk menerima kenyataan bahwa ia dan sosok namja dihadapannya ini telah berakhir.

Kai sedikit terhenyak, ia sama sekali tidak pernah sengaja untuk membuat Jae Rin tidak nyaman, tetapi itulah seorang Kim Jong In, ia akan selalu seperti ini ketika Jae Rin ada dihadapannya.

“Mian,”

“Hmm. Tidak apa – apa.” Jae Rin kembali menarik senyum simpul.

Kai memberanikan dirinya untuk berpindah duduk ke samping Jae Rin. Yeoja berambut hitam nan lurus itu langsung menyetel jarak antara dirinya dan Kai.

“Kakimu kenapa?” tanya Kai lembut, ia melihat jelas kedua tongkat yang berada didekat Jae Rin.

Inilah hal yang membuat Jae Rin merasa menjadi seorang yang plin – plan, Kai selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan belum pernah sekalipun Kai bersikap layaknya laki – laki yang sedang sangat menyukai seorang gadis, terlebih gadis itu sudah menjadi miliknya selama 6 tahun  lamanya.

“Rin –ah..” suara lembut Kai membuat Jae Rin semakin tidak nyaman. Perlakuan, tutur kata, tatapan, serta suara itu, hal yang sulit untuk Jae Rin enyahkan dari memorinya.

Jae Rin mengambil nafas dalam, ia menghembuskannya perlahan.

“Sakit seperti dulu. Seperti pinggulmu..” Jae Rin berusaha untuk menjaga intonasi suaranya yang bergetar.

“Sudah parah ya?” tanya Kai lagi, ia memperhatikan kaki Jae Rin yang dibalut perban.

Jae Rin mengangguk tanpa ragu, “hmm. Tapi aku sudah mengatakan pada dokter Jung, aku tidak ingin diamputasi.”

“Amputasi? Rin –ah, kau tidak bercanda kan?” wajah Kai berubah gusar.

“Kau harus menepati janjimu Jong In –ah, kita adalah teman.” Jae Rin tidak mau Kai kembali terbawa oleh suasana. Ia tidak ingin Kai kembali merasa kasihan padanya.

Kai mengangguk jelas, “aku mengerti. Tapi kenapa harus diamputasi?”

“Masih kemungkinan. Kau mengerti apa yang ku katakan tidak?” Jae Rin berusaha mengalihkan pembicaraan mereka yang terus larut dalam atmosfer nan canggung tersebut.

“Lalu apa kau mengerti bagaimana aku saat ini setelah apa yang kau katakan kemarin?”

DEG!

Pertanyaan spontan yang keluar dari mulut Kai, membuat Jae Rin mematung kaku.

Kai memperhatikan wajah Jae Rin dari arah samping, ia tetap memandang wajah gadis itu meski Jae Rin sama sekali tidak mau menatapnya.

“Ya, kali ini aku tidak akan memaksamu. Kau ingin kita berteman? Tidak masalah. Tapi hanya saja – “

“Ku rasa apa yang ku katakan tempo hari itu sudah sangat membuatmu mengerti Jong In –ah.” Potong Jae Rin cepat.

“Nan ara Han Jae Rin,” Kai balik menekankan kalimatnya.

“Kau bisa pergi bersama Ray, membuat website anti – fan, memakiku sepuasmu, tapi tidak seperti ini caramu menyudahi semuanya. Seolah – olah aku tidak pernah memberi usaha apapun.”  Suara Kai mulai bergetar, wajahnya perlahan memerah. Ia menahan rasa geram, bercampur kecewa yang ia pendam selama ini.

Air mata Jae Rin sudah membasahi pipinya. Lagi – lagi Kai masih bersikap sama. Cara namja itu menuai protes, tatapan kecewanya, masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.

“Lalu apa yang kau inginkan sekarang!” Jae Rin meredam kekesalannya. Ia sadar bahwa pemilik apartement bisa saja mendengar mereka.

Kai sesaat memalingkan tatapannya, ia mulai frutasi.

“Entahlah,” Kai mengusap kasar wajahnya.

Jae Rin menoleh padanya, menatap tajam Kai yang tidak lagi melihat padanya.

“Ini semua karena kita sudah terlalu lama bersama, hanya karena waktu, bukan karena apa yang kita rasakan Jong In –ah.” Jae Rin menyeka kasar air matanya.

“Lalu maksudmu aku sudah mulai menyukai Lee Taemin?” Kai bertanya kesal.

Tatapan Kai kali ini membuat Jae Rin menyerah untuk meredam tangisannya, ia merah cepat tangan Kai dan menggenggamnya erat.

“Aku hanya ingin menjalani semuanya dengan kehidupan normal Jong In –ah. Tidak dianggap gila atau fanatik ketika aku mengatakan bahwa aku adalah kekasih dari seorang EXO Kai. Itu sungguh menyebalkan, kau tahu! Hiks..”  Jae Rin semakin terisak.

Hati Kai serasa mencelos, setiap kali Jae Rin melontarkan pertanyaan tersebut.

“Bersabarlah Han Jae Rin.”  Suara Kai terdengar putus asa. Ia sudah ribuan kali mengatakan kalimat yang sama setiap mereka kembali berselisih paham.

“Shireo. Sudah cukup, nan shireo.” Jae Rin menyahut lugas.

Kai menatap kedua bola mata Jae Rin sejenak, melihat kesungguhan dari apa yang terlontar dari bibir gadis itu.

“Geure. Kita berpisah.”

DEG!

Air mata Jae Rin semakin mengucur deras usai ia mendengar jelas kalimat yang baru saja Kai ucapkan.

“Geure, paling tidak sekarang aku sudah mengerti.” Jae Rin tersenyum disela tangisnya.

Dada Kai semakin terasa sesak, ia tidak tahu harus kemana melimpahkan kekesalannya.

“Aku menyukai gadis lain? Aku sudah berhubungan dengan gadis lain tanpa memberitahumu? Pikiranmu selalu kotor Rin –ah!” Kai menunjuk kesal kepalanya sendiri.

“Itu kenyatannya!”

“Kenyataan apa! Kau selalu menempatkanku di posisi yang serba salah!”

“Yasudah, pergi dari sini!” Jae Rin menunjuk pintu keluar dengan tangisan yang tak dapat lagi ia bendung.

“Aish!” Kai hanya menutup kedua telinganya tanpa beranjak sama sekali. Selama 6 tahun bersama, mereka sering melewati saat seperti ini, namun akan kembali membaik setelah satu sama lain mengakui kesalahan masing – masing. Tapi tidak untuk kali ini, itu terlihat dari Kai yang terus membantah apa yang Jae Rin katakan. Kai seakan meluapkan semua yang ia pendam selama ini. Beribu tuduhan, makian, hal yang tidak ia perbuat yang selalu Jae Rin todongkan padanya.

DUK!

Jae Rin meninju keras pundak Kai, “cepat pergi! Hiks.. “

Jae Rin berkali – kali memukuli namja yang sama sekali tidak berkutik itu.

“Cepat pergi! Pergiiiii! Hiks.”

Kai benar – benar beranjak dari duduknya, “ara! Aku pergi!”

Jae Rin menarik sesuatu dari lehernya dan melempar benda berwarna perak tersebut pada Kai.

Kai menangkap kalung yang dilempar oleh Jae Rin lalu mencampaknnya ke lantai.

“Aku tidak mau lagi melihatmu!” Jae Rin bergidik geram, air matanya terus membasahi pipinya.

Nafas Kai kian terengah – engah, ia berusaha keras menahan emosinya. Ia memperhatikan tingkah Jae Rin yang tak kunjung ada perubahan hingga saat ini.

“Pergi dan kencani gadis – gadis diluar sana! Bukankah kau mengoleksi semua nomor ponsel mereka!”

Kai tersenyum licik, “duduklah disini dan tunggu berita yang kau inginkan itu.”

“Bajingan!”

“Tentu, aku bajingan.” Kai mengiyakan apapun yang dikatakan oleh Jae Rin. Lalu beranjak pergi dari sana tanpa memperdulikan Jae Rin yang terus menangis. Bahkan ia melupakan Tao yang masih tertinggal di dalam.

***

Kai terduduk lemah pada salah satu anak tangga yang terdapat pada basement apartement Woo Yeon. Ia berusaha menetralisir emosinya yang kian memecah beberapa saat lalu. Ia harus menjernihkan pikirannya sebelum memutuskan kemana ia harus pergi setelah ini. Hanya dengan sebuah penutup kepala, tanpa masker yang bisa menutupi wajahnya dari intaian fans yang mungkin sedang berkeliaran saat itu, Kai benar – benar harus jeli dalam melangkah.

Pikirannya kembali terpecah ketika ia iseng mencoba mengecek internet melalui ponselnya, dan mendapati artikel tentang Luhan yang memutuskan kontrak kerja dan resmi keluar dari kegiatanan EXO.

“Cih, seperti apa yang ku pikirkan.” Umpatnya kesal. Bahkan seseorang yang ia harapkan sebagai sandaran saat ini pun tidak lagi bisa merangkulnya.

Tiba – tiba sesuatu datang menyilaukan penglihatannya. Sebuah mobil sport berwarna hitam melintas masuk ke dalam basement dan terparkir tepat beberapa jarak dari hadapan Kai.

Kai dengan cepat membenarkan penutup kepalanya, dan beranjak dari sana.

“Kim Jong In!”

DEG!

Langkah Kai menegang ketika seseorang meneriakkan namanya. Ya, seseorang yang ia yakini baru saja turun dari dalam mobil sport hitam beberapa jarak didepannya barusan.

“Kau Kim Jong In, kau yang disana leher ayam.”

Kai spontan berbalik ketika mendengar sebutan itu,

DEG!

“Nana nuna!”

To Be Co

 

Keep support EXO!

Ini no edit, masih kebayang Luhan :3

55 thoughts on “EXO SPECIAL SERIES – KaiRin “I am Jong In, I am Kai” Chapter 7

  1. hahahaha pas tao sama kai minta izi ke seunghwan lucu banget….hahahaha
    yaaahhh makin complicated kan si kai sama jae rin…
    doa yang terbaik untuk pasangan itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s