Ji-Tao : Chocolate Truffle [Drabble]

9f9d7032661ee79f667050ab0c3d2a45

Author : @UlfaMuriza07

Cast : Tao |  Jung Ji Ah (oc)

“Bukan tentang seberapa banyak kotak coklat yg menemanimu kala menungguku datang, tapi ini tentang rasa pahit dan manisnya coklat seperti semua hal yang telah kau dan aku lewati bersama”
**Ji-Tao**
**EXO**
“Satu, dua, tiga, empat. Wah! empat!”
Tao bertepuk tangan sumringah usai menghitung susunan kotak coklat yang ia simpan rapi di dalam lemari baju Kai. Tao menyimpan coklat – coklat tersebut bukan karena sedang diet dan takut tergoda, juga tidak sedang ingin menabung lemak dalam tubuhnya tanpa sepengetahuan para manajer. Tapi … untuk Ji Ah. Yap, Jung Ji Ah. Gadis yang sudah satu tahun terakhir ia panggil dengan sebutan ‘baby panda’ baik secara langsung, maupun nama kontak yang tercantum di ponsel laki – laki yang memiliki daya tarik karena lingkaran hitam pada kedua matanya itu. Gadis yang secara resmi menjadi kekasihnya setelah perseteruan ala taman kanak – kanak pada tangga darurat di dorm lama EXO.
Hubungan mereka telah terlepas dari istilah ‘seumur jagung’ tapi Tao masih saja suka tersenyum idiot setiap kali berkhayal jika ia dan Ji Ah akan bertemu. Karena bagi Tao, semuanya bermakna. Terlebih, ketika mengingat siapa sosok Tao saat kamera sedang menyorot dan Ji Ah masih menetap di belahan benua yang berbeda demi mewujudkan cita – cita.
“Dua hari lagi.”
Tao mengarahkan telunjuknya pada kalender yang terpajang di atas meja milik Sehun. Ya, Tao sengaja menyimpan kotak – kotak coklatnya di kamar KaiHun karena Kai lebih menyukai ayam dan Sehun lebih mencintai Taro Bubble tea. Tao hanya ingin selalu bermain aman.
“Tao-ya! Huang Zi Tao kau tidak mau nanasnya?”
Teriakan D.o melenyapkan senyum idiotnya dalam sekejap. Tao lekas menutup asal pintu lemari tempat coklat – coklat berliannya berada dan langsung berlarian keluar kamar.
“Mau. Aku mau!”
**EXO**
Di sebuah apartment kawasan Seokchon

“Surprise… surprise … surprise…”
Putri bungsu Jung berlari kecil menuju dapur seraya bersenandung ria. Meski wajahnya terlihat kusam dan lelah paska perjalanan panjang Kanada – Korea siang tadi, tapi itu tidak menjadi hambatan baginya untuk tetap bersemangat malam ini.
Jung Ji Ah. Gadis yang juga sedang memenuhi otak kanan Tao pada detik yang sama itu kini hanya berada beberapa km dari dorm EXO tanpa sepengetahuan Tao.
Jika sudah seperti ini, tak lain yang menjadi alasan Ji Ah adalah, ia sedang terlalu bosan berkutat dengan rangkaian urusan akademiknya. Dan, Korea akan selalu menjadi tujuannya sejak Tao mengatakan mereka adalah sepasang kekasih waktu itu.
“Tao pasti suka ini. Woah…”
Ji Ah mengeluarkan potongan besar truffle cake dengan siraman saus coklat beku. Truffle cake terlezat menurutnya dan hanya ada di Ontario.
“Kau tetap ingin melakukan aksi bodoh dan berbahayamu professor muda Jung?”
Jung Woo Yeon sang kakak, menginterupsi Ji Ah yang hendak merogoh ponsel dari saku jumpsuit motif panda yang ia kenakan.
“Hmm, aku dan Minji akan pergi ke Pocheon sebentar lagi.” Ji Ah mengangguk santai tanpa memperhatikan wajah Woo Yeon lebih jelas.
“Sampai kapan kau akan terua bermain – main Jiji-ya? Kau sudah dewasa.”
“Bermain – main katamu Yeon?” alis Ji ah bertaut memandang Woo Yeon.
Woo Yeon ikut memandangi truffle cake menggiurkan di hadapannya sembari mengiyakan pertanyaan sang adik.
“Daddy akan segera menyuruhmu kembali ke Ontario jika dia tahu kau terbang kemari sebelum hari liburmu karena kekasih taman kanak – kanakmu itu Jung Jiji.”
Woo Yeon kembali berucap panjang lebar. Dokter muda itu tidak pernah menentang hubungan Tao dan Ji Ah. Tapi setiap hal yang ia komentari menyangkut dua orang itu, menyiratkan rasa berat hati setiap kali Ji Ah hendak menemui Tao.
Ji Ah menutup kotak truffle cake-nya. Wajah oval tanpa polesan make-up itu mulai cemberut menatap sang kakak.
“Berhenti menyebut kami dengan embel – embel taman kanak – kanak Yeon! Ingat, Kyuhyunmu juga berada di tempat yang sama seperti Tao. Ah, jangan lupakan cinta pertamamu yang tidak terungkap, Zhang Yi Xing.” Ji Ah seolah balik mengkuliahi Woo Yeon.
“Iya, tapi rencanamu ini beresiko! Kau bukan dari bangsa girl group yang akan mendapat pembelaan dari para fanboy ketika para fangirl menerormu karena kalian terlihat bersama. Maka tidak salahkan bila kusebut dengan taman kanak – kanak? kau terlalu banyak meniru film action.”
Woo Yeon berkacak pinggang, omelan demi omelan mulai menari keluar masuk telinga gadis bergaya casual tersebut.
“Aku ingin mencobanya Yeon. Kalau ini gagal, maka Tao dan aku tidak berjodoh.”
suara Ji Ah tiba – tiba berubah pasrah. Hal yang dikatakan oleh Woo Yeon barusan seakan tidak membal dari indra pendengarannya kali ini.
“Aku pergi dulu Yeon. Doakan aku agar kembali ke apartment seutuhnya bukan sekedar nama. Semoga shift malammu menyenangkan Yeon!”
Ji Ah mengangkat kotak truffle cake dari atas meja, ia bergegas membawa kotak tersebut keluar dari dapur.
“Berhati – hatilah Ji Ah! Jangan lupa membawa masker, syal atau sejenisnya!”
Woo Yeon berteriak dari arah dapur, sambil ikut menyusul Ji Ah menuju pintu. Guratan kekhawatiran jelas terlihat di wajah jelita itu.
“Aku mengerti Jung Woo Yeon! Aku pamit. Bye -Bye our Yeon-ie!”
Tit.
Suara pintu terkunci otomatis menandakan Ji Ah sudah melangkah keluar dari apartement.
**EXO**
Sudut pantai kawasan Pocheon

“Di sana – di sana. Iya, itu Minseok!”
“Kim Jong In!”
” Jangan berteriak! Kalau kru Line TV tahu, kita bisa diusir dari sini!”
“Iya iya. Aku kan tidak sengaja. Lihatlah, betapa kerennya mereka! Omo sesange ~ “

Ji Ah dan Min Ji temannya menatap satu sam lain karena segerombolan gadis muda bersama aneka jenis kamera super di tangan mereka.
Min Ji mulai sulit untuk menelan salivanya sendiri. Merasa menyesal setelah ia mengiyakan permintaan Ji Ah untuk melakukan aksi konyol dengan tema ‘memberikan surprise untuk kekasih yang sedang di kerumuni oleh lautan blitz kamera’.
“Jiji – ya. Kita seperti sedang membintangi Reply 2015.” Lutut Min Ji mulai lemas saat ia mengingat semua perbuatan sasaeng fans EXO.
Ji Ah tak bergeming sedikitpun. Ia masih menatap lurus sosok Tao berbalutkan mantel tebal dari pintu perkemahan mewah yang telah dipersiapkan sebagai penginapan EXO selama menjalani syuting program Line TV.
“Jiji- ya…”
Min Ji mundut satu langkah saat salah satu kerumunan fans di depan mereka menoleh ke belakang.
“Ayo kemari! Berdirilah di sini. Di sampingku, ayo.” fangirl itu menunjuk ruang kosong di sampingnya, berpikir bahwa Ji Ah dan Min Ji datang untuk tujuan yang sama.
Min Ji menggeleng cepat, “b-bukan. Ah maksudku s-sebentar lagi. Terima kasih ya, terima kasih…” Min Ji nyaris keceplosan.
“Hei, Jiji -ya?! Jung Ji Ah!”
Tepukan tangan Min Ji juga tidak mengenyahkan lamunan Ji Ah yang masih sepenuhnya memandang Tao.
Min Ji mendongak frustasi. Sifat penakutnya semakin membabi buta.
Sementara Ji Ah, ia berinisiatif untuk mengirim sebuah pesan singkat ketika ia melihat Tao yang tampak memegang ponsel di tangannya.

“Hei, coba foto dari jarak dekat! Tao sepertinya menggunakan keluaran terbaru lagi!”
Dugaan Ji Ah semakin kuat karena desas – desus dadakan dari kerumunan fangirl di sana.
“Min Ji -ya.”
Ji Ah buka suara.
“Apa?”
***
Dan, di sinilah mereka berada saat ini. Ide konyol Ji Ah yang terinspirasi dari adegan film yang ia tonton kini ikut membawa Min Ji duduk pada tembok pembatas taman herbal Pocheon yang bersebalahan dengan area perkemahan tempat EXO berada. Dari jarak ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan tanah, Ji Ah dan Min Ji menyaksikan proses syuting secara aman tanpa perlu memusingkan intaian para fangirl yang sempat memandang curiga pada mereka.
“Kita seperti arwah penasaran yang masih tidak rela pergi dari kehidupan manusia.” Min Ji merapatkan kedua lututnya, menumpu ujung dagu pada kedua sisi lutut, sembari melihat pemandangan sekitar dari ketinggian.
Ya, Min Ji benar. Ia dan Ji Ah sungguh terlihat seperti hantu yang bergentayangan karena belum ditarik ke langit. Duduk di ketinggian hanya bercahayakan sinar bulan musim gugur.
” Kau bukan dari bangsa girl group yang akan mendapat pembelaan dari para fanboy ketika para fangirl menerormu karena kalian terlihat bersama.”
Kalimat Woo Yeon kembali terngiang. Itulah penyebab Ji Ah tak kunjung beranjak dari kelesuannya sejak dalam perjalanan kemari. Ingin mengubur niatnya pun Ji Ah tidak memiliki pikirab untuk itu. Apalagi, ketika ia memandangi kotak truffle cake yang ia ada di pangkuannya.
Rasanya lebih menyedihkan bila harus berbalik ketika sudah berada di tengah jalan.
” Tao-ya.”
Ji Ah memandangi layar ponselnya yang menampilkan satu pesan singkat yang ia kirimkan saat berada di bawah.
Tak kunjung muncul tanda – tanda si penerima pesan mulai mengetik balasan. Itu juga bisa terlihat dari Tao yang tidak lagi memegang ponsel dan kini sedang menikmati makan malam bersama para member di bawah sana.
“Sampai kapan kita berada di sini? kalau mereka syuting sampai pagi bagaimana?” Min Ji mulai menguap lebar.
Ji Ah membuka kotak truffle cake-nya, “tunggu coklatnya mencair.” sahutnya lirih.
“Oh ya ampun. Kenapa kau berubah melankolis seperti? Aigoo… ckckck.” Min Ji menggeleng sembari menyunginggkan cibiran dari sudut bibirnya yang ia tujukan pada Ji Ah.
“Kau tidak tahu bagaimana aku melewatinya gadis gendut.” Ji Ah menghela nafas pasrah.
“Stop! Aku paling tidak suka dengan kisah cinta penuh haru biru menggelikan. Kau tahu itu.” Elak Min Ji cepat. Ia masih berpikir bahwa Ji Ah sedang di rasuki oleh putri duyung sekitar pantai Pocheon. Sikapnya sungguh berbeda malam ini. Ji Ah yang biasanya selalu keras kepala dan penuh percaya, kini seperti orang yang bersiap melompat ke tengah laut bila sosok Tao di sana benar – benar tidak menjawab pesannya.
2 jam berselang …
“Coba kau lihat coklatnya, sudah mencair apa belum? kalau sudah, ayo kita pulang.” Min Ji perlahan hilang kesadaran. Ia tidak tahu bagaimana bola mata hitam Ji Ah sudah menumpuk kristal – kristal bening.
“Cukup untuk hari ini. Selamat berisirahat!”
“Terima kasih!”
Teriakan dari bawah sana memperdengarkan bahwa syuting telah selesai. Satu persatu kru mulai membereskan properti syuting ke dalam mobil. Juga terlihat beberapa member EXO yang berada di sana, mulai masuk ke dalam tenda perkemahan.
Ji Ah belum juga menyadari bahwa sosok Tao tidak lagi berada di sana setelah ia menyeka satu titik air mata.
“Goo Min Ji, ayo kita pulang.” Ji Ah beranjak dari duduknya. Ia meninggalkan kotak truffle cake di atas tembok, dan mulai menuruni tangga kayu yang semula membawa mereka ke atas sini.
“Sayang kalau ditinggal. Buatku sa -”
“Jangan dibawa!”
Nada Ji Ah meninggi. Ia menepis kasar tangan Min Ji yang hendak mengambil kotak tersebut.
“Tapi kan -”
“Kau pulang jalan kaki!” ancam Ji Ah spontan.
Min Ji mengerucutkan bibirnya, tanpa berani berkutik lagi.
“Iya iya. Yasudah, ayo turun.”
***
Di sisi lain …
“Tao-ya! mau pergi kemana?”
Suara Chanyeol menghentikan langkah Tao yang semula tergesa – gesa keluar dari tenda.
“Cari sinyal.” Sahut Tao tanpa pinggir panjang.
Chanyeol dan Xiumin saling bertatapan.
“Sinting.” Sehun ikut mengomentari.
“Aku ikut.”
Kai beranjak dari balik selimut. Ia melangkahi Sehun begitu saja, meraih jaket, pergi menyusul Tao.
“Hei, jangan pergi jauh – jauh! Mengerti!”
Chanyeol setengah berteriak.
“Tidak apa – apa, manajer hyung juga ada di luar.” Xiumin menimpali santai.
***
Tao terus terfokus pada layar ponsel. Ia bahkan tidak mempedulikan keberadaan dua manajer di sana serta Kai yang berjalan di belakangnya.
Tao masih berpikir bahwa terjadi kesalahan sistim pada aplikasi GPS nya. Ia masih tak yakin jika Ji Ah barada di sekitarnya saat mengirimkan pesan singkat ketika syuting berlangsung.
“Aku melihat orang yang mirip dengan Ji Ah di atas sana.”
Bisikan Kai membuat Tao menoleh. Ternyata Kai jauh lebih dulu menyadari hal yang kini masih menjadi sumber kebingungan Tao.
“Sungguh?” Tao terperangah polos, tak percaya.
Tao dan Kai berbisik – bisik membelakangi manajer. Mereka sedang larut dalam kejelasan keberadaan sosok yang mirip dengan Ji Ah sepenglihatan Kai.
“Hemmm.”
Dehaman Minwoo manajer membuat keduanya spontan berbalik.
“Apa yang kalian bicarakan? Kenapa masih di luar?” Minwoo manajer berkacak pinggang, berpura – pura antagonis.
Kai dan Tao saling berpandangan, ini mengingatkan mereka saat Tao hendak pergi menemani Kai untuk bertemu mantan kekasihnya dulu, Han Jae Rin.
“Tao -ya.”
Panggil Minwoo manajer datar.
“Ya hyung?” Tao merespon cepat.
Minwoo manajer menoleh pada Seunghwan manajer yang berdiri di sebelahnya. Seperti mengisyaratkan agar Seunghwan menggeser posisi berdirinya.
“Kau kenal dia Tao-ya?
DEG!
DEG!
DEG!
Kedua kaki Tao seperti masuk ke dalam tanah. Jantungnya seakan berhenti saja setelah melihat seseorang yang berdiri di belakang Seunghwan.
Gulp!
Tao sulit menelan salivanya. Ini seperti mimpi buruk tapi membahagiakan baginya. Sulit dipercaya.
Sementara itu, sosok yang sejak tadi bersembunyi di belakang punggung besar Seunghwan masih menunduk tak berani mendongakkan wajahnya.
“Kuberi waktu 30 menit. Karena ini juga sudah malam, tidak baik anak gadis pulang larut malam.” Seunghwan berkata dengan cool-nya. Entah kenapa manajer yang paling ditakuti itu kini hampir selalu berubah menjadi jelmaan malaikat bersayap yang tidak bisa terbang.
Seunghwan tak lagi bengis seperti dulu.
***
Suara potongan kayu kering yang terbakar oleh api mendominasi atmosfir canggung yang masih tercipta di antara Tao dan Ji Ah meski manajer hyung membiarkan mereka dan Kai kembali masuk ke dalam.
Tao belum bisa beranjak dari rasa shock hebatnya atas semua yang terjadi secara tiba – tiba. Tak berbeda dengan Ji Ah, gadis itu masih sulit meredam rasa malunya karena telah dipergoki oleh beberapa petugas keamanan saat sedang menuruni tembok pembatas bersama Mi Ji. Beruntungnya Seunghwan manajer yang hendak menuju Van melihat keberadaan dua orang gadis itu yang sedang di interogasi pada pos kecil keamanan. Mereka semula dituding sebagai sasaeng fans yang berkeliaran. Namun akhirnya mereka terselematkab karena ingatan Seunghwan belum berubah buruk. Terlebih, Ji Ah adalah adik dari dokter pribadi keponakannya. Rasanya tidak etis apabila Seunghwan tidak turun tangan. Atau singkatnya, nasib baik masih berpihak pada Ji Ah dan Min Ji.
Lama Tao dan Ji Ah berdiam tanpa sepatah katapun. Keduanya masih larut dalam merasakan denyut jantung masing – masing paska serangan dadakan.
Hingga …
“Sudah selesai?”
Seunghwan manajer muncul dari balik tenda.
Tao dan Ji Ah saling bertatapan. Sekarang perasaan mereka sama – sama ingin mengatakan tidak.
“Aku tunggu di mobil bersama temanmu itu ya. Jangan lama – lama, kakakmu sudah berpesan padaku.” Seunghwan berbalik pergi.
Ji Ah lebih dulu beranjak dari duduknya, menepuk sekilas celananya yang terkena pasir pantai.
Tapi sebuah tangan tiba – tiba menahannya.
“Kau tau bagaimana sulitnya kita bertemu. Jadi tidak perlu seperti ini lagi. Mengerti?”
Suara Tao membuat Ji Ah memberanikan diri untuk memandangnya, “aku menganggu waktu istirahatmu?”
” Bukan. Bukan itu Jiji- ya.”
Tao sesaat menunda kalimatnya.
“Setiap detik pun menjadi berharga saat kita bertemu. Dan baru saja kita menghabiskan 30 menit sia – sia. Juga, aku tidak memiliki hal apapun yang dapat kuperbuat. Aku menjanjikanmu 4 kotak coklat untuk hari ke 400. Tapi aku tidak membawanya. Aku tidak suka surprise lagi karena hal ini.”
Tao yang biasanya penuh protes dan senang menyengir sana sini saat sedang bersamanya, kini berubah serius layaknya Huang Zi Tao yang sedang melakukan aksi martial arts di atas panggung.
“Coklat itu tidak penting. Aku takut Daddy menyuruhku kembali dua hari ke depan. Maka itu -”
“Maka itu kau harus memberitahuku,walau hanya 30 menit sekalipun.” Suara Tao berubah normal, ia mengayunkan genggaman tangan mereka.
“Tao – ya.”
“Ya, kenapa?”
Ji Ah menunjuk sesuatu di atas sana, tepat pada tembok pembatas.
“Truffle cake terlezat Ontario yang pernah kujanjikan.”
Tao sesaat mengernyit ringan. Mencerna ucapan Ji Ah.
“Jadi Kai melihatmu di situ? Kau duduk di sana? omo! sungguh?” Tao mengerjap tak percaya.
Ji Ah mengangguk lemah, bibirnya ikut mengerucut.
“Hum. Agar komplotan Seaside Tao, tidak memandang curiga pada kami.”
Tao sontak tertawa saat mendengar Ji Ah menyebut salah satu nama fanbase miliknya.
“Kenapa tertawa?!”
Ji Ah menghentak kesal tangan Tao.
Tao menggeleng cepat, berusaha menahan tawanya.
“Maaf – maaf. Yasudah, truffle cake itupun tidak penting dibanding membayangkanmu jatuh terpelanting saat menaiki tembok itu. Nah sekarang, ayo berpelukaaann…”
Tao melebarkan kedua tangannya, memeluk Ji Ah tanpa ragu.
“Kau ini ada – ada saja. Jangan seperti itu lagi, mengerti? Terlalu berbahaya.” Bisik Tao lirih.
Ji Ah menarik diri dari pelukan mereka, “hum. Aku mengerti. Aku bukan berasal dari bangsa girl group yang memiliki fanboy saat fangirl mengutukku habis – habisan karena menjadi kekasihmu. Begitu kan?”
Ternyata, hal yang dikatakan Woo Yeon masih melekat pada pikiran Ji Ah.
Mendengar itu, Tao tersenyum tipis.
“Ya, kalau bisa kita jangan terluka dengan cara yang sama. Tidak ada kesalahpahaman, juga tidak ada kalimat perpisahan dan perkelahian. Kau ingat itukan?” Tao mengusap sayang puncak kepala Ji Ah.
“Perkelahian? Pertengkaran! Kau pikir aku lawan wushumu?! Bahasa Koreamu masih saja payah. Ckck.”
Tao kembali terkikik karena kebodohannya sendiri.
“Ah iya itu maksudku.”
Ji Ah menepuk keras bahu Tao, “selucu itukah? Tao – ya…”
“Ya?”
“Aku harus pulang sekarang.”
Wajah Ji Ah berubah lesu.
Tao mengangguk kecil, “pulanglah. Jangan lupa mengabariku jika sudah sampai di apartement.”
“Tao-ya…”
panggil Ji Ah lagi.
“Iya?”
“Aku harus mengambil coklat yang kau janjikan itu.”
Ji Ah beralasan agar mereka bisa kembali bertemu.
“Tentu. Aku akan memberitahumu nanti.” Tao mengacungkan dua jempolnya.
“Tanpa truffle cake tidak apa – apakan?” Ji Ah kembali melirik kotak di atas tembok pembatas.
Tao mengangguk pasti, “yang terpenting bagiku adalah bertemu dengan baby panda.”
Blush ~
Pipi Ji Ah mendadak merona.
“Kau benar, yang paling penting adalah bertemu. Harus bertemu.”
“Itu pasti. Karena tidak ada yang lebih penting dari coklat selain bertemu. Bertemu baby pandaku!”
“Tao -ya…”

_Fin_

12 thoughts on “Ji-Tao : Chocolate Truffle [Drabble]

  1. hayyyyy author yg kece badai, aku readers baru ni, tau gk thor dmi memahami jln crta.a aku bca ff author dr postingan yg prtma looo bln kmrn #gkadaygnnya
    aku msh ngguin lnjtan KaiRin nihhh, tmben d ff yg ini gk ada YaeKrisnya.
    d tnggu next seriesnya mau castnya yg spa aja dahhhh.
    keep writing author kece

  2. ini manis banget
    banget loh pake BANGET !

    ga nyangka setiap FF disini punya benang merah . Kerasa banget walau lama ngga diupdate .Feel Ji-Tao nya masih ngena , ngena banget ..
    semoga mereka bahagia sampai akhir .

    dan ,, bagaimana kabar Geumcha sama Geumchan ? Aku kangennn ..

    diupdate terus ya chingu . AKU MENUNGGU !!!

  3. Eonniiii… Km kemanaa ajaaaaaaaaaa ya ampun ini postan buln apaaa ,, lama banget sii😦 hayoo dongg produktif lg dunndd aku udh lama nunggu trus ke ingetan web ini eh postan yg baru nya dikit dn udh lamaa😦 ayo yo eonn , sibuk bnget y eonni? Yowesss ku tunggu ya ,, semangat eonni ,,!! Keep writing eon!!chansa menunggu wkwk

  4. kak kakak yang masih hiatus.. uwaaa tiba tiba inget kakak dan langsung search dan tadaaa nemu ini.. aduhh mereka manis banget ih.. kalau inget ff kakak dengan segala hiruk pikuknya itu pairing yang ini serasa oase ditengah padang pasir.. mereka udah kaya es kelapa muda disiang hari yang panas ini.. udah kaya floatnya kfc disaat gerah melanda.. *ini apaan?* buat kak yaegi cepet kembali yaa.. masih ditunggu karyanya.. ^^

  5. Perasaan gue udh kumen di sini tpi kmna ya??nyungsepkah???…..ato blum msuk???ah sudahlah….gue cman mo bilang kangen YaeKris,,kangen SuSoo,,kangen HanNa,,kangen JiTao,,KaiRin jga…uuuhhh…kapan ya kira” authornya comeback????miss you…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s